Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Curiga


__ADS_3

"Om Uno belum pulang, Tan?" Niken menghampiri tante Runita di dapur dan mengambil piring serta mengisinya dengan lauk pauk yang tersedia.


"Tante lupa bilang sama kamu, om Uno nginep dirumah orang tua kamu karena ada urusan di kantor pusat."


"Ih, Tante kok nggak bilang? Tau gitu Niken ikut," rengek Niken memandang cemberut kearah tante Runita yang cuek saja berjalan ke ruang tv membawa piringnya yang sudah penuh berisi makanan. Niken mengikuti.


Mereka makan sembari menonton tv. Tidak ada ruang makan di rumah mereka. Bila mereka makan lebih sering di ruang tv atau duduk di karpet jika mereka sedang makan beramai-ramai.


"Syukurlah Tante nggak ngasih tau kamu. Kalau kamu ikut, Tante sendirian nggak ada temennya. Lagian kamu kan sekolah, nggak sayang kalau harus libur?"


"Tante kan bisa ikut juga. Kita kerumah mama ramai-ramai."


"Om kamu kerja bukan jalan-jalan yang bisa ngajak orang se kelurahan." Niken nyengir. "Lebaran nanti kita kerumah mama kamu. Ngabisin masa libur."


"Yeeeeeiiiiii." Niken bersorak gembira. Tante Runita sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya.


"Tadi kamu pulang diantar Rayya lagi, Nik?"


Niken menghentikan kunyahannya dan mengangguk. Menunduk, pura-pura fokus makan, menghindari tatapan mata tante Runita padahal Niken sedang salah tingkah.


"Cieee."


"Apaan sih, Tan? Kebetulan ketemu di gerbang tadi." Niken merasakan wajahnya sudah semerah tomat.


"Tante nggak tanya tuh." Tante Runita malah gencar menggoda. Dia tertawa melihat wajah keponakannya yang sudah memerah sampai ke telinga.


"Aku ngasih tau aja."


"Kemarinan Tante ajakin ke rumah Sinta kamu ogah-ogahan setelah ketemu sama adiknya eh malah sering pulang bareng."


"Ih Tanteeee apaan sih?" Niken merengek salah tingkah. "Makan ku udah selesai." Niken buru-buru beranjak ke dapur. Tante Runita memang kadang-kadang seresek itu. Baru meletakkan piring kotor dan sedang cuci tangan, terdengar teriakan tante Runita.


"Besok kita kerumah Sinta lagi ya?" Niken tidak tau pertanyaan tante Runita ini serius atau hanya untuk menggodanya.


"Males." Niken menjawab sembari mencari acara kartun. Jarang ada acara kartun bila malam hari seperti ini.

__ADS_1


"Kok males sih, kan lumayan kamu bisa ketemu sama adiknya." Tante Runita menjawab sembari cengengesan dan menarik turunkan alisnya.


"Justru karena ada adiknya aku jadi males kesana. Di sekolah ketemu di rumah ketemu, bosen."


"Bosen apa bosen?" Niken tertawa dengan godaan tante Runita.


"Oya Tan, Tante lagi program mau punya anak ya?" Selagi ingat, Niken mau bertanya, apa benar yang dikatakan Rayya tadi siang. Tante Runita mengangguk membenarkan.


"Iya, udah 5 tahun kan Nik. Siapa coba yang nggak pengen punya anak?" Tante Runita memang menjawab dengan nada yang biasa tapi raut sendu tak dapat dipungkiri, terhias di wajahnya.


"Semoga cepat berhasil ya, Tan." Niken menjawab seadanya karena tidak tahu harus merespon seperti apa. Tante Runita tersenyum dan mengacak rambut Niken.


***


Adila meremas lengan Niken. Niken sampai meringis dibuatnya. Mereka sedang berjalan menuju perpustakaan, tapi belum sampai perpustakaan, Adila menghentikan langkah dan matanya berbinar melihat segerombolan anak laki-laki sedang duduk lesehan di koridor. Mereka bercanda dan tertawa tanpa memperdulikan anak-anak lain yang melewati mereka.


"Apaan sih Dil? sakit tau."


"Ada Putra, Nik." Adila berbisik salah tingkah.


"Jangan kencang-kencang kali Nik. Entar orangnya denger." Niken nyengir mendengar omelan Adila. Adila menyeret Niken dan melewati segerombolan anak laki-laki dimana ada anak yang bernama Putra didalamnya.


Sempat terdengar pula siulan menggoda dari gerombolan anak laki-laki itu. Adila sudah tersipu-sipu malu sementara Niken sudah ingin berlari saja rasanya agar cepat sampai kedalam perpustakaan.


"Serius lo nggak tau yang namanya Putra?" Begitu sampai di perpustakaan, Adila berbisik sembari memilih buku.


Ada tugas bahasa Indonesia. Itulah yang membuat Niken dan Adila memilih terdampar disini daripada menghabiskan waktu istirahat dengan memakan kue Marwah seperti biasanya. Marwah dan Salsa sendiri memilih mencari buku selepas pulang sekolah katanya, karena mereka akan keliling menawarkan dagangan kue Marwah terlebih dahulu.


Niken menggeleng mendapati pertanyaan Adila, "emang Putra siapa sih?" Niken penasaran juga jadinya.


"Lo mah gitu, Nik, taunya cuma kak Rayya doang. Putra itu anak 7d, kapan-kapan deh gue kasih tau anaknya yang mana. Yang pasti dia ganteng." Adila menjawab sembari tersenyum malu-malu. Niken sampai menggelengkan kepalanya.


"Lo kok bisa kenal Putra, Dil? Kenalan dimana?"


"Hehehe sebenernya gue kenal dia tapi dia nggak kenal gue. Miris ya gue. Gue pertama kali jumpa dia waktu nggak sengaja lihat dia lagi dihukum sama guru BP karena telat. Karena dia ganteng, makanya langsung ingat aja di otak gue yang nggak seberapa ini."

__ADS_1


"Lo naksir dia, Dil? Seganteng apa sih anaknya, gue jadi penasaran."


"Gimana kalo kita keluar lagi biar bisa gue tunjukkin yang mana yang namanya Putra." Niken langsung menggeleng mendengar usulan Adila.


"Tugas kita belum selesai."


"Tugas kan bisa kita cari entar sepulang sekolah, rame-rame kita kerjain bareng Marwah sama Salsa. Kalo lo takut naik bus sendiri, lo bisa minta anterin kak Rayya." Niken kembali menggeleng. Namun tiba-tiba Adila memegang tangan Niken dan menggoyangkannya dengan heboh.


"Nik, itu bukannya kak Rayya sama kak Intan ya?" Niken menoleh kearah pintu masuk seperti yang ditunjuk Adila.


Benar saja, terlihat Rayya dan Intan baru saja memasuki pintu perpustakaan. Namun bukan itu yang menjadi fokus utama melainkan tangan mereka yang bertaut. Niken langsung memalingkan wajah dan agak menunduk agar tidak terlihat oleh Rayya.


"Ngapain kak Rayya mesra banget sama kak Intan, Nik." Adila berbisik dan ikut-ikutan menunduk.


"Mana gue tau." Niken menjawab dengan bibir maju.


"Jangan-jangan mereka selingkuh lagi, Nik?" Adila mulai mengeluarkan hipotesanya dan langsung mendapat lirikan tajam dari Niken.


Masa iya sih pacaran belum ada sebulan sudah diselingkuhi, mana Rayya pacar pertama nya lagi, kan nggak lucu kalo berakhir tragis dengan diselingkuhi. Niken menoleh kearah Rayya dan Intan berada. Nampak mereka sedang memilih buku dan tangan yang tak kunjung terlepas.


"Kira-kira cocokan kak Rayya sama gue atau kak Rayya sama kak Intan. Dil?" Niken bertanya setelah berpaling menghadap Adila.


"Cocokkan sama lo lah." Adila menjawab setelah terdiam sebentar.


"Lo ngomong gitu bukan karena cuma mau menghibur gue kan?" sahut Niken lesu sembari membuka buku ditangannya. Tidak ada satu kata pun didalam buku itu yang masuk ke otaknya.


"Lo ngomong apa sih, Nik? Yang pasti kan kalian pacaran, kak Rayya nembak lo."


"Gimana kalo kak Rayya juga nembak kak Intan dan mereka juga pacaran."


Adila langsung terdiam. Dia melirik kearah Niken dan kak Rayya berada secara bergantian.


"Kalo mereka juga pacaran berarti kak Rayya brengsek, Nik. Udah putusin aja."


Niken semakin lesu.

__ADS_1


__ADS_2