Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Teguran


__ADS_3

Marcel tersenyum senang begitu membaca sekali lagi tulisan tangannya di sebuah kertas folio. Itu adalah tugas bahasa Indonesia yang mewajibkan semua muridnya membuat cerpen bertema kenangan dan Marcel terinspirasi dari cerita mamanya. Jadilah kisah mamanya ia jadikan cerpen dengan judul Foto..


Kemarin siang ketika ia dan kakaknya pulang sekolah, mereka kembali melanjutkan kisah mamanya. Kegiatan yang menjadi kegemaran mereka akhir-akhir ini. Papa mereka pulang sore hari, jadilah mereka memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk kembali mendengarkan kisah mamanya.


Selain cerita kenangan tentang foto ada lagi kisah yang lain yang sempat di ceritakan Niken. Yang cukup membuat Marsya dan Marcel terbawa emosi.


Ini dia ceritanya....


***


Pagi ini cerah dengan sinar matahari yang hangat menyentuh kulit. Niken bahkan pergi ke sekolah dengan hati riang, tulisan Niken nyonya Mulyono yang lagi-lagi memenuhi seluruh papan tulis pun tak mengubah keriangan dihatinya.


Dipandanginya sejenak tulisan itu dengan hati damai. Kakinya tetap melangkah ketempat duduknya. Ada Rindy bersandar dimeja tepat dua meja didepan tempat duduk Niken. Awalnya Niken tidak peduli karena tidak mau merusak keriangan paginya, tapi begitu Niken mau melewati Rindy, kaki Rindy menghadang langkah Niken. Otomatis langkah Niken terhenti.


"Kenapa absen kemarin tertinggal dikelas? Lo nggak nitipin absen dimeja pak Jhon kan?" cecar Rindy berapi-api.


Niken yang awalnya tidak peduli dengan keberadaan Rindy didekat mejanya langsung tersadar bahwa kemarin ia memang lupa menitip absen di meja pak Jhon. Karena keasyikan bercanda dengan Adila, Salsa dan Marwah selesai acara maulid nabi. Apalagi setelah menunggu bus, diajak foto bersama dengan Rayya dan di gombalin dengan kata cantik, Niken jadi lupa segalanya termasuk absen yang masih teronggok cantik didalam kelas.


"Maaf Rin, gue lupa kalo kemarin absen belum gue titipin di meja pak Jhon," cicit Niken mulai takut. Judes di wajah Rindy sepertinya menguar secara maksimal membuat siapapun yang melihatnya langsung menciut.


"Emang kalo lo bilang maaf, absen bisa melayang sendiri dimeja pak Jhon gitu?" Niken menggeleng ketakutan.

__ADS_1


"Udahlah Rin, nggak usah dibesar-besarin, Niken kan udah minta maaf, lagian kayak yang Lo bilang, mau lo marah pun absen tetep nggak bisa melayang dengan sendirinya ke meja pak Jhon." Reni menyahut santai dari kursinya. Jengah karena sedari ia memasuki kelas, Rindy sudah mengamuk hanya karena absen yang masih tergeletak manis dimeja guru.


Reni tau pasti sebenarnya bukan karena masalah absen yang membuat Rindy marah besar tapi Niken lah yang memang sudah Rindy incar sedari awal.


"Lo tau kan Ren bahayanya kalo absen nggak dititipin ke ruang guru? Gimana kalo ada murid yang iseng ganti-ganti jumlah absen, lebih bahaya lagi gimana kalo absen itu hilang? Emang Lo bakalan inget siapa-siapa aja yang alpa setiap harinya?" Reni berdecak.


Ia yang awalnya tak peduli beranjak dari duduknya dan menghampiri Niken yang hanya bisa tertunduk yang tidak ada sama sekali niatan untuk membela dirinya sendiri.


"Nggak usah berlebihanlah, tuh buktinya masih aman-aman aja kan, nggak ada orang iseng kayak yang lo takutin."


"Belain aja terus, lama-lama nih anak makin ngelunjak tau nggak. Cuma bisa nampilin wajah polos biar dikasihani." Rindy maju selangkah menghampiri Niken, entah apa yang akan dilakukannya tapi Reni terlebih dahulu memegang bahunya dan menatap tajam Rindy.


"Udah nggak usah dibesar-besarin." Cegah Reni masih berusaha sabar. Belum sempat Rindy membantah ucapan Reni, Dhani datang tergopoh-gopoh dan berteriak memanggil Niken tanpa menyadari suasana panas diantara Niken dan gebetannya.


"Mampus Lo!"


Niken menuju ke ruang pak Jhon dengan perasaan berkecamuk, menebak-nebak ada gerangan apa sampai ia disuruh menghadap pak Jhon. Sampai didepan ruang guru, Niken berhenti sejenak. Tangannya sudah mulai dingin. Wajahnya pun sudah mulai pucat efek dari cemas yang berlebihan.


Ini pertama kalinya Niken menghadap pak Jhon tanpa tujuan menitip absen seperti biasa. Diintip nya kedalam, masih banyak guru yang memenuhi mejanya masing-masing. Wajar saja, lonceng masuk belum berbunyi. Dengan mengucap bismillah dalam hati Niken membulatkan tekad mengetuk pintu dan menghampiri pak Jhon yang sedang menulis entah apa dibuku tebalnya.


"Permisi pak," sapa Niken sesopan mungkin.

__ADS_1


Pak Jhon yang mendengar sapaan Niken mengangkat pandangan dan mengangguk, menyuruh Niken duduk.


"Ada apa ya pak, bapak menyuruh saya menghadap?" Niken mencoba mengatur nada suaranya setenang mungkin walau dalam hatinya sudah terjadi badai, gempa bumi, angin ribut serta tsunami.


"Sebenarnya bukan masalah penting sih," ucap pak Jhon seraya tersenyum, "tapi karena adanya laporan, ya bapak mau tidak mau harus menyampaikan juga kepada kamu. Bapak dengar kamu kemarin lupa menitip absen dimeja bapak. Apa betul begitu Niken?"


Wajah Niken langsung berubah dingin. Niken tidak menyangka masalah absen yang diributkan Rindy membuat dia sampai harus berhadapan dengan pak Jhon.


"Maaf pak, kemarin saya lupa." Cicit Niken pelan dan menunduk.


"Jangan diulangi lagi ya. Kita mencegah adanya murid yang usil, merubah absen atau yang lebih parahnya mencuri absen tersebut. Kamu kan tau sendiri kegiatan ekstrakurikuler disekolah ini berlangsung sampai sore. Kita nggak tau siapa aja murid yang keluar masuk ke kelas kamu."


Niken mengangguk membenarkan perkataan pak Jhon. Apalagi yang bisa dilakukannya selain mengangguk. Niken tidak pingsan karena ketakutan saja sudah sebuah keajaiban besar.


"Oya satu lagi, bapak dengar juga kamu dikelas selalu membuat keributan." Niken langsung mengangkat kepalanya.


"Maksudnya pak?" sela Niken cepat. Dadanya tiba-tiba bergemuruh. Kejutan apalagi ini.


"Kamu selalu membuat coretan di papan tulis dengan tulisan kamu sangat menyukai Mulyono. Teman sekelas kamu merasa terganggu dengan tulisan itu. Apalagi kelas jadi tidak kondusif belajarnya karena godaan kamu dengan Mulyono mengganggu konsentrasi belajar mereka."


Bila Niken tadi bersyukur tidak pingsan karena ketakutan sekarang Niken berharap ada keajaiban datangnya alien dan menculik Niken untuk dibawa keruang angkasa. Biarlah Niken pindah planet asal tidak pernah menginjakkan kaki di bumi dan bertemu pak Jhon kembali. Niken luar biasa malu apalagi ucapan yang diucapkan pak Jhon mengandung fitnah yang sangat keji menurut Niken.

__ADS_1


"Bapak tau dimasa-masa puber seperti kamu ini suka-sukaan dengan lawan jenis itu hal yang lumrah tapi jangan sampai menganggu ketentraman dan konsentrasi belajar kamu dan teman-teman kamu. Kamu mengerti Niken?" Niken mengangguk dengan wajah kaku.


Ingin cepat pulang dan menangis sejadi-jadinya didalam kamar. Ingin membantah semua ucapan pak Jhon tapi apalah daya, lidahnya kaku, pikirannya bercabang entah kemana-mana.


__ADS_2