
"Di, tugas dari Bu Endang udah kau fotocopy?" Niken bertanya kepada Nabila yang masih asyik memakan bekal nasi goreng yang dibawanya dari rumah.
"Belum. Entar pulang sekolah temenin ke tempat fotocopy, ya?"
"Aku pun belum entar sekalian punya ku juga lah. Syukur hari ini aku bawa tugasnya."
"Entar kita ketempat temenku aja, dia baru buka usaha fotocopy, banyak promo." Niken hanya mengangguk saja, terserah sih mau fotocopy di manapun, yang penting hasilnya bagus. Toh sepertinya mau dimana pun tempatnya hasilnya tetap sama.
"Jauh?" tanya Niken. Kalau memang dekat, Niken akan meminta Juna untuk menunggu dirinya. Kalau jauh Niken harus terpaksa pulang naik angkot, karena Juna pasti tidak akan mau menjemputnya. Hari ini jadwal Juna ekskul voly.
"Enggak kok, deket sini aja."
Sepulang sekolah, Niken dan Nabila pun bergegas menuju ketempat percetakan seperti yang dijanjikan pagi tadi. Benar kata Nabila, letak ruko fotocopy itu tidak begitu jauh dari sekolah mereka walau berlawanan arah dari rumah Niken menuju sekolah. Kalau Nabila, setiap berangkat dan pulang sekolah pasti akan melewati tempat ini karena sejalan dengan tempat tinggalnya.
"Abang!" sapa Nabila ramah begitu melihat si pemilik usaha yang katanya temannya, sedang duduk manis menghadap laptop.
"Eh baru pulang sekolah?" tanya si Abang tak kalah ramah dan beranjak dari duduknya menghampiri mereka. Nabila mengangguk dan mengeluarkan proposal yang akan difotocopy nya. Niken pun jadi mengikuti jejak Nabila.
"Mau fotocopy, gratis kan?" tanya Nabila setengah bercanda setengah ngarep.
"Hmm." Si Abang berdehem dan mengambil proposal milik Nabila dan Niken. Diliriknya sejenak Niken yang sedari tadi terdiam di samping Nabila.
"Kalo masih dikerjakan gratis tapi kalo udah selesai baru bayar," celetuk si Abang yang disambut kekehan Nabila.
"Sepi bang?" tanya Nabila setelah mengamati isi ruangan dan mendapati hanya ada mereka bertiga dan satu orang pekerja yang sedang mengutak-atik laptop disudut ruangan.
Si Abang yang tengah berdiri didepan mesin fotocopy menoleh kearah Nabila, "Ramainya tadi waktu jam makan siang, jam segini sih memang nggak terlalu ramai biasanya."
Si Abang melirik Nabila dan melempar kode dengan pandangan mata. Nabila yang paham dengan kode itu melirik Niken yang tengah asyik melihat jajaran pena dan alat tulis lainnya yang tersusun rapi di etalase.
"Kenalin bang, temenku." Niken yang mendapat senggolan di bahunya mengangkat kepala bingung.
Si Abang tersenyum dan menghampiri Niken lalu mengulurkan tangan, "Bayu."
Niken menerima jabatan tangan itu dan ikut menyebutkan namanya.
"Cantik," celetuk si Abang yang ternyata bernama Bayu itu.
Sontak Niken melirik Nabila yang ternyata juga tengah meliriknya.
***
__ADS_1
"Dalam waktu satu malam, sudah bertambah lagi pemeran baru," celetuk Marsya.
Awalnya Marsya pulang sekolah dengan hati dongkol. Pasalnya Irza kembali memaksanya untuk ikut pulang bersama padahal Marsya sudah menolak dengan jurus seribu satu ngeles ala bajaj di Jakarta tetapi sepertinya tetangganya itu memang berotak bebal hingga Marsya terpaksa ikut pulang dengannya.
Niken yang mendapati anaknya pulang dengan muka kusut pun berinisiatif mengajaknya duduk bersama yang justru dimanfaatkan Marsya agar mamanya meneruskan cerita yang tadi malam terjeda.
Belum sempat Niken bercerita, Marcel datang ikut meringsek duduk disebelah mamanya. Jadilah mereka bertiga duduk berhimpitan mendengarkan mamanya kembali berkisah. Bahkan Marsya dan Marcel memutuskan membawa piring makan siang mereka di ruang keluarga agar dapat tetap mendengarkan mamanya berkisah.
"Mama kita memang dikelilingi laki-laki, kak." Marcel menyahut sambil terus memasukkan makan siang kedalam mulutnya.
"Tapi itu justru menjadi awal kehancuran mama," lirih Niken sembari menerawang.
"Jadi waktu itu--"
***
Pagi ini Nabila berjalan dengan gontai disepanjang koridor. Tak semangat rasanya mau menjalani hari sementara dirinya tengah patah hati. Banyak murid yang berlalu lalang dan sebagian menyapa Nabila karena mengenalnya tapi Nabila hanya menganggukkan kepala dan tersenyum singkat.
Disaat Nabila akan berbelok ke kelasnya, matanya melihat Juna yang tengah berjalan sendiri dan berlalu begitu saja melewati dirinya yang masih berdiri didepan pintu kelas. Seakan mereka tidak saling kenal. Juna dan Nabila memang terhubung hanya karena Niken. Bila tidak ada Niken diantara mereka maka Juna akan menganggap dirinya seakan tiada. Padahal Nabila sangat berniat sekali menjalin pertemanan walaupun tidak ada Niken diantara mereka.
'Kemana Niken?' batin Nabila heran pasalnya Juna dan Niken itu adalah dua makhluk yang tidak dapat terpisahkan.
"Jun!" Nabila berteriak kala melihat Juna yang tengah bersiap mengenakan helm dan sudah duduk manis di atas motornya. Juna melirik Nabila yang setengah berlari menghampiri dirinya.
"Mau tanya." Nabila membungkukkan badan, tangannya memegangi stang motor dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Tanya apa?" Juna bertanya dengan nada cuek dan tetap mengancingkan kaitan helm di dagunya.
"Niken kemana? Kok nggak ada nampak seharian?" tanya Nabila setelah selesai mengatur kelelahannya.
"Sakit dia."
"Sakit apa?" tanya Nabila terkejut. Juna hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu. Tadi pagi ketika dirinya datang menjemput seperti biasa hanya mamanya yang menunjukkan wajah dan mengatakan Niken sakit tanpa menjelaskan lebih lanjut sakit apa.
"Rumahmu dekat rumah Niken, kan? Aku boleh nebeng nggak? Aku mau jenguk Niken." Juna memandang Nabila agak lama dan akhirnya mengangguk. Nabila tersenyum senang dan segera naik keboncengan Juna.
Sesampainya di rumah Niken, terlihat pintu rumahnya terbuka dan keadaan sepi. Biasanya rumah ini akan ramai oleh suara anak-anak yang masih terikat persaudaraan dengan Niken
Entah kemana perginya para anak itu.
"Assalamualaikum!" Juna mengetuk pintu yang terbuka itu dan menoleh kearah Nabila yang masih terdiam diujung teras.
__ADS_1
"Ayo masuk." Juna mempersilakan Nabila masuk sembari melepas sepatu dan kaos kakinya serta meletakkan nya ditempat penyimpanan sepatu yang ada di sudut rumah. Nabila pun mengikuti apa yang dilakukan Juna.
Setelah masuk, mereka mendapati Niken yang tengah berbaring lemah di atas sofa dengan selimut membungkus tubuh serta masih memainkan ponsel.
Juna yang akan mengagetkan Niken karena Niken belum mengetahui kedatangan mereka malah mendapati mamanya Niken dan menyapa mereka.
"Loh Jun, udah pulang sekolah?" sapa mama Niken ramah. Niken menoleh kearah pintu masuk dan terkaget mendapati Juna bersama Nabila.
"Barusan Tan, Niken sakit apa, Tan?" tanya Juna, matanya melirik Niken yang tengah berusaha bangkit dari posisi tidurannya.
"Cuma demam biasa kok tapi ya gitu deh, udah macem orang lumpuh dia, nggak bisa ngapa-ngapain." Niken melirik mamanya cemberut.
"Apaan sih ma," protes Niken.
"Kamu temennya Niken juga?" tanya mama Niken begitu menyadari kehadiran orang lain diantara mereka. Belum pernah sebelumnya ia melihat teman Niken yang bertubuh tinggi itu main kerumah mereka.
"Iya Tante, namaku Nabila, aku kebetulan temen satu ekskul teater sama Niken, Tan." Nabila mengulurkan tangan yang disambut ramah oleh mamanya Niken.
"Duduk dulu sini. Pada mau minum apa, makan ya, tadi belum sempat makan kan karena langsung kesini." Mama Niken mempersilahkan Nabila duduk karena sedari tadi masih berdiri canggung tak seperti Juna yang sudah rebahan diatas sofa.
"Nggak usah repot-repot Tante, aku udah makan tadi kok waktu jam istirahat," sahut Nabila sungkan dengan keramahan mamanya Niken.
"Beneran?" tanya mama Niken memastikan.
"Beneran, Tan."
"Jun, kamu nggak mau makan? Tante masak cumi oseng." Begitu makanan favoritnya disebut, Juna langsung bangkit terduduk.
"Beneran, Tan?"
"Ngabis-ngabisin lu," sewot Niken melihat keantusiasan Juna.
"Udah ayo makan Jun, jangan dengerin Niken." Mama Niken melirik Niken sebelum melenggang ke dapur dan diikuti oleh Juna yang sempat-sempatnya melempar bantal sofa ke arah Niken.
"Sakit apa, Nik?" tanya Nabila begitu mama Niken dan Juna tak terlihat lagi.
"Cuma demam kok." Niken membenarkan selimutnya yang melorot dan ter batuk.
"Sampek nggak bisa ngapa-ngapain ya?" goda Nabila geli mengingat perkataan mamanya Niken yang mengibaratkan Niken seperti orang lumpuh.
"Ck, ketularan mama."
__ADS_1