Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Sama Juna Aja!


__ADS_3

Niken bingung harus menjawab apa alhasil hanya kata kenapa yang ia tanyakan. Niken sudah pernah mau menikah dan harus berujung kegagalan, sudah pasti keinginan untuk mencoba menautkan hati dan merencanakan pernikahan kembali masih menggebu di hatinya. Tapi tidak untuk sekarang. Niken memang belum pernah bercerita kepada Andre bahwa ia pernah gagal menikah.


"Kakak udah ada keinginan untuk menikah," jawab Andre lugas membuat Niken hampir tersedak. Buru-buru ia mengambil minum dan menenggaknya.


"Tapi kalo kamu belum siap, nggak papa. Kakak juga nggak maksa kamu harus buru-buru. Kita pacaran juga baru beberapa bulan."


"Pernikahan itu harus dipikirkan matang-matang kak, karena menikah kan ibadah seumur hidup. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari." Andre mengangguk mendengar ucapan Niken. Ia tampaknya juga setuju akan hal itu.


Niken sendiri tidak mau mengalami kegagalan lagi. Dulu ia menerima lamaran Bayu karena tak enak hati apabila harus menolak Bayu lagi untuk yang kedua kalinya. Lamaran pun ia terima karena Niken juga melihat ketulusan Bayu apalagi Bayu langsung melamarnya di hadapan mama padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa saat itu. Kesungguhan yang nampak di diri Bayu ternyata membawa kehancuran di diri Niken.


Niken tidak mau mengalami kejadian yang sama. Mengambil keputusan secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan matang-matang keputusan besar dalam hidupnya. Keinginan untuk menikah masih besar tapi untuk segera melangsungkannya, Niken perlu waktu yang panjang untuk berpikir.


***


Hari ini Niken pulang ke rumah orang tuanya karena menurut mamanya, si papa pulang dari Palembang dan Niken sudah memesan oleh-oleh yang lumayan banyak. Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya Niken langsung meluncur dengan menggunakan ojek. Andre tidak bisa mengantar karena Anjas tengah sakit dan tidak ada yang menggantikannya menjaga gerai bila ia nekat mengantar Niken. Jadilah Niken pulang seorang diri.


"Pa, kapan papa menetap disini lagi? Kok kayaknya betah banget tinggal di Palembang?" tanya Niken iseng sembari mengemil kerupuk pecah seribu, kerupuk khas Palembang, oleh-oleh dari papanya.


"Ya mau gimana lagi, mama nggak mau di ajak ke Palembang, sementara usaha papa disana belum bisa di tinggal mandiri, papa belum bisa ngelepas usaha itu tanpa pengawasan. Papa masih trauma, takut orang kepercayaan papa menyalahgunakan kepercayaan dan ujung-ujungnya kita juga yang menanggung akibatnya."

__ADS_1


"Nggak papa deh papa di Palembang sana, cari duit banyak-banyak, entar kita hitung, duit siapa yang paling banyak, duit papa atau duit aku."


Papa Niken tergelak mendengar ucapan anaknya, "Duileh, yang mentang-mentang udah bisa mandiri, cari duit sendiri. Sombong bener mau ngalahin papa."


Niken pun jadi ikut tertawa membuat mamanya yang baru datang dari dapur mengernyit heran mendapati ayah dan anak ini tertawa tanpa mengajaknya.


"Ngomongin apa sih? Kok seru banget kayaknya!"


"Ini Niken katanya mau ngenalin pacarnya sama kita." Niken melotot mendengar papanya membicarakan kebohongan.


"Ih papa apa-apaan sih, nggak ada ya yang bilang begitu." Niken mencubit lengan papanya.


"Semenjak kamu ditinggal nikah sama Bayu, kamu belum pernah ngajak cowok main ke rumah, Nik Jangan bilang kamu masih cinta sama Bayu? Karena walaupun dia udah jadi duda sekalipun, mama nggak bakalan setuju kamu balikan lagi sama dia," ancam mamanya membuat Niken hampir mendengus dengan pemikiran gila mamanya.


"Ya ampun ma, siapa juga yang masih cinta sama Bayu. Dia udah hidup bahagia sama Nabila kayaknya," ucap Niken sembari menggigit kerupuknya dengan kesal.


"Baguslah! Sampai sekarang mama masih nggak nyangka, teman kamu itu tega menusuk kamu kamu dari belakang. Padahal kelihatannya anaknya kalem."


"Jangan terburu-buru menikah juga Nik, papa nggak mau kamu mengalami kegagalan lagi. Umur kamu juga masih muda banget, kamu seharusnya juga saat ini tengah menikmati indahnya masa kuliah bukan malah harus merenungi pernikahan dan patah hati." Nasehat papa Niken sembari mengelus pelan rambut anaknya. Niken jadi semakin nyaman bersandar di bahu papanya.

__ADS_1


"Kalo kamu buru-buru nikah, mama papa juga bakalan cepat tua," celetuk mama Niken yang duduk di depan mereka dan tengah menikmati teh buatannya sendiri.


"Kok gitu, ma?" tanya Niken yang tidak mengerti mengapa mamanya tiba-tiba mengatakan itu.


"Ya iya dong, kamu bakalan punya anak dan mama bakalan di panggil nenek. Aduh serasa tua banget ya mama." Niken malu sampai wajahnya bersemu merah. Dih kenapa jadi ngomongin cucu sih? Sementara papanya tertawa mendengar istrinya yang setengah menggerutu membicarakan perihal cucu.


"Tapi nggak apa-apa sih ma, rumah kita bakalan ramai sama suara tangisan bayi." Papa ikut bersuara menggoda Niken.


"Ih kalian ngomongin apaan sih? Tadi katanya jangan buru-buru nikah kenapa malah jadi ngomongin cucu?" gerutu Niken.


"Iya pa, kenapa jadi ngomongin cucu? Calon menantu saja kita belum punya." Mamanya sepertinya masih mau menggoda anaknya. Tidak tau saja mamanya bila Niken sudah punya kekasih yang bakalan bisa ngasih martabak setiap malam.


"Kalo kamu belum punya calon dan takut nemunya kayak Bayu lagi, sama Juna aja Nik, udah terbukti anaknya baik banget."


"Ha???"


"Yang bener aja!" seru Niken sewot mendengar papanya tiba-tiba membahas Juna untuk dijadikan menantu. Bisa-bisanya papanya memiliki ide untuk menjodohkan dirinya dan Juna. Bisa gosong Niken setiap hari mendengar omongan pedas Juna.


"Ya bener dong. Juna anaknya kalem, nggak neko-neko juga setau papa. Bibit, bebet, bobot keluarganya juga jelas." Papa kembali bersuara, membuat Niken mendengus dengan pemikiran papanya. Belum tau saja mereka sebenarnya Juna itu seperti apa orangnya. Mulutnya nyelekit banget.

__ADS_1


"Jangan punya pemikiran yang aneh-aneh ya pa. Aku nggak mau di jodoh-jodohin." Niken menggerutu sebal.


Mama papanya hanya tertawa melihat wajah cemberut anaknya. Entah serius atau tidak mereka dengan ucapannya. Tetapi satu hal yang pasti, mereka sudah tertipu dengan wajah polos Juna. Pembawaannya kalem tapi mulutnya minta di lem.


__ADS_2