Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Surat


__ADS_3

"Ma, waktu itu tahun berapa sih, ma? Waktu mama masih SMP?" tanya Marcel tiba-tiba menyeletuk karena penggalan kisah mamanya menyebut tak punya telepon apalagi ponsel seperti sekarang.


"Tahun berapa ya? 1996 kayaknya deh," sahut Niken yakin tak yakin.


"Wah, jadul dong." Dan Niken mengangguk.


"Lanjut ma, jangan peduliin Marcel. Ganggu orang lagi nostalgia aja sih," sungut Marsya sebal karena lagi-lagi Marcel bersuara disaat mamanya sedang asyik bercerita.


"Nah, jadi waktu itu..."


***


Benar saja, begitu sampai dirumah, tante Runita langsung mengikuti Niken menuju ke kamarnya dan bertanya macam-macam. Niken sampai hampir menangis rasanya melihat keingintahuan tante Runita.


"Kok kamu bisa sama adiknya Sinta, Nik?"


"Kan kemarin kak Rayya udah bilang Tan kalo kami satu sekolah." Niken menjawab sembari mengganti seragam sekolahnya. Tante Runita duduk di ranjang sembari memeluk boneka panda yang dibelikannya seminggu setelah Niken tinggal dirumahnya.


"Tante jadi ingat masa-masa sekolah dulu. Masa sekolah itu masa yang paling menyenangkan. Keluyuran sehabis pulang sekolah, bolos kalo bosen belajar, manjat pagar kalo telat datang, ngecengin cowok yang sekiranya ganteng dan populer." Niken melirik tante Runita yang justru tersenyum sendu.


"Tante nggak papa? Katanya masa sekolah masa yang paling indah, kok malah sedih."


"Tante kangen sekolah."


"Ya udah Tante sekolah aja lagi."


"Ngawur kamu. Makanya Nik, manfaatkan waktu mu dengan sebaik mungkin, masa sekolah tidak akan terulang lagi. Tante nggak ngelarang kamu untuk main sepulang sekolah ataupun kenal dengan lawan jenis, tapi ingat kamu harus bisa jaga diri. Jangan sia-siakan kepercayaan yang udah Tante kasih. Belajar bila waktunya belajar, bermain bila waktunya bermain. Kamu paham?" Niken mengangguk mendengar petuah dari tantenya.


Seperginya tante Runita dari kamarnya, Niken jadi merenung, akankah masa sekolahnya bisa seindah masa sekolah tante Runita?


Niken sebenarnya bahagia sekolah di Budaya. Punya teman-teman yang baik walaupun ketua kelasnya cerewet nauzubillah, wakil ketua kelasnya yang rese minta di ceburin ke got dekat pagar sekolah, guru yang kompeten, fasilitas sekolah yang memadai tapi satu yang membuat Niken tidak betah sekolah disana.

__ADS_1


Mulyono.


Ya, Mulyono si manusia gemulai itu yang membuat hari-hari di sekolah Niken terganggu. Sebenarnya Mulyono baik, dia tidak melakukan sesuatu yang ekstrim yang membuat nyawa Niken terancam. Hanya saja, teman-temannya terutama Dhani dan Herman yang selalu mengejek mereka berdua lah yang membuat Niken tidak betah bersekolah disana. Bahkan julukan couple goals 7b pun sudah disematkan pada mereka. Dimana Niken berada sepertinya selalu terdengar orang-orang berbisik mendengungkan nama Mulyono didekatkan. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Niken saja.


Ngomong-ngomong soal perasaan, Niken jadi teringat tadi Rayya sempat memasukkan sesuatu kedalam tasnya dan mengatakan baca setelah sampai rumah. Niken yang penasaran segera memeriksa tasnya dan menemukan sebuah surat berwarna biru muda.


Untuk sekretaris kelas 7b.


Niken tersenyum geli membaca tulisan kecil yang berada di sudut sampul tersebut dan segera membukanya.


'Hai Niken. Senang bisa berkenalan denganmu.'


Hanya itu. Tak ada kelanjutannya sampai Niken mencari-cari siapa tau ada kertas lain dan hasilnya nihil tanpa Niken tau, hanya sepenggal kalimat itu tetapi Rayya sudah gemetar ketika menulisnya.


***


"Niken!" Rayya menyapa Niken yang kebetulan bertemu di koridor. Niken melirik dan tersenyum singkat serta tetap berjalan pelan karena tak tau harus membalas sapaan Rayya seperti apa.


Kecakapannya berbicara didepan banyak orang hilang tak berbekas bila berhadapan dengan Niken. Entah Rayya yang terlalu grogi atau efek jatuh cinta di masa puber nya memang sedahsyat itu.


Ujung koridor pemisah kelas mereka sudah didepan mata tapi mereka masih betah dengan aksi diam-diamnya. Sebenarnya mata Rayya tidak bisa diam, sedari tadi dia melirik Niken yang entah mengapa selalu nampak imut dimatanya. Rayya jadi tersenyum sendiri, membayangkan dia dapat mencubit pipi yang sedikit tembam itu.


"Istirahat nanti kamu makan di kantin mana?" Rayya menghentikan langkahnya begitu sampai diujung koridor yang membuat Niken pun jadi ikut menghentikan ayunan kakinya.


"Hmm aku jarang makan di kantin sih kak. Biasanya Marwah bawa kue dari rumah, kami makan kue di kelas. Marwah jualan kak. Kami ke kantin cuma kalo pas nggak bawa minum aja."


"Oo gitu ya. Ya udah nanti aku ke kelas kamu ya?"


Entah itu pernyataan atau pertanyaan, Niken tidak tahu. Karena Rayya sudah berlalu tanpa menunggu jawaban dari Niken. Niken pun melanjutkan langkahnya ke kelas. Tapi belum apa-apa Niken sudah kelimpungan sendiri. Jangan sampai Rayya menghampiri kelasnya. Niken tidak mau sampai jadi bahan ejekan teman-temannya. Setelah Mulyono, jangan sampai nama Rayya bergaung dimana-mana.


***

__ADS_1


"Selamat pagi nyonya Mulyono." Seperti biasanya, Dhani yang hari ini nampak berbeda karena habis potong rambut menyapa Niken dengan celetukan-celetukan anehnya. Niken hanya melirik dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Ih sombong banget sih, mentang-mentang kemaren abis diajak jalan-jalan sama kakak ketua OSIS. Kamu selingkuh dari Mulyono ya. Kejam!" Suara Dhani yang menggelegar sudah pasti dapat didengar oleh seluruh penghuni kelas. Kini semua pandangan mengarah ke arah mereka berdua.


Niken melirik ke arah Rindy yang kini tengah menatap tajam matanya. Mungkin bila ada sinar laser yang keluar, Niken sudah mati tersayat. Adila dan Marwah belum terlihat, Salsa pun hanya terlihat tasnya saja yang tergeletak diatas meja, orangnya entah kemana.


"Woy Mulyono, hati lo nggak papa ngedengar Niken jalan sama kak Rayya? Kalo gue sih, dengar orang yang gue suka jalan sama orang lain, udah gue samperin tuh kakak kelas, gue ajak berantem."


Mulyono yang memang kalem hanya terdiam dan sedikit menyunggingkan senyum mendengar provokasi dari Dhani.


"Udah Mul, kalo lo takut ngadepin tuh kakak kelas sendiri, gue temenin. Kita hadapin bareng-bareng. Demi pujaan hati lo nggak direbut cowok lain." Herman yang duduk sebangku dengan Mulyono pun ikut-ikutan mengompori.


"Mantap Herman. Lo emang anak buah gue yang paling oke." Dhani yang mendapat dukungan dari Herman pun langsung menghampiri Herman dan menepuk-nepuk pundaknya bangga.


"Gimana Mul, kita samperin entar istirahat?" Herman bertanya kembali setelah dilihatnya Mulyono hanya terdiam mendengar percakapan sesat mereka.


"Udahlah nggak usah. Ngapain sih? Kalian doain aja Niken jadi jodoh gue."


Kelas seketika hening.


"ASTAGA."


"CUIT-CUIT."


"CEILEH."


"PRIT-PRIT "


"CIEEEEE."


"MULYONO NIKEN BEST COUPLE 7B MAKIN BERJAYA."

__ADS_1


Kelas jadi riuh oleh siulan dan godaan-godaan teman-teman Niken. Niken hanya mampu menundukkan kepalanya diatas lipatan tangannya dan menangis dalam diam. Sungguh rasanya Niken ingin pindah sekolah saja.


__ADS_2