Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Logika Pacaran


__ADS_3

"Ih kepo deh kamu." Hanya itu jawaban yang diberikan Nabila padahal Niken sudah penasaran setengah mati tentang siapa sosok yang tengah dekat dengan temannya ini.


"Kapan kita bisa double date?" tanya Niken masih tak putus asa menggali informasi.


Nabila diam sejenak, "Kayaknya sih nggak bakalan bisa double date. Dia jauh?"


"Di luar negeri?"


"Diluar jangkauan." Nabila menjawab dengan tawa membuat Niken hanya bisa menggelengkan kepala, ikut geli juga dengan jawaban nyeleneh Nabila.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari pernikahan Niken tinggal menghitung bulan, lebih tepatnya 3 bulan lagi. Barusan mama Niken menelepon dan mengabarkan bahwa Niken sudah bisa memulai membuat baju. Niken berencana mendesain sendiri baju yang akan dikenakannya di hari bahagianya nanti.


Di cek kembali ponsel yang tergeletak di meja dan masih belum ada pesan balasan dari Bayu padahal Niken sudah mengirim pesan dari tiga jam yang lalu. Niken menunduk untuk memeriksa rancangan gaun-gaun yang sudah selesai ia kerjakan. Pikirannya menerawang memikirkan hubungannya yang akhir-akhir ini sedikit merenggang padahal hari pernikahan sudah semakin dekat.


Entah ini perasaan Niken atau memang seperti itu kenyataannya, Bayu semakin menjauh. Jangankan menelepon dan mengirim pesan untuk memberi kabar, pesan dan telepon dari Niken saja sudah sangat jarang direspon. Niken menghela napas, mungkinkah ini ujian pra pernikahan seperti yang sering Niken dengar dari teman-temannya.


Sepulang kerja Niken memutuskan mengunjungi toko Bayu. Sudah seminggu mereka tidak bertatap muka. Bayu juga tidak pernah mengunjungi tempat kosnya walau hanya sekedar mengantar atau menjemput Niken bekerja seperti yang dulu sering ia lakukan.


Begitu sampai di kediaman Bayu yang merangkap juga sebagai tempat fotokopi, Niken menemukan Bayu sedang bersiap untuk menutup pintu toko. Ia terkejut mendapati Niken berada di tempatnya di waktu yang hampir pukul 6 sore ini.


"Loh, kok datang nggak ngabarin si dek?" tanya Bayu begitu Niken duduk turun dari ojek online yang dinaikinya. Setelah mengembalikan helm, Niken berjalan di samping Bayu yang menggandeng tangannya.


"Bukannya Abang ya yang nggak balas pesan dan angkat telpon ku?" Niken menjawab pertanyaan Bayu dengan tanya kembali.

__ADS_1


"Masa sih? Seharian toko ramai, Abang nggak sempat ngecek ponsel." Bayu memberi alasan yang di iyakan saja oleh Niken. Bukan hanya sekali ini saja Bayu mengabaikan pesan da telpon dari dirinya. Kalau bukan karena tidak ada kabar, malas sekali rasanya Niken jauh-jauh dari kota ke kediaman Bayu disaat badannya juga remuk ingin meminta untuk beristirahat. Niken beberapa kali mengunjungi kediaman Bayu ini tapi biasanya Bayu yang mengajak. Ini pertama kalinya Niken datang tanpa ada ajakan dari Bayu.


Bayu mengajak Niken masuk kedalam dan melanjutkan menutup toko. Ada pintu belakang yang bisa mereka gunakan untuk akses keluar masuk bila toko sudah tutup.


"Kamu lagi dirumah mama ya dek, kok bisa sampai sini?"


Tuh kan!


Karena buruknya komunikasi mereka akhir-akhir ini, Bayu sampai tidak tau bahwa Niken rela ijin pulang cepat agar dapat menemuinya.


"Aku ijin pulang dari jam 4, makanya jam segini bisa sampai sini." Nike menjawab setelah sampai di ruangan tempat Bayu biasa mengistirahatkan badan.


"Makan ya! Tadi mama kirimin sop ayam." Niken yang memang sudah kelaparan pun diam saja ketika Bayu membuka rantang kiriman dari orang tuanya. Rumah orang tua Bayu hanya berjarak satu kilo meter dari toko ini, jarak yang dekat sebenarnya tetapi Bayu lebih memilih tinggal sendiri daripada ikut kedua orang tuanya dengan alasan agar toko lebih terpantau.


Bayu diam sejenak dan mengangguk, "Cetak undangan juga Abang udah pilih desain yang menurut Abang bagus. Nanti kamu liat ya, kalo nggak cocok kita pilih desain lain."


Lumayan juga perihal undangan ini, Niken dan keluarga tak perlu repot-repot keluar biaya karena Bayu yang terbiasa mencetak undangan untuk berbagai acara bersedia mencetak ratusan undangan secara cuma-cuma.


Selesai makan, Niken memilih melanjutkan bersih-bersih. Ada sepotong baju dan celananya yang tertinggal disini sewaktu Niken berkunjung dan kehujanan.


"Ini bagus." Komentar Niken begitu usai bersih-bersih dan kini sedang duduk santai di ruang kerja Bayu. Mereka tengah memilih desain undangan yang cocok dan sesuai selera mereka.


"Udah fix yang ini?" tanya Bayu memastikan. Niken mengangguk dan sudah suka dengan desain serta pilihan warna hitam yang terdapat di undangan itu.

__ADS_1


Bayu menyimpan undangan pilihan mereka agar memudahkan untuk mencetaknya dan tidak tercampur dengan yang lain.


"Kamu tumben datang kesini tanpa aku ajak?" tanya Bayu begitu sudah duduk kembali di sebelah Niken. Tangannya membelai pipi dan menyelipkan rambut Niken ditelinga.


"Abang akhir-akhir ini susah dihubungi kan? Abang juga udah jarang main ke kos aku? Kenapa?" tanya Niken mengeluarkan uneg-uneg yang belakangan ini mengganggu pikirannya.


"Jadi ceritanya kamu kangen nih?" goda Bayu masih dengan tangan membelai pipi Niken.


"Emang nggak boleh aku kangen sama calon suami sendiri?"


"Ya boleh dong. Abang seneng malahan." Bayu menjawab dengan tawa dan memajukan wajahnya untuk ******* bibir pink Niken.


Niken yang sudah terbiasa dicium Bayu pun membalas ciuman itu. Masih dengan posisi duduk, Bayu menurunkan bibirnya untuk mengecap leher Niken. Niken berusaha menjaga kewarasan karena sebentar lagi Bayu pasti akan lebih turun lagi untuk menjelajah dan mencoba melepas kancing kemeja yang dikenakannya.


Dan benar saja! Niken langsung menahan tangan Bayu begitu tangan itu mulai usil melepas kancing bajunya. Gelengan kepala dari Niken membuat Bayu menghentikan aksinya. Bayu berdiri dan mencium kening Niken tanpa mengatakan apapun. Selanjutnya ia melangkah ke kamar mandi.


Niken menghembuskan napas dan mengancingkan kembali kancing kemeja yang sempat terlepas satu. Niken tau Bayu kecewa karena ia selalu menolak bila Bayu meminta lebih. Tapi Niken selalu memegang teguh prinsipnya. Tak kan berbuat macam-macam sebelum menikah. Cukup bibir dan leher saja yang boleh di akses oleh lidah Bayu.


Setengah jam kemudian Bayu muncul dari kamar mandi. Niken melirik dan melanjutkan bertukar pesan dengan Juna. Rupanya Bayu sekalian mandi dan kini tengah mengenakan baju. Niken memfokuskan pandangan ke ponsel agar tidak menatap tubuh kekar Bayu.


"Kamu tidur disini ya? Besok pagi-pagi abang antar ke kos." Bayu langsung merebahkan badannya di ranjang dan menarik Niken dalam pelukannya. Ponsel di tangan Niken terlepas.


"Aku rencana mau pulang kerumah mama," sahut Niken pelan dan menyamankan posisi tidurnya.

__ADS_1


"Besok sore Abang jemput lagi biar bisa ke rumah mama. Malam ini tidur disini ya?" bujuk Bayu lagi.


__ADS_2