Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Lilin


__ADS_3

Suasana riuh pagi hari kembali terulang. Seperti biasa para lelaki di rumah itu kembali meributkan barang yang tak terlihat di pandangan mereka. Bahkan Marsya yang biasanya teliti pun pagi ini ikut-ikutan kehilangan barang.


"Makanya jangan suka ngejekin orang. Tau kan rasanya kelimpungan cari barang sementara kita buru-buru," dumal Marcel yang sepertinya dendam dengan kakaknya yang suka mengejeknya bila pagi hari.


Sepuluh menit kemudian semua barang yang mereka cari sudah berada di hadapan masing-masing. Siapa lagi pahlawan yang menemukannya kalau bukan ibu dan istri tercinta. Mereka sudah bisa sarapan dengan damai.


"Tumben kak, biasanya teliti banget sama barang," heran papa mereka.


Marcel dan Marsya saling lirik, tau sebab mengapa bisa teledor. Mereka tadi malam begadang, janji mendengarkan cerita mamanya setengah jam lagi molor hingga hampir tengah malam. Bangun terlambat dan terburu-buru membuat Marsya mengacaukan paginya sendiri.


"Lagi sial kali pa, ketularan para lelaki di rumah ini." Marsya menggunakan metode jurus ngeles membuat Marcel dan papanya kompak memutar bola mata.


"Kak, ada Irza itu di depan, mau berangkat bareng katanya," teriak Niken dari arah teras.


Marsya mendengus sedangkan Marcel dan papanya kompak tertawa. Mereka tau Irza, anak tetangga mereka naksir berat dengan Marsya tetapi Marsya ogah-ogahan menanggapi. Entah beneran ogah atau malu-malu ngeong. Keadaan itu membuat Marsya sering menjadi bahan godaan para penghuni rumah. Bahkan kakek neneknya bila berkunjung pun sering menanyakan kabar Irza, membuat Marsya semakin sebal saja.


"Ngapain sih itu anak? Udah dibilang jangan sok kegantengan, pake acara antar jemput segala lagi." Marsya mendumal sambil menusuk-nusuk ayam goreng di piringnya dengan sebal.


"Mau jemput tuan putri dong," goda papanya sambil tersenyum jahil. "Irza udah minta restu sama mama papa loh kak, mau nikahin kamu kalo dia udah lulus kuliah dan kerja." Papanya memberi info yang membuat Marsya tersedak dan batuk-batuk. Marcel jangan ditanya, ia semakin mengencangkan tawa. Sukses membuat pagi harinya berubah ceria.


"Ish, masih kecil juga udah ngomongin nikah-nikahan. Sok tua banget," gerutu Marsya setelah reda batuk-batuk.


"Jangan salah kak, bang Irza emang masih kecil tapi dipastikan dia udah bisa buat anak kecil," celetuk Marcel yang sukses mendapat tendangan dari Marsya.


Daripada mendapat godaan terus menerus dari para lelaki pelupa ini, Marsya memilih berangkat ke sekolah saja. Disalaminya si papa walaupun wajahnya cemberut.


"Irza ganteng loh kak." Papanya masih sempat-sempatnya menggoda.


"Idih." Marsya bergidik geli, membuat Marcel dan papanya lagi-lagi tertawa.


Marsya sebal sekali pagi ini dan raut sebalnya semakin terlihat begitu keluar rumah dan mendapati Irza tengah mengobrol dengan mamanya. Mereka terlihat tertawa-tawa entah menceritakan apa. Mamanya bahkan masih memegang sapu di tangan kanannya.


"Berangkat dulu ma," pamit Marsya.


Irza pun berpamitan kepada ibu dari perempuan yang ditaksirnya setengah mati itu. Diliriknya sang pujaan hati yang berwajah jutek itu sebelum menuju ke arah motornya yang terparkir.


"Irza ganteng ya, Sya," celetuk mamanya pelan ketika melewati Marsya yang tengah memakai sepatu.


Ingin rasanya Marsya mengoperasi mata para manusia yang mengatakan bahwa Irza ganteng. Ganteng darimana nya coba?


Tapi begitu Marsya di perjalanan dan menoleh kearah kaca spion, terlihat wajah Irza yang tengah serius menyetir, membuat Marsya teringat ucapan mama papanya yang mengatakan bahwa Irza ganteng.

__ADS_1


Marsya jadi tidak sadar memfokuskan pandangan ke arah kaca spion yang memantulkan wajah Irza. Kalau dilihat-lihat Irza memang ganteng sih. Bibirnya sedikit tebal dan berwarna sedikit kemerahan, hidungnya mancung dengan pipi tirus, alisnya juga hitam dan tebal.


Irza melirik kaca spion dan memergoki Marsya yang sedang memandangnya. Irza tersenyum sedangkan Marsya segera mengalihkan pandangan. Pura-pura cuek padahal malu setengah mati.


'Duh, kesurupan apa aku, bisa-bisanya memuji Irza ganteng,' keluh Marsya dalam hati.


***


"Ma, ayo lanjutin lagi ceritanya." Marsya dan Marcel berebut duduk di samping mamanya di suatu sore.


"Cerita apa?" tanya Niken bingung dengan mata masih fokus menatap layar televisi. Ada berita artis lawas yang sedang nge hits di jaman dirinya masih sekolah dulu.


"Kelanjutan kisah mama sekolah dulu, buruan ma, keburu papa pulang kantor," desak Marsya.


"Papa udah ijin pulang malam, ada barang baru datang yang mesti diperiksa dan masuk pembukuan." Niken memberi info.


"Yess!" Marsya dan Marcel berseru kompak.


"Kalian kok seneng banget papa pulang telat?" Niken bertanya heran.


"Iya dong, biar bisa denger kelanjutan cerita mama." Marcel berujar antusias.


"Sampai Niken diapelin Rayya," kekeh Marsya dan Marcel kompak. Masih jelas di ingatan mereka, cerita Niken sampai dimana kelanjutannya.


"Oh, oke. Jadi tuh kelanjutannya...."


***


Niken menggeliat malas di atas kasurnya. Tante Runita sepertinya sengaja tidak membangunkannya pagi ini dikarenakan libur sekolah selama 3 hari menyambut bulan ramadhan.


Setelah menyelesaikan kegiatan paginya, Niken menghampiri tante Runita yang tengah sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan. Jam didinding masih menunjukkan pukul 7, pantas saja Niken masih melihat om Uno duduk manis di depan tv menyaksikan berita pagi. Niat hati yang ingin membantu tante Runita di dapur urung terlaksana karena Niken melihat tantenya itu sudah membawakan sepiring sarapan untuk suaminya. Niken jadi berbelok ke ruang tv, bergabung bersama mereka.


"Udah bangun kamu, Nik?"


"Kalau belum bangun nggak mungkinlah Niken udah duduk manis disini, Nit." Niken tertawa mendengar jawaban dari om Uno. Padahal Niken yang ditanya. Tante Runita cemberut.


"Makan dulu sana. Tante buat omelete."


"Nanti Tan, belum laper." Niken menjawab sembari melirik remote tv di atas meja.


"Om buruan makannya. Aku mau nonton tv."

__ADS_1


"Nonton tinggal nonton loh Nik, nggak Om larang kok." Niken sebal dengan jawaban yang diberikan om Uno.


"Aku nggak mau nonton berita Om."


"Nonton berita itu bikin wawasan kamu luas tau."


"Pokoknya aku lagi nggak mau nonton berita. Om buruan makannya, biar cepat pergi kerja."


"Emangnya kamu mau nonton apa sih?"


Niken nyengir mendapat pertanyaan seperti itu, "aku mau nonton kartun Om."


Om Uno sempat menghentikan makannya sejenak dan menoleh kearah Niken. Belum sempat om Uno berkomentar tante Runita lebih dahulu menyahut, "udah jangan heran, ponakanmu itu memang masih hobi nonton kartun".


Om Uno menoleh kearah istrinya dan geleng-geleng kepala. Terkikik pelan, "Udah punya pacar, di datangi kerumah, eh pacarnya masih hobi nonton kartun."


Niken cemberut mendapat ledekan dari om Uno, "apa hubungannya coba Om nonton kartun sama didatangi teman kerumah?"


"Yakin cuma teman?" goda om Uno. Niken tersenyum malu.


"Yakinlah." Yakin bohongnya batin Niken dengan wajah yang sudah merah merona. Tante Runita sampai tertawa geli melihat raut wajah Niken yang mudah sekali berubah.


"Tapi Om nggak yakin tuh." Om Uno masih gencar menggoda sepertinya.


"Isshh apaan sih Om, resek banget." Om Uno tertawa melihat reaksi Niken yang menutup wajahnya dengan bantal sofa.


Setelah selesai dengan kegiatan sarapannya, om Uno beranjak dari duduknya dan akan segera berangkat bekerja. Melihat itu Niken langsung teringat sesuatu dan berseru heboh.


"Om, nanti kalau pulang kerja beliin aku lilin sama bunga api ya!" Om Uno sempat mengernyit sejenak mendapati pesanan Niken.


"Untuk apa, Nik? Kamu mau ada praktek disekolah?'


"Enggak Om." Niken jadi ikut-ikutan mengernyitkan kening


"Terus lilin untuk apa? Kamu mau ngepet?"


"Ya enggaklah Om. Untuk main-main aja. Letak di batok kelapa." Om Uno melongo sejenak lantas geleng-geleng kepala.


"Ya ampun nih anak. Udah tau pacaran tapi masih aja mainnya lilin sama bunga api."


"Biarin." Niken menjulurkan lidah yang mengundang tawa dari tante Runita dan om Uno.

__ADS_1


__ADS_2