Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Terngiang-ngiang


__ADS_3

"Hei Niken! Sadar Nik, lo kenapa? Kak Rayya ngomong apa?" ucapan Marwah membuat mau tak mau Niken menurunkan tangannya. Terlihat teman-temannya sudah menampilkan wajah-wajah penasaran yang semakin membuat Niken malu setengah mati padahal tidak ada yang tau apa yang terjadi antara dirinya dan Rayya.


"Muka lo merah banget." Adila berucap sembari memegang wajah Niken.


"Aaaaaaaaaa." Akhirnya Niken sudah tidak dapat memendamnya lagi. Niken menjerit sembari berjongkok membuat teman-temannya kebingungan.


"Nik, lo kenapa?" Adila ikutan berjongkok yang disusul oleh Marwah dan Salsa. Jadilah mereka jongkok ramai-ramai.


"Gue-gue-gue...."


"Lo kenapa sih?" Salsa berujar sebal.


"Gue-gue-gue aaaaaaaa...." Niken kembali menutup wajahnya untuk mengatasi salah tingkahnya. Adila, Marwah dan Salsa saling lirik. Heran dengan tingkah temannya yang satu ini.


"Nik, sadar Nik. Lo kenapa sih? Apa perlu gue panggil kak Rayya biar dia bertanggung jawab sama kelakuan lo ini."


Mendengar nama Rayya disebut oleh Adila, membuat Niken menurunkan tangan yang menutup wajahnya. Dengan wajah yang masih semerah tomat, Niken berujar, "kak Rayya nembak gue. Hari ini gue sama kak Rayya resmi jadian."


Ketiga temannya saling berpandangan dan menjerit setelahnya. Mereka mengguncang-guncang tubuh Niken dengan heboh. Entahlah, satu hari ini Niken sampai tidak ingat sudah berapa kali tubuh kecilnya diguncang oleh teman-temannya.


"Fix, lo harus traktir kita. Pajak jadian."


"Hmm bener banget Sa, hari bahagia ini harus kita rayakan dengan gembira. Temen kita sudah tidak jomloh. Apakah ini pacar pertamamu Niken?" Marwah bertanya dengan semangat. Niken mengangguk mengiyakan.


Sudah pasti ini pacar pertamanya. Mana mungkin dirinya masih SD sudah berpacaran. Sekarang saja bila minta sesuatu tidak dipenuhi Niken masih mau menangis guling-guling.


"Dimanakah kita harus makan-makan?" Adila sudah bertepuk tangan dengan meriah.


"Gimana kalo kita pulang aja?"


"Haa?" Adila, Marwah dan Salsa bengong mendengar ucapan Niken.


"Kok pulang sih? Kita tadi kan mau nongkrong di taman?" Salsa yang pertama kali mengajukan protes dan disusul dengan protes yang lainnya.


"Lo gimana sih, Nik? Kok malah pulang?"


"Kita bercanda Nik, waktu bilang minta traktir. Kita tau kok lo nggak punya duit "


"Kampret lo, Dil. Sebenernya gue emang nggak punya duit sih mau traktir kalian semua, tapi bukan itu masalahnya."


"Jadi?"


"Gue mau guling-guling sambil jerit-jerit dirumah. Gue pulang dulu ya. Bye." Niken langsung ngacir dan sangat-sangat kebetulan sekali ada bus berhenti didepan pagar sekolahnya.

__ADS_1


Niken langsung naik dan memilih duduk di sebelah seorang cewek yang berasal dari sekolah lain. Niken langsung menghentak-hentakkan kakinya, karena entah mengapa, pernyataan cinta Rayya selalu terngiang di kepalanya. Hentakkan kaki Niken membuat cewek yang duduk disebelah Niken melirik Niken aneh walaupun cewek itu diam saja dan tidak berkomentar apa-apa.


Sesampainya dirumah, Niken langsung masuk kamar dan mewujudkan keinginan mulianya untuk guling-guling dan menjerit serta melompat-lompat diatas kasur. Jeritan dari suara Niken tak pelak membuat Tante Runita berlari tergopoh-gopoh dan langsung menggedor pintu kamar Niken.


"Niken, buka pintunya nak, kamu kenapa?" Tante Runita menggedor-gedor pintu kamar Niken karena khawatir keponakannya itu kenapa-kenapa.


Niken meringis sembari membuka pintu kamarnya dan berdiri menahan pintu supaya pintu itu tidak terbuka lebar, hanya menyisahkan sebatas dirinya. Niken bertanya dengan wajah polosnya.


"Kenapa Tan?"


Tante Runita langsung menerobos masuk tak peduli dengan tubuh Niken yang menghalangi pintu. Diperiksanya sekujur tubuh keponakannya itu. Tidak ditemukannya sesuatu yang aneh, begitupun dengan seisi kamar. Semua masih tampak rapi dan baik-baik saja hanya seprei yang terlihat sedikit kusut dan berantakan.


"Kamu baik-baik aja kan, Nik?" Niken mengangguk dan menampilkan wajah sepolos mungkin.


"Tante denger suara jerit-jerit tadi. Dari kamar kamu bukan?" Tante Runita masih memindai kamar Niken dengan matanya. Sekiranya ada sesuatu mencurigakan yang terlewat olehnya.


"Hehehe aku lagi ada tugas latihan drama, Tante," dusta Niken, "kedengeran sampai kamar Tante ya?"


"Astaga." Tante Runita menghembuskan napas lega,"kamu ini ada-ada aja ya. Bikin Tante panik tau nggak."


"Maaf ya, Tante."


"Ganti baju dulu, makan terus istirahat baru kalo mau belajar lanjut belajar." Tante Runita mengomel karena dilihatnya Niken masih berpakaian lengkap seragam sekolah.


Tante Runita keluar dari kamar. Niken langsung mengusap keringat di pelipisnya dan menghembuskan napas. Niken tidak sadar bahwasanya dia sudah bernapas dengan tidak benar sedari tadi. Bahkan punggungnya pun tak ia sadari sudah mengalir keringat. Begini rupanya rasanya berbohong. Seumur hidup baru kali ini Niken mengalaminya.


***


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


"Aaaaaaaa." Niken menjerit sembari menutup telinga.


"Niken, kamu masih latihan drama ya?" Terdengar suara tante Runita berteriak dari luar kamarnya.


"Iya, Tan."


"Sebenernya drama apa sih yang kamu peranin, kok pakai acara jerit-jerit segala?"

__ADS_1


"Drama Malin Kundang, Tan."


"Ha?!"


"Udahlah Nit, biarin aja Niken belajar, nggak usah digangguin." Terdengar pula suara om Uno yang mungkin saat ini berada disebelah Tante Runita.


"Aku nggak gangguin mas. Niken sedari pulang sekolah jerit-jerit gak jelas, gimana aku nggak panik coba. Eh ternyata ada latihan drama."


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


Suara tante Runita dan om Uno sudah tidak terdengar lagi ditelinga Niken. Berganti dengan suara imajinasinya. Niken menelungkup kan wajahnya di meja belajar dan menutup kepalanya dengan buku pelajaran. Frustasi karena sepanjang hari ini hanya suara Rayya yang bergema di telinganya.


Niken, kamu mau nggak jadi pacar aku?


"AAAAA,, PERGI PERGI PERGI HUS HUS HUS...." Niken menjerit sejadi-jadinya tanpa Niken tau, tante Runita dan om Uno saling berpandangan diruang keluarga.


"Latihan drama, Nit."


***


Marsya dan Marcel saling lirik, "apa cuma aku ya yang ngerasa kalo mama itu alay banget," celetuk Marcel setelah selesai saling lirik dengan kakaknya.


"Iya Cel, kali ini kakak sependapat sama kamu, mama kita ternyata alay kalo lagi jatuh cinta." Marsya tumben-tumbenan sependapat dengan adiknya.


"Mana masih SMP udah pacaran lagi. Monkey love," ujar Marsya geli sendiri.


Niken tertawa dan jadi berpikir, apa anak jaman sekarang tidak ada yang berpacaran sejak jaman SMP seperti dirinya?


"Assalamualaikum!" Salam yang terdengar dari arah pintu depan membuat ketiganya kompak menoleh.


"Loh, papa!" Marcel yang terlebih dahulu bereaksi melihat papanya sudah berdiri diambang pintu. Dia segera berlari menghampiri papanya dan langsung bergelayut di punggung papanya.


Marsya dan Niken mendengus jengah melihat ayah dan anak itu. Marcel yang selalu merengek karena masih dalam pengawasan ketat orang tuanya, nyatanya masih bertingkah seperti anak usia lima tahun bila bertemu si papa. Masih suka minta gendong dan merengek bila uang jajan tidak dilebihkan.


Niken menghampiri sang suami yang langsung mengecup pipinya. Tak peduli ada anak-anak diantara mereka dan Marcel yang masih bergelayut di punggung papanya. Diraihnya koper yang sudah pasti berisi pakaian kotor dan tas kerja yang langsung Niken simpan di tempatnya.


"Papa kok udah pulang? Kata mama besok?" Marsya langsung memijit punggung papanya begitu sudah duduk di sofa sedangkan Marcel begitu turun dari gelayutan punggung papanya juga ikut memijit kaki.


"Papa langsung pulang begitu kerjaan udah beres. Jatah pulang memang seharusnya besok sih."


Niken meletakkan secangkir kopi dan roti hasil buatannya bersama Marsya. Melihat anak-anaknya begitu bersemangat memijat punggung dan kaki papanya, menerbitkan senyum di wajah Niken.

__ADS_1


Betapa beruntungnya Niken memiliki mereka. Hartanya yang paling berharga di dunia.


__ADS_2