
"Itu sih mama kurang kepo makanya nenek nggak mau berbagi kesedihan." Marcel menyahut dengan nada berapi-api.
"Terlalu kepo juga nggak baik Marcel." Marsya membela mamanya, "Udahlah Ma, lanjutin kisah persahabatan mama sama Nabila dan Juna aja. Aku penasaran sama pertemanan mama jaman dulu."
"Apa ya yang mau mama ceritain?" Niken mengingat-ingat kenangan yang mana yang perlu di ceritakan karena terlalu banyak kenangan yang telah ia lewati bersama Nabila dan Juna.
"Oh, waktu itu mama--"
***
"Nik, gimana persiapan menginap mu? udah beres semua?" tanya Juna yang tengah asyik berbaring di ranjang Niken sambil asyik memandangi wallpaper dinding bergambar kota yang tertempel di bagian sudut kamar.
"Tuh udah aku masukin semua kedalam tas apa-apa aja yang mau dibawa." Niken menyahut tanpa menoleh kearah Juna karena dirinya tengah asyik berbalas SMS dengan Nabila.
"Kita cuma mau nginep 2 malam, kenapa bawaan mu kayak mau pindahan?" tanya Juna heran setelah sebelumnya melirik tas yang akan dibawa Niken.
"Kalian para cowok yang kalo mau pigi-pigi cuma bawa celana, baju dan kadang ****** pun nggak bawa, diem aja deh," jawab Niken sengit, tak terima bila Juna mencela barang bawaannya. Juna hanya memutar bola mata malas dan memilih untuk memejamkan matanya.
Ekstrakurikuler teater di sekolah mereka akan mengadakan pelatihan ketahanan mental dengan cara menginap disekolah selama tiga hari. Niken dan Nabila yang menjadi anggota ekskul tentu saja tak mau ketinggalan dan bahkan tidak sabar untuk segera mengikuti acara tersebut. Pasalnya dimana lagi mereka bisa berkumpul bersama kalau bukan karena acara yang diadakan disekolah.
Setiap peserta boleh membawa teman dari ekskul lain yang tentu saja Niken akan dengan senang hati memaksa Juna untuk ikut dengannya. Juna awalnya menolak, tapi Niken mengaduh kepada mamanya dan mama Juna bahwa Juna tidak mau menemaninya ke acara sekolah. Jadilah para mama-mama rempong itu memaksa Juna untuk ikut serta.
Niken hanya tertawa jahat begitu Juna datang kerumahnya dan mengomel seperti emak-emak kehabisan jatah uang belanja.
__ADS_1
Setelah asyik cekikikan dengan Nabila melalui SMS, Niken melirik Juna yang ternyata sudah ketiduran di ranjangnya. Niken memilih berbaring juga dan memainkan boneka panda yang justru menjadi ingatan terakhirnya sebelum ia juga jatuh terlelap menyusul Juna.
Mama Rumila yang mencari keberadaan Niken untuk segera makan, mengintip dari pintu kamar yang celahnya sedikit terbuka. Dilihatnya Juna dan Niken tengah tertidur pulas. Dihembuskannya napas kasar.
Sanggupkah mereka menjalani semua ini? Bagaimana nasib masa depan Niken?
***
Keadaan sekolah sudah riuh. Wajah-wajah gembira penuh semangat mewarnai minggu pagi yang ceria itu. Anak-anak yang masih mengenakan tas ransel ataupun menggeret koper berkumpul di lapangan. Suara mereka sudah seperti dengungan lebah. Berdengung di seluruh penjuru lapangan.
Niken yang berdiri disebelah Juna dan Nabila, tak kalah antusias menyambut acara pembukaan yang akan dibawakan oleh pembina teater. Nabila yang tak membawa teman dari ekskul lain pun tak kalah antusiasnya dari Niken. Hanya Juna yang masih anteng berdiri dengan wajah datar, sesekali menaikkan tali ransel yang melorot dari bahunya. Koper berukuran sedang berada didekat kakinya. Si pemilik koper masih asyik mengobrol dan tak menyadari bahwa Juna sudah berkali-kali mendapatkan lirikan geli karena koper pink yang berada tepat disebelah kakinya.
Acara penyambutan yang dilakukan pembina teater dan kepala sekolah dilanjutkan dengan agenda pembagian ruangan untuk semua peserta yang berfungsi untuk berkegiatan seperti makan, mandi dan beristirahat serta untuk menyimpan barang-barang bawaan. Niken yang satu ruangan dengan Nabila langsung menuju keruangan mereka.
"Jun, bawain koper ku ya." Perintah Niken sesuka hati. Juna yang sebal hanya menggerutu tetapi tetap menyeret koper pink itu mengikuti langkah kaki Niken. Niken sendiri hanya menggendong ransel kecil.
Kegiatan padat merayap sampai sore menjelang. Tidak ada waktu bergosip ria dan berleha-leha dengan teman seperti perkiraan Niken. Acara dibubarkan pukul lima sore. Para peserta sudah diperbolehkan mandi dan beristirahat sampai pukul delapan malam.
Niken yang sudah merasa gerah karena seharian terkena sengatan matahari tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyeret Nabila dan mengajaknya mandi sebelum kamar mandi penuh oleh peserta yang lain.
Keluar dari kamar mandi, Niken berjalan santai menuju keruangannya, masih dengan Nabila berada disampingnya. Mengenakan celana training dan kaos berlengan panjang, sesekali Niken mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Banyak teman-teman mereka yang hilir mudik di lorong itu, entah itu untuk berangkat mandi atau sudah selesai mandi seperti Niken dan Nabila.
"Sumpah, pegel semua kakiku," keluh Nabila.
__ADS_1
"Sama, baru satu hari udah capek." Niken pun jadi ikutan mengeluh masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Mereka memasuki ruangan yang sudah tak seramai tadi, mungkin sebagian masih berada di kamar mandi. Niken dan Nabila memilih duduk-duduk dahulu sambil menunggu rambut mereka kering.
"Juna kok mau ikut ke acara ini, Nik?" tanya Nabila heran. Pasalnya Niken kemarin sempat mengomel karena Juna tidak mau ikut dengannya.
"Aku laporin dia sama mamanya, kubilang dia nggak mau ikut acara sekolah karena malas. Mamanya marah-marah, terpaksa deh dia ikut." Niken menyahut bangga. Nabila hanya geleng-geleng kepala. Salut dengan Niken yang bisa begitu akrab dengan keluarga juna dan memerintah Juna sesuka hatinya.
Niken menyentuh rambutnya yang sudah kering dan sudah bisa untuk diikat. Diambilnya sisir dan menghadap kaca untuk memulai menyisir rambut. Begitu rambut sudah disisir rapi dan dikumpulkan jadi satu untuk diikat, Niken menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ikat rambutnya.
"Loh Bil, ikat rambutku kemana?" Nabila menoleh mendengar seruan Niken. Dilihatnya Niken yang berjalan mondar-mandir mencari ikat rambutnya dengan tangan masih memegangi rambut yang akan di kuncir.
"Tadi kau letak mana?" tanya Nabila heran.
"Disini kok dekat aku duduk," jawab Niken sembari memeriksa tas yang hanya berisi bedak, sisir dan bodylotion. Tangan Niken sudah tidak memegangi lagi rambutnya. Dibiarkannya saja rambut itu tergerai, padahal Niken sudah menyisirnya dengan sangat rapi.
Nabila yang awalnya cuek saja melihat Niken kelimpungan mencari ikat rambut, akhirnya beranjak. Ikut mencari dimana keberadaan si pita. Mereka berjalan mondar-mandir ke penjuru ruangan. Seluruh isi tas Niken sudah dikeluarkan dan tak ditemukan benda yang dicari. Meja-meja yang berada disudut ruangan untuk menyimpan makanan pun tak luput dari sasaran pencarian.
Setengah jam sudah berlalu sejak mereka mondar-mandir mencari pita rambut itu, Nabila bahkan sudah duduk dengan meluruskan kaki karena kelelahan. Niken yang sudah mengeluarkan keringat di dahi pun ikut lesu duduk menyusul Nabila Entah kemana hilangnya pita rambut itu. Hilang tak berjejak penuh misteri.
Niken yang kegerahan menarik lengan kaos nya, saat itulah matanya menangkap sesuatu.
"Hahahaha." Niken tertawa terbahak-bahak, Nabila yang tengah mengipasi wajahnya dengan tangan sampai heran dan melotot ngeri melihat tingkah Niken yang masih saja tertawa sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perut.
__ADS_1
Nabila menoleh ke kiri dan ke kanan, mengusap lengannya karena tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Entah mengapa mendengar suara Niken yang masih saja tertawa membuat suasana menjadi horor. Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua dan sebentar lagi maghrib menjelang.
"Nik, kau kenapa? Jangan ketawa aja, serem tau. Kau nggak kesurupan kan?" tanya Nabila konyol. Di goyang-goyangkan nya badan Niken berharap temannya itu lekas sadar.