Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Kabar Mengejutkan 2


__ADS_3

Dengan linglung Niken memesan ojek online dan memilih pulang kerumah orang tuanya. Ia tidak jadi pergi kerumah Nabila ataupun ke rumah Bayu. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai dugaan dan tanya, mengapa Bayu tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka.


Satu jam perjalanan yang ditempuh Niken terasa sangat lama. Berkali-kali Niken melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Niken sendiri bingung, dia memburu waktu tapi tidak tau untuk apa. Mamanya menelepon dan hanya memberi tau perihal pembatalan itu tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Begitu sampai di rumah orang tuanya, Niken langsung berlari dan mencari keberadaan mamanya. Ditemukannya mamanya sedang duduk termenung di sofa depan televisi.


"Ma." Niken datang dan langsung memeluk mamanya. Mama Rumila terlihat meneteskan air mata ketika melihat kedatangan anaknya. Buru-buru ia seka agar Niken juga tidak ikut menangis sepertinya.


"Apa yang terjadi ma?" tanya Niken yang masih berada dalam dekapan mamanya.


"Seharusnya mama yang tanya begitu Nik. Apa yang terjadi? Kalian bertengkar? Kenapa kamu nggak bilang sama mama?" Mama Niken memandang sendu wajah anaknya.


Niken menggeleng antara sedih dan bingung dengan kondisi yang ia alami saat ini, "Aku nggak ada berantem sama bang Bayu, Ma, hubungan kami baik-baik aja bahkan tadi malam bang Bayu masih datang ke kos. Kemarin juga dia masih datang dan kami makan mie goreng bareng." Niken memberi penjelasan kepada mamanya.


"Kenapa mereka membatalkan rencana pernikahan ini ma?" Niken bertanya dengan mata yang sudah berembun.


"Mama juga nggak tau, Nik. Tadi siang Bayu dan kedua orang tuanya datang. Mereka bilang, pernikahan ini nggak bisa di lanjutkan," ucap mama Niken menyampaikan apa yang ia dengar siang tadi dari mulut Bayu, mantan calon menantunya.


"Apa mereka bilang ke mama alasannya apa ma?" tanya Niken penasaran tetapi justru gelengan kepala mamanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Niken terdiam lesu dan tiba-tiba teringat dengan papanya, "Apa papa udah tau kabar ini ma?"


"Mama udah telepon papamu dan papamu bilang mau pulang tapi mama larang, toh papamu pulang pun keadaan tidak akan berubah kan, Nik?" Niken membenarkan ucapan mamanya. Niken juga khawatir kepulangan papanya justru akan menimbulkan keributan. Niken takut papanya tidak dapat menahan emosi dan berakhir mendatangi Bayu dan keluarganya.


"Sudah jangan terlalu dipikirin, nanti kita bicarakan lagi. Mungkin ada kesalahan yang tidak kamu sadari dan kurangnya komunikasi buat Bayu jadi nekat ambil keputusan sepihak," hibur mama Niken.


Jangan dipikirin. Mana mungkin Niken bisa tidak memikirkan masalah ini. Ini bukan tentang putus cinta biasa, berpacaran lalu putus komunikasi. Ini sudah masuk ke ranah serius dimana tak hanya hati yang jadi pertaruhan tapi juga harga diri dan beban malu yang harus ditanggung.


"Kamu mandi dan istirahat ya. Pasti capek pulang kerja langsung kesini. Mama mau nyiapin makan malam dulu." Niken ikut beranjak dari posisi duduknya ketika mamanya sudah berjalan menuju dapur.


Memasuki kamar, Niken langsung menenggelamkan wajahnya di tumpukan bantal dan menjerit sekuatnya. Niken bisa saja tidak menangis di depan mamanya, itu semua dikarenakan sekuat hati dan tenaga ia meredam amarah dan kecewa.


Setelah puas menangis, Niken segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Isakan masih sesekali terdengar. Ingin berhenti menangis tetapi air mata tak bisa surut mengalir.


Selesai mandi, Niken bercermin dan menemukan matanya sedikit membengkak. Niken menghela napas, mamanya pasti akan bertanya macam-macam.


Niken mencoba peruntungan dengan mencoba kembali menelepon Bayu, tetapi nomornya belum juga aktif. Menelepon Nabila pun sama saja. Mereka seperti kompak mematikan ponsel setelah percakapan mereka malam itu.


Niken keluar kamar dan menemui mamanya di meja makan. Terhidang berbagai jenis makanan yang kebanyakan adalah makanan kesukaannya. Tetapi semua makanan itu tak menggugah selera Niken. Niken merasa seperti sudah menghabiskan tiga piring nasi alias kenyang.

__ADS_1


Niken tetap mengisi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk yang sudah dimasak mamanya walaupun dengan porsi yang sangat sedikit. Mamanya hanya melirik dan tak memberi komentar apa-apa. Mungkin mamanya mengerti dengan kondisi mental Niken yang sedang terguncang hari ini. Niken tidak menangis di depannya tetapi mata itu tak bisa berbohong. Ada sembab di mata itu setelah anaknya masuk kedalam kamarnya.


Mereka makan dalam diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Satu yang di syukuri oleh mama Niken bahwa anaknya masih mau menyentuh nasi walau terlihat dengan sangat jelas tidak ada gairah untuk makan disana.


"Kamu terakhir komunikasi dengan Bayu kapan, Nik?" tanya mama Niken ketika mereka sudah selesai makan malam dan kini tengah duduk di ruang keluarga yang merangkap juga dengan ruang untuk menonton televisi.


"Tadi malam Bayu datang ke kos ma karena Nabila yang minta walaupun lewat aku sih. Setelah mereka berbincang berdua tiba-tiba bang Bayu langsung pulang tanpa pamit. Aku telepon nomornya nggak aktif sampai detik ini. Nabila juga aku samperin kamarnya nggak di buka, tadi pagi malah pulang kerumah orang tuanya tanpa pamit sama aku. Aku telepon nomornya sampai sekarang nggak aktif." Panjang lebar Niken menjelaskan kejadian aneh semenjak kemarin malam minus tentang kehamilan Nabila karena Niken jadi meragukan kepemilikan tespek itu. Benarkah itu Nabila yang memiliki?


"Ada masalah apa mereka?"


"Aku juga nggak tau ma?" Niken menjawab lesu.


"Padahal sepulang kerja tadi rencananya aku mau ke rumah Nabila. Tanya kabar sekalian liat kondisi dia. Nabila lagi sakit udah tiga hari ini."


Mama Niken diam tidak menanggapi ucapan anaknya. Dia terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu. Keputusan Bayu yang tiba-tiba menimbulkan beribu tanya di benak ibu dan anak itu.


"Besok jangan kerja ya. Libur aja dulu." Saran mama Niken. Ia tidak tega membiarkan anaknya bekerja disaat pikirannya sedang kalut.


"Aku udah libur dua hari kemarin ma karena ngerawat Nabila yang sakit. Aku nggak papa kok ma, mama jangan khawatir." Niken meyakinkan mamanya yang justru mendapatkan pelukan dan isak tangis mamanya.

__ADS_1


Niken yang patah hati tetapi mamanya yang sakit hati. Setiap ibu di dunia ini pasti tak kan rela anaknya tersakiti. Apalagi Niken anak semata wayangnya yang selalu ia manja dan masih terlalu muda sebenarnya untuk mengarungi biduk rumah tangga.


__ADS_2