Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Pindah


__ADS_3

Tidak semua keinginan manusia dapat terwujud dengan mudahnya, semua pasti butuh usaha dan doa. Kalau semua keinginan dapat tercapai dengan begitu mudahnya kita pasti tidak akan pernah menghargai yang namanya perjuangan, begitu pula yang dialami Runita.


Setelah membujuk Niken untuk berangkat sekolah yang justru dibalas Niken dengan rebahan di kamarnya dan jawaban malas sekolah, Runita tak putus semangat. Diutarakan maksud dan tujuannya yang sebenarnya yaitu membujuk Niken agar mau ikut dirinya, tinggal dan sekolah di Palembang.


"Aku ngomong sama mama dulu Tan, kemarin aku udah nelpon mama, ngasih tau kalo aku mau pindah sekolah, mama sampai nangis saking senengnya denger aku mau pindah ikut mama lagi. Aku nggak tau reaksi mama kalo aku nelpon dan ngasih kabar batal ikut mama dan justru ikut Tante ke Palembang."


Jawaban yang diberikan Niken membuat hati Runita nyeri. Kakaknya cuma punya satu anak yaitu Niken, haruskah dengan egoisnya dia memaksa Niken untuk ikut dengannya?


Sementara Runita tau pasti kakaknya pun pasti kesepian dan butuh anaknya untuk ditemani masa remaja dan dewasanya sampai ada lelaki baik hati dan bertanggung jawab meminta restu darinya untuk dinikahi.


"Gimana ya Nit, aku udah seneng banget waktu Niken nelpon mau pindah kesini lagi. Tapi kalo memang Niken mau ikut kamu, kakak nggak papa kok. Semua terserah Niken mau ikut siapa."


Kata-kata kakaknya justru membuat Runita semakin bingung mau mengajak Niken ikut dengannya atau tidak. Dirinya sadar tidak boleh egois. Dilihatnya Niken yang sedang senyum-senyum mendengarkan lagu dari radio, duduk manis di sofa depan dengan televisi yang juga menyala menayangkan kartun kegemarannya.


"Kamu serius mau pindah sekolah?" Akhirnya Runita menghampiri Niken dan memastikan sekali lagi keputusan Niken.


"Serius Tan, serius banget malah." Sudah 2 hari Niken tidak sekolah dan hari ini omnya mendatangi kepala sekolah untuk mengurus segala keperluan kepindahan Niken disekolah barunya.


"Besok kita berangkat ke rumah mama kamu, hari ini om kamu udah datangi kepsek untuk mengurus segala keperluan yang harus dipenuhi sebagai syarat pindah sekolah."


"Beneran, Tan?" tanya Niken antusias. Wajahnya berseri-seri tanda dia amat senang dengan berita yang didengarnya. Anggukan dari Tantenya langsung mendapat hadiah pelukan dari Niken.


Runita memejamkan mata menikmati pelukan yang didapat dari keponakannya itu sembari berdoa semoga ini jalan yang terbaik dan ia segera mendapatkan momongan seperti doanya yang tak pernah putus disepanjang usia pernikahannya.


***

__ADS_1


Niken dan tante Runita sedang menunggu om Uno yang pamit ke toilet saat mereka baru sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim. Niken memandangi tas ranselnya dengan lesu.


"Kenapa, Nik?"


"Tante nggak kenapa-kenapa kan, Niken pulang lagi kerumah mama? Niken baru sadar, Niken nggak mikirin perasaan Tante waktu maksa mau ikut mama. Niken merasa bersalah, Tan." Niken memandang wajah tantenya itu dengan sedih dan langsung mendapat usapan lembut di bahunya.


"Jujur Tante sedih kamu milih tinggal lagi sama mama kamu tapi, Tante bisa apa selain menurutinya. Tante senang ada kamu di rumah Tante tapi Tante lebih senang kalau kamu bahagia dengan pilihan kamu untuk tinggal sama mama kamu."


"Kalau kamu pindah seperti ini, Tante jadi teringat dengan adiknya Sinta. Apa kamu udah kasih kabar sama Rayya kalau kamu pindah sekolah?"


Pertanyaan Tante Runita membuat pikiran Niken jadi terbang melayang kepada kakak kelasnya itu. Ia sama sekali tak berpamitan untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.


***


Tidak ada yang dapat dilakukan Riska selain pasrah. Pertanyaan dari tantenya membuat Niken jadi murung karena baru teringat bahwa ia sebenarnya tak hanya menghindari Mulyono tapi juga harus siap menerima resiko tak lagi bisa bertemu dengan Rayya, Adila, Marwah dan Salsa.


Begitupun dengan ketiga temannya. Mereka yang selama ini selalu baik kepada Niken. Mereka yang selalu ada dan membelanya disaat semua teman-temannya mengejek Niken dengan Mulyono. Adila, Marwah dan Salsa siap pasang badan dan bahkan memarahi siapapun yang berani menggoda Niken. Tapi, semua sudah terlambat, menyesal pun tiada guna. Memang lebih baik ia pergi daripada bertahan pun akan sakit.


"Udah jangan sedih, kalo jodoh pasti ketemu lagi kok." Om Uno merangkul bahu Niken yang bermuka murung.


"Jodoh apa sih om, aku cuma sedih nggak bisa ketemu temen-temenku di Budaya, kenapa merembet ke masalah jodoh?" kilah Niken kikuk.


"Temen yang mana? Adiknya Sinta kan?" goda om Uno sembari pura-pura berpikir.


"Ih apaan sih om? Temen aku bukan cuma dia ya. Ngapain aku mikirin kak Rayya." Wajah Niken sudah bersemu merah apalagi sewaktu om Uno yang hanya mengangguk-anggukkan kepala dan bergumam percaya deh, Niken serasa ingin cepat-cepat mengirim om Uno ke Palembang sana.

__ADS_1


***


"Yah, berakhir cerita mama di Budaya," keluh Marcel.


"Siapa bilang? Justru mama masih punya segudang cerita seru lainnya." Hibur Niken sembari mencubit pipi anak bungsunya itu dengan gemas.


"Jadi mama putus hubungan sama temen-temen mama di Budaya?" tanya Marsya penasaran.


"Iya, kan memang nggak berkomunikasi lagi, alamat rumah juga nggak ada yang tau, jadi nggak bisa saling kirim surat juga," jawab Niken santai.


Niken sebenarnya pernah berada di tahap menyesal karena sudah memutuskan untuk pindah sekolah dan tak bisa ikut Tante Runita dan om Uno. Ia bahkan sampai menangis berhari-hari padahal om Uno sudah menghiburnya dan menghadiahi sekotak coklat berukuran jumbo ketika akan berangkat ke Palembang. Tetapi tetap saja Niken berwajah murung.


"Dengan Rayya juga putus hubungan ma?" Marcel ikutan bertanya.


Niken mengangguk membenarkan dan terkekeh ketika lagi-lagi timpukan bantal sofa mendarat di kepala Marcel.


"Cinta monyet yang berujung tragis," sahut Marcel geleng-geleng kepala.


"He, mereka terpisah bukan karena kematian. Tragis itu kalo salah satu dari mereka ada yang mati." Marsya mencoba mengoreksi kata-kata adiknya.


"Ah, what ever lah. Yang penting mereka kepisah." Marcel menyahut cuek.


"Jadi ma, setelah mama pindah sekolah, kisah apa lagi yang terjadi?" lanjut Marcel kian mendekat kearah mamanya.


"Nah jadi setelah mama pindah sekolah itu, kapan-kapan aja mama ceritain. Tuh! Papa kamu udah pulang kerja." Niken menunjuk sebuah mobil yang memasuki halaman rumah mereka dan langsung menuju ke garasi.

__ADS_1


"Ya, papa pulang padahal ceritanya lagi seru," keluh Marcel.


Niken hanya menggeleng dan bersiap menyambut kepulangan suaminya dari mengais rezeki.


__ADS_2