Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Ajakan Nikah


__ADS_3

"Halo mama sayang," sapa Niken berusaha mengeluarkan suara ceria begitu menekan tombol jawab di layar ponselnya. Ternyata mamanya yang menelepon berkali-kali sedari tadi. Walaupun Niken sempat keheranan dengan mamanya karena tumben-tumbenan berkali-kali menelepon seperti ini tapi mukena memilih untuk tidak memikirkannya lebih lanjut.


"Kamu dari mana sih, mama telepon nggak diangkat-angkat?" omelan mamanya diujung sana justru menimbulkan kekehan di bibir Niken.


"Aku lagi keluar cari makan tadi ma sama Nabila." Niken membaringkan badan di ranjang agar lebih nyaman berbincang dengan mamanya.


"Oh Nabila main ke kosan mu?"


"Nggak ma, Nabila hari ini pindah ke kosan aku." Niken memang sering menceritakan perihal pertemanannya dengan Nabila hingga mamanya sudah seperti mengenal dekat Nabila walaupun jarang bertemu tetapi Niken belum sempatĀ  menceritakan perihal Nabila pindah kos.


"Loh kenapa kok pindah kos? Bukannya kos kamu justru lebih jauh ya dari kampus dia?" tanya mama Niken heran dengan keputusan pindah kos yang diambil teman anaknya itu.


"Kos dia nggak aman katanya ma, laki-laki perempuan bebas keluar masuk kamar kos," jelas Niken.


"Oh, ya lebih baik pindah sih kalo tempat kosnya seperti itu. Oya kamu tadi makan malam pake apa?"


"Rencananya tadi mau beli nasi goreng ma, tapi belum sempet beli datang bang Bayu bawa sate, ya udah deh aku makan sate, Nabila beli nasi goreng."


"Bayu? Bayu yang punya usaha fotocopy dekat sekolah kamu itu ya?" tanya mama Niken memastikan sementara Niken sendiri heran, darimana mamanya tau perihal Bayu? Perasaan Niken tidak pernah bercerita tentang Bayu kepada mamanya?


Niken menepuk dahinya begitu ingat percakapan antara Bayu dan Nabila yang tidak sengaja ia dengar.


"Mama kok tau Bayu punya usaha fotocopy dekat sekolah?" tanya Niken pura-pura tidak tau.


"Sebenernya mama nelpon kamu mau tanya tentang ini, kamu udah berapa lama pacaran sama Bayu? Kok mama nggak pernah tau? Nggak pernah cerita juga."


Niken mengernyitkan kening heran, "mama ngomong apa sih? Nggak ngerti aku."


"Udah jujur aja sama mama, mama nggak marah kok. Sejak kapan kamu pacaran sama Bayu?" Desak mama Niken yang sudah mulai tidak sabar.


"Siapa yang pacaran sama Bayu sih ma? Aku nggak pacaran sama dia kok," jawab Niken yang mulai tidak mengerti dengan arah pembicaraan mamanya. Apa Bayu mengajukan lamaran dengan alasan bahwa mereka sudah berpacaran lama? Pertanyaan itu menari-nari di benak Niken.

__ADS_1


"Kalo kalian nggak pacaran, nggak mungkin Bayu datang kerumah dan minta restu mama ngelamar kamu. Untung aja tuh anak nggak bawa keluarga, kalo tiba-tiba bawa keluarga mungkin sekarang mama lagi di rumah sakit akibat jantungan."


Penjelasan mamanya membuat Niken diam mematung. Melamar? Maksudnya melamar dirinya kan bukan melamar menjadi pembantu? Sepertinya ucapan Bayu kepada Nabila memang benar-benar serius.


"Ma, mama serius Bayu datang kerumah buat lamar aku?" tanya Niken memastikan. Mamanya di seberang sana mendengus kesal dengan anaknya yang tiba-tiba lemot.


"Ya iyalah lamar kamu, mau lamar siapa lagi emang, masa mama?"


"Ya kali aja," goda Niken terkekeh.


"Kamu pacaran sama Bayu kenapa diam-diam aja, Nik? Kamu backstreet dari mama ya?" Selidik mama Niken yang masih penasaran dengan kisah cinta anaknya. Apalagi sampai ada seorang pemuda yang nekat melamar anaknya.


"Aku nggak pacaran sama bang Bayu, ma," elak Niken bingung sambil garuk-garuk rambut dan seketika Niken ingat Bayu masih berada di ruang tunggu, kenapa tidak dia tanyakan saja kepada yang bersangkutan. Sepertinya mereka membutuhkan waktu untuk berbicara serius.


"Ma, nanti aku telpon mama lagi ya, aku ada urusan mendesak," ucap Niken buru-buru dan langsung mematikan sambungan telepon.


Segera Niken berlari turun kebawah dan menemukan Bayu dan Nabila masih asyik mengobrol. Melihat kedatangan Niken yang terkesan rusuh, Bayu dan Nabila sontak menoleh menatap Niken heran.


"Nggak papa, hehehe." Niken cengengesan dan langsung duduk.


Ingin rasanya Niken berkata bahwa ia butuh bicara berdua dengan Bayu tapi Niken tak enak hati dengan Nabila. Apalagi kini mereka sedang serius membahas mata kuliah, pembahasan yang tidak Niken mengerti.


Hampir pukul sepuluh barulah Nabila beranjak dari duduknya dan berpamitan ingin ke kamar dengan alasan ngantuk dan Niken memanfaatkan situasi ini untuk berbicara dengan Bayu.


"Abang ada kerumah mama ya?" tanya Niken langsung begitu Nabila sudah tidak nampak di pandangan mata.


Bayu menoleh dan mengangguk mengiyakan.


"Ngapain?" tanya Niken lagi heran.


"Silaturahmi aja. Sekalian ada sesuatu yang mau Abang omongin sama mama kamu," ucap Bayu sok misterius.

__ADS_1


"Sesuatu itu apa?" desak Niken yang tidak sabar dan berharap Bayu tidak bertele-tele. Waktu juga sudah malam dan sebentar lagi gerbang ditutup, para tamu di wajibkan pulang.


"Mau kan kamu jadi istri Abang, Nik?"


Bayu mengucapkan kalimat yang membuat Niken terdiam shock. Mereka baru bertemu kembali belum ada sebulan dan Bayu sudah nekat melamarnya padahal sebelum ini masih ingat dengan jelas di ingatan Niken bagaimana ia menolak Bayu. Walaupun lamaran pribadi ini tanpa cincin dan adegan berlutut seperti di drama-drama Korea yang sering Niken tonton tetapi sanggup membuat Niken hampir menangis terharu. Terharu karena ada laki-laki yang berniat serius dengannya. Sekarang ia kebingungan sendiri, menerima atau menolak.


"Bang, yakin aku orangnya?" tanya Niken sangsi. Siapa tau saja Bayu ingin melamar Nabila dan salah alamat menjadi melamar Niken.


"Sangat yakin, Nik. Cuma kamu yang Abang mau, nggak ada yang lain,"


Niken terdiam. Ingin rasanya menelepon Juna dan meminta pendapat tapi apa Bayu mau menunggunya menelepon Juna barang lima menit saja.


"Kamu ragu?" Kini giliran Bayu yang sangsi dengan kebisuan Niken.


"Aku masih muda bang, masih banyak hal yang belum aku tau apalagi perihal berumah tangga." Niken memberi alasan yang tiba-tiba saja terlintas di pikiran.


Bukan maksud hati ingin menolak tetapi memang seperti itu kenyataannya. Niken sama sekali belum memikirkan berumah tangga ditengah finansial keluarga yang compang-camping.


"Kita bisa jalani pelan-pelan kan? Abang juga nggak minta kamu untuk kita menikah besok, kita lamaran sekaligus menjalani masa pacaran. Kamu sudah 19 tahun kan? Setahun kedepan sudah 20 tahun dan Abang rasa itu bukan umur yang terlalu muda untuk berumah tangga." Bayu mencoba meyakinkan Niken yang tampak jelas ragu tergambar di wajahnya.


"Kalo aku nggak sesuai dengan apa yang Abang inginkan gimana? Banyak pasangan yang bercerai karena merasa nggak cocok ditengah jalan." Niken masih saja berkelit dan berbelit-belit seperti ular melilit.


"Berumah tangga itu bukan hanya tentang sempurna tetapi tentang siapa yang mampu berjuang dan bertahan. Berjuang menghadapi rintangan dan bertahan menghadapi kerikil kehidupan." Bayu tak pantang menyerah meyakinkan Niken.


"Boleh aku berpikir dulu?" tanya Niken akhirnya. Tak tahan dengan kata-kata manis yang diucapkan Bayu. Walaupun meyakinkan tapi masih saja Niken perlu waktu untuk berpikir setidaknya bertanya kepada Juna.


Itupun kalo Juna bisa diharapkan. Terkadang anak itu juga mulutnya seperti petasan kalau memberi wejangan.


"Woy, gerbang mau di tutup." Cindy datang membawa kunci gerbang, bertanda memang jam kunjungan anak kos sudah habis.


Bayu beranjak dan tersenyum seraya mengacak pelan rambut Niken.

__ADS_1


"Berpikirlah biar nggak salah langkah."


__ADS_2