Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Pujaan Hati Nabila


__ADS_3

Sontak saja Niken langsung menimpuk bantal ke wajah Juna. Ditekannya bantal itu kuat-kuat agar Juna tidak bisa bernapas, Juna membalas dengan mendorong Niken sampai Niken terjatuh diatas ranjang. Tidak mau kalah, Niken menjewer telinga Juna sampai Juna berteriak kesakitan. Juna memegang pinggang Niken sampai Niken ikut berteriak kegelian. Jadilah mereka saling menganiaya, berteriak, memukul dan tertawa.


Dengan napas ngos-ngosan mereka merebahkan badan diatas ranjang karena kelelahan. Niken mengambil bantal dan langsung mendekapnya.


"Aku serius Jun, aku bingung harus gimana cara nolaknya. Apa aku terima aja ya?"


"JANGAN!" Niken sampai menoleh kaget karena teriakan Juna. Juna berdehem salah tingkah.


"Maksud aku jangan membohongi hati, kalo suka bilang suka kalo nggak bilang nggak, buat apa ngejalin hubungan tapi karena terpaksa, kasian Bayu kalo tau selama ini kamu pacaran sama dia karena faktor bingung mau nolaknya gimana." Niken mencerna kalimat panjang Juna dengan sungguh-sungguh karena tumben sekali Juna berkata menggunakan kewarasan.


"Tumben, Jun," ucap Niken tiba-tiba setelah mereka terdiam cukup lama.


"Ha?" Juna menoleh kearah Niken karena heran dan tidak mengerti dengan ucapan Niken.


"Tumben waras." Niken menyahut datar. Juna sudah akan melempar Niken dengan bantal tapi segera ditepis Niken dengan tertawa-tawa.


"Aku serius Nik, lagian kamu nggak kasian sama seseorang kalo kamu terima Bayu jadi pacar kamu."


Niken mengernyit mendengar perkataan Juna, "maksud kamu?"


"Nabila suka Bayu."


***


Niken melamun disepanjang koridor sekolah dengan langkah yang teramat pelan. Entah mengapa Niken tidak bisa mengenyahkan kata-kata Juna bahwa Nabila suka Bayu. Berkali-kali Niken bertanya kepada Juna tentang kevalidan info itu dan berkali-kali pula Juna meyakinkan Niken bahwa dirinya tidak berbohong.


'Kenapa Nabila tak mengatakan terus terang bahwa dia suka Bayu? Kenapa justru selama ini Nabila tampak biasa saja bila Bayu sengaja datang ke sekolah untuk mengantar Niken pulang?'


Banyak tanya kenapa dalam pikiran Niken yang tentu saja tak akan Niken temukan jawabannya.


'Apa selama ini aku tanpa sengaja menyakiti Nabila?'

__ADS_1


Niken mengusap wajahnya frustasi, rasa bersalah menyeruak dalam dada, 'Ya Allah maafin aku.'


Di jam istirahat pertama ini, Nabila menemui dan mengajak Niken makan di kantin. Entah mengapa dari kelas 10 sampai mereka beranjak ke kelas 12, mereka tidak pernah ditakdirkan untuk berada didalam kelas yang sama padahal pembagian kelas mereka selalu di acak setiap tahunnya. Justru Niken selalu kedapatan di kelas yang sama dengan Juna.


Niken mengaduk mie ayamnya sembari terus memandangi Nabila. Entah mengapa Niken tidak bisa memandang Nabila dengan cara yang sama seperti kemarin semenjak mendengar dari Juna bahwa Nabila menyukai Bayu, mungkin karena rasa bersalah yang bersemayam dalam dada.


Walau kalau dipikir-pikir lagi, semua ini bukan salah Niken sepenuhnya. Yang suka Niken kan Bayu bukan Niken.


'Tapi kan kamu menyambut perhatian Bayu, kamu ikut andil Niken.'


'Tapi kan aku nggak tau kalo Nabila suka Bayu.'


'Temen macam apa sih kamu, gebetan temen sendiri masa nggak tau.'


Niken menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran rumit yang berseliweran didalam otaknya.


"Nggak enak badan, Nik?" tanya Nabila yang mendapati Niken tengah menggelengkan kepalanya. Nabila juga menyadari Niken tidak memakan makanannya dan justru melamun memandangi dirinya.


"Bil, aku selama ini nggak pernah tau cowok yang kamu taksir." Niken mencoba peruntungan memulai percakapan tentang cowok karena selama mereka berteman mereka tidak pernah membahas masalah laki-laki kecuali Nabila yang menggodanya bila mendapat salam dari Bayu. Tanpa Niken tau dibalik godaan yang dilontarkan Nabila terselip sakit yang menikam dada.


"Emang aku pernah ada cerita kalo aku naksir cowok?" Nabila bertanya heran sembari berusaha mengingat kapan dirinya pernah bercerita tentang orang yang disukainya.


"Ya nggak pernah sih, makanya aku tanya, adakah cowok yang kamu taksir?" Niken bertanya santai, tidak ingin menimbulkan kecurigaan.


"Tumben tanya-tanya?" Nabila juga bertanya tak kalah santai sambil terus memakan kuah bakso dihadapannya. Niken jadi geregetan sendiri karena mulai menyadari Nabila seperti berbelit-belit dan enggan menjawab pertanyaannya.


"Kepo aja." Nabila melirik Niken yang sudah menampilkan raut sebal.


Nabila tersenyum sumir, "ada sih yang aku taksir."


"Siapa?" Niken bertanya antusias bahkan sampai memajukan tubuhnya merapat ke meja.

__ADS_1


"Kamu nggak kenal." Nabila menjawab singkat dan berharap Niken tidak melanjutkan pertanyaan sensitif ini.


"Kenalin dong biar aku kenal. Anak mana sih? Bukan anak sekolah kita?" Niken masih berusaha membujuk Nabila agar mau sedikit saja memberi tau dirinya bahwa dirinya suka Bayu.


Nabila menggeleng pelan, "aku nggak suka sama cowok yang seumuran sama aku, kurang dewasa, pikirannya masih labil, aku tuh suka sama sosok yang dewasa dan bisa mengayomi, serta bisa membimbing aku biar jadi lebih baik lagi."


***


"Rumit juga. Mama terlibat cinta segitiga." Marsya memberi komentar.


"Waktu itu mama bener-bener nggak tau kalo Nabila suka sama Bayu. Padahal udah setahunan mama deket sama Bayu, Nabila juga sering menyampaikan salam Bayu untuk mama tapi mama sebagai temen malah nggak peka." Niken memberi penjelasan sembari menerawang.


"Aku kok justru lebih fokus ke perasaan Juna ya ma?" Marcel ikut memberi komentar, "Perasaan dia masih ambigu. Dia tulus nggak sih temenan sama mama atau dia justru ada rasa sama mama."


Niken hanya tersenyum tipis. Membuat Marsya dan Marcel saling lirik karena penasaran.


"Jadi ma, setelah mama tau Nabila suka Bayu, apa yang mama lakuin waktu itu? Tetep terima Bayu? Kasian Nabila, Ma." Marsya menampilkan mimik wajah sedih membuat Niken menggeleng pelan.


"Masih banyak kejutan yang bakal terjadi kedepannya. Hari ini kita kasihan sama orang lain, bisa jadi hari berikutnya justru kita yang di pandang kasian oleh orang lain."


"Maksudnya Ma?" tanya Marsya dan Marcel kompak.


Niken melirik jam yang tergantung didinding dan menarik napas, sepertinya masih ada waktu untuk menyambung sedikit kelanjutan kisahnya.


***


'Sosok dewasa dan mengayomi.'


Kata-kata itu terus menghantui pikiran Niken. Tidak salah lagi, sosok yang dimaksud Nabila pasti Bayu. Bayu sudah dewasa dan setau Niken, Bayu juga sosok yang penyabar dan pengertian. Paket komplit untuk perempuan-perempuan yang butuh sosok pelindung.


Sepanjang hari ini, Niken disibukkan dengan isi pikirannya sendiri. Niken bahkan sampai melupakan kegalauan kemarin malam tentang bagaimana cara untuk menolak Bayu. Yang memenuhi pikirannya justru Nabila dan cinta terpendamnya terhadap Bayu juga rasa bersalahnya yang tidak mengetahui bahwa Nabila menyukai Bayu.

__ADS_1


Daripada pusing dan semakin rumit isi pikirannya, Niken memutuskan mendatangi rumah Juna. Bila beruntung Niken bisa berjumpa dengan kak Eta dan menonton drama korea, bila kak Eta ada jadwal kuliah Niken akan mendatangi Juna saja dan mengganggu ketenangan hidupnya.


__ADS_2