
"Jahat," pekik Marsya sembari mengusap air mata nya dengan ujung baju. Marcel sendiri langsung memeluk mamanya.
"Mama kok bisa sampai ditinggalin sama calon suami mama dengan cara tragis begitu?" Marsya terisak sewaktu menanyakan pertanyaan itu.
"Itu namanya pengalaman dan pelajaran hidup. Mama justru bersyukur dengan adanya kejadian itu. Dengan begitu mama bisa lebih menghargai apa yang kita punya. Kita juga jadi tau seperti apa orang-orang yang berada di sekeliling kita. Yang baik belum tentu baik yang jahat belum tentu jahat."
"Kami beruntung punya mama sekuat dan setegar ini," ucap Marcel sembari mengecup pipi Niken. Marsya pun ikut memeluk mamanya.
"Mama tangguh. Kami bangga punya mama." Marsya berbisik disela-sela pelukan mereka.
"Jadi udah selesai ini ceritanya? Mama belum masak untuk makan malam." Niken mengusap rambut Marsya dan Marcel yang masih betah memeluknya.
"Belum dong ma, mama pasti masih punya kelanjutan ceritanya," sungut Marcel yang tak terima cerita mamanya berakhir menggantung. Cliffhanger kalau dalam istilah kepenulisan.
"Punya dong. Kisah mama masih panjang sampai akhirnya mama bisa punya kalian tapi sebelum mama lanjut mama mau masak makan malam dulu. Keburu papa kamu pulang." Niken bangkit dari duduknya dan dengan terpaksa mengurai pelukan.
"Marsya bantuin masak ma, biar cepat selesai." Marsya bergegas menyusul mamanya.
"Marcel juga ikut bantuin cuci piring. Lagi sedih nih, dengerin kisah pilu mama."
***
"Nik, ada tamu!" seru Cindy yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Niken, pintu memang tidak Niken tutup sepenuhnya.
Niken ingin menanyakan siapa kiranya tamu yang datang sepagi ini tetapi Cindy sudah menghilang dari penglihatan. Mungkin kembali ke kamarnya. Niken melirik jam dinding dan jarum jam menunjukkan pukul setengah enam. Mungkinkah mamanya yang berkunjung?
Niken turun ke ruang tunggu dan terkejut mendapati orang yang selalu dirindukan hadir didepan matanya.
__ADS_1
"Juna!" teriak Niken dan langsung memeluk lelaki yang selalu ada untuknya itu.
Juna diam tak bergerak ketika tubuhnya di terjang Niken. Ini pertama kalinya dirinya mendapati Niken seantusias ini bertemu dengannya.
"Kok bisa ada disini? Kau baru sampai dari Medan?" tanya Niken terkejut karena mendapati sebuah ransel yang teronggok di dekat kaki Juna.
"Iya, berangkat tadi malam aku." Juna menyahut sembari bersandar di kursi memejamkan mata. Mungkin ia lelah setelah menempuh perjalanan semalamam dari Medan ke Pekanbaru.
"Ngapain pulang? Katamu pulang nanti pas hari pernikahanku?"
"Emang jadi nikah?" tanya Juna santai masih dengan mata terpejam.
"Nggak sih." Lirih Niken pelan. Tertohok dengan kalimat tajam Juna.
Juna membuka mata dan mengusap rambut Niken. Ikut sedih dengan hal yang menimpa sahabat manjanya itu.
"Jodoh nggak akan kemana. Kita masih muda. Mungkin memang takdirmu masih harus merengek-rengek sama aku, kalo kau jadi nikah sama Bayu, mana mungkin kau manja-manjaan lagi sama aku, pasti semua udah kau serahkan sama suamimu."
"Kalo Nabila gimana?" tanya Juna penasaran apalagi kabar terakhir yang ia dengar Nabila sedang hamil.
Niken menggeleng, "Nggak ada kabar juga. Aku belum sempat datangin rumahnya."
"Nggak usah di datangin. Kalo dia masih nganggap kau temannya dia pasti ngabarin kau biar nggak khawatir. Mau gimanapun kau yang ngerawat dia sewaktu dia sakit kemarin." Larang Juna ketus. Dari awal Niken mengenalkannya dengan Nabila sewaktu mereka masih kelas 1 SMA dulu, Juna memang tidak terlalu suka dengan Nabila. Ia merasa terlalu banyak hal yang ditutupi Nabila disaat Niken justru menjadikannya tempat curahan hati.
"Padahal aku udah ikhlas uang 300 ribu nggak balek, aku ikhlas ngerawat dia, bersihin muntahannya, beliin makanannya. Tapi dia pindah dari kos ini tanpa pamit sama aku. Apa mungkin dia takut hutangnya aku tagih ya?"
"Uang 300 ribu?" pekik Juna terkejut membuat Niken menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Maksudmu apa, Nik?" tanya Juna lagi.
"Kemarin itu ATM Nabila hilang. Dia nggak punya uang tunai jadi pinjam uang aku 300 ribu untuk biaya fotokopi tugasnya." Niken menceritakan perihal uang 300 ribu yang tak kembali juga tentang bagaimana ia merawat Nabila serta memberinya makan. Semua Niken ceritakan tanpa terkecuali. Awal mula ia mendapati tespek di meja kecil Nabila pun tak luput ia ceritakan.
"Apa dia pergi tanpa pamit karena masalah uang itu ya, Jun?" Terka Niken ketika ia sudah selesai menceritakan semua yang terjadi selama ia merawat Nabila.
Juna mengangkat bahu tanda tidak mengerti dan ikut bingung juga dengan Bayu dan Nabila yang menghilang hampir bersamaan.
Niken menghembuskan napas kasar dan gantian bersandar di kursi dengan memejamkan mata, "Kemana lagi aku cari Bayu, ya?" gumam Niken yang masih mampu di dengar Juna.
"Nggak usah dicari. Kau udah nggak ada harapan sama dia."
"Aku cuma butuh penjelasan Jun. Aku juga udah nggak berharap bisa nikah sama dia."
Mereka sama-sama terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Juna lelah dan mengantuk sebenarnya tetapi ia lebih memilih turun di kos ini terlebih dahulu alih-alih langsung pulang kerumah orang tuanya. Ia khawatir dengan keadaan Niken. Apalagi kemarin Niken sempat menggumamkan kata sakit dan menangis terisak setelahnya.
Sedangkan Niken di dalam pikirannya masih ada Bayu dan Bayu. Sudah 4 hari Bayu dan Nabila menghilang dan Niken belum bisa lupa dengan calon mantan suaminya itu sebelum mengetahui sebab mengapa Bayu membatalkan rencana pernikahan mereka.
"Nih!" Juna menyerahkan sekotak sari kacang hijau, "Mukamu pucat banget, aku pulang dulu, kau pasti mau kerja kan. Gih sana siap-siap!" Juna pamit pulang setelah sekotak sari kacang hijau sudah berada di tangan Niken.
Niken termangu karena Juna masih setia dengan kebiasaan lamanya. Memberi sari kacang hijau bila dirinya sudah terlalu pucat.
Lamunan Niken tersentak ketika melihat Anna yang baru selesai jogging datang menghampiri nya dengan berlari. Dengan wajah panik Anna menyerahkan sesuatu kepada Niken.
Dan darah di sekujur tubuh Niken serasa berhenti mengalir ketika melihat pemberian Anna.
Selembar undangan!
__ADS_1
Niken ingat sekali dengan warna dan desain undangan itu. Itu adalah desain undangan yang ia pilih beberapa hari lalu bersama Bayu dan sekarang undangan itu berada di tangannya. Tapi bukan namanya yang terukir cantik disana. Melainkan nama orang lain yang sungguh tak pernah Niken bayangkan sebelumnya.
Seharusnya Niken Aryani dengan Nabayu Aditama nama yang terukir di undangan itu. Tetapi yang terjadi bukan namanya dan Bayu yang tercetak disana melainkan nama Bayu dan Nabila.