Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Makan Bakso


__ADS_3

"Pasti deh kalo udah jadi emak-emak itu si Rindy berubah jadi kang julid, yakin aku," celetuk Marcel geregetan sembari menggigiti ujung bantal sofa.


"Emberan." Marsya pun menyahut sembari mempraktekan wajah ibu-ibu yang suka julid di dunia pergosipan.


"Persis banget kayak tante Wati tetangga kita, julid parah. Pasti Rindy ini satu perguruan sama Tante Wati," sambung Marsya. Marcel menganggukkan kepalanya dan tertawa ngakak. Membenarkan ucapan kakaknya.


"Huss, nggak boleh ngomong gitu kakak, dia tetangga kita loh, orang pertama yang pasti akan menolong kalo kita ada apa-apa," nasehat Niken agar anak-anaknya tidak kebiasaan menceritakan keburukan tetangga mereka.


"Ma, ceritain juga dong momen sewaktu bersama Rayya," lanjut Marcel. Marsya ngakak dan melempar Marcel dengan bantal sofa. Niken sendiri lagi-lagi hanya tersenyum geli.


"Nah, jadi selepas Niken menitipkan absen....."


***


Niken ditraktir es krim waktu pertama kali Rayya mengantar Niken naik motornya, sekarang dengan alasan lapar Rayya mengajak Niken menikmati bakso yang terkenal murah meriah dikalangan anak sekolah. Maklum, uang jajan anak SMP masih di jatah. Rayya ingin terlihat keren walaupun dengan budget pas-pasan.


"Kakak udah sering kesini ya?" Niken bertanya karena dilihatnya waktu memesan menu, Rayya terlihat mengobrol akrab dengan si penjual.


"Lumayan lah. Temen-temen sekelas ku kalo ada yang ultah pasti makan-makannya disini. Anak pemilik warung ini juga dulu sekolah di Budaya. Tapi sekarang udah SMA." Niken mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Rayya. Rayya sendiri menjelaskan sembari membersihkan meja dari debu tak kasat mata dengan tisu.


"Ngomong-ngomong soal ultah, kakak ultahnya kapan?" Rayya tersenyum dengan pertanyaan yang diajukan Niken.


"Masih lama. Akhir tahun."


"31 Desember?" Rayya menggeleng.


"Besok kita ada rapat. Tadi aku lupa ngasih tau Rindy. Besok kamu infokan ke dia ya?" Niken cemberut karena Rayya tidak menjawab pertanyaannya. Niken kan ingin memberikan kado kalau pacarnya itu ulang tahun.


"Mau membahas apa kak?" Tapi tak urung Niken meladeni juga pembicaraan ini. Karena masalah rapat yang menurutnya juga penting.


"Kegiatan di bulan ramadhan."


"Oiya, sebentar lagi kita puasa ya."


Penjual bakso mengantarkan pesanan mereka dan menyempatkan diri bertanya kepada Rayya," tumben Ray, cuma berdua?"

__ADS_1


"Temen-temen yang lain udah pada pulang pak." Si penjual menoleh ke arah Niken dan tersenyum yang dibalas Niken dengan senyum canggung. Lebih ke nyengir sebenarnya.


"Bisa aja kamu, Ray." Si penjual bakso tertawa sembari menepuk-nepuk pundak Rayya dan berlalu melayani pelanggan lain. Rayya hanya garuk-garuk kepala. Niken yang menyaksikan interaksi itu melongo heran.


"Kenapa sih?" Rayya hanya menjawab dengan kedikan bahu.


"Kamu udah lama ikut Kak Runita?"


Karena mereka makan dalam diam, Rayya berinisiatif memulai pembicaraan. Bila dia tidak memulai obrolan sudah dapat dipastikan, Niken pasti akan diam bahkan sampai Rayya mengantarkannya pulang ke rumah.


"Sejak aku masuk SMP kak."


"Kenapa?"


"Maksudnya?" Niken yang tak paham dengan pertanyaan Rayya, menoleh bingung.


"Kenapa kok ikut kak Runita maksud aku? Sekolah di daerah kamu jauh?"


"Nggak sih, tante Runita yang minta aku ikut sama dia. Sebenernya mama nggak ngasih ijin, tapi karena tante Runita beralasan dia kesepian akhirnya mama ngasih ijin juga."


"Kamu berapa bersaudara?"


Rayya mengernyit heran, "kalau kamu ikut kak Runita, mama kamu nggak ada temennya juga dong?"


"Adik-adik papa rumahnya berdekatan sama rumah kami, jadi rumah kami nggak pernah sepi karena setiap hari keponakan papa selalu main kerumah. Tante Runita semenjak menikah belum dikasih momongan, disini juga nggak ada saudara jadinya ya gitu deh, aku yang di bujuk-bujuk supaya mau ikut dia. Lagian tante Runita itu baik banget, dari aku bayi memang udah sering ikut dia kemana-mana." Rayya tersenyum mendengar penjelasan Niken. Ini rekor Niken berbicara panjang lebar selama mereka saling mengenal.


"Kak Runita kan lagi program hamil."


"Eh serius? Kok aku baru tau?" Niken kaget karena selama ini tante Runita tidak pernah mengatakan apa-apa. Padahal bila dirumah mereka sering mengobrol bersama.


"Aku juga tau dari kak Sinta. Kak Runita lagi ikut program hamil. Konsultasi gitulah sama kak Sinta."


"Kak Sinta dokter ya?"


Rayya tertawa mendengar pertanyaan Niken. "Dokter apaan? kakak ku itu begitu tamat SMA langsung sibuk minta menikah. Dia nggak pernah kuliah, darimana jalannya bisa jadi dokter."

__ADS_1


"Kok tante Runita bisa konsultasi sama kak Sinta? Bukannya kalo konsultasi itu harus sama dokter ya?" Niken heran. Setau Niken yang namanya konsultasi ya harus dengan dokter.


"Aku juga nggak tau kak Niken punya ilmu dari mana, dia tau kiat-kiat agar cepat hamil."


Walaupun tidak paham benar Niken tetap menganggukkan kepala. Pulang sekolah nanti Niken harus menanyakan hal ini kepada tante Runita. Niken berharap ada yang bisa Niken bantu agar program hamilnya segera berhasil bila memang tantenya itu sedang program hamil.


"Kemarin waktu aku kerumah kakak, aku nggak lihat orang tua kakak? Lagi kerja ya?" Niken bertanya disela-sela makannya.


"Mamaku kerja, ada toko baju yang dikelola mama, kalau papa udah lama meninggal, sejak aku kelas 3 SD."


Niken tersentak kaget dan mengusap tengkuk kebingungan, "maaf kak."


Rayya tertawa menanggapinya, "ngapain minta maaf, papa ku meninggal bukan karena kamu."


"Maaf karena udah nyinggung papa kakak."


"Santai aja, udah lama juga."


Obrolan ringan tentang kehidupan mereka mengisi kegiatan makan bakso siang itu. Rayya tersenyum senang karena dia dapat mengenal Niken lebih dekat. Tentang orang tuanya, makanan kesukaannya, hobinya, apapun yang keluar dari mulut Niken. Rayya akan ingat dengan jelas dalam ingatan.


Sedangkan Niken, dia senang karena bisa lebih ekspresif bercerita. Biasanya Niken akan berubah kikuk bila berhadapan dengan laki-laki yang bukan perkumpulan sehari-harinya. Dengan Dhani, Niken memang ekspresif tapi lebih cenderung ke pertengkaran. Bila bersama Rayya, Niken bisa mengobrol normal dengan akrab.


***


"Rayya keren, aku perlu contoh dia, tetep bisa traktir cewek walaupun budget pas-pasan," sahut Marcel dan berteriak aduh karena kaget tiba-tiba kakaknya melemparnya kembali dengan bantal sofa.


Setiap Marcel menyebut kata Rayya, entah mengapa Marsya geli sendiri dan refleks melemparkan bantal sofa yang selalu setia di pangkuannya.


"Sunat baru kemarin sore udah gegayaan mau traktir cewek," ketus Marsya sembari memutar bola mata.


"Eh tapi mama dulu pernah ngalamin kayak kak Marsya," celetuk Niken tiba-tiba membuat perdebatan antara Marsya dan Marcel otomatis berhenti.


"Maksudnya ma?" Marsya dan Marcel saling lirik karena kebetulan mereka mengucapkan kalimat yang sama.


"Besok aja deh mama lanjut, udah malam, kalian nggak ngantuk?"

__ADS_1


"Ih mama, besok kan libur, setengah jam lagi aja ma, janji abis itu tidur. Penasaran aku, cerita mama yang gimana kok bisa sama kayak kak Marsya," rajuk Marcel yang di angguki Marsya.


Hmm, baiklah. Sepertinya perlu durasi lebih lama untuk melanjutkan cerita ini.


__ADS_2