
Tiga hari telah berlalu tanpa terasa dan undangan yang ditunggu-tunggu Niken tak kunjung tiba. Niken melirik teman-temannya yang sedang sibuk membicarakan perihal pesta pernikahan Nabila yang akan di lakukan besok. Niken mendengarkan dengan tangan menggulir layar ponsel. Hanya menutup dan membuka aplikasi media sosial tanpa benar-benar membacanya.
"Nik, kau udah ditelepon Nabila,kan?" tanya Cindy yang tengah bersandar di pembatas balkon. Saat ini mereka tengah berkumpul di lantai atas, menikmati malam selasa dengan berkumpul bersama teman-teman sesama penghuni kos.
"Udah," bohong Niken. Ia tidak mau teman-temannya berpikir yang tidak-tidak tentang ia dan Nabila bila Niken mengatakan yang sejujurnya.
"Kondangan sama siapa, Nik? Sama Bayu ya? Bareng kita-kita aja, rame-rame," ajak Ayu yang di angguki oleh yang lain.
"Kau mau datang dari pagi ya Nik, ikut nemenin ijab kabul?" Pertanyaan lain datang karena Niken diam tak merespon ajakan mereka.
"Nggak ah, aku mau datang bareng sama temen SMA ku," bohong Niken lagi.
Pergi dengan Bayu? Niken terkekeh miris dalam hati. Bayu sudah pasti akan hadir lebih cepat dengan yang lain karena ia yang akan menjabat tangan ayah Nabila dan mengikrarkan janji suci sehidup semati.
Niken menghembuskan napas lelah. Lelah hati, jiwa dan raga. Kisah cintanya harus berakhir dengan cara seperti ini.
***
"Jadi mama hadir di acara pernikahan mantan tunangan mama itu?" tanya Marcel geram.
"Hadir nggak ya?" goda Niken sembari meletakkan jari telunjuk di dagu seolah sedang berpikir.
"Ih mama ini," rajuk Marcel cemberut. Niken tertawa melihat tingkah anak bungsunya itu.
"Bayu dan Nabila beneran menjalin hubungan di belakang mama?" Marsya yang sejak tadi terdiam mengajukan pertanyaan juga.
"Mau tau?"
Marsya dan Marcel kompak mengangguk.
__ADS_1
"Kalo mau tau, simak terus cerita mama ya!"
***
"Gila!" Dengus Juna pagi itu ketika Niken sengaja datang kerumahnya untuk meminta pertolongan atau lebih tepatnya pemaksaan.
"Ayolah Jun, temeni aku," rengek Niken sembari menggoyang lengan Juna yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai mandi.
"Kau nggak di undang Nik! Emang kau nggak malu jadi tamu undangan yang tak di undang."
"Biarin! Seharusnya mereka yang malu, udah menusuk aku dari belakang," sungut Niken sembari menghempaskan tubuh di atas ranjang.
Juna mengenakan kaos nya dan menggantung handuk di belakang pintu. Dia duduk di kursi belajar dan menatap Niken yang tengah bersungut-sungut di depannya.
"Selama ini kau pacaran gimana sih, Nik? Kok bisa-bisanya pacarmu dekat sama yang katanya sahabatmu tapi kau nggak tau," cibir Juna.
Juna mendengus, "Oke, aku temenin entar malam kondangan tapi aku nggak mau kalo sampai kau nangis-nangis apalagi mengotori bajuku dengan ingus dan air mataku."
Niken langsung berseru senang begitu Juna menyetujui ajakan nya. Sudah sedari tadi ia merengek dan akhirnya Juna luluh juga.
Niken sengaja kemarin lembur kerja hingga malam agar hari ini dapat libur kerja tanpa terbebani dengan pekerjaannya. Niken pulang kerumah mamanya dan menceritakan semua gundah gulana yang dialaminya. Mamanya menangis dan memeluk erat Niken. Tak pernah tepikir olehnya nasib anaknya akan seperti ini.
Di batalkan rencana pernikahannya 3 bulan sebelum resepsi dan si mantan tunangan justru menikah dengan sahabatnya. Mama Niken takut anaknya tidak kuat menanggung beban mental dan berakhir depresi.
Begitu selesai menumpahkan isi hati kepada mamanya, Niken langsung kabur ke rumah Juna dan merengek agar menemaninya ke acara pernikahan Nabila dan Nabayu Aditama.
"Mau ngasih kado apa, Nik?" goda Juna saat dilihatnya Niken termenung menatap jendela kamarnya.
"Kado peralatan bayi. Biar dia tau kalo aku udah tau dia lagi hamil. Ayo temani aku cari kado bayi di toko Ahong."
__ADS_1
Niken beranjak dan langsung menyeret Juna agar pergi menemaninya ke toko Ahong. Toko Ahong berada tak jauh dari rumah mereka. Toko itu menjual segala barang-barang yang di butuhkan dalam rumah tangga. Dari bayi baru lahir hingga manusia wafat.
"Jangan naik motor," cegah Niken begitu Juna akan menaiki sepeda motornya.
Juna menatap Niken dan mengernyit, "Kenapa?"
"Nanti susah bawa kadonya."
"Bukannya mau beli peralatan bayi ya? Kok susah bawanya? Gampanglah! Tinggal masukin kresek."
"Ck, udah deh, nurut aja apa susahnya sih. Aku udah lama nggak naik mobil nih, semenjak mobil papa di jual," gurau Niken.
Juna berdecak tetapi tetap menuruti perintah Niken agar membawa mobil. Entah apa barang yang akan di beli anak manja itu. Juna hanya mampu menuruti perintahnya. Membantah pun percuma, ia akan tetap kalah.
***
Malam ini Niken tampil anggun dengan pakaian kebaya modern yang dikenakannya. Mama Niken sempat melarang anaknya untuk hadir di pesta itu tetapi Niken memaksa agar pergi, sayang dengan kado yang udah terlanjur di beli, itu alasan yang di utarakan Niken. Akhirnya mama Niken hanya pasrah dan membantu memoles wajah anaknya agar tampil mempesona dan membuat sang calon mantan menantu menyesal telah mencampakkan anaknya.
Juna sendiri tampil keren dengan warna kemeja yang senada dengan kebaya yang dikenakan Niken dan kini tengah bersandar di mobil menunggu Niken mengenakan high heels nya. Mereka berburu baju couple setelah berkeliling mencari kado yang sampai saat ini Juna masih geleng-geleng kepala bila melihatnya. Kado itu kini sudah tersimpan rapi di bagasi mobilnya.
Setelah berpamitan kepada mama Rumila, mereka langsung meluncur ke rumah Nabila. Niken sempat gugup tapi tak di utarakan kepada Juna. Niken malu, Juna pasti akan mengejeknya karena nekat pergi ke pesta mantan. Sesampainya di kediaman Nabila, sudah ramai para undangan yang hadir. Niken pun turun dari mobil dan memerintahkan Juna untuk membawa kado yang sudah di siapkan nya.
Juna mendengus dan tetap menurunkan kereta bayi yang telah mereka beli dari toko Ahong.
Ya kereta bayi!
Niken memberi kado kereta bayi tanpa membungkusnya atau menutup kado itu dengan dengan sesuatu. Terpampang jelas di hadapan semua para tamu undangan Niken menggandeng lengan Juna yang tengah mendorong kereta bayi berhias pita-pita. Agar mereka tau bahwa itu kado bukan kereta berisikan bayi.
Juna menebalkan wajah. Ia jadi teringat saat ada kegiatan teater ketika mereka SMA dulu. Ia yang tengah menggeret koper pink Niken dan mendapat lirikan geli dari seluruh siswa Hang Tuah dan saat ini ia merasa seperti tengah mengulang kejadian itu. Bedanya kini ia tengah mendorong kereta bayi bukan koper pink lagi.
__ADS_1