
Niken memilih duduk di depan pintu kamarnya dan ikut perempuan-perempuan ini berghibah. Sedikit banyaknya ghibah dari mereka dapat menghilangkan keruwetan yang terjadi akhir-akhir ini di hidupnya.
"Pantas Nabila pindah mendadak dari kos, rupanya karena dia sukses menusuk sahabatnya sendiri. Ya ampun pelakor sekarang nggak pandang bulu ya?"
"Nggak bisa bayangin aku kalo jadi dia. Gimana ya perasaannya main hati sama pacar temannya sendiri?"
Berbagai spekulasi dan tuduhan-tuduhan bergulir dan keluar dari mulut teman-temannya membuat Niken tidak nyaman dan segera bangkit dari posisi nya yang masih duduk di depan pintu.
"Gaes, aku masuk dulu ya, capek banget, badan juga lengket mau bersih-bersih dulu biar cantik kayak kalian. Cuma aku disini yang masih dekil," pamit Niken yang langsung bergegas masuk ke kamar.
Teman-temannya sudah membubarkan diri ketika Niken selesai mandi. Mungkin hasrat kepo mereka sudah terpenuhi hingga mereka kembali ke kamar masing-masing atau bisa jadi karena waktu malam yang sebentar lagi akan datang.
Niken membaringkan tubuh ke ranjang dan menatap langit-langit kamar yang mulai kusam warnanya. Kegiatan favoritnya akhir-akhir ini. Merenungi segala hal yang terjadi. Satu misteri tentang kepindahan Nabila yang tiba-tiba sudah terkuak. Tetapi justru menimbulkan tanda tanya lain di hati Niken tentang siapa ayah yang di kandung Nabila. Mengapa harus Bayu yang menikahinya? Atau Bayu lah ayah dari bayi yang di kandung Nabila?
***
Niken masih asyik memakan bihun goreng sembari memainkan ponsel ketika suaminya datang dari arah pintu depan dan mengecup singkat pipinya. Niken melirik tetapi suaminya cuek saja bahkan mengambil sendok ditangan Niken dan ikut memakan bihun goreng di piring yang berada di depan Niken.
"Darimana? Kok aku nggak denger suara mobil?"
"Aku bawa motor, dari rumah Brian. Hari ini ada acara keluarga di rumahnya."
"Kamu ngapain kesana? Mau jadi anggota keluarga Brian?"
Suami Niken menyuapkan sendok berisi bihun ke depan mulut Niken membuat Niken membuka mulut menerima suapan itu.
"Aku ngantar barang dia yang ketinggalan di showroom, nggak tau juga kalo ada acara di rumahnya. Oya coba tebak tadi aku ketemu siapa?"
__ADS_1
Niken mengerutkan kening, "Siapa? Istrinya Brian?" tebak Niken asal.
"Sembarangan. Eh ketemu istrinya Brian juga sih tadi tapi ada yang lebih mengejutkan lagi."
"Siapa sih?"
"Aku ketemu Nabila tadi." Niken menghentikan kunyahan mie di mulutnya dan menatap suaminya dengan intens.
"Nabila siapa?" Niken merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dalam pikirannya sudah dapat menebak Nabila yang mana yang dimaksud suaminya tetapi Niken mencoba memastikan.
"Nabila anaknya tante Hani," sahut suami Niken cuek masih sambil menyiapkan mie ke mulutnya dan juga mulut istrinya.
Tidak salah lagi, Nabila mantan sahabatnya lah yang dimaksud oleh suaminya. Terakhir kali bertemu Nabila dan mantan tunangannya adalah saat Niken dan pria yang saat ini menjadi suaminya menghadiri pesta kerabat dan disana mereka bertemu secara tidak sengaja. Anak mereka sudah berumur sekitar lima tahun ketika itu dan Niken belum menikah.
"Kok dia bisa dirumah Brian? Saudaranya Brian ya?"
"Nggak tau aku. Nggak tanya-tanya juga, suami dan anaknya juga nggak kelihatan."
"Anak-anak kemana? Kok tumben sepi? Biasanya mereka selalu lengket di ketiak kamu?"
"Marsya pergi les, Marcel ijin mau kerumah temennya, ada kerja kelompok katanya. Entah jujur atau cuma alasan."
Suami Niken terkekeh geli mendengar ucapan istrinya. Tidak tau juga harus mendidik anak dengan cara seperti apa. Terlalu di kekang membuat anak justru semakin membangkang, terlalu di bebaskan juga takut anak kebablasan dan makin tak tau aturan. Itu yang menjadikan Niken dan suaminya memutuskan hanya mempunyai dua anak. Takut tidak bisa mendidik dan memberi nafkah yang layak. Mereka selama ini mendidik Marsya dan Marcel sebisa mereka, mudah-mudahan anak-anak mereka selalu di jalan kebenaran.
***
Niken baru saja menelepon Juna dan menunduk lesu, memandangi menu makan siangnya yang ia pesan dari kantin. Juna sudah berangkat kembali ke Medan dan Niken kini seorang diri. Pacar dan sahabat sudah hidup berbahagia, Juna sudah kembali bekerja. Sedangkan hati Niken masih hancur berantakan. Cinta dan benci di hatinya masih menyatu dalam hati. Membuat Niken bingung sendiri dengan perasaannya.
__ADS_1
Sepulang dari bekerja, Niken berkeliling tak tentu arah. Ia menaiki ojek pengkolan dari satu tempat ke tempat lain dan berakhir di perpustakaan terbesar di Riau, Soeman HS. Niken memilih buku yang membahas tentang ilmu kejiwaan. Buku yang mungkin akan ia pelajari lebih dalam andai saja keluarganya tidak berantakan.
Setelah puas mendekam di perpustakaan hampir 3 jam lamanya, Niken memutuskan keluar dan mencari makanan. Perutnya keroncongan. Hari sudah gelap ketika Niken sampai di luar gedung Soeman HS. Ada jalan yang khusus untuk para penjajah makanan tak jauh dari Soeman HS dan Niken melangkahkan kakinya kesana.
Ketika masih asyik berkeliling mencari makanan apa yang cocok untuk makan malamnya, Niken tak sengaja menangkap keberadaan Bayu tepat di depan penjual lumpia. Ingin menghampiri tetapi Niken ragu padahal sebelum Bayu menikah, sosoknya lah yang di cari-cari hingga tak kenal waktu dan harga diri.
"Bang Bayu!" sapa Niken dan Bayu menoleh mendengar panggilan itu.
Niken memutuskan untuk mendatangi calon mantan suaminya itu.
"Niken!" Bayu menyebut nama Niken dengan nada terkejut. Mungkin dia tidak menyangka akan menemukan Niken di tempat ini.
"Nabila kemana? Kok sendirian?" tanya Niken basa-basi. Niken melirik kantong plastik yang tengah di tenteng Bayu sedangkan Bayu melirik sekitar, banyak pengunjung yang mengisi perut disini.
"Nabila dirumah, dia tadi pengen makan lumpia katanya," jawab Bayu dengan kikuk.
"Nabila udah sehat bang? Masih muntah-muntah kalo pagi?" Walau bagaimanapun Niken ikut merawat Nabila ketika temannya itu mengalami ngidam. Sebenci apapun Niken dengan pelakor itu masih terselip rasa kasian di benaknya.
"Masih muntah kalo pagi, sembuh kalo matahari udah muncul. Kamu ada waktu, Nik? Ada yang mau aku omongin? Kita bisa ngopi di stand itu," tunjuk Bayu di sebuah stand yang khusus menjual berbagai jenis minuman kopi-kopian.
Niken melirik kembali tentengan Bayu, "Kayaknya makanan yang Abang beli udah di tungguin sama yang pesan."
Bayu jadi ikut melirik tentengannya, "Ah ini," ucap Bayu dengan wajah bingung, matanya melirik kesana-kemari mencari alasan. "Kamu tenang aja. Cuma sebentar kok. Please!" Bayu memohon membuat Niken yang selalu merasa tidak enak untuk menolak, mengangguk mengiyakan.
Mereka berjalan ke stand minuman dan memilih bangku setelah sebelumnya memesan minum terlebih dahulu. Niken sebenarnya tidak nyaman, rasa penasaran mengapa Bayu sampai menikah dengan Nabila yang kemarin sempat mencekik pikirannya dan membuat Niken sulit tidur kini muncul kembali. Padahal Niken sudah berusaha mengubur rasa penasaran itu dalam-dalam.
"Mau ngomong apa, bang?" tanya Niken setelah mereka terdiam cukup lama dan Bayu yang terus memandang wajahnya.
__ADS_1
"Maaf," ucap Bayu sendu.
"Maaf karena harus menikah dengan Nabila dan membatalkan pernikahan kita. Nabila hamil anak Abang."