
"Niken!"
"Dhan, gue..." Niken mendongak dan menghentikan kalimat yang ingin terlontar dari bibirnya. Niken kira Dhani kembali ternyata Mulyono yang datang.
"Sorry, gue kira Dhani." Niken meraih pena yang tadi sempat tergeletak begitu saja disamping buku catatannya. Tugasnya belum selesai. Niken kembali mencatat. Malas sekali Niken berhadapan dengan Mulyono. Gara-gara Mulyono, Niken jadi sering menerima ejekan dari teman-temannya terutama Dhani kampret.
"Lagi ngapain?"
Semua orang pada buta ya? Tadi Dhani sekarang Mulyono yang bertanya pertanyaan yang tidak penting. Tidak lihat kah mereka Niken sedang mencatat?
"Mau aku bantuin nulis nggak? Pasti tangan kamu pegel nulis segitu banyak."
"Nggak usah, terima kasih. Emang tulisan lo bagus? Kalo lo lupa gue memegang predikat tulisan paling bagus se kelas versi pak Jhon."
Biarlah Niken dianggap sombong dan kurang ajar. Entah kenapa sejak kejadian pemberian coklat dan jadi bahan ceng-cengan sekelas, Niken jadi benci dengan Mulyono.
Diberi kalimat tajam seperti itu rupanya tidak membuat Mulyono menyerah. Walaupun ia sedikit kikuk dan mengusap tengkuknya.
"Tulisan aku nggak begitu bagus sih, nggak secantik tulisan kamu."
Niken hanya melirik dan tetap lanjut menulis.
"CIEEE MULYONO SAMA NIKEN NGOBROLNYA UDAH PAKE AKU KAMU, WOY!" Seketika Niken menengok kebelakang begitu mendengar suara toa itu. Rupanya Herman, teman semeja Mulyono.
"CIEEEEE!" Murid sekelas yang tadinya sibuk masing-masing dengan gerombolannya berpindah pandangan menggoda Niken dan Mulyono.
"CUIT CUIT...."
"PRIKITIWWW..."
"COUPLE GOALS DARI KELAS 7B RESMI DISANDANG OLEH NIKEN DAN MULYONO!." Suara Dhani tak kalah kencang dari suara Herman. Seketika riuh suara tepuk tangan oleh anak-anak sekelas.
Niken malu setengah mati. Digenggamnya erat pena ditangannya sembari terus menulis. Bentuk tulisannya pun sudah acak kadut tak tentu arah. Mulyono yang duduk di seberang meja Niken sudah memerah malu wajahnya mendengar godaan teman-temannya tapi tak dapat dipungkiri, Mulyono senang mendapat julukan couple goals.
"BISA DIAM NGGAK SIH, NORAK KALIAN!" Adila buka suara setelah dilihatnya Niken yang cuma menunduk sambil terus menulis. Adila tau Niken sudah hampir menangis.
"KENAPA SIH NI? CEMBURU LO?"
"NAJIS!"
"JANGAN CEMBURU NI, ENTAR JADI CINTA SEGITIGA."
"BERISIK!"
__ADS_1
"CIEEEE."
"He minggat lo, gue mau duduk." Marwah berujar galak ke arah Mulyono. Marwah geram juga melihat laki-laki gemulai itu yang malah cengengesan mendapat godaan anak-anak sekelas. Mulyono beranjak dari tempatnya dan kembali ke bangkunya sendiri.
"Ciee Niken, makin gercep aja tuh anak." Salsa pun ikut-ikutan menggoda Niken.
"Udah deh, Sa nggak usah ikut-ikutan, norak!"
"Napa sih, Dil? Beneran cemburu lo?"
"Najis!"
Rasanya Niken ingin tenggelam ke segitiga bermuda apalagi godaan teman-temannya belum berhenti.
***
Niat hati ingin kabur tapi apa daya Dhani sudah menghadang Niken di koridor kelas.
"Gue tau lo punya niatan jahat makanya gue tungguin lo disini. Badan aja kecil tapi pikiran licik." Dhani menggandeng bukan lebih tepatnya menyeret Niken bak anak kucing menuju ruang rapat OSIS.
"Dhan, gue nggak mau ikut rapat, gue takut pulang sendiri." Niken merengek tapi Dhani tak peduli.
Dhani mendudukkan Niken dipojokkan dinding dan dia langsung duduk disebelahnya. Tujuannya jelas agar Niken tidak kabur. Niken cemberut dibuatnya.
"Kalo gue nggak dapet bus buat pulang lo gue hantuin sepanjang masa." Dhani tertawa ngakak seketika.
"Selamat siang teman-teman." Ada salam dari seorang anak laki-laki dan seorang perempuan yang berjalan masuk. Si anak perempuan menenteng map. Niken yang sedang cemberut memandang sengit Dhani yang sedang tertawa, menoleh mendengar salam itu.
"Hak." Niken kaget dan tanpa sadar menegakkan posisi duduknya. Dhani yang menyadari kekagetan Niken menyenggol lengannya.
"Kenapa?" Niken menggeleng dan Dhani tidak bertanya lagi karena suara si anak laki-laki yang memberi salam tadi kembali terdengar.
"Apa kabar semua?"
"Baik kak."
"Ada wajah-wajah baru disini ya?"
Anak laki-laki itu mengedarkan pandangannya dan berhenti di Niken. Dia tersenyum yang kontan saja, Niken langsung teringat kejadian dirinya melompat-lompat di bawah lonceng sialan itu. Ya tidak salah lagi, anak laki-laki itu adalah anak laki-laki yang menolong Niken memukul lonceng.
"Selamat datang para pejabat baru," ucapan anak laki-laki itu disambut tawa geli para peserta rapat.
"Bagi sebagian yang duduk disini pasti sudah mengenal saya ya, tapi mungkin belum bagi yang khususnya anak kelas 7 yang kebetulan baru pertama kali ini mengikuti rapat. Perkenalkan nama saya Rayya Firmansyah, saya kelas 9c dan kebetulan saya menjabat sebagai ketua OSIS di Budaya. Nah untuk cewek yang berada di sebelah saya ini dia sekretaris OSIS kita, kelas 8a, namanya Intan Mutiara."
__ADS_1
"Hai semuanya. Salam kenal ya." Intan menyapa ramah bahkan sambil melambaikan tangannya.
Kesan yang pertama Niken dapat dari perkenalan singkat mereka terhadap Intan adalah Intan cantik dan untuk Rayya, Niken tidak dapat mendeskripsikannya. Yang pasti setiap tak sengaja bertemu pandang dengan Rayya, Niken malu. Kejadian lonceng selalu teriang-ngiang dipikirannya.
Rapat berjalan lancar, hanya membahas seputar mading yang perlu disampaikan kepada teman sekelas esok. Pukul 4 sore rapat dibubarkan. Begitu bubar, Niken langsung merengek lagi kepada Dhani.
"Dhan, temenin gue nunggu bus yok! Lo nggak boleh pulang dulu pokoknya sebelum gue dapet bus."
"Apa sih, Nik? Tinggal berdiri depan gerbang doang entar bus nya berhenti sendiri." Dhani lama-lama jengah juga mendengar rengekan Niken.
"Gue takut, Dhan."
"Takut apaan sih, Nik? Nggak ada yang bakalan nyulik lo. Lo kecil, dijual timbangannya ringan."
"Kampret lo. Emang lo pikir gue barang loakan. Lo nggak mesti nganterin gue, Dhan, cukup nemenin gue aja nunggu sampek bus datang."
Belum sempat Dhani menjawab ada suara lain yang terdengar. Niken dan Dhani sama-sama menoleh.
"Udah pada mau pulang ya?"
"Iya kak, tapi temenku ngotot minta anterin. Aku bukannya nggak mau nganterin sih kak tapi rumahku beda jalur sama dia."
"Apaan sih, Dhan? Gue cuma minta tolong temenin gue sampai bus datang doang!" Niken berujar tak terima.
"Emang rumahnya dimana?" Niken menoleh karena tau pertanyaan itu ditujukan untuknya.
"Jalan Mawar, kak."
"Ya udah bareng aku aja, rumah aku di jalan Anggrek. Kita searah." Niken terkejut atas tawaran itu.
Tak sengaja bertemu pandang diruang rapat aja Niken malu setengah mati apalagi harus pulang bareng Rayya.
Rayya guys!
"Eh nggak usah kak, aku bisa naik bus sendiri kok." Niken sudah pasti menolak. Mau jadi apa dia bila sampai diantar pulang oleh Dhani.
"Udah nggak usah malu-malu, Nik, ikut aja. Tadi lo bilang takut naik bus sendiri, nggak ada anak Budaya yang satu bus sama lo. Tuh, lo biar diantar sama kak Rayya aja. Jadi Lo nggak usah takut lagi ya." Niken rasanya ingin mencabik-cabik usus Dhani sableng.
Nggak mesti dibocorin juga kali kalo dia takut naik bus sendiri.
"Ya udah deh kak, aku titip temenku ya." Dhani berlalu setelah pamit kepada Rayya. Pakai acara titip segala lagi, emang dikiranya Niken barang.
"Gue pulang dulu ya Nik, takut kesorean sampai rumah." Niken memang diam saja tapi percayalah jiwa membunuhnya sudah menggelora.
__ADS_1