
Tiga bulan sudah berlalu semenjak hari paling buruk di hidup Niken itu terjadi. Niken sudah mulai berdamai dengan keadaan. Hari-hari nya sudah dilalui dengan ceria dan tak ada lagi wajah sepucat mayat begitupun dengan malam-malamnya, sudah tidak ada tangisan yang menghiasi. Apalagi Juna selalu mengiriminya pesan yang berisi kata-kata motivasi membagongkan.
Jangan mati hanya karena patah hati.
Sungguh mulia sekali pesan yang selalu di kirim Juna hampir tiap malam itu.
"Nik, ada kegiatan lain nggak setelah ini? Temenin aku ke bandara yok," ajak Willy, sesama desainer di butik Salwa.
"Ngapain ke bandara?" tanya Niken heran.
"Ada saudara ku yang baru datang dari Jakarta. Aku di tugaskan amak untuk jemput. Temeni ya, aku males sendirian?" Willy memelas.
"Cewek atau cowok Wil? Boleh kali kenalin ke aku, aku lagi cari jodoh ini," gurau Niken sembari terkekeh.
"Yaelah kemarin aku kenalin ke temennya Rizki kamu nggak mau," sungut Willy.
"Nggak ah, tajir banget. Insecure aku." Niken menggeleng. Rizki adalah pacar Willy dan pernah Willy iseng mengenalkan Niken kepada teman pacarnya itu. Tetapi Niken sudah insecure dahulu dengan mobil mewah yang di kendarai lelaki itu.
"Aneh kau Nik, dimana-mana perempuan itu cari yang udah mapan, ini ketemu yang udah mapan malah nolak," decak Willy.
"Nggak ah, terlalu kaya," kilah Niken sembari memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas selempangnya. Willy sendiri sudah siap pulang sedari tadi.
"Udah ayok temeni aku, nanti aku kenalin sama saudaraku." Willy langsung saja menggandeng Niken menuju bandara. Mereka mengendarai mobil yang dikemudikan oleh Willy. Niken baru tahu kalo Willy bisa mengendarai mobil sendiri.
Sesampainya di bandara mereka harus menunggu. Di saat itulah mata Niken tak sengaja menangkap seseorang yang ia kenal tengah berjalan santai sembari memainkan ponsel.
"Anjas!" sapa Niken menghampiri Anjas.
Anjas yang merasa namanya dipanggil pun mendongak dan terkejut menemukan teman SMA nya berada di hadapannya, "Niken! Kok bisa disini?"
Niken menoleh ke arah Willy dan menemukan temannya itu juga tengah memandangnya, "Ada saudara temenku yang baru datang dari Jakarta, aku nemeni jemput. Kamu ngapain disini? Mau pergi atau mau jemput seseorang?" tanya Niken memperhatikan sekitar Anjas. Tak ada tas ataupun ransel yang berada di dekatnya. Kemungkinan ia sedang menunggu seseorang sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Aku nunggu abang ku. Oya, gimana kabarnya? Kuliah dimana sekarang? Masih suka nangis-nangis nonton film nggak?"
Niken tertawa mendengar Anjas menyinggung hobinya yang suka mantengin film terutama film yang di bintangin oleh Nicolas Saputra "Aku nggak kuliah. Kerja aku sekarang. Kabar aku Alhamdulillah baik dan masih belum bisa meninggalkan Nicolas Saputra ku. Kabarmu sendiri gimana?" Niken juga bertanya basa-basi sama seperti halnya Anjas.
"Sama dong, aku juga nggak kuliah. Juna gimana kabarnya? Putus komunikasi aku semenjak kita tamat sekolah."
"Juna kerja di Medan. Di bengkel mobil." Beritahu Niken.
"Wah keren. Jadi anak perantauan."
Niken dan anjas berbasa-basi menceritakan kenangan masa sekolah mereka. Juga sedikit banyak menyinggung perihal Juna karena Niken mengenal Anjas juga dari Juna. Niken berpamitan karena saudara Willy sudah tiba dan mereka sempat bertukar nomor ponsel.
"Wil, kok kau nggak bilang kalo saudaramu udah tua?" bisik Niken saat tengah mengisi BBM dan saudara Willy berpamitan ke minimarket untuk membeli sesuatu.
"Kau kan tanyanya cewek atau cowok, nggak tanya masih tua atau muda," kilah Willy geli. Niken melengos karena berhasil dikerjai oleh Willy.
"Gimana? Masih berminat untuk kenalan nggak? Istrinya masih satu kok, kali aja kau mau daftar jadi yang kedua."
***
Anjas : Nik, aku lagi buka usaha martabak, kau nggak ada minat untuk beli?
Sore itu saat Niken baru saja menginjakkan kaki di kamar kosnya, pesan dari Anjas datang menawarkan dagangannya. Niken yang menyukai segala makanan tentu saja tergiur untuk membeli. Hitung-hitung membantu usaha teman.
Niken : Rasa apa aja?
Anjas : Segala rasa ada. Beli dong. Spesial untukmu nggak perlu datang ke gerai, nanti biar abang ku yang antar ke rumahmu
Niken : Serius aku nggak perlu datang ke gerai? Oke sip deh kalo gitu, aku pesen martabak spesial. 1 porsi aja
Anjas : Cukup satu? Entar kurang? Dua lah, sekalian untuk amak apak kau?"
__ADS_1
Niken : Aku tinggal di kos. Aku pesan satu aja. Oke
Niken juga mengirimkan alamat kosnya agar Abangnya Anjas mudah mencari alamatnya. Ia segera mandi dan memilih duduk-duduk di ruang tunggu sembari memainkan ponsel. Teman-teman satu kosnya sudah mulai berdatangan satu persatu. Selesai melakukan aktifitas untuk hari ini.
Anjas : Sorry Nik, habis maghrib di antar ya! Gerai rame banget
Niken : Oke, nggak papa, kalo nggak sempet ngantar, besok aja aku datang ke gerai. Kirim alamatnya aja
Tidak ada balasan setelah Niken mengirim pesan itu. Mungkin Anjas memang benar-benar sibuk dan pelanggannya sedang ramai. Niken pun memutuskan naik ke lantai dua dimana kamarnya berada karena hari yang mulai gelap.
Tak ada kegiatan yang dapat dilakukan Niken. Dulu, ketika ada Nabila, mereka akan menyempatkan mengobrol dan saling berkunjung masing-masing sambil memikirkan menu apa yang akan mereka beli untuk makan malam. Kini, Niken sendiri. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Niken merindukan Nabila. Tapi bila mengingat pengkhianatan itu, rasanya sakit dan kecewa itu kembali hadir.
Ketika Niken sedang asyik melamun, Cindy datang mengintip ke pintu kamarnya, "Nik, ada tamu."
"Siapa?" Niken mengernyit karena merasa tidak mengundang tamu ke kosnya.
"Nggak tau. Cowok. Keren deh gayanya." Cindy tersenyum-senyum dan berlalu meninggalkan Niken.
Niken turun sembari menggelung rambutnya. Ia malas sisiran karena merasa tidak akan kemana-mana. Rambutnya rontok dan sayang kalau harus disisir. Niken menyisirnya hanya di pagi hari dan bila akan bepergian.
Begitu Niken sampai di ruang tunggu terlihat seorang lelaki mengenakan kaos berlengan panjang yang tengah menunduk memainkan ponsel. Rambutnya bergaya Bun dengan anting bulat berwarna hitam di telinga kirinya. Niken menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tamu yang katanya sedang menunggunya.
Lelaki berkaos panjang itu mendongak dan mereka sama-sama terkejut.
"Kak Andre!"
"Niken!"
Mereka berucap kompak dengan ekspresi terkejut di wajah masing-masing. Niken menghampiri Andre dan duduk di sampingnya. Terlihat plastik berwarna bening dan kotak martabak di dalamnya.
"Apa kabar kak? Kok bisa ada disini?" tanya Niken berbasa-basi. Mereka tidak pernah bertemu semenjak Andre lulus dari Hang Tuah. Niken mengingat mungkin sekitar empat tahun mereka tidak pernah bertatap muka.
__ADS_1