Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kepingan Memori


__ADS_3

Niken hanya mengangguk dan tak mau ambil pusing. Ia habis gajian dan sebagian gajinya sudah ia kirim kepada mamanya. Uang yang ia pinjamkan kepada Nabila itu murni untuk kebutuhannya selama 1 bulan kedepan.


Mereka berjalan melewati kamar demi kamar dan menuruni tangga untuk kelantai satu dan begitu sudah keluar dari rumah kos, mereka menemukan Bayu duduk di atas sepeda motor dengan ponsel berada di telinga. Begitu melihat kedatangan Nabila dan Niken. Bayu menurunkan ponsel yang berada di genggamnya dan tersenyum.


"Baru aja mau aku telpon," ucapnya sembari menghampiri Niken dan mengusap lembut rambutnya.


Sudah setengah tahun mereka bertunangan dan selama setengah tahun itu pula, sikap Bayu masih manis terhadap Niken. Membuat Niken semakin yakin bahwa memang Bayu lah yang kelak akan menjadi ayah untuk anak-anaknya.


"Kok nggak ngabarin kalo mau jemput aku?" tanya Niken setelah Bayu menyapa Nabila.


"Tadi baru mau nelpon dan bilang kalo udah nunggu dibawah, eh kalian udah turun duluan," kilah Bayu.


"Bang, boleh aku minta tolong antar ke kampus? Aku bentar lagi telat bang. Niken kan masih jam 8 nanti masuknya. Aku 5 menit lagi masuk kelas," rengek Nabila tiba-tiba.


Niken mengerutkan kening heran. Bayu datang dan naik motor. Gimana ceritanya Nabila mau menumpang? Mereka berbonceng 3 gitu?


Kalau Bayu mengantar Nabila ke kampus lalu bagaimana dengan dirinya? Naik ojek kah?


Bayu kan pacarnya, kenapa pula Nabila yang harus diantarkan oleh Bayu? Seingatnya tadi ia juga berkata bahwa hampir telat berangkat ke butik Salwa.


Berbagai kecamuk memenuhi isi pikiran Niken tetapi Niken memilih bungkam dan memendam tanya itu dalam diam.


Bayu melirik Niken, mungkin meminta pendapat atau berharap Niken akan melarangnya tetapi Niken yang tak enak hati bila ikut merengek dan mengatakan bahwa ia juga hampir telat akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengijinkan kekasih hatinya mengantarkan sahabatnya menuju kampus.


"Nggak papa kan Nik, bang Bayu ngantar aku ke kampus?" Nabila meminta ijin dan menatap Niken penuh harap. Niken mengangguk walau dalam hati menjerit.


Kenapa baru sekarang meminta ijin?


***


Niken masih asyik mengunyah kripik kentang dan matanya fokus menatap jalanan dari balkon lantai 2 rumahnya ketika suaminya datang dan langsung duduk menghimpit Niken. Gitar yang ia bawa, berada di pangkuan dan tangannya memetik tali senar dengan pelan. Memikirkan lagu apa yang akan ia bawa.


"Ma, masih ingat nggak dulu kita waktu menikah duet bareng?" Sang suami bertanya dan Niken tersenyum geli.

__ADS_1


"Ingat dong. Bahkan disetiap detik momen hari bahagia di 16 oktober itu nggak akan pernah aku lupa."


"Padahal waktu itu papa cuma nyanyiin lagu almarhum Uje yang bidadari surga tapi mama udah mewek-mewek." Suami Niken menerawang sembari tangannya masih memainkan senar gitar.


"Ingat! Papa juga bawain lagu Virzha yang aku lelakimu sebelum kita duet." Niken mengingatkan.


"Bukan lagunya yang bikin Mama nangis tapi kisah dibalik bersatunya kita yang bikin Mama berurai air mata. Dari ribuan hari yang kita lewati, kita akhirnya bisa bersatu." Niken tersenyum lirih. Kepala ia sandarkan di bahu sang suami.


Momen tanpa anak-anak seperti ini sering Niken habiskan bersama sang suami karena ini momen langkah. Semenjak mereka mempunyai Marsya pertama kali di 16 tahun lalu, menghabiskan waktu berdua menjadi hal yang sangat jarang terjadi. Begitu lahir Marcel 13 tahun yang lalu, semakin langkah lagi momen seperti ini.


Marsya dan Marcel sedang mengerjakan tugas sekolah dan Niken yang sedang ingin menikmati me time dengan duduk di balkon ditemani secangkir teh dan setoples kripik kentang harus menggali memori kembali karena kedatangan sang suami.


"Gimana kalo kita duet lagi? Nyanyiin lagu yang dulu pernah kita nyanyiin bareng di panggung pernikahan."


Tanpa persetujuan Niken, sang suami sudah memetik gitar mengambil nada. Belum sempat Niken mengeluarkan suara, Marsya dan Marcel datang menyerbu. Mereka duduk berdesak-desakan hingga mama dan papanya harus rela menggeser bokong agar semua dapat tertampung di sofa.


"Kalian ini apa-apaan sih?" dumal si papa.


"Kalian udah bukan anak-anak lagi yang masih harus kejar-kejaran dan lari-larian. Nggak malu apa ya, udah pada tau pacar tapi kelakuannya masih kayak anak-anak," lanjut papa memarahi tingkah anak-anaknya.


Si papa hanya menghela napas karena tau esok hari pasti kejadian seperti ini akan terulang kembali.


"Ayo Ma," ajak suami Niken yang teringat akan duetnya bersama sang istri yang tertunda.


"Mau kemana pa? Marcel ikut!" Marcel menyahut antusias.


Si papa menoleh malas, "Mau duet sama mama."


"Oh, aku kira mau pergi jalan-jalan," sahut Marcel lesu. Tak ayal Marsya, Niken dan sang suami tertawa terbahak.


"Mau nyanyi lagu apa, Ma?" tanya Marsya antusias. Sedikit banyak ia suka bernyanyi dan selama ini papanya lah yang selalu rajin memetikkan gitar untuknya bernyanyi.


"Lagu yang kami nyanyikan waktu kami menikah dulu." Marcel yang sedang bersandar lesu di sofa seketika duduk tegak mendengar jawaban mamanya. Marsya pun tak kalah antusias. Ia mengeluarkan ponsel dan siap merekam mama papanya bernyanyi.

__ADS_1


"Udah Ma, tunggu apa lagi? Ayo segera nyanyi!" seru Marsya senang. Ia mengambil posisi berdiri didepan mama papanya dan bersandar di pagar balkon. Marcel pun ikut menyusul kakaknya agar tidak merusak pemandangan.


Si papa memetik gitar, Niken mengambil napas mulai menyanyikan lagu. Suara merdu papanya juga ikut mengiringi.


Marcel yang menganggur, memegang bahu kakaknya yang sedang memegang ponsel untuk merekam duet mama papanya dan menggoyangkan badan. Lagu mellow itu memang begitu romantis bila di nyanyikan oleh mereka yang sedang kasmaran.


Marsya mematikan rekaman video yang sedang ia putar begitu mama papanya selesai menyanyikan lagu kenangan tersebut. Bertepatan pula dengan bel rumah yang berbunyi.


"Siapa itu yang bertamu?" tanya Marcel sembari memandang ke lantai bawah.  Hanya terlihat halaman dan jajaran bunga-bunga mamanya yang terlihat mata. Marcel pun memutuskan turun ke lantai bawah untuk melihat siapa tamu yang berkunjung di pukul 8 malam ini.


"Kak, jangan di upload." Papa Marsya memperingati begitu melihat anaknya yang memutar kembali rekaman duetnya.


"Kenapa Pa? Suara mama papa bagus kok." Marsya berujar yang belum sempat dijawab papanya karena Marcel sudah datang kembali.


"Pa, teman papa yang bertamu." Info Marcel yang kini berdiri disebelah kakaknya dan ikut menonton rekaman yang masih berputar.


Niken ikut beranjak yang langsung dihadang oleh anak bungsunya.


"Mama mau kemana?"


"Buat teh untuk teman papa kamu."


"Kesini lagi ya Ma!" Niken mengangguk mengiyakan keinginan anak-anaknya.


"Ma, kelanjutan kisah mama dong ceritain lagi, selagi papa masih ada tamu." Marsya merengek begitu Niken kembali dari menyuguhkan minum untuk tamu suaminya.


"Iya Ma, kami makin penasaran kelanjutannya gimana, apalagi mama sama papa sampai bisa duet romantis gitu di hari pernikahan kalian." Marcel pun tak kalah semangat membujuk dengan rayuan mautnya.


"Kemarin sampai mana ya?" tanya Niken yang tidak ingat terakhir kali ia bercerita tentang apa.


"Sampai Nabila pinjam uang Ma." Beritahu Marcel yang masih mengingat dengan jelas kisah terakhir yang di ceritakan mamanya.


Niken tersenyum, menggali kembali kepingan memori usang yang tersimpan jauh di ingatannya.

__ADS_1


"Jadi setelah Nabila pinjam uang--"


__ADS_2