
Begitu sampai di gerai, Anjas tengah menyusun peralatan untuk berjualan dan Niken segera turun dari motor ikut membantu. Andre sendiri menyusun kursi-kursi yang nantinya akan digunakan pembeli untuk duduk-duduk.
"Jangan di ambil hati ya sama omongan Nova. Dia emang anaknya suka ceplas-ceplos," celetuk Anjas disela kegiatannya menyusun susu dan menuang meses kedalam toples.
Niken hanya mengangguk dan tetap diam. Senyum tipis ia sunggingkan agar Anjas tidak berpikir yang macam-macam.
Jadi namanya Nova?
Anjas saja berinisiatif menjelaskan agar tidak terjadi salah paham tetapi mengapa Andre hanya diam saja? Atau Andre berpikir Niken tidak masalah dengan semua celotehan bocah labil itu?
***
Pembeli datang saat mereka baru saja menyelesaikan segala persiapan yang dibutuhkan untuk berjualan. Anjas yang memang sedang berada didalam gerai segera meracik pesanan dan Niken memilih keluar dan duduk di kursi yang telah disusun Andre untuk para pembeli menunggu pesanan.
Niken memainkan ponsel dan membuka beranda FB. Dilihatnya-lihatnya postingan dari teman-temannya yang kebanyakan dari mereka tengah menunggu wisuda. Niken tersenyum kecut dan akan keluar dari beranda ketika ada notif komentar masuk di salah satu postingan yang ia unggah beberapa hari yang lalu.
Rayya F : Apa kabar Niken?
Niken diam terpaku dan akan memeriksa profil si pemberi komentar ketika suara Andre menginterupsi kegiatan yang akan di lakukannya.
"Kamu marah ya Nik sama omongan Nova tadi? Dia cuma bercanda kok." Andre mendekat dan duduk di sebelah Niken.
"Hmm, belain aja terus," sungut Niken dan mengantongi ponselnya. Lupa dengan kegiatannya yang akan memeriksa akun FB seseorang. Tangannya ia sanggah di pipi dan lengan kursi.
"Bukannya belain, dia kan masih anak-anak, maklumi aja kalo omongannya suka ngasal." Andre masih dengan sabar memberi pengertian kepada pacarnya yang sedang ngambek ini.
"Dia masih anak-anak tapi udah bisa buat anak," dengus Niken. Andre hampir tertawa dengan ucapan Niken tetapi ia sadar pacarnya akan semakin ngambek bila ia berani menertawakannya.
"Udah nggak usah ngambek. Ntar cantiknya hilang."
"Aku nggak ngambek."
__ADS_1
Tapi Niken teringat dengan ucapan Anjas yang mengatakan bahwa lelaki tidak suka dengan perempuan jaim. Cemburu bilang cemburu, marah bilang marah. Niken juga baru sadar, lelaki kan makhluk yang tidak peka.
"Nggak ngambek tapi manyun aja," goda Andre.
"Aku cemburu. Puas?" Niken makin manyun ketika selesai mengucapkan itu. Malu juga rasanya mengakui bahwa ia tengah cemburu.
Ih ini semua gara-gara Anjas. Coba kalau anak itu tidak berkata yang tidak-tidak, Niken pasti nggak bakalan bilang kalau ia cemburu.
"Ih manisnya. Gini rupanya rasanya ya dicemburuin." Andre tertawa dan mencubit kedua pipi Niken gemas.
Belum sempat Niken membalas, datang Nova dengan sepeda motornya yang Niken tau adalah keluaran terbaru.
"Mau mengais rezeki atau mau pacaran kalian?" Nova berucap lantang dan Niken paham ia tengah menyindir. Entah Niken yang baper atau memang ucapan Nova benar-benar hanya sekedar bercanda.
Anjas yang baru saja menyelesaikan pesanan pembeli keluar dari gerai dan ikut bergabung.
"Kau ngapain disini Nov? Kan tadi aku udah bilang jangan kesini." Heran Anjas ketika mendapati kehadiran Nova. Ternyata ia serius dengan ucapannya yang mengatakan akan menyusul ke gerai.
"Aku udah mandi dan udah ijin sama ayah mau kesini. Kata ayah nggak papa jaga gerai, gerai Andre si calon menantu," celetuk Nova yang berhasil membangkitkan kembali gelegak api cemburu di hati Niken yang tadi sudah padam.
"Masih pacar kan? Belum jadi istri. Kalo udah jadi istri baru aku mundur secepat cahaya." Nova berujar santai.
Niken sepertinya baru memahami bahwa Nova ternyata selain punya mulut ceplas-ceplos juga hampir tidak punya malu. Bibit-bibit pelakor sepertinya ada pada jiwa anak tetangga Andre ini. Niken harus banyak-banyak berdoa dan berusaha agar kejadian pacar direbut perempuan lain tidak terulang kembali.
Andre diam saja semenjak kehadiran Nova. Mungkin ia bingung harus bagaimana. Mau menyahuti ucapan Nova tidak enak dengan orang tuanya, selama ini orang tua Nova yang memegang predikat sebagai orang terkaya di kampung mereka sudah banyak berjasa untuk keluarga Andre. Gerai yang mereka bangun juga ada andil dana dari ayah Nova. Itu sebabnya Andre selalu diam dengan celetukan asal yang sering dilontarkan Nova.
Waktu isya sudah lewat dari beberapa menit lalu. Jam-jam abis isya adalah waktu ramai-ramainya pembeli. Bersyukur sesudah maghrib tadi, Nova membeli makanan dan mereka makan beramai-ramai. Walaupun Nova sebal dengan keberadaan Niken tetapi ia tetap membelikan makanan juga.
Pembeli terakhir sudah mereka layani dan Niken memeriksa ponsel untuk melihat jam. Ada notifikasi kembali dari FB.
Rayya F : Lagi sibuk ya?
__ADS_1
Niken mengernyit membaca komen yang masuk dari akun yang sama di postingannya.
"Nik, udah jam 9, yok pulang, entar gerbang keburu tutup."
Niken segera menutup aplikasi FB nya dan menyimpan ponselnya kedalam tas kecil yang ia bawa. Segera bersiap pulang ke kosan.
***
Beberapa minggu sudah terlewati sejak terakhir kali Niken ikut menemani Andre menjaga gerai dan hari sabtu ini Niken memilih sepulang kerja langsung menuju ke kediaman orang tuanya dan berencana menghabiskan hari liburnya disana. Ingin malam mingguan di kosan juga percuma karena Andre juga tidak bisa datang mengunjunginya. Ia memprioritaskan jualannya yang selalu ramai bila malam minggu.
Daripada bengong sendirian dan hanya menyaksikan dengan iri teman-temannya di apelin pacar lebih baik pulang kerumah orang tuanya.
"Nik, ke warung sana beli mie," perintah mama Rumila membuat Niken yang sedang asyik memainkan ponsel menenggelamkan wajah ke bantal pura-pura tidur.
"Nik!"
"Niken! Jangan pura-pura tidur, mama tau kamu masih asyik mainin ponsel dari tadi," omel mamanya. Niken mengangkat wajah dari bantal dan mendengus sebal karena aksi pura-pura tidurnya ketahuan.
"Apaan sih ma?" rengek Niken sembari bangkit dari posisi rebahannya.
"Ke warung beli mie."
"Males ma, nanti aku di tanya macam-macam."
"Emang kamu selebritis pake acara di tanya-tanya segala." Mamanya masih mengomel sembari menyerahkan uang kepada Niken dan itu artinya Niken harus segera berangkat tanpa alasan apapun.
"Ish mama ini." Niken menghentakkan kaki dan dengan terpaksa beranjak menuju warung dengan jalan kaki karena jarak warung yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
"Bu, beli mie," ucap Niken sesudah sampai di warung.
"Eh Niken, udah lama nggak kelihatan. Libur ya?" tanya ibu-ibu pemilik warung ramah.
__ADS_1
Niken nyengir, "Tiap hari minggu libur Bu," jawab Niken.
"Oh, tapi kok nggak pernah pulang? Lebih enak tinggal di kota ya? Iya sih, lebih enak di kota kan bisa bebas kemana aja, makan apa aja. Kalo disini mah, semua serba terbatas. Tuh temen kamu si Juna juga jarang pulang, betah banget kalian memang di kota ya sampai nggak mikirin kapan nikah." Ibu pemilik warung sudah mulai mengeluarkan kejulidannya.