
Info dari Niken membuat Nabila mendongak dan terkejut. Ia melebarkan mata tak menyangka Niken mengetahui bahwa ia tengah hamil saat itu. Nabila makin terguguh dan berterima kasih karena sampai saat ini tidak membocorkan perihal kehamilannya padahal Niken berkesempatan besar untuk mengumbar aib nya apalagi dengan kesalahan yang sudah Nabila lakukan.
"Aku pulang kerumah orang tuaku Nik dan cerita semua tentang kondisiku. Aku sempat di hajar dan hampir di usir. Bang Bayu diminta tanggung jawab dan terpaksa memutuskan pertunangan kalian padahal dia nggak ada rasa cinta sama sekali sama aku. Dia melakukan perbuatan tercela itu hanya berdasarkan nafsu."
"Kamu tau kenapa sampai sekarang aku cuma punya anak satu? Itu karena bang Bayu yang nggak mau punya anak lagi dari aku. Dia masih cinta sama kamu padahal udah puluhan tahun kami menjalani rumah tangga. Anak kami bahkan udah bekerja dan hidup mandiri tapi bayang-bayang mu masih menghantui rumah tangga kami."
Niken terkesiap mendengarkan penjelasan Nabila dan rumah tangga yang tengah ia jalani. Niken tak menyangka bahwa bayang-bayang dirinya masih menghantui mereka. Selama Bayu meninggalkannya, Niken sudah melupakan sosoknya tetapi mengapa Bayu belum bisa melupakannya?
"Mungkin ini karma atas perbuatan jahat ku sama kamu, Nik. Sekali lagi aku mohon, maafkan aku, Nik agar aku bisa lebih tenang menjalani rumah tangga ini."
***
Niken merenung menatap layar televisi. Pandangannya kosong dan pikirannya melayang mengingat pertemuannya dengan Nabila pagi tadi. Tamu yang tak pernah ia sangka kehadirannya. Mereka sudah berbaikan dan saling memaafkan. Nabila tak memberi tahu alamat dan nomor ponselnya. Mungkin takut Niken tiba-tiba datang berkunjung dan mengganggu ketenangan rumah tangganya. Apalagi menurut Nabila, Bayu masih belum bisa sepenuhnya melupakan dirinya.
Belum bisa melupakan dirinya!
Benarkah?
Bukankah dirinya yang sudah mengacaukan rencana indah yang telah mereka rancang?
Niken bukannya merasa senang dan berbangga hati begitu mengetahui Bayu yang belum bisa move on darinya. Niken justru merasa tidak enak hati dengan Nabila. Apalagi ucapan Nabila tadi seolah-olah mengatakan Niken ikut andil atas ketidakharmonisan keluarga mereka. Semoga itu hanya prasangka buruk Niken saja.
"Ma!" Panggil Marcel sembari memegang bahu mamanya. Niken berjengit kaget.
"Kamu kapan pulang?" tanya Niken begitu mendapati anaknya sudah berada di hadapannya dengan tas dan sepatu yang sudah terlepas dari badannya.
"Dari tadi. Mama aku panggilin malah asyik melamun. Mikirin apa sih ma?"
"Nggak ada. Mama juga nggak sadar kalo lagi ngelamun."
__ADS_1
Marcel memicing curiga, "Mama kangen papa, ya?" tanya Marcel lagi dengan senyum menggoda.
"Apaan sih! Tiap hari juga ketemu papa, kangennya selalu terbalas," jawab Niken malu.
"Ya nggak masalah kali ma ngelamunin papa karena kangen daripada ngelamunin mantan." Niken tertawa garing. Ingin menjitak Marcel yang asal bicara tetapi bisa tepat sasaran. Niken memang sedang ngelamunin mantan. Syukur saja nggak ada rasa kangen di dalamnya.
Niken tak akan menceritakan pertemuannya dengan Nabila kepada anak-anaknya walaupun saat ini kisahnya tengah menceritakan Nabila. Biarlah, pertemuan tadi menjadi cerita tersendiri untuknya.
"Makan dulu sana. Abis itu istirahat." Perintah Niken yang langsung membuat Marcel cemberut.
"Aku makannya sambil dengerin lanjutan cerita mama ya?" bujuk Marcel dengan mata mengedip lucu.
"Kamu kira mama radio rusak apa," dumal Niken tetapi Marcel hanya tertawa.
Segera diambilnya piring dan duduk di hadapan mamanya, "Buruan ma, cerita!" desak Marcel tak sabar.
"Curang. Lanjut cerita tapi aku nggak di ajak. Mama tunggu aku, aku mau ganti baju dulu dan ambil makan setelah itu ikut dengerin cerita mama," cerocos Marsya dan secepat kilat menyelesaikan urusannya.
Niken dan Marcel berpandangan dan terkekeh geli sendiri.
"Lanjut ma," perintah Marsya ketika sudah duduk disebelah mamanya dengan piring ditangan. Marcel sendiri sudah menyelesaikan makannya dan kini tengah memangku piring berisi puding lumut buatan mamanya.
"Nah jadi setelah mama bertemu Andre malam itu...."
***
Niken sedang berjalan-jalan di street food bersama Cindy untuk menghabiskan malam minggu kelabu mereka. Kelabu karena di sepanjang mereka menyusuri jalan banyak terdapat muda-mudi yang menghabiskan malam bersama kekasihnya sedangkan mereka hanya bisa memandangnya dengan tatapan nelangsa. Nelangsa karena tidak punya pacar.
"Enaknya makan apa ya, Nik?" tanya Cindy sembari matanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari makanan yang menggugah seleranya. Mereka belum menemukan makanan yang cocok di sepanjang street food yang mereka lalui.
__ADS_1
"Aku terserah makan apa aja sih. Pemakan segala aku," gurau Niken yang mendapat lirikan geli dari Cindy.
"Tapi kok kau nggak besar-besar ya, Nik?" tanya Cindy dengan wajah polos.
"Entahlah. Mereka-mereka tumbuh keatas atau ke samping, lah aku? Nggak tumbuh-tumbuh." Cindy tertawa kencang mendengar gerutuan Niken yang konyol.
"Martabak yang kamu kasih dulu itu enak, Nik. Kamu beli dimana?"
"Martabak mana?" Niken mengingat-ingat kapan dia pernah memberi Cindy martabak.
"Martabak yang kamu kasih sekitar sebulan yang lalu itu loh." Cindy mengingatkan.
"Ooh, aku di kasih gratisan itu sama temenku. Enak karena gratis kali, Cin," kekeh Niken. Ia baru ingat pernah memberi Cindy martabak saat ia membeli martabak kepada Anjas dan justru Andre yang menjadi kurirnya.
"Tanya gih belinya dimana? Serius enak martabaknya. Manisnya pas. Aku suka," puji Cindy serius.
Niken menggaruk rambutnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Anjas tetapi belum juga nomornya terpanggil, Niken merasa seperti melihat sosok yang di kenalnya. Niken memfokuskan pandangan, takut salah mengenali dan ternyata Niken tidak salah melihat. Sesosok itu adalah memang seseorang yang dikenalnya. Niken tersenyum dan bergumam, pucuk di cinta ulam pun tiba.
"Ayo Cin, udah ketemu jualannya dimana!" seru Niken senang dan segera menyeret Cindy menghampiri seseorang yang Niken lihat tersebut.
"Bang, beli martabaknya satu kotak!" celetuk Niken dengan nada seperti anak kecil yang akan membeli permen di warung.
Penjual martabak itu menoleh dan terkejut mendapati Niken bisa berada di gerainya. Padahal ia tidak pernah memberi tahu alamat gerainya ada dimana.
"Niken! Lagi malam mingguan di sini?"
"Iya nih nasib jadi jomloh," gurau Niken. "Jadi kamu jualan di sini, Njas?" tanya Niken antusias. Matanya mengedar dan tak menemukan Andre disana.
"Iya. Kamu kok bisa nemu gerai aku? Totalnya 35 ribu ya, kak!" Anjas mengajukan pertanyaan sambil sesekali melayani pembeli. Gerainya lumayan ramai dan Niken sedikit menepi agar tidak mengganggu pembeli lain.
__ADS_1