Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Andre Punya Pacar


__ADS_3

"Nik, kamu mau ikut ekskul apa?" Juna menghampiri Niken yang tengah asyik menyantap bakso dengan Eni. Eni dan Niken, melirik Juna yang datang entah dari mana sembari membawa-bawa brosur.


"Belum tau. Apa aja pilihannya? Aku masih bingung mau pilih ekskul apa?" Sambil menelan bakso terakhir yang tersisa di mangkuknya, Niken menerima uluran brosur yang dibagi Juna.


"Dapet darimana kau brosur ini?" tanya Niken heran karena brosur yang dibawa Juna cukup banyak.


"Di kasih sekretaris OSIS tadi waktu mau kesini," jawab Juna, tangannya meraih minum Niken yang masih tersisa setengah dan langsung meminumnya tak menghiraukan lirikan Eni yang sudah hampir terbengong.


"Kamu mau masuk ekskul apa, En?" Niken bukannya memilih malah bertanya kepada Eni. Juna langsung memberikan selembar brosur dan dibaca dengan seksama oleh teman Niken itu.


"Pilih cheers seru juga," ucap Eni manggut-manggut setelah Niken dan Juna menunggu hampir satu menit.


Cheers? Oh noo..


Dengan fisiknya yang lemah, keputusan yang bodoh bila Niken memilih cheers. Dibacanya kembali brosur itu, mana yang kira-kira cocok dengannya. Jangan sampai ia kecapekan dan berujung pingsan.


"Aku pilih teater deh." Putus Niken. Sepertinya itu pilihan yang mendekati aman. Selain tidak menguras tenaga, setahu Niken latihan teater selalu berada di dalam ruangan.


"Yakin, Nik?" tanya Juna agak sangsi. Niken mengangguk.


"Emang kamu pilih ekskul apa, Jun?" tanya Eni penasaran kepada gebetan Fanny ini, sayang begitu tamat SMP Fanny memutuskan sekolah di tempat lain, bosan sudah menghabiskan tiga tahun masa belajarnya di Hang Tuah katanya, ingin mencari suasana baru. Coba saja kalau Fanny ada disini, dia pasti sudah jingkrak-jingkrak kegirangan karena bisa duduk satu meja dengan Juna.


"Aku pilih voly," jawab Juna sambil menyerahkan selembar brosur yang dibawanya kepada anak kelas sepuluh yang melewati meja mereka.


"Yaa kok nggak basket?" tanya Eni pura-pura kecewa.


"Emang kenapa kalo basket?" Niken bertanya heran sambil mengernyitkan dahi begitu pula Juna yang memiliki pertanyaan serupa dengan Niken.


"Kan aku pilih cheers, biar kita kalo latihan bisa selalu ketemu." Eni langsung tertawa. Niken melemparnya dengan gumpalan tisu bekas dan Juna jangan ditanya lagi, ia langsung melengos. Tak habis pikir bisa-bisanya Niken dapat teman seperti Eni.


"Kalo udah nentuin pilihan, nanti pulang sekolah temui kak Andre, biar dia yang data pilihan ekskul kita semua." Juna sudah akan beranjak sewaktu Niken dengan secepat kilat memegang pergelangan tangan Juna, menahannya supaya jangan beranjak dulu.


"Andre Sanjaya?" tanya Niken antusias. Juna mengangguk membenarkan.


"Yeesss!" seru Niken kesenangan. Juna hanya melengos pergi melihat sikap kecentilan Niken.

__ADS_1


"Naksir sama kak Andre?" Eni bertanya menggoda, alis nya naik turun.


"Kak Andre baik banget tau, aku nggak minta tanda tangannya aja dia suka rela ngasih, apalagi aku minta hatinya." Eni tertawa ngakak mendengar ucapan Niken. Niken saja ikutan geli mendengar perkataan gilanya.


"Hatinya udah ada sama pacarnya, udah digembok, kuncinya dibuang kelaut," sahut Eni. Niken cemberut.


"Ih doain kek biar aku bisa dapetin hatinya."


"Iya, aku selalu berdoa semoga hamba Allah yang sedang jatuh ini bisa dapat." Eni menengadahkan tangannya seperti orang yang sedang khusuk berdoa.


"Yang jelas dong doanya, bisa dapat hatinya. Doa jangan setengah-setengah nanti Allah bingung." Protes Niken.


"Bisa dapat kunci yang dibuang di laut Ya Allah." Sekali lagi Niken melempar gumpalan tisu kearah Eni.


***


Niken memasuki ruang OSIS sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Tak ditemukannya si ketua OSIS di manapun. Niken sampai berpikir Andre nyelip didalam laci. Pasalnya ada 2 meja pendaftaran disudut ruangan itu. Siapa tau Andre masuk didalamnya dan nggak bisa keluar lagi.


"Kak Andre ke toilet kali." Eni berbisik seolah-olah tau apa yang dipikirkan oleh temannya ini.


"Nggak usah sok malu-malu meong, aku tau banget matamu lagi jelalatan nyari kak Andre." Eni masuk dan tak lupa menggandeng Niken.


Mereka menghampiri sekretaris OSIS yang tengah mencatat pilihan ekskul anak kelas sepuluh yang tengah mengantri didepan mejanya. Niken dan Eni juga ikut mengantri. Masih ada sekitar sepuluh murid lagi didepan mereka.


Niken meyerahkan brosur yang sudah ia isi kepada perempuan manis dihadapannya ini. Masih belum terlihat penampakan Andre. Niken jadi sangsi Andre berada di toilet seperti dugaan Eni.


"Pilih ekskul apa, dek?" Niken menoleh kearah kakak kelasnya ini, padahal matanya lagi asyik mengelilingi ruang OSIS ini. Apalagi yang dicari kalo bukan Andre.


"Hmm teater kak," lirih Niken.


"Latihan nya dimulai bulan depan ya, setiap hari rabu." Niken mengangguk dan menyingkir dari barisan. Ada Eni dibelakangnya yang juga langsung menyerahkan brosur pilihannya seperti Niken.


"Andre kemana sih An dari tadi nggak muncul-muncul? Jangan sampek dia aku pecat ya, lalai dari tugas." Suara menggelegar anak laki-laki yang tengah mencatat entah apa dibuku nya, mengalihkan pandangan Niken yang tengah berada didekat pintu menunggu Eni selesai.


"Pulang bentar dia, sakit perut katanya." Seseorang yang dipanggil An menyahut dari sebelah kakak yang tengah sibuk bertanya kepada Eni.

__ADS_1


"Yaelah, sebagai seorang pacar seharusnya dirawat dong pacarnya, jangan sampai sakit perut," celetuk laki-laki itu kembali.


"Berisik!" ketus An.


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Niken. Hatinya potek. Baru sebentar cinta bersemi eh sigebetan malah sudah punya pacar. Niken jadi memandangi perempuan yang dipanggil An itu.


Cantik.


Pantas saja dijadikan pacar oleh Andre. Bahu Niken terkulai lesu. Eni yang telah selesai dengan urusannya langsung menyeret Niken keluar dan tertawa terbahak-bahak setelah agak menjauh dari ruang OSIS.


"Tertawa lah anda sepuasnya," ketus Niken. Sebal dengan temannya yang satu ini. Niken tau gunanya teman memang untuk menertawakan satu sama lain disaat kengenesan menghampiri, tapi sabar dulu dong, tunggu ada satu jam kek, biar luka dihatinya ini agak reda nyerinya.


"Ya ampun Niken. Belum berjuang udah patah hati aja." Eni masih terkekeh geli. Apalagi Niken masih saja cemberut disepanjang perjalanan mereka menuju parkiran.


Niken melihat Juna tengah duduk di atas motor menunggu dirinya. Dihampirinya laki-laki itu dengan lesu. Juna melirik Niken heran dan semakin heran karena melihat Eni yang tengah tersenyum geli menuju motornya sementara Niken berwajah kecut.


"Kenapa kamu?" Belum sempat Niken menjawab sudah terdengar teriakan Eni yang sudah duduk di atas motornya. Juna dan Niken kompak menoleh.


"TENANG NIKEN NANTI AKU BANTU CARI KUNCINYA YANG DIBUANG DI LAUT." Eni langsung ngacir keluar gerbang.


"Iss sebel." Gereget Niken sambil menendang ban motor Juna.


"Aduuh sakit Jun," rintih Niken sambil memegangi ujung sepatunya. Sepatu yang dikenakan tidak safety rupanya. Terasa sakit ujung jari kakinya.


Juna sendiri justru memandangi Niken dengan pandangan yang seolah-olah melihat makhluk astral dapat dilihat dengan mata telanjang.


"Belum minum obat? Jangan kambuh dulu gilanya, nanti aja kalo udah sampek rumah." Juna berucap datar sambil mengenakan helm. Niken meninju pelan bahu Juna.


"Juuunn," rengak Niken.


"Hmm."


"Kak Andre udah punya pacar." Niken mengaduh. Juna awalnya diam sejenak tapi tak berapa lama tawa kencang lolos dari bibirnya.


Niken semakin lesu. Ingin rasanya membuang dua teman yang bisanya menertawakan dirinya yang tengah sengsara.

__ADS_1


__ADS_2