
Sekarang kegiatan Niken bertambah. Bila dahulu sepulang sekolah Niken akan bermalas-malasan, sekarang sepulang sekolah Niken akan rutin pergi ke rumah bude Dewi untuk menekuni pekerjaan barunya, mendesain baju. Niken pulang sekolah sore hari dan akan kerumah bude Dewi malam hari.
Tak jarang Juna ikut kerumah bude Dewi hanya untuk sekedar menemani Niken mencoret-coret kertas hingga menjadi sebuah gambar gaun. Seperti halnya malam ini, begitu Niken baru duduk di ruang kerja bude Dewi, Juna datang membawakan sekotak risol untuk Niken dan juga untuk bude Dewi.
"Sorry ya Nik, soal aku yang cerita sama mamamu masalah kuliah itu." Niken melirik Juna yang duduk didepannya dengan tangan masih asyik mengarsir gambar.
"Apaan sih? Udah nggak jadi masalah sama aku, ngapain dipikirin lagi," sahut Niken cuek.
"Tapi aku nggak enak loh Nik, beneran."
"Nggak enak nggak usah dimakan." Juna melempar gumpalan kertas yang ada diatas meja tepat mengenai wajah Niken. Niken melotot tak terima dan melempar kembali gumpalan kertas itu. Jadilah mereka lempar-lemparan kertas seperti anak kecil.
Niken memang menceritakan semua hal yang menimpa dirinya kepada Juna dan Juna langsung saja berjanji untuk menyimpan semua rencana mereka dalam diam. Tapi melihat Niken yang bahkan rela belajar hingga tengah malam seperti ini sering timbul rasa bersalah dalam dirinya. Perasaan tidak enak itu sering menghantui Juna.
"Kita udah selesai UN tapi aku belum pernah denger kamu bilang mau kuliah dimana, Jun?" tanya Niken disela-sela kegiatan menggambarnya. Acara lempar melempar gumpalan kertas sudah selesai, Niken kembali lagi ke mode serius. Masih dengan ditemani Juna walau Juna jarang mengajak Niken ngobrol.
"Emang aku pernah bilang mau kuliah?" tanya Juna dengan nada heran dan wajah bingung.
"Eh?" Niken mendongak menatap Juna, "Kamu nggak bakalan lanjut kuliah, Jun?" sambung Niken kaget.
Juna mengangkat bahu dan menggeleng, "Aku mau ke Medan, ikut saudaraku kerja di bengkel mobil."
"Wow." Niken menganga takjub, pasalnya Juna tidak ada basic jadi montir.
"Katanya kalo kamu udah lulus menurut bude Dewi mau di rekomendasiin di butik temennya?"
Juna mengangguk mengiyakan, "Iya, di butik Salwa."
"Butik Salwa yang di kota?" kini giliran Juna yang menganga takjub. Butik Salwa terkenal dengan kecantikannya dalam mendesain gaun dan menjadi butik terpopuler di kota mereka.
__ADS_1
"Semua udah ngejalani hidup masing-masing ya Jun, Nabila lanjut kuliah, kamu mau ke Medan, kita bakalan jarang ketemu." Niken menyahut lirih. Nampak mendung dan sendu di wajahnya.
Seharusnya saat ini Niken juga bergembira menyambut hari untuk melanjutkan kuliah dan memilih jurusan impiannya. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur dan tinggal dimakan saja.
"Rumah kita masih deketan, aku juga bakalan sering-sering pulang. Nabila juga kuliah di kota kan?" Juna berkata sambil memandangi kertas-kertas hasil gambaran tangan Niken.
"Cepet banget ya waktu berlalu. Mau gimanapun ceritanya, kita bakalan jarang ketemu, Jun. Siapa lagi nanti yang bakalan sering maksa aku minum sari kacang ijo?"
"Halah, bukannya kamu makin seneng ya aku merantau jauh jadi kamu nggak bakalan ada lagi yang ngerecoki untuk minum sari kacang ijo?" dumal Juna sebal. Niken tertawa singkat.
"Momen itu bakalan aku rindukan, Jun selama aku tinggal disini banyak banget kenangan kita berdua. Aku bakalan kangen banget sama kamu," ucap Niken terharu.
Juna mengusap tengkuknya sejenak, memalingkan wajah dan menatap Niken kembali, "Aku perginya masih sebulanan lagi, mungkin nunggu kamu kerja di butik Salwa dulu, simpan aja dulu kata-kata perpisahan mu itu, merinding aku dengernya."
"Jun, aku lagi menciptakan suasana sedih kenapa sih harus dirusak sama omongan pedesmu?" Niken menyahut sewot sedangkan Juna hanya memandang Niken datar, tak peduli dengan Niken yang terus mengomel tentang dirinya si perusak suasana.
Setelah berpamitan kepada bude Dewi, Niken pulang dengan jalan kaki masih dengan Juna yang menemaninya. Mereka berjalan pelan menikmati semilir angin malam dan menyusuri rumah-rumah warga yang sebagian sudah tertutup rapat pintunya. Mungkin sudah berada di peraduan berhubung waktu juga sudah malam.
Niken mengeratkan jaket yang ia pakai karena hembusan angin yang semakin dingin dan ternyata Juna pun melakukan hal yang sama. Kadang Niken berpikir apa jadinya hidupnya tanpa Juna? Niken seperti sudah sangat bergantung dengan laki-laki yang sedang berjalan dengan tenang disampingnya ini.
Entah kenapa hatinya mendadak mellow kembali, membayangkan mereka akan berpisah dan menjalani hidup masing-masing, mencari pengalaman hidup dan menghadapi dunia keras diluar sana.
Perjalanan malam ini diisi dengan kebisuan hingga Niken sampai didepan rumahnya. Juna dan Niken sama-sama berhenti dan Juna menatap rumah Niken sejenak.
Dipandanginya Niken dan tangan Juna bergerak mengusap lembut rambut Niken, "Kita memang bakalan ngejalanin hidup masing-masing tapi percayalah nggak cuma kamu aja yang bakalan kangen dengan kebersamaan kita, aku juga kangen bahkan aku lebih kangen."
Setelah mengucapkan kata yang berhasil membuat Niken linglung, Juna melenggang pulang dengan santai.
***
__ADS_1
Setelah belajar desain baju selama 6 bulan lamanya, akhirnya Niken dipercaya bude Dewi untuk bekerja di butik Salwa. Karena jarak dari kota kerumah Niken yang lumayan jauh, Niken memutuskan untuk tinggal dirumah kos. Belajar hidup mandiri walaupun harus berbesar hati meninggalkan mamanya seorang diri.
Niken sudah bertekad akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan bisa membantu perekonomian keluarganya. Papanya masih tinggal di Palembang dan masih mulai merintis usaha baru. Sesekali juga pulang menjenguk anak dan istrinya.
"Udah makan belum?"
"Ini lagi makan," jawab Niken sembari tangan kanan memasukkan nasi kedalam mulutnya dan tangan kiri memegang ponsel yang ditempelkan di daun telinganya.
"Gimana selama kerja, betah kan?" tanya Juna lagi.
Niken dan Juna sedang berkomunikasi melalui sambungan telepon di waktu istirahat jam makan siang ini. Juna sudah bekerja ke Medan dan berangkat sesaat setelah Niken bekerja di butik Salwa.
Niken sempat menangis waktu Juna berpamitan ke rumahnya sedangkan Juna sendiri masih dengan sifat cueknya dan tetap memasang wajah datar melihat Niken menangis ditinggal olehnya seolah tak akan pernah butuh Niken lagi padahal sesaat setelah Juna menaiki bus yang akan membawanya ke Medan, Juna sempat menghela napas panjang. Membayangkan harinya tanpa rengekan dan gerutuan Niken pasti akan sangat membosankan.
"Masih begini-begini aja. Nggak ada yang istimewa. Medan gimana? Ceweknya cantik-cantik nggak?" goda Niken heboh dan sudah cekikikan sendiri. Niken tau pasti, Juna paling anti bila Niken sudah menggodanya perihal pacar atau sejenisnya.
"Biasa aja," sahut Juna dengan suara datarnya. Niken semakin heboh tertawa.
Percakapan masih berlangsung bahkan sampai Niken selesai makan dan jam istirahat hampir habis. Niken dan Juna mematikan sambungan telepon tepat pukul 2 siang dimana waktu bekerja mereka dimulai.
Butik biasa tutup di pukul 5 sore tetapi hari ini karena Bu Salwa selaku pemilik butik akan mengadakan pengajian dirumahnya, butik tutup di pukul 2. Semua karyawan diperbolehkan pulang lebih awal kerumah masing-masing.
Niken yang tidak memiliki kegiatan lain memilih pergi jalan-jalan sebentar mencari kebutuhan sehari-hari untuk mengisi kulkas mininya di dalam kamar kos.
Butik Salwa berada di tengah kota sehingga memudahkan para karyawan untuk mencari barang yang diinginkan di sekitaran butik. Seperti halnya Niken yang hanya perlu berjalan kaki sekitar 5 menit untuk bisa sampai di minimarket.
Niken bersenandung riang menikmati perjalanan santainya di siang menjelang sore ini. Selama hidup di kota, Niken sudah terbiasa kemana-mana sendiri. Niken yang dulu selalu takut dan kikuk bahkan hanya untuk naik bus pun tak berani sendiri kini semua itu hanya tinggal cerita. Niken sudah menjadi sosok perempuan mandiri yang melakukan segalanya serba sendiri.
"Niken!" Niken menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kiri dimana asal suara seseorang memanggilnya.
__ADS_1