Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Bertemu Papa


__ADS_3

Andre terlihat sedang berpikir dan tiba-tiba mengacak rambut Niken yang mulai lepek terkena keringat, "Kakak antar pulang ya?" tawar Andre yang langsung mendapat gelengan dari Niken.


"Nggak usah kak. Malam ini gerai pasti ramai. Kakak kerja aja nggak papa kok, kasian Anjas ditinggal sendiri. Aku bisa pulang naik ojek," tolak Niken yang tidak mau mengganggu jadwal kerja kekasihnya itu.


"Nggak papa, nanti kakak bilang sama Anjas biar ajak temannya jaga gerai juga. Kakak kan belum pernah ketemu orang tua kamu. Selagi papa kamu di rumah, kakak pengen main."


Niken berpikir dan membenarkan ucapan Andre. Selagi papanya dirumah, ini kesempatan yang baik untuk mengenalkan Andre kepada orang tuanya agar papanya juga tidak menyebut-nyebut nama Juna di setiap obrolan mereka. Tapi Niken masih tak enak hati, malam minggu adalah malam yang selalu di tunggu-tunggu oleh Andre dan Anjas. Bukan karena ingin mendatangi pacar seperti anak muda lainnya tetapi karena gerai yang selalu ramai bila malam minggu.


"Beneran nggak papa nih kak?" tanya Niken ragu dengan keputusan Andre menemui orang tuanya.


"Nggak papa. Ini kesempatan langkah bisa ketemu papa kamu. Calon mertua aku."


Niken tertawa mendengar celetukan kekasihnya itu dan segera naik ke boncengan agar mereka juga cepat sampai di kediaman orang tua Niken. Terlebih dahulu Andre menelepon Anjas dan mengabarkan ia yang tak bisa membantu jualan. Awalnya Anjas mengomel membuat Niken yang mendengar percakapan mereka jadi tak enak hati tetapi akhirnya Anjas senang-senang saja karena Andre menjanjikan gaji nya malam ini akan ditambah.


"Nik, kok kakak deg-degan ya?" ucap Andre ketika mereka baru saja sampai di kediaman orang tua Niken.


"Kalau nggak deg-degan mati dong kak," celetuk Niken.


"Ih kamu ini. Kakak serius loh."


Niken tertawa geli, sepertinya kekasihnya ini sedang tidak bisa di ajak bercanda.


"Itu lah yang aku rasain waktu aku tiba-tiba kakak ajak kerumah orang tua kakak. Mana waktu itu belum mandi lagi," sungut Niken yang masih sebal bila mengingat saat Andre tiba-tiba mengajaknya menemui keluarganya.


Mau tak mau Andre geli juga melihat wajah cemberut Niken, "Maaf deh. Waktu itu kakak bingung mau ngerayain anniv kita dimana, jadi kakak cerita sama mama dan mama ngusulin supaya ajak kamu kerumah. Sekalian mama mau kenalan."


"Pakai briefing dong kak, biar aku nggak kaget-kaget banget."


"Di briefing pun tetep aja kalau mau ketemu sama calon mertua pasti panas dingin juga. Nih pegang."


Niken tertawa ketika tangan Andre berada di genggamannya. Tangan itu dingin dan sepertinya Andre serius dengan ucapannya, dia grogi bertemu dengan orang tuanya.

__ADS_1


"Jangan takut. Orang tua aku nggak galak kok." Niken menenangkan. Walau sejujurnya ia juga gelisah, takut mama papanya tak begitu menyukai Andre. Tapi sepertinya rasa gelisahnya tak separah gelisah yang sedang didera Andre.


"Kalau mereka nggak suka kakak gimana Nik?" Andre khawatir sekali.


"Yang penting kan aku suka kakak." Niken tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya dan mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Niken! Kamu datang kok nggak langsung masuk!" Suara papa Niken mengagetkan mereka berdua. Tak ayal tautan tangan mereka langsung terlepas.


Andre pucat pasi.


Niken hampir tertawa sebenarnya tetapi sepertinya itu bukan saat yang tepat apalagi papanya masih berdiri didepan pintu dan menatap mereka berdua.


"Sini masuk. Udah gelap diluar. Nggak takut digigit nyamuk kalian," sahut papa Niken kembali.


Niken pun langsung mengajak Andre masuk kedalam rumahnya. Andre menyalami papa Niken dengan ekspresi senyum canggung di wajahnya. Mungkin saat ini papa Niken menyadari tangan Andre yang dingin.


"Sudah sampai dari tadi? Kok nggak langsung masuk?" tanya papa Niken ramah dan mengajak teman lelaki yang dibawa anaknya itu masuk kedalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Baru aja sampai kok pa," jawab Niken yang tak mau papanya berpikir yang tidak-tidak.


"Males. Entar kamu minta oleh-oleh yang buat papa susah bawanya." ketus papa Niken dengan nada bercanda.


Niken cemberut dan menuju dapur untuk menyapa mamanya sekalian membuatkan minuman untuk Andre.


"Mama!" sapa Niken ketika sampai di dapur dan melihat mamanya sedang menyeduh secangkir teh.


"Eh, langsung pulang kamu?"


"Iya dong, mau minta oleh-oleh aku," ucap Niken ceria sembari mengambil gelas di rak piring.


"Segelas lagi ma tehnya?"

__ADS_1


"Tumben kamu minum teh?" Heran mama Niken tapi di biarkan saja anaknya itu menuang gula kedalam gelas.


"Ada teman aku datang."


"Oya? Siapa?" tanya mama Niken antusias. Semenjak Niken putus dengan Bayu, belum pernah sekalipun Niken membawa temannya yang lain untuk berkunjung ke rumah.


"Kalau mama penasaran, kenapa nggak ke depan aja, biar sekalian kenalan?" goda Niken sembari tersenyum jahil.


"Pacar kamu ya?" Mama Rumila sepertinya kepo maksimal tetapi masih harus menunggu air diatas kompor mendidih agar sekalian membawakan teh untuk suami dan teman anaknya itu.


"Ada deh!" Niken tertawa ketika mamanya justru mencubit lengannya dengan gemas.


Selesai menyeduh teh, Niken membawa nampan itu kedepan di ikuti oleh mamanya yang sudah penasaran seperti apa teman yang di bawa anaknya itu.


Terlihat papanya dan Andre tengah berbincang entah menceritakan apa. Melihat kehadiran mama Niken, Andre segera berdiri dan menyalami mama Niken sekaligus memperkenalkan diri.


"Sudah lama kenal Niken?" tanya mama Rumila. Mereka sudah berbincang kesana-kemari cukup lama. Andre yang sudah terbiasa bersosialisasi menghadapi orang banyak saat masih menjadi ketua OSIS dulu serta keharusannya beramah tamah di dunia dagang sudah mulai rileks dan tidak segugup saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini.


"Dari awal Niken masuk SMA Hang Tuah Tante, saya kakak kelasnya dulu," jawab Andre sesopan mungkin.


"Wah udah cukup lama juga. Nak Andre tinggal dimana?" tanya mama Rumila lagi yang dijawab Andre dengan menyebutkan alamat rumahnya.


Obrolan masih berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Andre berpamitan untuk pulang. Gerai tutup di pukul sebelas dan Andre setidaknya ingin membantu adiknya beres-beres dagangan mereka.


"Niken pernah kecewa dan gagal menikah. Om harap kamu tidak mengecewakan Niken. Kalau memang sudah bosan dengannya, tolong putuskan Niken dengan cara baik-baik," ucap papa Niken bersungguh-sungguh. Ia tidak mau anak semata wayangnya yang ia sayangi dengan sepenuh jiwa dan raga kecewa dan merasakan luka lagi.


Pesan dari papa Niken sebelum Andre keluar dari pintu rumahnya itu sangat membekas di ingatan Andre. Sedangkan Niken hampir menangis mendengarnya. Dipeluknya lengan papanya dan bersandar di bahunya seraya mengantar kepergian Andre dengan senyuman.


"Gimana menurut papa?" tanya Niken saat papanya sedang menutup pintu dan akan menuju ke kamarnya.


"Apa yang terbaik menurut kamu, papa akan ikuti. Semoga dia bisa membahagiakan kamu," ucap papanya tulus seraya membelai lembut rambut anaknya.

__ADS_1


"Semoga pa." Niken juga tak kalah tulus sewaktu mengucapkan kata sekaligus doa itu.


Jauh didalam lubuk hati Niken, ia berharap Andre akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Tak peduli seberapa lama uang mereka akan terkumpul dan bisa membeli rumah yang penting dia tidak merasakan lagi sakit karena putus cinta.


__ADS_2