
Juna datang membawa sepiring nasi dan menempelkan telapak tangannya di kening Niken setelah itu baru ikut duduk di sofa dengan menyilangkan kaki.
"Masih anget badanmu. Udah makan sama minum obat?" tanya Juna disela-sela kegiatannya mengunyah makanan.
"Ck, udah." Niken menyahut sebal karena Juna sama seperti mamanya yang hanya sibuk menyuruh makan dan minum obat.
"Kok bisa sama Juna, Bil?" tanya Niken yang heran dengan kedatangan Nabila bersama Juna. Niken tau betul bila tidak ada dirinya, Juna hanya menganggap Nabila orang asing.
"Aku tadi pagi sempet nanyain kau karena tumben nggak nampak berangkat bareng Juna, karena kata Juna kau sakit ya udah aku kejar Juna waktu pulang sekolah, nebeng karena aku kan nggak tau rumahmu." Niken manggut-manggut mendengar penjelasan Nabila
"Oya, kak Bayu kirim salam," ucap Nabila tiba-tiba. Niken menoleh kaget dan Juna langsung melirik Nabila, masih sambil terus melanjutkan kegiatan makannya.
"Bayu siapa?" Niken mengernyit kan kening mencoba mengingat.
"Bayu yang punya toko fotocopy itu loh, yang kemarin kita fotocopy proposal." Nabila menjelaskan secara rinci pertanyaan Niken.
"Oh, yang bilang aku cantik itu ya?" Niken sumringah karena berhasil mengingat Bayu yang dimaksud Nabila. Pernyataan Niken juga mendapat lirikan dari Juna.
"Giliran pujiannya aja kau ingat," gerutu Nabila yang disambut Niken dengan tawa.
"Aku udah ngasih nomormu sama dia." Info Nabila.
"Terserahlah asal nggak ganggu aja tuh orang lagian kalo dilihat-lihat dia lumayan juga, nggak malu-maluin diajak jalan." Niken menyahut santai dan merebahkan kembali tubuhnya karena pusing kepalanya mulai kembali menyerang. Nabila melempar bantal sofa kearah Niken, sebal dengan kesongongan Niken. Niken kembali melempar bantal sofa itu kearah Nabila. Sedangkan Juna terang-terangan mendengus tak suka.
"Udah sore, yok aku antar pulang." Juna bangkit dari duduknya dan membereskan bekas makannya serta di bawa ke dapur. Niken dan Nabila berpandangan sejenak dan mengangkat bahu.
"Masih jam empat Jun, nanti ajalah pulangnya," bujuk Niken sekembalinya Juna dari dari dapur.
"Udah sore ini, kau kan mesti istirahat. Makanya cepat sembuh biar bisa gosip lagi." Juna berlalu keluar dari dalam rumah Niken. Nabila segera menyusul Juna setelah sebelumnya berpamitan kepada mamanya Niken.
'Niat jenguk atau niat jadi Mak comblang sih ini anak," batin Juna sebal.
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mama Rumila alias ibunya Niken tergopoh menuju pintu depan ketika mendengar ada suara salam. Dilihatnya berdiri seorang pemuda yang menenteng sebuah plastik dan tersenyum begitu melihat kehadirannya.
"Cari siapa ya, bang?" tanya mama Rumila langsung sembari diam-diam meneliti penampilan pemuda yang baru kali ini dilihat wajahnya dan bertandang kerumahnya.
__ADS_1
"Bener ini rumahnya Niken, Tante?"
"Iya bener ini rumahnya Niken? Abang siapa ya?" tanya mama Rumila kembali.
"Saya Bayu, Tante, temennya Niken." Bayu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
"Oh temennya Niken." Mama Rumila tersenyum sumringah dan menerima jabatan tangan dari pemuda yang mengaku bernama Bayu ini.
"Masuk ayo nak Bayu. Niken nya baru aja selesai minum obat." Bayu mengikuti langkah mama Rumila yang mempersilahkan masuk.
"Kalo gitu saya pulang aja Tan, titip salam untuk Niken, ini ada sedikit buah tangan dari saya." Bayu yang sungkan karena sepertinya Niken butuh istirahat setelah meminum obat pun undur diri. Diulurkan nya plastik berisi buah yang sempat ia beli di pinggir jalan ketika ia berangkat kemari. Mama Rumila menerima uluran plastik itu.
"Loh? Nggak mau ketemu Niken dulu?" tanya mama Rumila kaget karena belum sempat ia memanggil Niken, pemuda bernama Bayu ini sudah mau beranjak pulang, bahkan duduk pun belum sempat ia lakukan.
"Nggak usah Tan, sepertinya Niken butuh istirahat. Lain kali saya main kesini lagi."
"Ya ampun, kamu belum sempet duduk dan minum loh."
"Nggak papa Tan, lain kali saya mampir lagi kalo Niken udah sehat," ucap Bayu.
"Makasih ya nak Bayu buah tangannya. Bener loh lain kali mampir kesini lagi?"
"Insya Allah, Tan." Bayu pamit setelah sebelumnya mendapat ucapan hati-hati dijalan oleh mama Rumila.
"Niken," panggil mama Rumila agak berteriak karena ternyata si empunya kamar sedang berada di kamar mandi. Niken yang mendengar panggilan dari mamanya buru-buru menyelesaikan kegiatannya didalam kamar mandi.
"Apa, Ma?" tanya Niken begitu membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
"Kamu abis ngapain?"
"Cuci muka."
"Tadi temen mu kesini, bawain buah masa?" Info mama Rumila. Niken yang sedang mengeringkan wajah dengan handuk menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah mamanya.
"Siapa?" tanya Niken mengernyitkan dahi.
"Ya kamu merasa ada temen mu yang janjian mau kesini nggak?" Mama Rumila malah balik bertanya. Niken garuk-garuk rambut bingung.
"Kayaknya nggak ada ma yang janji mau main kerumah."
__ADS_1
"Buktinya ada tuh yang main kerumah," goda mama Rumila.
"Apa sih ma, nggak jelas banget. Jadi siapa sebenarnya yang datang?" tanya Niken tak begitu semangat menanggapi godaan mamanya ini.
"Bayu," ucap mama Rumila diplomatis.
"Bayu siapa?" tanya Niken semakin bingung.
"Ya kamu merasa punya temen namanya Bayu, nggak?" Geregetan sendiri jadinya mama Rumila melihat anaknya ini.
"Entah lupa. Kayaknya temen sekelas nggak ada deh yang namanya Bayu." Niken mencoba mengingat-ingat temannya yang bernama Bayu ini.
"Anaknya tinggi, hitam manis, alisnya tebal, ganteng sih menurut mama." Mama Rumila mencoba menjelaskan ciri-ciri pemuda yang berkunjung tadi.
"Siapa ya?" Niken masih menggali ingatannya dan mencocokkan teman-temannya dengan ciri-ciri pemuda yang bernama Bayu itu.
"Oh aku ingat ma, Bayu ini temennya Nabila, yang punya toko fotocopy di deket sekolah." Niken bertepuk tangan sekali karena berhasil mengingat si Bayu ini.
"Nabila yang kesini sama Juna tadi?" tanya mama Rumila memastikan. Niken mengangguk mengiyakan.
"Ganteng kok anaknya," ucap mama Rumila.
"Terus?" tanya Niken aneh dengan ucapan mamanya barusan.
"Nggak ada, mama cuma mau bilang aja kalo anaknya ganteng." Mama Rumila ngeloyor pergi dari kamar Niken. Niken mendengus malas melihat tingkah tidak jelas mama tersayangnya itu.
Keesokan harinya, Niken sudah bisa mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa. Juna yang menjemput Niken sempat memeriksa kening Niken dan berniat membelikan sari kacang hijau tapi Niken segera mendengus sebal.
"Kalo masih terasa pusing buruan ke UKS," ucap Juna begitu sampai didalam kelas dan mendaratkan tas keatas meja.
"Nggak usah lebay deh." Lagi-lagi Niken mendengus melihat tingkah Juna
"Jangan ngeyel di bilangin." Juna memutar bola mata.
Belum sempat Niken membalas ucapan Juna, sudah ada Anjas yang berteriak begitu masuk kedalam kelas.
"HARI INI KELAS FREE TEMAN-TEMAN SAMPAI JAM PULANG SEKOLAH." Pengumuman dari Anjas tentu saja mengundang sorak sorai penuh kegembiraan dari seluruh murid SMA Hang Tuah. Mereka langsung berhamburan membubarkan diri dan merancang rencana akan diisi dengan kegiatan apa hari ini.
Ada yang memilih langsung pulang sekolah dan tak sedikit yang memilih menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan.
__ADS_1
Niken dengan lesu menenteng kembali tasnya, "Tau gini tadi nggak usah sekolah sekalian. Cuma ngotor-ngotori baju aja," dumal Niken sebal.
"Mau jalan-jalan?" tanya Juna yang melihat Niken tidak bersemangat. Niken menggeleng dan mengatakan akan pulang saja.