Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Mencoba Tegar


__ADS_3

Niken menyalami kedua orang tua Bayu dan sanak saudaranya. Beberapa dari mereka sudah Niken kenal, selain karena mereka menghadiri acara pertunangan nya dulu, Bayu juga sering mengajak Niken bertandang ke rumah mereka. Tapi itu dulu!


Mereka menatap Niken sendu. Entah kasihan dengan nasib Niken atau malu dengan kelakuan Bayu. Niken tidak mau pusing-pusing menafsirkan raut wajah mereka. Mereka sempat terkaget dengan kado yang di bawa Juna tetapi segera menormalkan mimik wajah. Tidak bertanya macam-macam.


Para tamu undangan juga tak sedikit yang memusatkan perhatian kepada Niken dan Juna berkat kado yang mereka bawa. Apalagi ketika Niken naik ke panggung pelaminan dengan langkah tenang.


Niken sudah menebak bahwa nama Nabayu Aditama yang tertera di undangan itu akan sama dengan Nabayu Aditama sang mantan calon suaminya tetapi begitu melihat langsung Bayu dan Nabila bersanding di pelaminan nyeri itu kembali hadir dan membuat saluran pernapasan Niken sedikit sesak.


"Are you oke?" cemas Juna walaupun Niken tampak berjalan tenang di sampingnya. Raut wajahnya tenang tetapi genggaman tangan Niken di lengannya sedikit mengencang membuat Juna cemas Niken akan menangis dan berakhir dengan mempermalukan diri sendiri.


"Emang aku kenapa?" Niken justru balik bertanya. Niken sadar dirinya gugup, sekuat tenaga ia menyakinkan diri, pasti bisa melewati ini semua.


Juna memilih diam dan melanjutkan langkah hingga sampai di depan kedua mempelai. Tak lupa kereta bayi juga ikut naik ke panggung pelaminan.


"Selamat ya bang, semoga bahagia." Suara Niken hampir tercekat sewaktu mengatakan itu. Disalaminya Bayu yang tersenyum kaku. Ia melirik kereta bayi yang berada di sampingnya. Sengaja Bayu meletakkannya disana.


"Selamat Nabila. Sorry aku jadi tamu tak di undang. Oya, kadonya nggak sempat aku bungkus, mendadak banget belinya. Semoga bermanfaat untuk anak yang sedang kau kandung ya," ucap Niken berbisik ketika ia tengah memeluk Nabila.


Bagi orang yang melihat, mereka hanya seperti orang biasa bersalaman dan berpelukan serta memberi ucapan selamat tetapi kalimat Niken sungguh menusuk Nabila yang kini sudah berwajah pias. Bersyukurnya make up tebal yang memenuhi wajahnya mampu menyamarkan pias itu. Nabila tak menyangka bahwa Niken mengetahui kalau dirinya tengah hamil. Padahal seingatnya, dia tidak mengatakan bahwa tengah hamil. Atau jangan-jangan Bayu yang memberi tahu Niken?


Niken bergegas menyeret Juna turun dan segera pulang. Mereka bahkan tak tau menu apa yang terhidang untuk menjamu para tamu. Juna pasrah saja ketika Niken menyeretnya ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Begitu sampai di dalam mobil, tangis Niken tumpah.


"Sesak banget jun," Isak Niken yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tak peduli make up nya akan luntur.

__ADS_1


"Kan aku udah bilang, jangan datang. Kau sendiri yang maksa datang dan berakhir menyakiti hati sendiri," sahut Juna pedas seperti biasa.


"Aku cuma mau mastiin kalo Nabayu Aditama itu benar-benar bang Bayu."


"Setelah tau kalo itu memang Bayu yang sama, apa yang kau dapat?"


"Sakit." Lirih Niken masih terisak dan sesekali menarik tissu yang berada di dasboard untuk mengelap air mata dan ingusnya.


Juna mengeluarkan mobilnya dan keluar dari area parkir. Perutnya lapar dan ia berencana mencari makanan yang bisa di makan di dalam mobil. Tak mungkin ia membawa Niken yang berwajah sembab itu masuk kedalam restoran, pasti Niken juga tidak mau.


Juna mengarahkan mobilnya ke McDonald's dan memesan makanan Drive true. Niken masih melamun ketika Juna masuk ke mobilnya. Sudah tidak ada tangis di wajah itu tetapi Juna tau kondisi hati Niken masih menangis dan meraung.


Diserahkannya ayam goreng dan diterima Niken dengan lesu.


"Dimakan."


"Hmm."


"Hmm." Niken menoleh.


"Nggak jadi." Juna mengurungkan niatnya bertanya membuat Niken penasaran dan menatap wajahnya agak lama.


"Jun." Gantian Niken yang memanggil.

__ADS_1


"Hmm."


"Dipikiran mu pernah terlintas nggak sih kalo anak yang dikandung Nabila itu sebenarnya anaknya Bayu?"


***


"Niken, kau pulang ke rumah orang tuamu ya? Dari tadi pagi kami nungguin, baru sekarang nongol." Itu adalah kata sambutan yang disampaikan teman-temannya ketika Niken baru pulang kerja dan akan memasuki kamarnya. Teman-temannya berkerumun di depan kamarnya bahkan ada yang sampai duduk di lantai karena tidak kebagian kursi.


"Ada apa?" tanya Niken sok polos. Padahal Niken tau teman-temannya pasti akan menanyakan perihal suami Nabila yang baru mereka lihat tadi malam makanya mereka sampai rela menunggunya pulang kerja seperti ini.


Sepulang kondangan tadi malam Niken memang memilih untuk menginap di rumah mamanya dan tadi pagi berangkat kerja langsung dari kediaman mamanya tanpa singgah sama sekali ke kosnya.


"Nik, suami Nabila kok mirip sama bang Bayu, ya?" Itu suara Cindy. Dia memang yang sering bertemu Bayu karena posisi kamarnya yang berada paling depan dan dekat dengan ruang tunggu. Itu sebabnya Cindy sering sekali menjadi penyampai pesan bila ada tamu bertandang mencari penghuni kos.


"Bang Bayu kembar ya, Nik? Kau sama Nabila pacaran sama anak kembar gitu?" Lia bertanya bingung dan meragukan pertanyaannya sendiri. Anna yang duduk di sebelah Cindy hanya terdiam dan menatap Niken prihatin. Hanya Anna yang sepertinya mengerti dengan keadaan yang sedang dialami Niken tetapi ia lebih memilih diam. Biarlah Niken yang menjelaskan sendiri kepada anak kos lainnya apa yang terjadi.


"Mereka nggak kembar tapi orang yang sama." Niken menjawab datar dan menampilkan wajah-wajah terkejut dari perempuan-perempuan di depannya


"Kok bisa? Gimana ceritanya sih, Nik? Bukannya kalian udah tunangan ya bentar lagi nikah malah. Tiga hari sebelum Nabila pindah juga bang Bayu masih datang kesini kan?" Cindy mencercah dengan berbagai pertanyaan yang berseliweran di kepalanya.


"Sepulang dari sini terus nomornya nggak pernah aktif sampai sekarang. Dia datang kerumah membatalkan rencana pernikahan kami dan malah menikah sama Nabila kemarin." Niken menjelaskan dengan gamblang tanpa ada yang di tutup-tutupi. Pembalasan manis yang di lakukan tadi malam rasanya belum kurang. Teman-temannya harus tau seperti apa Nabila sebenarnya. Masih syukur Niken tidak menyebarkan berita pasal kehamilan Nabila.


"Ya ampun Niken," ucap mereka dan satu persatu memeluk Niken bahkan ada yang sampai meneteskan air mata membuat Niken jadi ikut tersentuh. Tidak tau mereka tulus atau tidak tetapi mereka mampu menyentuh titik sensitif dihatinya.

__ADS_1


Ucapan sabar dan kuat serta kata-kata motivasi terus berdatangan membuat Niken semakin terharu. Biarlah ia kehilangan sahabat satu tetapi Allah menggantinya dengan teman-teman kos lainnya yang mudah-mudahan lebih baik dari Nabila. Mereka tidak pernah sekalipun berhutang.


Hufft!! Niken jadi teringat kembali dengan 300 ribu nya.


__ADS_2