Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Hutang


__ADS_3

Acara pertunangan itu diadakan secara sederhana. Selain karena mendadak, mereka juga terbentur biaya. Kondisi keuangan keluarga Niken yang belum stabil membuat Niken menolak mengadakan pesta pertunangan yang mewah dan meriah. Syukurnya Bayu dan keluarganya mau-mau saja mengadakan acara pertunangan yang biasa-biasa saja. Yang penting pertunangan itu berjalan sesuai dengan keinginan mereka.


Papa, tante Runita dan om Uno datang langsung dari Palembang dan turut berbahagia menyaksikan anak dan keponakannya sudah beranjak dewasa. Walaupun umur Niken masih terlalu muda untuk mengarungi rumah tangga tapi mereka percaya, Niken pasti bisa.


Juna juga menyempatkan pulang dari Medan untuk menemani temannya yang manja ini di lamar orang. Walaupun sepanjang acara Juna hanya berwajah datar tapi Niken sudah bahagia karena teman juteknya itu rela ambil cuti demi dirinya.


Nabila tak bisa ikut dengan alasan ada materi kuliah yang tidak bisa di tinggalkannya dan Niken memaklumi karena ia pun tidak mengerti sama sekali dengan dunia perkuliahan.


Acara sederhana itu berlangsung dengan penuh suka cita. Semua keluarga berbahagia. Tanggal pernikahan langsung di tetapkan. Satu tahun dari sekarang. Sedikit lama karena mengingat umur Niken yang juga masih terlalu muda.


"Baik-baik ya calon istri." Bayu mengusap lembut kepala Niken yang hari ini tampak menawan dengan sapuan make up tipisnya.


Niken tersipu malu sedangkan Juna memutar bola mata malas melihat adegan mesra yang terjadi didepan matanya langsung. Semua tamu undangan membubarkan diri. Niken memilih duduk di teras bersama Juna. Semenjak mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, kegiatan duduk bersama menikmati bintang dan bulan di malam hari seperti ini sudah sangat jarang di lakukan. Berasa nostalgia padahal mereka hanya berpisah hitungan bulan.


"Kamu yakin mau segera menikah, Nik" tanya Juna di sela-sela ia mengunyah kacang goreng yang ia bawa dari dalam rumah.


"Yakin nggak yakin sih, tapi aku memang mau nikah muda, biar mama nggak kepikiran nasibku terus," sahut Niken sambil ikut meraih toples berisi kacang goreng yang berada dalam pangkuan Juna.


"Kenapa bisa sama Bayu sih, Nik? Emang nggak ada ya laki-laki lain yang layak di jadiin suami?"


"Emang bang Bayu nggak layak jadi suamiku ya, Jun?" Niken mengerutkan kening heran dengan pertanyaan Juna.


Juna mengedikkan bahu, "Firasat ku nggak enak." Juna menyahut cuek.


"Kasih kucing kalo nggak enak," sewot Niken.


Juna hanya diam. Niken merasa Juna seperti mempunyai beban berat, semenjak kedatangannya dari Medan hingga acara pertunangan berlangsung, Juna tak banyak bicara. Biasanya ia memang pendiam sih tetapi sepertinya kali ini diam nya seorang Juna diiringi dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Ah! Andai saja Niken jadi kuliah di jurusan psikologi pasti saat ini ia sudah bisa menebak apa yang tengah dipikirkan oleh temannya itu. Tetapi mungkin beginilah putaran roda yang harus Niken jalani.


"Aku yakin Nabila nggak datang bukan karena tugas kuliah tapi dia nggak sanggup nyaksikan gebetannya justru lamaran sama temen baiknya." Juna menyahut masih dengan pandangan lurus ke depan dan sesekali tangannya memasukkan kacang goreng kedalam mulut.


"Jun, aku nggak enak loh, selalu aja kau bahas kalo Nabila naksir bang Bayu padahal nggak ada bukti tuh anak naksir bang Bayu. Jangan-jangan justru kau lagi yang naksir Nabila?" Niken menatap Juna dengan menyipitkan matanya. Sebal sekali karena Juna selalu berkata bahwa Nabila naksir Bayu. Niken jadi tidak enak hati sendiri. Ingin bertanya langsung kepada Nabila tapi ia tak berani.


"Naksir Nabila?" Juna terbahak, "Macam nggak ada cewek lain aja."


"Sombong amat," ketus Niken sebal.


"Semoga lancar sampai hari H, Nik. Aku mungkin balik lagi kesini nanti, sehari sebelum akad nikahmu." Tulus Juna mengucapkan itu. Walaupun ada rasa yang mengganjal di hati tapi ia tetap mendoakan kebahagiaan teman manjanya itu.


"Makasih, Jun," ucap Niken riang sembari memeluk lengan Juna.


***


Marsya dan Marcel berpandangan dan kompak menoleh menatap wajah mamanya yang sepertinya masih tenggelam dalam kenangan masa silam nya. Tidak ada senyum ataupun raut sedih yang terpancar. Wajah mamanya datar, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Aku juga tau ending ini cerita bakal gimana. Tapi aku penasaran juga sih gimana ceritanya menuju ending itu. Nabila juga gimana nasibnya, Ma? Terbukti nggak kalo dia emang naksir Bayu?" Marsya ikut berkomentar.


"Selama mama bertunangan dengan Bayu persahabatan mama dengan Nabila tetap baik, karena walau gimana pun kami kan satu tempat kos."


Marsya dan Marcel terdiam melihat mata mamanya menerawang jauh. Menunggu mamanya melanjutkan kisah yang belum usai didengar oleh mereka.


"Setelah mama dan Bayu bertunangan--"


***

__ADS_1


Niken sudah bersiap akan berangkat kerja dan sedang berjalan pelan menuju pintu keluar ketika melewati kamar Nabila dan melihat si empunya kamar sedang rusuh mengobrak-abrik barang-barang miliknya. Niken yang penasaran pun berdiri di depan pintu dan menemukan barang-barang sudah berserak tak tentu arah.


"Cari apa, Bil?" tanya Niken penasaran.


"Kartu ATM aku, Nik, kok bisa nggak ada ya?" Nabila menjawab dengan wajah yang hampir menangis.


"Bukannya selalu di dompet ya letak kartu ATM?" Niken bertanya kembali. Nabila termasuk orang yang teliti dan bisa-bisanya ia teledor kali ini padahal setau Niken 3 hari yang lalu mama Nabila baru saja mentransfer sejumlah uang untuk keperluan kuliah dan biaya hidup anaknya. Niken bahkan ikut menemani Nabila menarik transferan tersebut.


"Iya, kemarin aku ambil sebagian uang yang dikirim mamaku kan, terus aku lupa masukkan dompet dan lupa juga aku letak dimana itu kartu ATM." Nabila frustasi sendiri karena barang yang dicari belum tau dimana keberadaannya. Baju-baju di lemari pun tak luput dari sasaran pencariannya hingga berserak dari tempatnya.


Niken yang kasian pun ikut berkeliling mencari keberadaan kartu ATM tersebut. Jam masuk kerjanya masih sekitar 20 menit lagi, Niken berinisiatif untuk mencari sekitar 5 menit saja dan sampai 5 menit berlalu pun keberadaan kartu itu belum di temukan juga.


"Bil, aku duluan ya. Jam kerjaku udah mepet ini. Nanti aku dimarah bu Salwa kalo telat." Niken pamit karena sepertinya Nabila belum mau menyerah untuk menemukan kartu tersebut.


"Aduh Nik, mampus aku. Uang kiriman mamaku masih banyak di kartu itu. Hari ini aku ada tugas yang harus aku fotokopi, aku nggak ada uang tunai. Mana aku juga hampir telat lagi." Nabila keluar dari kamar kos sambil berkali-kali melirik jam tangan. Sudah dipastikan 5 menit lagi ia tidak menemukan ojek, ia akan telat.


"Bil, urus di bank nanti sepulang ngampus. Kita berangkat sekarang nanti makin telat," usul Niken. Bingung juga mau memberi saran apa.


"Mana tugas mesti dikumpul hari ini lagi," gerutu Nabila masih panik dan tiba-tiba menghentikan langkah.


"Nik, boleh aku pinjam uangmu?"


Niken sempat diam sejenak. Ini pertama kalinya Nabila berani meminjam uang kepadanya. Niken yang merasa Nabila memang benar-benar membutuhkannya pun mengangguk.


"Berapa?"


"300 ribu aja. Aku ada tugas kuliah yang mesti aku selesain hari ini juga." Nabila memelas membuat Niken semakin tidak tega.

__ADS_1


Dikeluarkannya dompet dan mengulurkan sejumlah uang seperti yang diminta Nabila. Nabila yang menerimanya pun tersenyum senang. Kelar sudah 1 masalahnya.


"Nanti mau aku urus kartu itu di bank dan kalo uangnya udah bisa ketarik aku langsung bayar."


__ADS_2