Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Cemburu?


__ADS_3

"Ayo, aku antar!" Rayya berjalan yang terpaksa diikuti Niken.


"Kak, aku bisa sendiri kok. Walaupun kita satu arah kakak nggak perlu anterin aku. Aku bisa naik bus."


Arham tersenyum geli.


"Bukan aku kok yang mau nganterin kamu, tapi supir."


"Ha? Maksudnya?"


"Iya supir. Aku nggak bawa motor hari ini jadi kita bakalan diantar supir. Supir bus maksudnya."


"Jadi, kakak bakalan naik bus juga?"


"Iya."


Dua kali bertemu Rayya, dua kali juga Niken harus menanggung malu. Ini Niken yang lemot atau Rayya yang salah memilih kata, sih?


Tadi jelas-jelas Rayya bilang 'Ayo aku antar'. Itu kan berarti Rayya bakalan nganterin Niken minimal pake motor kek bukannya naik bus begini. Kalo sama-sama naik bus sih itu namanya barengan bukan ngantar.


Niken kan jadi salah paham dan jadi double malunya. Lebih baik Niken diam saja daripada mempermalukan dirinya lebih dalam lagi.


"Nama kamu siapa?"


"Niken, kak."


Saat ini Niken dan Rayya sudah berada di dalam bus. Niken memilih duduk didekat jendela agar dia bisa menikmati semilir angin dari jendela yang sengaja dia buka.


"Kelas berapa?" Rayya bertanya kembali. Sepertinya dia bosan harus duduk diam tanpa ada percakapan diantara keduanya.


"Aku, kelas 7b kak."


"Sekelas sama anak cowok tadi?"


"Dhani maksudnya kak?" Rayya mengangguk.


"Iya, dia wakil ketua kelas."


"Ongkosnya, dek." Kenek bus yang biasa keliling meminta ongkos menyela percakapan mereka. Rayya dan Niken sama-sama merogoh kantong tapi Rayya sudah terlebih dahulu menyerahkan ongkosnya.


"Berdua ya, bang!"


"Oke."


"Eh, ini kak ongkos ku." Niken bingung mengapa Rayya membayarkan ongkosnya terlebih dahulu alhasil dia pun menyerahkan nominal uang yang biasa dia bayar untuk ongkos kepada Rayya.


"Udah nggak usah. Hari ini biar aku yang traktir untuk ongkos, karena udah nganterin kamu."

__ADS_1


"Kakak sih bukan nganterin aku tapi barengin aku." Niken tak mau berdebat masalah ongkos alhasil dia pun mengantongi kembali uangnya. Biarlah lain kali dia akan gantian membayar ongkos Rayya bila mereka tak sengaja satu bus lagi.


Rayya tertawa dengan ucapan Niken.


"Jadi, kamu sekretaris ya?"


"Iya, kak."


Niken tak mau beramah tamah dengan Rayya. Bukan karena dia sombong tapi Niken bingung sendiri apa yang harus dilakuin bila berkenalan dengan orang baru.


"Bang, pinggir bang!" Niken berteriak yang syukurnya langsung didengar oleh supir. Rumahnya sudah terlihat. Dia sudah sampai tujuan.


"Duluan ya, kak. Makasih udah 'nganterin' aku."


Rayya tersenyum mendengar sindiran itu.


"Sama-sama, Niken."


***


Memasuki kelas, Niken sudah disambut dengan wajah imut Rindy. Dia duduk tenang di bangkunya. Tak lama Dhani datang menghampirinya. Mereka mengobrol entah apa. Niken cuek saja melewati mereka dan menghampiri Adila karena merasa tak ada kepentingan dengan Rindy.


Belum juga Niken menyapa Adila, suara Rindy sudah terlebih dahulu terdengar.


"Niken, lo merasa nggak ada kepentingan sama gue?"


"Jadi sekretaris cuma menang tulisan cantik aja ya kek gini. Lemot." Rindy berujar sadis.


"He! jaga omongan lo ya! Masih pagi ini jangan cari gara-gara!" Adila berdiri emosi mendengar kalimat yang dilontarkan Rindy. Niken yang dihina tapi dia yang tak terima.


"Gue nggak ada urusan sama lo. Jangan ikut campur!"


Adila sudah akan membalas ucapan Rindy tetapi Niken terlebih dahulu menyentuh lengannya.


"Udah Dil, jangan ditanggepin."


"Nggak usah diam aja Nik, dia makin lama didiemin mulutnya makin rusak."


"Kita juga ikutan rusak kalo lawanin dia. Udah kamu duduk aja disini. Tenang ya." Adila duduk kembali di bangkunya walaupun terlihat jelas emosi masih membayangi wajahnya.


Niken menghampiri Rindy yang santai saja duduk padahal Adila sudah mati-matian meredamkan emosinya.


"Ada apa ya, Rin?"


"Lo kemarin ikut rapat kan? Mana hasilnya? Kok lo nggak ada laporan ke gue?"


"Gue kan tadi udah jelasin hasil rapat kemarin Rin, ngapain mesti nanyain Niken lagi, sih?" Dhani bertanya heran. Rupanya Dhani menghampiri Rindy untuk membahas hasil rapat.

__ADS_1


"Gue juga butuh tulisan tangan dia. Ngapain dia ikut rapat kalo nggak ada catatan yang membuktikan." Niken yang malas berdebat kembali ke mejanya dan mengambil catatan hasil rapat kemarin. Syukurnya buku itu ia bawa.


"Mau minta apa dia?" Adila bertanya sengit.


"Cuma minta catatan rapat kemarin." Niken pergi kembali ke meja Rindy setelah menjawab pertanyaan Adila.


"Nih Rin, catatannya."


Rindy membuka buku catatan itu dan membacanya.


"Nik, gimana kemarin satu bus sama kak Rayya? Selamatkan?" Rindy seketika menghentikan kegiatan membacanya setelah mendengar nama Rayya disebut. Diliriknya Dhani dan Niken bergantian.


"Berkat supir yang membawa bus itu, Alhamdulillah gue selamat."


"Lah kalian naik bus? Bukannya naik motor?" Dhani sepertinya juga salah paham seperti Niken.


"Gue kira juga kak Rayya bakalan boncengin gue naik motor, bukannya gue ngarep juga ya. Tapi dengan jelas dia bilang ayo aku antar eh ternyata naik bus. Kalo naik bus mah itu bukan nganterin namanya tapi barengin. Bikin orang salah paham aja. Lo juga, ngapain sih nyodor-nyodorin gue biar pulang bareng kak Rayya?" Niken menggerutu. Tapi, sebelum Dhani menjawab, Rindy sudah terlebih dahulu memotong percakapan mereka.


"Sebentar-sebentar. Ini Rayya yang kalian maksud itu Rayya ketua OSIS kita?"


Dhani dan Niken kompak mengangguk.


Melihat anggukan itu seketika Rindy menoleh garang ke arah Niken. Niken sampai terkejut. Salah apalagi dia?


"Lo pulang bareng kak Rayya?"


"Iya." Niken menjawab linglung.


"Punya susuk apa lo sampek bisa pulang bareng kak Rayya?"


"Dia...." Niken bingung harus menjawab apa alhasil dia menunjuk Dhani yang juga terkejut mendapati telunjuk Niken mengarah kepadanya.


"Kok gue? Kak Rayya kan kemarin nawarin lo pulang bareng?" Dhani sialan itu tidak mau disalahkan begitu saja rupanya. Entah mengapa aura Rindy terasa menyeramkan sampai Dhani dan Niken ketakutan dibuatnya.


Gubrak!!!


Tak hanya Niken dan Dhani saja yang terkejut mendapati Rindy menggebrak meja tapi seisi kelas juga terkejut. Marwah yang baru sampai, menoleh heran dan arah matanya mengikuti perginya Rindy sampai dia berbelok ke luar kelas dan tak terlihat lagi.


"Kenapa tuh, nenek lampir?" Pertanyaan yang sama yang akan ditanyakan Niken.


"Kesurupan kali." Adila menyahut tak santai dari mejanya. Marwah hanya mengangkat bahu tak peduli dan melanjutkan langkahnya.


Niken menoleh kearah Dhani yang diam saja semenjak insiden gebrak meja.


"Kenapa lo?" Niken menyenggol tangan Dhani yang berada diatas meja.


"Lah, kenapa tanya gue? Seharusnya lo tanya Rindy, kenapa dia! Udah ah gue mau ke kantin dulu." Dhani beranjak dari duduknya dan melenggang pergi. Wajahnya terlihat suntuk.

__ADS_1


__ADS_2