
Niken menoleh ke kanan dan ke kiri begitu sampai ke ruang guru. Niken bingung dimana letak meja pak Jhon berada. Ada banyak meja guru di ruangan ini yang syukurnya diberi plakat nama di setiap meja. Niken membaca satu persatu.
Dikarenakan jam pelajaran terakhir sebentar lagi akan berlangsung hanya ada beberapa guru yang masih berada di mejanya. Ada juga seorang murid laki-laki yang sepertinya ada urusan dengan seorang guru disana. Murid itu sempat menoleh kearah Niken sebentar setelah itu berpaling seolah tak peduli.
Niken menemukan meja pak Jhon berada hampir di pojok ruangan. Pak Jhon pun tengah bersiap-siap mengajar, terlihat dari gerak-geriknya yang tengah menyusun buku-buku pelajaran dan dimasukkan kedalam tas.
"Permisi pak, saya sekretaris 7b mau menitipkan absen."
"Oh iya letakkan disitu saja ya, biar besok kalau mau diambil kembali gampang terlihat. Kemana Rindy? Biasanya dia yang mengantar?" Rupanya pak Jhon sudah hapal dengan kebiasaan Rindy mengantar absen.
"Bus jemputannya datang cepat pak, dia takut ketinggalan bus kalau harus nitip absen dulu. Permisi pak!" Niken menjawab sopan walaupun pak Jhon tengah menunduk dan mengetik sesuatu di handphonenya.
"Eh Niken, kamu pukul lonceng itu dulu ya, pelajaran terakhir sudah mau dimulai." Pak Jhon memberi gerakan mengusir. Niken sendiri shock.
Memukul lonceng?
Dengan tinggi badannya yang segini?
Apa sampai?
Niken berjalan pelan keluar ruangan dan meraih gagang pemukul lonceng yang diletakkan ditiang dekat gantungan lonceng. Sebenarnya pemukul lonceng itu lumayan panjang tapi tetap saja Niken tidak yakin dengan tinggi badannya yang segini akan sampai ke ujung lonceng.
Terbukti.
Pemukul lonceng itu hanya menyentuh sedikit dan hanya menghasilkan bunyi ting yang sangat pelan walaupun Niken sudah berjinjit. Niken bahkan sampai melompat-lompat agar bunyi lonceng dapat terdengar. Niken hampir menangis rasanya. Dia takut bila sampai dimarahi pak Jhon walaupun Niken tidak tahu marahnya pak Jhon seperti apa tapi Niken tidak pernah dimarahi guru sebelumya.
"Nggak sampek ya, dek?" Niken menoleh kearah kanan dimana suara bertanya itu berasal. Murid laki-laki yang berada di ruang guru bersamanya tadi yang berbicara. Dia langsung mengambil gagang lonceng ditangan Niken dan memukul lonceng dengan gampangnya karena faktor tinggi badannya yang mendukung dan menghasilkan suara yang semestinya.
"Makasih, kak." Niken bingung harus berbuat apa lagi. Ahasil dia lari tunggang langgang meninggalkan anak laki-laki itu yang melongo bingung dengan aksi kabur Niken dan tersenyum geli setelahnya.
Niken lari sampai ke kelasnya. Napasnya ngos-ngosan karena jarak ruang guru dan kelas 7b yang lumayan jauh. Adila terbengong melihat penampilan Niken yang sudah berkeringat dan langsung duduk di bangkunya. Diraihnya wadah minum milik Adila dan diminumnya. Setelah selesai minum dan hampir mengosongkan setengah isinya Niken berujar.
"Gue minta ya?"
"Udah habis setengah baru lo minta." Niken cengengesan.
"Haus tak tertahankan, Dil."
"Lo bukannya abis nitip absen ya? Ngapain pakai lari-lari segala? Untung aja belum ada guru yang masuk."
"Iya gue abis nitip absen. Pak Jhon malah nyuruh gue mukul lonceng. Lo bayangin dong Dil dengan tinggi gue yang cuma segini mana sampai gue mukul lonceng." Niken menggerutu sedangkan Adila malah tertawa ngakak membayangkan Niken melompat-lompat mencoba memukul lonceng.
"Jadi siapa yang mukul loncengnya? Tadi gue denger kok ada suara lonceng bunyi."
"Ada anak laki-laki tadi nolongin gue. Gue nggak tau dia siapa dan kelas berapa. Yang pasti dia tinggi. Ya ampun Dil, gue malu banget sama tuh cowok. Dia pasti lihat gue lompat-lompat nggak jelas tadi." Niken sampai menutup wajahnya bila teringat tragedi di depan ruang guru tadi. Adila cuma bisa tertawa.
__ADS_1
"NIKEEEEENNN LO KOK NINGGALIN GUE SIH?"
Marwah masuk kedalam kelas dan langsung ngamuk sejadi-jadinya. Marwah kebingungan mencari Niken yang ia kira menghilang, tidak tahunya dia sudah sampai didalam kelas dan tidak menunggunya kembali dari toilet.
Niken cuma bisa bengong.
Niken lupa kalau dia tadi pergi ke ruang guru bersama Marwah.
***
"Hahahahaha." Marsya dan Marcel kompak tertawa terpingkal-pingkal mendengar penggalan kisah yang di ceritakan mamanya. Niken sendiri hanya tersenyum geli bila mengingat tingkah konyolnya dulu. Langsung kabur dan meninggalkan Marwah hanya karena malu di depan cowok yang justru telah menolongnya.
"Ciee mama, di tolongin cowok sampai lupa temen," goda Marsya masih geli.
"Berarti mama masih kecil udah main cinta-cintaan. Kelas 1 SMP itu masih seumuran aku, Ma, kenapa aku pegang handphonenya aja masih diawasi, mama sendiri dulu udah falling in love sama cowok," gerutu Marcel yang tak terima dengan keadaan yang sedang dialaminya saat ini.
"Kamu masih kecil, pergaulan jaman sekarang nggak seperti dulu," tegas Niken yang membuat Marcel langsung terdiam.
"Ma, lanjutin lagi ceritanya, jangan peduliin Marcel," rengek Marsya yang semakin penasaran dengan kelanjutan kisah mamanya.
Niken melirik jam dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam, "besok lagi ya, udah malam, kalian mesti istirahat biar nggak bangun kesiangan," tolak Niken yang langsung disambut dengan wajah cemberut anak-anaknya.
***
Marsya sepertinya menjadi orang pertama yang sangat penasaran dengan kelanjutan kisah mamanya. Seharian ini ia tidak sabar menanti agar malam segera tiba. Begitu pulang sekolah, ia segera menyelesaikan tugas agar begitu malam tiba, ia bisa langsung mendengarkan kisah sekolah mamanya.
"Ayo ma, aku udah ngerjain tugas sekolah tadi, malam ini kami free dan siap mendengarkan cerita mama." Marcel pun tak kalah antusias.
Niken tertawa geli mendengar anak-anaknya begitu antusias mendengarkan kisah recehnya jaman dulu.
"Oke, mama lanjutin ya."
***
Keadaan kelas sangat riuh. Beginilah jadinya bila guru tidak masuk kelas. Surga dunia untuk anak pelajar di seluruh dunia. Semua murid bergerombol membentuk kumpulan masing-masing. Murid laki-laki kebanyakan duduk dipojok entah ngapain, kalau yang perempuan sudah pasti mereka bergerombol untuk ngerumpi.
Tapi sepertinya kegiatan ngerumpi itu tidak berlaku untuk Niken. Dia harus mencatat tugas bahasa indonesia yang kemarin belum sempat dicatatnya dikarenakan dirinya mendapat tugas mencatat di papan tulis. Niken melirik iri kearah Marwah, Salsa dan Adila yang bisa tertawa cekikikan entah menceritakan apa.
"Niken!"
Niken mendongak, rupanya Dhani yang menghampiri mejanya.
"Hmm."
Niken malas sekali berhubungan dengan manusia satu ini. Dhani orang yang paling getol menggoda Niken. Apalagi kalau bukan tragedi pingsan dan diberi Mulyono coklat.
__ADS_1
"Ngapain?" Niken diam saja. Tak lihat kah dia bila Niken sedang mencatat?
"Guru-guru lagi rapat, tadi wakil ketos nyamperin Rindy, ngasih tau kalo nanti pulang sekolah kita rapat. Tiba-tiba aku teringat kamu."
Tuh kan, Niken benci sekali dengan kalimat teringat kamu.
"Terus apa hubungannya sama gue?" Niken menyahut jutek.
"Ya adalah lah." Dhani ngegas dengan kebolotan Niken.
"Lo kan sekretaris kelas, ya udah pasti lo yang bakalan ngadirin rapat sama ketua kelas."
"Gak bisa di wakilin lo aja ya? Gue bingung pulangnya gimana kalo harus rapat dulu." Dhani menghembuskan napas frustasi.
"Rindy nggak bisa ikut karena bus jemputannya udah pasti datang tepat waktu dan dia nyuruh gue gantiin dia sekarang lo juga nyuruh gue gantiin lo. Jadi kesimpulannya gue harus datang sendiri gitu? Nggak bisa! Lo harus ikut gue!"
"Jadi lo lebih milih Rindy daripada gue, Dhan?" Niken bertanya dengan wajah dibuat seterkejut mungkin sedangkan Dhani cuma cengengesan.
"Kan lo udah ada Mulyono yang bakalan selalu teringat kamu." Niken langsung memasang wajah datar.
"Pokoknya lo harus ikut rapat. Gue nggak mau datang sendiri. Rapatnya sepulang sekolah." Dhani beranjak dari duduknya tapi Niken langsung menarik ujung lengan kemejanya.
"Terus gue pulangnya gimana, Dhan?" Niken hampir menangis membayangkan dia harus pulang sore dan sendiri.
"Kan bus sore ada Nik, ngapain bingung sih." Dhani masih berdiri dan menyingkirkan tangan Niken dari kemejanya.
"Bus sore emang ada Dhan, tapikan gue harus pulang sendiri, nggak ada anak-anak Budaya yang se bus sama gue. Naik bus siang aja gue masih sering takut Dhan padahal banyak anak Budaya barengan gue."
"Udah lo tenang aja, pasti banyak kok anak Budaya yang pulang sore karena ikut rapat." Dhani segera beranjak sebelum ditahan lagi oleh Niken.
Niken lemas dengan ketidakpedulian Dhani. Niken menelungkup kan kepalanya di meja. Dia bingung bukan main. Niken takut pulang sendiri.
Dasar Dhani kurang ajar!
Ngapain pakai rapat segala sih?
Kenapa harus jadi sekretaris?
Kenapa?
Ini semua salah pak Jhon!
Niken menggerutu sendiri.
"Niken!"
__ADS_1