Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Mengadu Kepada Juna


__ADS_3

Marsya dan Marcel sama-sama terkesiap begitu mamanya menceritakan temuan yang ia dapat dari kamar Nabila waktu itu. Mereka tidak sadar telah menahan napas selama beberapa detik.


"Serius Ma, Nabila hamil?" Marsya terkejut apalagi anggukan dari Niken meyakinkan jawaban yang dinantinya.


"Perasaan mama nggak pernah cerita kalo Nabila punya pacar." Marcel berusaha mengingat di bagian mana mamanya pernah bercerita Nabila dekat dengan laki-laki.


"Oh, aku ingat!" seru Marcel bersemangat, "Yang waktu mama dan Nabila beli nasi uduk kan Nabila sempat senyum-senyum liatin hape. Nabila juga bilang pacarnya di luar jangkauan," lanjut Marcel bertepuk tangan sekali. Bangga dengan ingatannya yang tajam. Marsya mengangguk-anggukkan kepala, tiba-tiba ingat cerita di bagian itu.


"Nabila hamil sama pacarnya ya, Ma?" Marsya masih bertanya penasaran.


"Nggak jelas juga pacarnya atau bukan. Ini untuk kalian-kalian, kalo pacaran itu jangan cuma gunakan hati dan hawa nafsu tapi gunakan juga ini." Niken menunjuk pelipisnya.


"Kayak mama yang pacaran sama Bayu, ya?" goda Marsya yang geli dengan cerita di bagian Bayu dan mamanya berpacaran.


Niken tersenyum malu. Merutuki kebodohannya yang kelepasan di bagian plus-plus dia berpacaran dengan Bayu dulu.


"Intinya boleh berpacaran, boleh suka-sukaan sama lawan jenis, mama dan papa nggak ngelarang tapi wajib bisa jaga diri." Niken menasehati anak-anaknya yang di dengar dengan khidmat oleh mereka berdua.


"Dan satu lagi nasehat mama. Boleh pacaran asal...."


"Asal apa ma?" tanya Marcel penasaran karena mamanya menggantung ucapannya.


"Asal sama lawan jenis. Mama pecat kalian jadi anak kalo suka sama sesama jenis," ancam Niken membuat gelak tawa anak-anaknya berkumandang.


"Ya kali ma, suka sama sesama jenis," kekeh Marsya geli. Marcel bahkan sampai terbahak. Mamanya ternyata mempunyai selera humor yang receh.


"Jadi ma, setelah tau Nabila hamil, apa yang mama lakuin?" Marsya penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Jam berapa sih ini?" Niken justru mengacuhkan pertanyaan anak sulungnya dan bertanya hal lain. Ia merasa malam sudah semakin larut tetapi tamu suaminya tak kunjung pulang.


Marcel melirik jam yang tergantung di ruangan, "Jam 9.30 ma," jawab Marcel.


"Masa sih. Pantes tamu papamu belum pulang, belum larut malam ternyata." Niken menggumam yang masih dapat didengar Marsya dan Marcel.

__ADS_1


"Selagi belum larut malam ma, ayo buruan lanjutin!" Marsya merengek.


"Oke lah kalo kalian memaksa. Resiko bangun kesiangan di tanggung masing-masing pihak yang bersangkutan."


"Jadi setelah mama menemukan tespek positif itu--"


***


Niken kembali ke kamarnya setelah meletakkan hasil temuan tidak sengajanya dan melihat Nabila masih terlelap tidur. Dengan tangan gemetar Niken membuka pintu kamarnya dan langsung mengarah ke kamar mandi untuk cuci muka. Pikirannya kacau, bukan ia yang hamil tapi ia yang gemeteran.


Segala pikiran buruk melayang di ingatan. Benarkah tespek dengan hasil positif itu kepunyaan Nabila? Siapa sebenarnya pacar Nabila yang sampai tega menghamilinya? Teman kuliahnya kah? Atau justru orang luar? Selama ini Nabila terlalu tertutup untuk menceritakan siapa sebenarnya orang yang ia suka.


Dengan tangan yang masih gemetar, Niken menghubungi nomor Juna. Panggilan pertama tidak terangkat tapi Niken mencoba kembali dan di dering ketiga terdengar suara halo di ujung sana.


"Jun," panggil Niken dengan suara parau. Entahlah, dia tidak menangis tetapi tenggorokannya serasa tersumbat.


"Kenapa? Aku masih kerja. Emang kau nggak kerja, Nik? Udah makan belum? Suara mu kok serak? Kau sakit?" Pertanyaan beruntun dari Juna membuat Niken bisa sedikit bernafas lega. Entah karena apa.


"Aku ijin cuti 2 hari ini. Nabila sakit, Jun." Niken memberi laporan yang membuat Juna di ujung sana terdiam sesaat.


"Aku.. aku..." Niken terbata-bata untuk menyampaikan temuan yang ia dapat di kamar Nabila. Bolehkah ia menceritakan kepada Juna?


Ingin diam saja tapi Niken tidak bisa.


"Kenapa? Kau ketularan sakit juga?" tanya Juna cemas. Kondisi Niken sepertinya tidak baik-baik saja.


Niken menarik napas dan menghembuskan ya pelan, "Nabila hamil, Jun." Lirih Niken pelan.


Juna yang sepertinya terkejut kembali diam beberapa saat, "Hamil sama siapa? Pacarnya?"


"Entahlah Jun, aku juga nggak tau." Niken menjawab pelan dan menceritakan kegiatannya dua hari ini selama menjaga Nabila. Gejala yang dialami Nabila hingga tespek yang ia temukan. Semua Niken ceritakan.


"Kau kenal pacar Nabila, Nik?"

__ADS_1


Niken menggeleng walaupun Juna di ujung sana tidak dapat melihatnya, "Nabila tertutup banget soal pacar tapi setelah kuingat-ingat sekitar 2 sampai 3 bulan lalu dia sempet kayak orang kasmaran gitu Jun, tiap detik mantengin ponsel, senyum-senyum sendiri."


"Ya mungkin itu pacarnya. Dia juga yang mungkin nanam benih di rahim temenmu itu."


"Bisa jadi sih. Aku kasian Jun, dia tiap pagi muntah, pacarnya juga belum tentu tanggung jawab, kuliah nya masih lama lagi baru kelar," Niken berujar sedih. Ikut pusing memikirkan nasib perempuan yang sudah Niken anggap sahabat itu.


"Itu sih resiko yang harus di tanggung. Kau juga jangan macam-macam sama Bayu. Awas aja kalo kau sampai kebobolan juga," ancam Juna sadis.


"Hmm. Kau juga jangan sampai merusak anak gadis orang." Niken ikut menyahut ketus.


"Aku merusak janda ajalah. Minim resiko," celetuk Juna asal.


"Yee si kampret," dengus Niken. Telepon terputus karena Juna harus melanjutkan pekerjaannya.


Selepas menelepon Juna, Niken jadi merenung. Kalau selama ini Niken tidak menjaga kewarasannya selama berpacaran dengan Bayu mungkin nasibnya akan sama seperti Nabila. Hamil di luar nikah!


Niken bergidik ngeri. Tak bisa ia bayangkan kalau sampai hal buruk itu menimpa dirinya. Selain malu, Niken juga tidak bisa membayangkan wajah kecewa mama papanya.


Niken membaringkan tubuh, ingin makan siang tapi perut terasa kenyang. Mungkin pengaruh pikiran. Di tatapnya langit-langit kamar dan tak terasa matanya terpejam menjemput mimpi.


Niken keluar dari kamarnya dengan tergesa. Ia ketiduran dan baru ingat, Nabila belum ia beri makan. Niken harus ingat ada dua nyawa di tubuh temannya itu. Sakit yang ia kira hanya masuk angin ternyata masuk benih janin. Di bukanya kamar Nabila dan menemukan temannya itu tengah duduk bersandar dengan ponsel dalam genggaman.


Ia menoleh ketika melihat Niken membuka pintu kamarnya. Niken sendiri menghembuskan napas lega apalagi sudah terdapat bekas kotak makanan di atas meja kecil samping tempat tidur Nabila. Walau nasi dalam kotak itu masih tersisa setengah tetapi setidaknya Nabila sudah makan siang.


"Aku ketiduran sampai lupa kau belum makan. Ini siapa yang beliin?" tanya Niken sembari duduk di ranjang Nabila dan menunjuk kotak bekas wadah makanan.


"Aku beli sendiri tadi." Nabila menjawab sembari mata masih fokus menatap layar ponsel.


"Udah mendingan sakitnya, Bil?" tanya Niken masih cemas. Wajah Nabila sudah tidak sepucat tadi pagi. Tapi tetap saja bayangan ada janin di perut Nabila yang harus di jaga membuat Niken masih terbayang-bayang.


"Udah lumayan lah. Kau udah makan, Nik?" Niken menggeleng karena ia memang belum makan. Tadi niatnya menjenguk Nabila terlebih dahulu dan membeli nasi bila temannya itu belum makan tetapi ternyata Nabila sudah membeli nasi.


"Aku cuma beli satu nasinya," ringis Nabila tak enak hati.

__ADS_1


"Nggak papa, lagian aku masih kenyang." Niken melirik meja kecil dimana ia menemukan tespek tadi pagi dan ternyata benda itu sudah tidak berada di tempatnya.


Sekarang Niken bingung sendiri. Menanyakan langsung kepada Nabila atau tetap pura-pura tidak tau. Niken terlalu sungkan bertanya tetapi rasa penasaran mendera. Dipandanginya Nabila dan tak habis pikir, Nabila bisa seceroboh itu dengan melakukan hal-hal yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.


__ADS_2