
Niken pun mengirim pesan kepada Nabila, memberitahu bahwa orang yang di tunggu-tunggu sudah datang. Nabila muncul tak lama kemudian. Wajahnya tampak kembali pucat hingga Niken khawatir Nabila kembali muntah-muntah.
"Hai bang," sapa Nabila lemah dan duduk di bangku yang disediakan ibu kos untuk para tamu.
Bayu hanya tersenyum menanggapi. Membuat Niken mengerutkan kening. Mungkinkah mereka sedang bertengkar? Bertengkar karena apa? Setau Niken mereka jarang bertemu.
"Nik, boleh aku ngobrol berdua sama bang Bayu? Sebentar aja," pinta Nabila yang semakin menimbulkan tanda tanya besar dibenak Niken. Tapi tak urung Niken mengangguk juga walau beribu pertanyaan menggelayuti benaknya.
Niken masuk ke dalam kamarnya dan memilih menunggu mereka selesai bicara sembari memainkan ponsel. Ingin mengaduh kepada Juna tapi Niken belum siap menerima komen pedas yang selalu meluncur dari mulut lelaki itu. Alhasil yang Niken lakukan hanya membaca kembali pesan-pesan yang belum sempat ia hapus dari ponselnya. Sesekali Niken tertawa bila terdapat pesan yang menggelitik dari teman-temannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Nabila muncul di ambang pintu kamarnya dan memberi tahu bahwa pembicaraannya dengan Bayu sudah selesai. Niken pun bergegas menemui Bayu kembali tetapi yang membuat Niken tercengang, Bayu sudah tidak berada di ruang tunggu. Niken sempat bertanya kepada salah satu penghuni kos yang kebetulan juga kedatangan tamu dan mereka mengatakan Bayu sudah pulang.
Niken sempat ingin menelepon dan menanyakan alasannya pulang tanpa pamit terlebih dahulu padanya tetapi Niken kembali teringat bahwa pasti saat ini calon suaminya itu sedang berada di perjalanan. Niken pun memutuskan untuk menemui Nabila dan bertanya padanya. Tetapi keanehan kembali terjadi. Pintu kamar Nabila terkunci dan sudah berkali-kali Niken mengetuk, pintu kamar itu tetap tidak kunjung dibuka.
Niken pun memutuskan masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuh dengan pikiran yang menerawang tak tentu arah. Bayu pulang tanpa pamit padanya dan Nabila tak kunjung membuka pintu untuknya. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada apa dengan mereka berdua?
***
"Loh kalian belum tidur?" Suara si papa mengejutkan Marsya dan Marcel yang tengah asyik mendengarkan cerita mamanya. Mereka kompak menoleh dan melihat kepala rumah tangga itu berjalan mendekati mereka dan ikut bergabung duduk di sofa yang tidak terlalu besar itu.
"Tamunya udah pulang, Pa?" tanya Marcel yang sudah mulai lirik-lirikan dengan sang kakak.
"Udah barusan. Kirain papa kalian udah masuk kamar semua. Ini udah hampir pukul sebelas malam loh. Membahas apa sih kok sampai lupa waktu gitu?"
"Ra ha si a," ucap Marsya membuat papanya mendengus dan menggelengkan kepala.
"Udah pukul sebelas, tidur ah. Udah malam ternyata." Marcel beranjak dari duduknya diikuti oleh Marsya. Tinggallah Niken dan suaminya yang tertinggal.
__ADS_1
Niken pun bangkit dan mengajak suaminya untuk kembali ke peraduan.
"Bahas apa sama anak-anak kok sampai lupa waktu gitu?" Suami Niken bertanya saat mereka sudah merebahkan badan di ranjang.
"Ra ha si a," jawab Niken menirukan gaya berbicara Marsya ketika di beri pertanyaan yang sama.
Suami Niken yang sebal pun menggelitik pinggang istrinya hingga tawa menggema di ruangan itu. Niken paling tidak bisa bila disentuh pinggangnya. Ia akan geli dan kelemahan itu diketahui suaminya. Jadilah bila sang suami sedang sebal, ia akan menggelitik pinggang istrinya.
"Mama nggak membahas hal-hal yang buruk tentang Papa kan?" Suami Niken sepertinya masih penasaran dan menanyakan kembali mengapa istri dan anak-anaknya belum tidur bahkan sampai ia selesai menjamu tamu.
"Emang Papa punya hal yang buruk? Papa itu istimewa dan kami di rumah ini sangat beruntung mempunyai kepala rumah tangga seperti Papa," gombal Niken membuat wajah sang suami bersemu merah.
Gemas dengan kelakuan sang istri, suami Niken pun menundukkan wajah dan mencium bibir mungil istrinya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ******* panjang mengisi malam.
***
Niken tidur hanya 5 jam malam ini. Pikirannya berkecamuk hingga mata sulit terlelap. Satu jam setelah kepulangan Bayu, Niken mencoba menelepon dan ternyata nomornya tidak aktif hingga satu jam kemudian pun nomor itu tetap tidak aktif. Niken khawatir tetapi tidak tau harus berbuat apa. Menelepon Nabila pun sama saja, nomornya juga tidak aktif. Membuat Niken kembali bertanya-tanya ada apa dengan mereka berdua?
"Nik, Nabila pergi tadi. Pagi-pagi buta udah berangkat." Niken terkejut mendengar pemberitahuan yang disampaikan Mira, penghuni kos ini juga.
"Kemana?" tanya Niken khawatir karena walau bagaimanapun Niken cemas dengan keadaan Nabila yang tengah mengandung dan bila pagi hari selalu muntah-muntah.
"Aku udah tanya tadi, tapi dia cuma jawab mau pulang. Emang dia nggak pamit sama kau, Nik? Kalian kan dekat?" Niken menggeleng karena memang Nabila tak mengatakan apa-apa tentang kepulangannya.
Niken pun pamit kepada Mira dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tahunya. Sesampainya di butik, Niken mencoba menelepon Bayu untuk menanyakan keadaannya juga keadaannya Nabila. Kebetulan juga jam belum menunjukkan waktu untuk mereka mulai bekerja.
Nomor Bayu belum juga aktif membuat Niken lemas dan menumpukan badan ke kursi kerjanya. Nomor Nabila pun juga tidak aktif. Niken jadi berpikir untuk mengunjungi mereka. Tidak tau harus mengunjungi siapa dulu untuk menanyakan kabar.
__ADS_1
Kemarin Niken sempat menawarkan agar Nabila pulang ke rumah tuanya dan segera mendapatkan perawatan maksimal tetapi Nabila menolak dan sekarang Nabila tanpa pamit padanya tiba-tiba pulang ke rumah orang tuanya. Apa ngidam Nabila semakin parah dan dia tidak mampu lagi menahannya dan memutuskan pulang?
Apa Bayu yang mengusulkan ide itu dan Nabila langsung menyetujuinya? Nabila langsung pulang kerumah orang tuanya setelah bertemu Bayu.
Berbagai macam tanya memenuhi benak Niken tetapi dia harus tetap fokus bekerja. Biarlah nanti sore ia akan mengunjungi salah satu dari mereka untuk memastikan keadaan calon suami dan sahabatnya tersebut.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.
Niken mendesah dan menghembuskan napas kasar begitu lagi-lagi nomor Nabila dan Bayu tidak aktif. Ingin menelepon orang tua mereka tetapi ia tidak punya nomornya.
"Kenapa Nik?" tanya Anni sesama karyawan di butik Salwa heran melihat Niken yang hanya mengaduk-aduk makanannya dan sibuk dengan ponsel.
"Nelpon nomor orang dari kemarin nggak aktif mulu, sebel aku!" sungut Niken sembari menyedot minumannya.
Saat ini mereka sedang istirahat makan siang dan Niken di temani Anni sesama desainer di butik Salwa.
"Ganti nomor kali," sahut Anni.
Niken menggeleng dan meletakkan ponselnya untuk melanjutkan makan siang yang entah mengapa terasa hambar di lidahnya. Mana mungkin secepat itu mereka ganti nomor. Sebelum mereka berbincang berdua, hubungan mereka masih baik-baik saja dan sekarang mereka menghilang secara tiba-tiba.
Begitu jam menunjukkan pukul 5 sore, Niken bersiap untuk pulang dan rencananya ia akan mengunjungi rumah Nabila agar mengetahui kondisi terkini sahabatnya itu. Di telpon nomor Nabila dan masih tidak aktif. Nomor Bayu juga masih tidak aktif. Sampai ponsel Niken berdering dan menampilkan nomor mama memanggil.
"Halo Ma," sapa Niken ceria. Senang mendapatkan telepon dari mamanya.
"Halo Nik. Kamu bisa pulang kerumah nggak?" tanya mama Niken bernada panik membuat Niken juga ikut terbawa panik.
"Kenapa Ma? Mama nggak kenapa-kenapa kan?"
__ADS_1
"Bayu tadi datang kerumah dan membatalkan pernikahan kalian."
Ucapan mamanya bagai petir di siang bolong di telinga Niken.