
Ternyata perkataan Niken untuk main ke rumah Juna bukan isapan jempol belaka. Dari sore hari, Niken berkunjung sampai sekarang pukul sembilan, belum juga tampak batang hidung Niken keluar dari kamar kakaknya. Yang ada malah sesekali terdengar suara cekikikan dari dalam kamar yang pintunya berada tepat didepan kamar Juna.
Entah apa yang sedang mereka bahas, Juna tak tau. Mereka selalu berdalih bahwa itu adalah pembicaraan perempuan dan Juna tak perlu tau walau terkadang suara tawa yang berasal dari kamar Eta mengganggu pendengaran Juna. Mengganggu sekaligus penasaran menjadi satu.
Janeta atau yang sering disapa Eta, memang pencinta film seperti Niken. Bahkan adik perempuan Juna yang masih kelas 6 SD yang bernama Jahirah sepertinya juga sudah mulai berkomplot dengan Eta dalam hal menonton drakor dan Juna sangat menyesal karena kemarin sempat keceplosan memberi tahu Niken perihal kakaknya, jadilah komplotan mereka bertambah banyak.
Tepat pukul sepuluh, barulah Niken keluar kamar dengan wajah yang berseri-seri, tak lupa dengan rengekan untuk diantar pulang dengan alasan anak kecil nggak boleh jalan malam sendirian, takut diculik.
Juna pasrah saja sewaktu tangannya diseret-seret Niken. Rumah Niken dan Juna hanya berjarak dua ratus meter. Alhasil mereka memutuskan untuk jalan kaki saja.
"Capek juga ternyata," celetuk Niken membuat Juna menatapnya heran.
"Capek kenapa?" Sedari baru datang hingga berjam-jam kemudian hanya terdengar suara musik dan tawa dari kamar Eta yang Juna dengar dan sangat mengherankan kalau Niken mengeluh capek. Apa Niken capek tertawa?
"Zul, kira-kira jodoh aku entar bisa kayak Nicolas Saputra nggak ya?" tanya Niken nyeleneh sambil memandangi langit yang kebetulan sedang penuh bintang. Perihal capek yang dibahas Niken pun menguap.
Juna melirik, "Jangan kebanyakan nonton film, khayalan mu jadi tinggi."
"Berharap kan boleh sih Jun untuk memperbaiki keturunan."
"Kata orang jaman dulu biar jelek asal sayang."
"Enak aja. Udah aku jelek jodoh aku jelek, mau jadi apa anak aku Juunn."
"Kata siapa kamu jelek?" tanya Juna heran.
"Eh berarti aku cantik Jun?" Niken menangkup kedua pipinya dengan tangan karena sudah kesenangan dibilang tidak jelek walau hanya oleh Juna. Setelah diingat-ingat, Rayya juga dulu pernah bilang dirinya cantik saat Niken pakai baju muslim di acara maulid nabi.
__ADS_1
Mengingat itu, Niken jadi sedih. Itu adalah pertemuan terakhir mereka. Niken merasa dirinya sangat jahat karena meninggalkan Rayya tanpa pamit. Apa kabar ya sekarang Rayya? Apa Rayya sudah punya pacar? Apa Rayya masih mengingat dirinya? Eh kok malah mikirin Rayya sih?
Fokus Niken!
"Nggak, cuma kurang cakep aja," ucapan Juna langsung membuat kesenangan Niken hilang tak berbekas begitupun lamunannya tentang Rayya.
"Yee kampret," sewot Niken. Juna terkikik geli.
"Lagian mana ada Nicolas Saputra mau sama kamu," ucapan Juna lagi-lagi membuat Niken sewot.
"Syirik aja."
"Ngapain syirik, tapi kalo Nicolas Saputra emang beneran mau sama kamu baru deh ada kemungkinan aku syirik."
"Ya kali, Nicolas Saputra lagi kejang dan gila tiba-tiba mau sama aku. Kalau jodoh kan nggak tau darimana awal kisahnya," celetuk Niken santai, sesantai mereka melangkahkan kaki menuju rumah Niken. Juna hanya mendengus karena yakin seribu persen kehaluan Niken tak akan pernah terwujud.
"Sampek sekarang mereka belum dikasih momongan juga, Nik?" tanya Niken. Juna tau sedikit tentang om Uno dan tante Runita yang pernah sekali dua kali diceritakan oleh Niken. Juna juga pernah bertemu waktu om dan tantenya itu berkunjung ke rumah Niken.
"Belum," sahut Niken pendek. Niken kadang agak menyesal karena tidak mau ikut ke Palembang waktu itu tapi bila Niken ikut ke Palembang belum tentu dia bisa menemukan teman yang selalu ada seperti Juna. Walau kadang ngeselin sih.
Belum lagi mamanya yang juga akan kesepian walau banyak keponakan disekitar rumah. Anak dan keponakan kan pasti beda rasanya.
Niken jadi teringat kembali waktu ikut tante Runita ke rumah Rayya yang belakangan baru Niken tau kalau tantenya itu sedang konsultasi dengan kak Sinta. Apa tidak berhasil ya? Bodohnya Niken. Sudah pasti tidak berhasil karena kalau berhasil, saat ini pasti tantenya itu sudah memiliki momongan.
'Sudahlah mungkin itu ujian hidup yang harus dihadapi om dan tantenya,' pikir Niken seraya menggelengkan kepala pelan ketika lagi-lagi bayangan Rayya terlintas dipikiran.
***
__ADS_1
"Nggak dapet Nicolas Saputra malah dapet nya papa." Marcel tertawa geli begitu mamanya menghentikan cerita.
"Mungkin dek, waktu mama lihat papa, suasananya lagi banyak debu jadi dikiranya papa itu Nicolas Saputra karena mata mama lagi kelilipan." Marsya juga ikut tertawa. Sedangkan Niken, ia garuk-garuk rambut karena merasa konyol dengan khayalan masa remajanya dulu yang berharap bisa mendapatkan jodoh seperti Nicolas Saputra.
"Lah, dikiranya mama ketemu sama papa dipinggir jalan kali ya," celetuk Marcel masih dengan tawa.
"Ya kali aja, ketemunya lagi musim kemarau." Marcel dan Marsya saling sahut menyahut menggoda sang mama. Niken hanya menggeleng dan ikut terkekeh geli bila ada celetukan-celetukan anaknya yang menggelitik.
"Jadi ma, apakah mama kecewa karena tidak mendapatkan jodoh seperti Nicolas Saputra?" Marsya menanyai mamanya seolah-olah ia seorang wartawan.
Niken menggeleng, "Mama bersyukur bisa mendapatkan papa kalian walaupun yah, visualnya tidak sepertiĀ Nicolas Saputra tapi cukuplah untuk memperbaiki keturunan. Nih buktinya, anak mama ganteng dan cantik, Marcel mirip banget sama papa, Marsya juga hidung dan mata, jiplakan papa banget." Niken mencubit pipi kedua anaknya membuat mereka meringis.
"Kak Marsya emang mirip banget sama mama kalo soal cerewet dan ngomentarin aku," sungut Marcel.
Sontak Marsya dan mamanya tertawa, "Wajar kalo perempuan cerewet tapi kalo laki-laki yang cerewet baru patut dipertanyakan kejantanannya. Jangan-jangan dia si tulang lunak lagi," ejek Marsya membuat Marcel mengangguk-anggukkan kepalanya dan setuju dengan celetukan kakaknya.
"Ma, kata seseorang mama dulu ikut ekskul drama ya?" Pertanyaan Niken membuat Niken mengerutkan kening.
"Seseorang? Siapa?" tanya Niken penasaran.
"Ada deh!" Marcel menyahut songong.
"Gimana ceritanya ma, kok bisa ikut ekskul teater? Apa karena mama hobi nonton film makanya jadi ikut teater?" Marsya jadi ikut penasaran.
"Bentar, mama ingat-ingat dulu, kok bisa dulu mama ikut ekskul teater." Niken meletakkan jari manisnya di dagu berusaha mengingat. Kedua anaknya menanti dengan sabar sampai Niken menyeletuk,
"Jadi waktu itu--"
__ADS_1