Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Tak Ada Tantangan


__ADS_3

"Kak Andre!" Niken sempat mengernyit mempertanyakan mengapa Andre bisa berada disini dan baru tersadar bahwa Andre kakak kelasnya dua tingkat pantas saja dia bisa hadir di reuni ini.


"Berangkat sama siapa?" Andre menjawab setelah tersenyum kecil menatap Niken.


"Sama Juna, kak, lagi ambil motor dia."


"Mau kakak antar pulang?" tawar Andre.


Niken garuk-garuk rambut, bingung mau menerima atau menolak. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama cowok yang ia suka dari jaman masih pakai seragam putih abu-abu.


Belum sempat Niken menjawab, Juna datang dan berhenti tepat di depan Niken membuat Niken segera sadar tak seharusnya ia pulang bersama Andre.


"Aku pulang bareng Juna, kak. Maaf," ringis Niken tak enak hati. Andre hanya tersenyum dan mengangguk. Juna juga hanya mengangguk sebagai sapaan dan segera melajukan motornya.


Juna menepikan motornya di kafe pelangi yang tak jauh dari rumah mereka. Niken menurut saja kemana Juna mau membawanya walau sebelumnya Juna tak menanyakan pendapatnya akan kemana tujuan mereka.


Suasana kafe terlihat cukup ramai sore ini. Pengunjung didominasi oleh para anak muda. Niken dulu sering mengunjungi kafe ini ketika masih tinggal dengan mamanya karena jaraknya juga yang tidak begitu jauh dari rumahnya tetapi semenjak ia bekerja dan memutuskan tinggal di kos, kafe ini sudah tidak pernah ia kunjungi lagi.


"Mau pesan apa kak?" tanya pramusaji ketika Niken dan Juna baru saja duduk dan melihat-lihat lembaran menu yang sudah tersedia di meja.


Niken menyebutkan menu yang dipilih, diikuti Juna yang juga ikut menyebutkan menu pilihannya. Pramusaji berlalu dan tak lama datang kembali membawakan menu yang mereka pesan.


Niken mengedarkan pandangan, melihat para pengunjung sambil sesekali mengaduk minumannya sedangkan Juna tengah asyik menekuri ponsel. Mungkin sedang berbalas pesan.


"Kau kok bisa ngobrol sama abangnya Anjas, Nik?" tanya Juna tiba-tiba membuat Niken mengalihkan wajahnya menatap Juna.

__ADS_1


"Kau udah tau dari kapan Jun kalo kak Andre itu abangnya Anjas?" Niken balik bertanya dan menyipitkan matanya menatap Juna.


Juna mengangkat bahu, "Dari kita masih sekolah lah," jawab enteng.


Niken hampir menggebrak meja karena geram dan gregetan dengan jawaban yang diucapkan Juna. Tapi ia sadar dimana mereka sekarang dan tidak mau menimbulkan keributan. Jadilah ia hanya mengepalkan tangan untuk menyalurkan rasa geramnya kepada lelaki yang sedang duduk tenang sambil ngemil kentang goreng di depannya ini.


"Kau udah tau dari kita masih sekolah tapi kenapa kau nggak ngasih tau aku sih, Jun. Dulu aku kesemsem sama Andre dan Anjas tau. Ya ampun, malunya aku, ngomong suka sama Andre di depan adiknya sendiri." Niken menutup wajah dengan kedua tangan karena tiba-tiba rasa malu itu menyerangnya kembali.


Karena geram yang tak tertahankan, Niken tak tahan lagi, ia tetap menjambak Juna hingga Juna mengerang kesakitan walau ia tetap tertawa-tawa dan berujung dengan omelan karena rambutnya yang jadi kusut.


Juna terkekeh geli, "Kau ngakunya suka tapi nggak mau cari tau tentang dia. Suka mu itu beneran atau sekedar suka-sukaan?" cemooh Juna setelah mereka duduk tenang kembali.


"Suka beneran lah," sewot Niken.


"Tadi dia ngajak ngobrol apaan? Nawarin pulang bareng?" Tebak Juna dan tebakannya tepat sasaran.


"Bayu dulu lancar jaya deketin kau ya nyatanya nggak jodoh juga malah berakhir tragis. Selama ini kau cuma ngejagain jodoh Nabila." Juna dan mulut pedasnya mulai memberikan komentar.


"Siapa bilang lancar jaya? Dulu dia pernah aku tolak sampai setahun putus komunikasi. Inget kan?"


"Cuma di tolak doang. Bayu itu kayak nggak ada tantangan dan rintangan untuk ngedapetin kau. Hubungan kalian kurang greget makanya kalian nggak jodoh."


"Emang harus banyak tantangan dan rintangan ya Jun biar bisa di bilang jodoh atau nggak nya?" tanya Niken sembari menghembuskan napas lelah. Membicarakan mereka membuat luka di hati Niken yang belum sepenuhnya kering seakan basah kembali.


"Ya nggak juga sih. Tapi aku memang dari awal kurang suka aja sama Bayu. Baguslah pertunangan kalian batal, itu tandanya kau masih bisa ku tenteng kesana kemari."

__ADS_1


Niken terdiam sejenak dan tiba-tiba teringat dengan ucapan Juna. Waktu itu Niken berniat mengenalkan Juna kepada Nabila dan Juna menolaknya, mengatakan bahwa jangan menilai seseorang hanya dari tampangnya.


"Jun!" Panggil Niken yang di jawab deheman oleh Juna.


"Kau udah kenal Nabila dari kapan?" Juna agak aneh mendengar pertanyaan yang di ajukan Niken. Tetapi ia tetap menjawab, "Ya dari yang kau kenalkan di kantin itulah. Kenapa?" Juna balik bertanya.


"Kau pernah bilang jangan menilai orang hanya dari tampangnya. Orang yang banyak tatonya di cap sebagai preman dan brandalan padahal dia suka beramal. Ada juga yang wajahnya alim eh nggak taunya pemakai narkoba. Tiba-tiba aku teringat sama ucapan mu itu. Seolah-olah kau menggambarkan gimana Nabila itu."


"Aku cuma asal ngomong aja sih waktu itu. Nggak nyangka kau masih inget detail ucapan ku." Juna takjub sendiri karena Niken mengingat setiap detail ucapannya.


Niken terdiam tak menanggapi ucapan Juna. Dia jadi merenung, selama dia menjalani pertemanan dengan Nabila tak pernah mereka bertengkar ataupun terlibat cekcok yang sampai menguras emosi dan tarik urat leher. Pertemanan mereka semulus jalan tol dan Niken sampai sekarang masih tidak menyangka bahwa Nabila tega menusuknya dari belakang. Bila memang suka dengan Bayu, mengapa tak berterus terang saja?


"Udah jangan dipikirin. Bayu memang bukan jodohmu." Juna sepertinya mengerti isi pikiran Niken yang masih mengingat Bayu.


"Lagian, Bayu nggak seganteng Nicolas Saputra makanya kau nggak berjodoh sama dia," celetukan Juna berhasil mengundang tawa Niken.


Sepertinya Juna masih mengingat dengan jelas, idola Niken dari jaman ia masih memakai seragam putih abu-abu itu.


***


"Nik, dapat kiriman."


Sore itu, saat Niken baru saja selesai mandi setelah pulang kerja, Cindy tiba-tiba mengetuk pintu dan memberi Niken sebuah paper bag yang berisi entah apa.


"Apa ini?" tanya Niken heran. Cindy hanya menjawab dengan cara mengangkat bahu tanda tak tahu.

__ADS_1


"Dari siapa?" tanya Niken lagi. Dia merasa tidak memesan sesuatu dan bila ini kiriman dari mamanya pasti mamanya itu sudah menghubunginya untuk menanyakan keberadaan kiriman tersebut.


"Dari cowok tapi nggak tau siapa. Dia cuma bilang ini untuk Niken gitu aja. Coba di cek isinya apa Nik, jangan-jangan orang iseng lagi atau lebih parahnya pengen ngecelakain kau."


__ADS_2