Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Saling memaafkan


__ADS_3

"Aku dapat alamat ini dari Brian. Kemarin aku nggak sengaja ngelihat suami kamu di rumah Brian." Nabila memulai percakapan. Mungkin dia tidak enak hati hanya berdiam diri tanpa ada percakapan yang layak di antara mereka.


"Oya?! Kamu nggak sapa suami aku?" tanya Niken pura-pura terkejut padahal suaminya sempat memberi tahu dirinya bahwa ia bertemu Nabila dirumah Brian.


Nabila menggeleng, "Aku nggak enak hati mau nyapa. Dirumah Brian juga ramai saudara-saudara yang lain."


Niken mengangguk mengerti. Mungkin efek dari rasa bersalah masih menghantui Nabila sampai sekarang.


"Kamu kesini sama Bayu? Anak-anak kamu kok nggak diajak kesini juga?" Niken melanjutkan basa-basi nya. Ia juga belum tau motif Nabila mendatangi rumahnya untuk apa. Sekedar berkunjung atau ada hal lain.


"Bayu dan anak nggak ikut. Aku sendiri kesini. Itu anak-anak kamu?" Nabila menunjuk foto keluarga yang di pajang diatas dinding tepat berada di belakang sofa yang tengah di duduki Niken.


Niken menoleh sejenak memandang foto keluarga yang diambil sekitar satu tahun yang lalu itu. Foto itu diambil saat masih dalam suasana lebaran. Sehingga Pakaian muslim menjadi tema dalam foto tersebut.


"Iya, itu anak-anak aku. Anak kamu udah berapa?"


"Anak aku masih satu. Sekarang udah kerja. Anak-anak kamu cantik dan ganteng."


"Makasih," jawab Niken bingung mau menanggapi dengan kalimat apa atas pujian yang dilontarkan Nabila untuk anak-anaknya.


Niken permisi pamit ke belakang karena ia lupa menyuguhkan minuman untuk tamunya. Mungkin karena shock atas kedatangan Nabila yang tiba-tiba membuat Niken lupa bahwa tamunya membutuhkan minum.

__ADS_1


Ketika Niken sedang menyusun biskuit kedalam toples, Niken tiba-tiba merasakan sebuah pelukan. Niken menolehkan sedikit wajahnya karena terhalang kepala yang kini tengah terisak di bahunya.


"Maaf, Nik," tangis Nabila pecah saat mengucapkan kata itu. Niken mengelus kepala Nabila dan tangan yang melingkar di perutnya.


"Hey, kenapa? Maaf untuk apa?" Tercekat suara Niken. Niken mulai menerka mengapa Nabila sampai menangis begini.


"Maaf untuk kelakuan jahat ku puluhan tahun yang lalu. Maaf baru berani menemui mu dan mengatakan ini sekarang. Maaf untuk segala dosa yang telah aku lakukan sama kamu." Isak tangis Nabila mengiringi ucapannya.


Niken membalikkan badan dan mendongak menatap Nabila yang lebih tinggi darinya.


"Garis hidup sudah ada yang mengatur. Mungkin memang seperti ini takdir yang akan kita jalani. Aku sudah memaafkan mu dari puluhan tahun yang lalu. Jangan bicara dosa, karena berdosa tidaknya manusia hanya Allah yang bisa menentukan. Kita semua nggak ada hak untuk itu. Kamu teman ku, sahabat terbaik ku yang pernah mengisi hari-hari indah masa putih abu-abu ku. Aku juga minta maaf karena pernah menjadi teman yang nggak pernah mengerti perasaanmu." Air mata pun turut membanjiri pipi mereka.


Nabila memeluk Niken dan Niken pun membalas pelukan itu. Niken memang pernah merasakan sakit hati yang paling dalam atas luka yang pernah ditorehkan oleh seseorang yang kini tengah memeluknya tetapi luka itu segera hilang seiring dengan hadirnya orang baru dan keikhlasan untuk menerima takdir yang di tetapkan oleh Yang Maha Kuasa.


"Perasaan kamu nggak ber make up, Nik" sela Nabila sembari mengikuti langkah Niken ke depan.


"Ngapain bermake-up, toh aku juga mau ngebabu," canda Niken sembari duduk di sofa di ikuti oleh Nabila.


"Diminum dan di makan camilannya. Maaf cuma itu yang ada."


"Ini juga udah istimewa. Maaf ngerepotin."

__ADS_1


"Ngerepotin apa sih? Kau muntah-muntah dan lemes nggak doyan makan aja aku urusin kok," ucap Niken dan setelahnya mereka sama-sama terdiam.


Niken ingin menjahit mulut rasanya karena tersadar bahwa ucapannya secara tidak langsung mengingatkan mereka saat masa-masa kelam dulu. Masa dimana Nabila tengah ngidam dengan kondisi yang belum menikah.


"Sekarang kamu tinggal dimana, Bil?" tanya Niken mengalihkan pembicaraan dan memutus kecanggungan yang terjadi diantara mereka akibat mulut lancangnya.


"Aku tinggal di luar provinsi," jawab Nabila sembari tersenyum. Mencoba menepis nyeri di hatinya.


Mereka melanjutkan berbincang hal random dan sesekali mengenang masa-masa saat mereka pernah menjalin pertemanan dengan begitu akrab. Nabila sampai rela pindah kos padahal jarak yang ditempuh lebih jauh dari kampusnya hanya demi bisa lebih dekat dengan Niken Sampai ucapan Nabila membuat mata Niken berkaca-kaca.


"Aku senang Nik, lihat kamu sekarang menjalani hari dengan bahagia. Kamu menemukan suami dan anak-anak yang begitu baik dan menjadi keluarga harmonis. Maaf dulu aku pernah menghancurkan impianmu. Maaf aku pernah jadi teman yang begitu egois." Nabila menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Niken diam dan membiarkan Nabila mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Bila dahulu Nabila yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya kini Niken yang ingin mendengarkan isi hati Nabila.


"Sewaktu aku meminta bang Bayu untuk mengantarkan ku ke kampus, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk minta di jemput. Disitulah aku menggoda bang Bayu dan mengajaknya ke hotel. Awalnya bang Bayu menolak, tapi aku rayu dia. Aku tawarkan keperawanan ku. Aku udah suka sama bang Bayu dari sebelum kalian kenal. Aku senang waktu bang Bayu kamu tolak tetapi aku patah hati waktu bang Bayu ngelamar kamu." Niken mengulurkan tissu untuk menghapus air mata Nabila yang semakin deras mengalir.


"Aku coba tahan perasaan ini tapi aku nggak bisa. Rasa cintaku makin dalam apalagi ketika bang Bayu sering datang ke kos dan kalian jalan bareng. Rasa cinta, cemburu, iri dan patah hati campur jadi satu. Sewaktu aku tawarkan keperawanan ku dan maksa bang Bayu ke hotel, bang Bayu setuju dan kami ngelakuin hal itu. Dari situ hubungan kami makin dekat dan kami melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya di toko. Sebulan sebelum aku ketahuan hamil, bang Bayu menjauh. Dia nggak mau kekhilafan kami terus berlanjut. Dia mau fokus ngurus pernikahan kalian."


"Udah Bil, nggak usah di lanjut. Aku bahagia dengan pernikahanku sekarang. Jangan kita kenang lagi hal-hal menyakitkan yang udah lalu." Niken mencoba menghentikan cerita Nabila. Awalnya ia ingin setia menjadi pendengar tetapi melihat Nabila yang semakin terisak-isak membuat Niken tidak tega.


Nabila menggeleng, "Kamu harus tau betapa buruknya aku jadi temanmu, Nik. Selama kita berteman dan kamu menjalani masa-masa indah sama bang Bayu, disitu aku menahan gejolak cinta dan dendam. Aku iri, Nik. Iri sama kamu yang bisa mendapatkan cinta bang Bayu begitu mudah sedangkan aku memendam cinta bertahun-tahun dan tak pernah terbalas."

__ADS_1


"Maaf juga kamu harus ngurusin aku ketika aku muntah-muntah padahal waktu itu aku lagi ngidam anak dari tunangan mu." Nabila menunduk. Tak berani menatap mata Niken yang masih menatapnya dengan pandangan teduh. Air mata juga ikut membasahi pipi Niken.


"Aku tau waktu itu kamu lagi hamil. Tapi aku nggak tau kalo kamu hamil anak bang Bayu. Aku nggak sengaja nemuin tespek di meja mu waktu aku bersih-bersih."


__ADS_2