
Niken sebenarnya tidak pernah menguping pembicaraan orang seperti ini sebelumnya, karena Niken tau ini sangat-sangat tidak sopan tapi mendengar suara mamanya yang terisak membuat Niken penasaran.
"Masih bisa diusahakan, kan?" Terdengar kembali suara mama Niken setelah terdiam sebentar.
"Terus nasib kita seterusnya gimana?" Niken mengeratkan genggaman tangannya di kain gorden. Mulai berpikir yang tidak-tidak, sepertinya keluarganya tengah ditimpa masalah. Di julurkannya kembali kepala Niken, mamanya tengah mengurut pelipis dan terdiam mendengarkan lawan bicaranya.
"Ya sudah, kita bicarakan lagi nanti. Baik-baik disana. Semoga hasilnya nggak sesuai sama pikiran buruk kita." Sebelum mematikan telepon, Niken sempat melihat mamanya menghela napas lelah.
Niken yang sebelumnya sangat kelaparan dan berniat untuk makan siang, mengurungkan niatnya dan berbelok kembali ke kamar. Pikirannya jadi bercabang kemana-mana. Mau menghampiri mamanya tapi Niken tidak berani untuk bertanya, pasti mamanya tidak akan menjawab dan akan berkata semua baik-baik saja. Biarlah mamanya tenang dulu walau Niken tidak berhenti berpikir.
'Ada apa dengan keluarganya.'
***
"Jadi dulu kakek sempat bangkrut ya ma?" tanya Marsya. Marcel bersandar di bahu Niken dengan mata yang sudah mulai mengantuk. Elusan tangan Niken di rambut Marcel sepertinya membuat mata anak itu semakin terbuai tapi tetap telinganya masih sangat jelas mendengarkan cerita mamanya. Apalagi kini mamanya membahas perihal kakek nenek tersayangnya.
"Iya, usaha kakek ditipu sama temennya. Kalian tidur gih, udah malam. Sebentar lagi juga mungkin papa kalian pulang." Niken menegakkan tubuh dari posisi bersandar di headboard ranjang membuat anak-anaknya juga ikut menegakkan tubuh.
"Aku juga udah ngantuk banget Ma." Marcel menguap dan berjalan keluar dari kamar mamanya dengan langkah sempoyongan. Marsya yang masih belum terlalu mengantuk sengaja menyenggol Marcel sehingga adiknya semakin limbung.
"Ish, apaan sih, kak," sebal Marcel tapi ia tetap berjalan menuju kamarnya. Tak menghiraukan si kakak yang terus menjahilinya. Rasa kantuk sepertinya mengalahkan segalanya.
Niken baru akan membaringkan tubuh ketika baru saja selesai bebersih diri ketika akan tidur, terdengar sayup-sayup suara mobil suaminya yang baru pulang dari rumah saudara. Niken pun memutuskan untuk turun ke bawah dan menyambut kepulangan suaminya.
"Kok belum tidur?" tanya si suami ketika Niken membuka pintu. Diliriknya jam tangan yang sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam.
"Terbangun denger suara mobil," dusta Niken. Jangan sampai suaminya tau Niken baru saja selesai mendongeng dengan anak-anaknya. Bisa-bisa ia kembali curiga karena tidak di ajak bercerita. Mau bagaimanapun cerita yang Niken ceritakan untuk anak-anaknya sedikit banyaknya membahas sang suami.
"Yuk masuk! Udah tengah malam," ajak suami Niken sembari memeluk bahu istrinya.
"Apa itu?" tanya Niken ketika melihat suaminya menenteng tas kecil.
__ADS_1
"Oh ini ada makanan yang dibungkus tante. Kalo nggak mau dimakan sekarang, simpan saja di kulkas, besok bisa dipanasi lagi."
Niken menyimpan makanan yang dibawa suaminya terlebih dahulu sebelum ikut menyusul ke kamar. Begitu sampai di kamar terlihat suaminya sudah bersiap tidur dan sepertinya sangat lelah karena matanya langsung terpejam begitu menemukan bantal.
Niken tersenyum dan ikut membaringkan tubuh disebelah sang suami. Tak lupa rasa syukur selalu ia panjatkan karena telah berhasil melewati ujian hidup dan linangan air mata dan memiliki keluarga yang begitu harmonis.
***
"Kak, brownis nya udah matang itu, udah bisa di sajikan." Niken sedikit berteriak, memerintahkan anak gadisnya menyajikan kue hasil eksperimen mereka sore ini.
Marsya menuju dapur dan membawa sepiring brownis yang tampak menggoda itu. Papa dan adiknya sudah menunggu di ruang keluarga. Hari ini papa pulang cepat, jadi sesore ini sudah berada di rumah.
"Wah! Enak ni kayaknya." Papa menjadi orang pertama yang mencicipi brownis itu, disusul Marcel kemudian.
"Ini minumnya, biar nggak seret." Niken datang membawa seteko teh manis dan ikut bergabung duduk di sebelah suaminya.
"Pa, apa yang buat papa bisa jatuh cinta sama mama?" Marcel tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang membuat kedua orang tuanya saling pandang.
"Masa sih? Kok bisa sekarang jadi cerewet?" Marsya bertanya heran.
"Dilarang ghibah di depan orangnya langsung." Niken menggigit brownis sedikit kesal karena mereka langsung tertawa mendengar celetukannya.
"Mungkin mama kamu terbawa arus emak-emak. Nggak ada emak-emak yang nggak cerewet." Papa mereka berujar sembari memeluk bahu istrinya.
"Dulu waktu papa pacaran emang mama nggak cerewet?"
"Hmm udah nggak begitu pendiam sih tapi ya nggak seceriwis sekarang."
"Udah belum nih ghibahnya? Kalo belum mama mau tidur aja." Niken menyahut pura-pura ketus.
"Idih ngambek!" goda suami Niken.
__ADS_1
Niken ingin membalas ucapan suaminya tetapi ada suara salam yang terdengar dari pintu depan, membuat Marcel beranjak dan melihat siapa tamu yang datang berkunjung. Rupanya pak RT. Suami Niken pun beranjak dan menemui pak RT. Mereka memilih duduk di teras dan Niken serta Marsya segera menyajikan teh dan brownis buatan mereka.
"Ma, selagi papa ngurusin pak RT, lanjutin lagi ma, kisah nenek dan kakek yang sempet bangkrut," desak Marcel.
"Nggak ada kelanjutannya sih, soalnya waktu itu nenek belum mau nyeritain sama mama kenapa bisa bangkrut."
"Yah." Marcel berujar kecewa, "Mama nggak pernah coba tanya sama nenek?" Marcel sepertinya masih penasaran.
"Pernah sih, waktu itu--"
***
Semua baik-baik saja sepertinya. Niken yang baru pulang dari rumah Juna untuk melihat keadaannya yang masih demam, mendapati mamanya yang sedang bersantai di ayunan teras rumah. Niken menghampiri dan langsung bergelayut manja.
"Ma!" Panggil Niken lirih.
"Hmm." Mama berdehem dan masih asyik melihat kendaraan berlalu lalang dijalan.
"Papa mana?" tanya Niken basa-basi. Sebenarnya mulut gatal ingin menanyakan langsung keadaan keluarga nya dan maksud dari ucapan mama ditelepon tadi siang tapi nyali Niken belum seberani itu.
"Papa lagi keluar kota. Mungkin sampai seminggu baru bisa pulang." Selagi mamanya berbicara, Niken memperhatikan raut wajahnya, tidak ditemukan kejanggalan dan semua masih nampak normal dimata Niken.
"Tumben ma. Mama kok nggak ikut?"
"Terus yang mau masakin kamu siapa?"
"Aku bisa ikut bude Dewi, makanan ditempat bude selalu tersedia." Niken memberi alasan yang masuk akal sebenarnya. Bude Dewi adalah kakak dari papa Niken yang punya usaha butik. Makanan ditempat bude memang selalu tersedia sepanjang waktu karena diperuntukkan untuk para karyawan yang bekerja di butiknya.
"Males aja mama kalo ikut papa cuma untuk ngelihatin papa kamu kerja, tapi kalo perginya karena jalan-jalan mama wajib ikut." Niken hanya mengedikkan bahu mendengar alasan mamanya.
Baiklah, sepertinya mamanya belum mau berbagi kesulitan dengan dirinya
__ADS_1