Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kos Dengan Nabila


__ADS_3

"Halo," sahut Juna diseberang sana dengan suara serak. Niken melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.


"Kau sakit, Jun?" tanya Niken yang menyadari suara Juna berbeda dari biasanya.


"Nggak, baru bangun tidur aku." Setelah itu terdengar suara berisik. Entah apa yang dilakukan Juna diseberang sana.


"Tumben?" celetuk Niken. Karena tidak biasanya Juna tidur cepat. Juna lebih memilih bermain game di ponselnya daripada memejamkan mata.


"Iya, capek kali aku, 3 hari lembur terus, kayaknya sekarang lagi musim motor rusak, bengkel rame terus sampek nggak bisa pulang cepet kami." Niken mendengarkan dengan seksama perkataan Juna.


Dihelanya napas, "jangan kecapekan Jun, entar kalo sakit nggak ada yang ngurusin." Niken memberi nasehat karena sejujurnya Niken mengkhawatirkan kondisi Juna.


"Aman itu. Oya kenapa nelpon malam-malam? Mau utang duit?" tanya Juna santai tetapi telinga Niken tidak santai mendengarnya.


"Sembarangan, aku kalo mau utang duit juga pilih-pilih orang kali. Ogah utang samamu, kau aja makannya susah kok mau ngutangin aku," jawab Niken pedas.


"Kejam," ucap Juna sambil terkekeh karena Juna tau Niken tidak akan pernah serius dengan ucapannya.


"Ck, kok jadi ngomongin utang sih," sahut Niken sebal karena terdistrak oleh Juna.


"Aku mau curhat Jun," rengek Niken setelah ingat tujuan awalnya menelepon Juna.


"Hmm," sahut Juna malas tapi Niken tidak peduli dengan respon Juna karena Niken tau pasti Juna tetap akan mendengarkan keluh kesahnya.


"Kau masih ingat bang Bayu, Jun? Dia datang ke kos aku masa?" Niken memulai sesi curhatnya.


"Bayu yang punya foto copy itu?"


Tuh kan, walaupun Juna seolah malas-malasan mendengarkan curhatannya tetapi dia akan tetap merespon.


"Iya. Datang ke kos aku dia. Padahal aku udah mulai lupa sama dia setelah 1 tahun nggak pernah jumpa."


"Kok dia bisa tau alamat kos mu?" tanya Juna heran.


"Sebenarnya kemarin itu aku jumpa dia waktu belanja di minimarket, terus dia bayarin belanjaan ku dan nganterin aku pulang, makanya dia bisa tau alamat kos ku." Niken bercerita sembari menerawang menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Jangan murahan jadi cewek," komen Juna nyelekit. Niken sampai meremas bantal dan berjanji akan menabok mulut Juna dengan raket nyamuk bila mereka bertemu kembali.


"Gimana kalo bang Bayu tiba-tiba nembak aku, Jun? Aku mesti jawab apa? Masa ku tolak lagi? Kan kasian, Jun." Nike meneruskan sesi curhatnya walaupun tau pasti sebentar lagi mulut Juna akan mengeluarkan suara naga menyemburkan api.


Terdengar suara batuk-batuk di tempat Juna berada, sepertinya Juna sedang tersedak dan Niken berdoa semoga Juna beneran tersedak. Tersedak tulang ayam.


"Ke geeran banget kau bakalan di tembak lagi. Mikir dong, udah 1 tahun berlalu, ya apa mungkin dia masih nggak punya pacar. Bisa aja kan dia bayarin belanjaan mu dan nganterin kau pulang karena nggak tega sama muka melasmu. Muka mu kan muka-muka orang minta di kasihani." Niken semakin kuat meremas seprei akibat terlalu geram dengan perkataan Juna yang semakin nyelekit. Di bohongi memang sakit, tapi terlalu jujur ternyata lebih sakit.


"Jun," panggil Niken pelan.


"Hmm," respon Juna masih dengan nada malas.


"Buruan punya pacar deh, biar nggak sensian mulu. Kau kayak laki-laki kurang belaian tau nggak," ucap Niken sewot.


"Ha?"


Niken langsung mengakhiri panggilan telepon secara sepihak karena terlalu kesal dengan Juna.


Niken kembali memandangi langit-langit kamarnya. Perkataan Juna memang nyelekit tetapi Niken merasa perkataan Juna benar adanya.


1 tahun bukan waktu yang sebentar dan Niken jadi terbawa perkataan Juna yang menyatakan apa mungkin Bayu belum punya pacar. 1 tahun ini saja hidupnya sudah jungkir balik tak karuan, apa ya mungkin seorang Bayu masih begitu-begitu saja?


Niken masih sibuk melamun dan menerka-nerka isi pikirannya sendiri ketika ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.


Niken tertegun memandangi ponselnya ketika pesan sudah dibuka.


'Good night Niken. Mimpikan Abang ya dan yakinkan hati kamu agar cinta Abang tidak di tolak lagi'


***


"Wah Bayu kembali!" seru Marcel memotong kenangan yang tengah coba Niken gali kembali. Kenangan itu masih tersimpan rapi didalam ingatannya karena dari sanalah awal mula sakit itu tercipta.


"Hmm, sepertinya Bayu belum move on sama mama. Kasian Juna," celetuk Marsya.


"Lah kok jadi kasian Juna sih, kak?" tanya Marcel heran.

__ADS_1


"Iya dong, Juna kan yang selalu ada untuk mama, bertahun-tahun menemani mama tapi justru kehadirannya kalah sama Bayu." Marsya menyahut sengit.


"Ya elah mereka cuma berteman kali kak, ngapain pula kakak kasihan sama Juna." Marcel berucap sembari memutar bola mata.


"Tapi tetep aja kasian, Cel, Aku kok jadi berasa nonton drama Korea ya," ucap Marsya lebay.


"Lebih kasian papa kak!" seru Marcel sembari menggigit kasar pop corn yang masih setia berada di pangkuannya.


Marsya dan Niken sontak terkekeh geli. Paham sekali maksud dari kata kasian yang terlontar dari mulut Marcel.


"Ma, bukannya Bayu ini di taksir Nabila, ya?" tanya Marsya begitu teringat penggalan kisah yang pernah di ceritakan mamanya.


"Iya, kata Juna kan Nabila naksir Niken?" Marcel juga tiba-tiba teringat dengan kisah masa sekolah mamanya.


Niken diam sejenak. Entah mengapa rasa sakit menghujam dadanya ketika akan menggali memori itu. Di tariknya napas dan menghembuskan nya pelan. Walau bagaimanapun kenangan itu menjadi pelajaran berharga yang bisa Niken petik hikmahnya.


"Nah, jadi waktu itu Nabila --"


***


Niken membantu Nabila menyusun barang-barang bawaan Nabila dan merapikannya di dalam kamar kos yang tepat bersisian dengan kamar kos Niken.


Seminggu sudah berlalu sejak terakhir kali Bayu datang ke kos Niken dan hari ini tepat dengan hari kepindahan Nabila seperti yang diucapkan Niken kepada Bayu.


Niken menyusun buku-buku kuliah Nabila dan sempat timbul rasa iri di hati karena Niken tidak seberuntung Nabila yang dapat melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah. Niken jadi membayangkan andai keluarganya masih seberuntung dulu pasti saat ini Niken juga tengah berkutat dengan buku-buku dan tengah serius belajar mendalami ilmu kejiwaan. Tapi Niken segera menggelengkan kepala menepis segala pikiran jahat yang sempat singgah di kepala.


Niken memang tidak dapat melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi tapi Niken bangga karena sudah dapat membantu perekonomian keluarga. Niken sudah bisa memberi sebagian uang hasilnya bekerja kepada mamanya walaupun mamanya akan mengomelinya dengan isak tangis dan memohon maaf sudah menyusahkan.


"Nik, udah malam, keluar dulu yok cari makan, aku laper." Suara Nabila memecah lamunan Niken tentang nasib sekolahnya.


Niken menoleh menatap Nabila yang baru saja selesai menyusun baju-bajunya kedalam lemari mini yang memang sudah disediakan ibu kos.


"Mau makan apa?" tanya Niken.


"Nasi goreng adakan mangkal didepan?" Karena terlalu sering berkunjung bahkan menginap ke kos Niken, Nabila sampai hafal ada tukang nasi goreng yang sering mangkal di depan kos Niken.

__ADS_1


Niken melirik jam yang tergantung di dinding, "biasanya jam segini masih mangkal sih, yok lah kita liat keluar." Niken melangkah ke arah pintu dan diikuti Nabila. Mereka turun ke lantai bawah dan begitu sampai dilantai bawah atau lebih tepatnya ruang tunggu tamu, Niken mendapati Bayu yang baru saja melepas helm dan menggantungkannya di stang motor.


__ADS_2