
Niken tersenyum canggung, tak membalas gurauan Anjas. Tangannya dingin dan sepertinya Andre menyadari itu. Diajaknya Niken mendekat dan menyalami seluruh anggota keluarganya. Ternyata Andre tiga bersaudara. Dia sulung dan dan mempunyai dua adik, Anjas dan Anita si bungsu.
Ibu Andre segera menyuruh mereka menuju meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah ia siapkan karena jam makan malam yang sudah tiba.
"Kata Andre, hari ini hari jadian kalian yang pertama jadi ibu sengaja nyiapin makan malam yang agak istimewa. Semoga nak Niken suka ya," ucap ibu Andre.
"Makasih bu, aku suka kok. Semua makanan aku makan."
Mereka duduk di kursi masing-masing dan mulai menyendokkan makanan yang tersaji di meja.
"Kakak ipar, makan yang banyak, selagi gratis, nanti hari senin bayar," celetuk Anjas mencoba menghilangkan raut tegang yang masih jelas terlihat di wajah Niken.
Niken menendang kaki Anjas melalui kolong meja, kebetulan mereka duduk berhadapan. Apalagi semua terkekeh geli mendengar celetukan sohib Juna ini, membuat Niken bertambah canggung saja.
"Oya, kalian dulu sekelas ya kan?" tanya ibu Andre sambil memandang kekasih anaknya itu.
"Iya Bu, sama Anjas dulu sekelas, kak Andre kakak kelas." Niken menyahut setelah meletakkan sendok di atas piring karena makanannya sudah habis.
"Udah kenal lama dong." Ayah Andre yang kali ini ikut bersuara. Dia tak banyak bicara selama Niken datang.
"Lumayan om."
Mereka melanjutkan obrolan di ruang keluarga. Setelah sebelumnya Niken ikut membereskan makanan di meja dan mencuci piring bersama Anita. Awalnya ibu Andre melarang calon menantunya itu mencuci piring tetapi Niken yang tak enak hati tentu saja keras kepala dan memaksa untuk ikut Anita mencuci piring juga.
"Kalian kan udah lama kenalnya, pacaran juga udah satu tahunan. Kapan mau serius melangkah ke pelaminan," ucap ayah Andre sambil menyeruput kopi yang disajikan istrinya.
Anita masuk ke dalam kamarnya dengan dalih mengerjakan PR sedangkan Anjas pergi ke halaman rumah menerima telepon. Mungkin dari kekasihnya.
__ADS_1
"Masih lama Yah. Kami masih muda, ngapain sih nikah buru-buru," elak Andre yang masih teringat dengan jelas bahwa Niken belum siap untuk berumah tangga.
Niken sendiri disinggung tentang pernikahan, sedikit ketakutan. Bayangan tentang gagalnya pernikahan dengan Bayu dulu terbayang di ingatan. Itu sebabnya ia tak mau buru-buru merencanakan pernikahan walaupun keinginan menikah itu masih menggebu di hatinya.
"Ngapain pacaran lama-lama. Nanti malah berbuat yang nggak-nggak dan ngelakuin hal yang dilarang agama. Mending di segerakan. Ayah ibumu dulu, ketemu sekali, cocok langsung menikah." Nasehat ayahnya membuat Andre menggeleng.
"Itukan jaman dulu, Yah, ketemu cocok langsung nikah. Nanti kalo kami udah siap ke jenjang pernikahan, kami pasti ngomong kok. Percaya sama kami, kami nggak bakalan ngelakuin hal yang nggak-nggak sebelum waktunya."
Ayah Andre hanya bisa menghela napas pasrah mendengar argumen dari anaknya. Sejujurnya dia sudah tidak sabar untuk melihat anaknya menikah dan ia bisa segera menimang cucu. Tapi bila anaknya tak ingin terburu-buru ia bisa apa?
Niken berpamitan setelah mengobrol tak tentu arah dan waktu yang semakin malam. Niken takut gerbang kos nya sudah tertutup bila ia pulang kemalaman. Begitu keluar rumah, terlihat Anjas yang masih asyik menelepon dan duduk di ayunan yang berada di bawah pohon mangga. Niken sempat berpamitan juga kepadanya.
"Makasih ya, udah mau nemuin keluarga kakak," ucap Andre begitu mereka sudah sampai di kosan Niken. Andre masih duduk di motornya dan niken turun lalu berdiri di samping Andre.
"Makasih juga udah diajak ketemu sama keluarga kakak, yah walaupun dengan kondisi kucel begini dan maaf juga aku belum pernah ngenalin kakak di keluarga aku," ringis Niken tak enak hati.
"Kak, aku ngerasa nggak enak hati sama orang tua kakak. Sepertinya mereka pengen kakak cepet-cepet nikah."
"Udah jangan dipikirin kalo kamu belum siap. Semua orang tua pasti pengen anaknya cepat berumah tangga."
Andre mengeluarkan kotak berwarna biru dari dalam kantong celananya dan membukanya tepat di hadapan Niken. Ada sebuah cincin didalam kotak itu.
"Kak." Niken mundur selangkah karena takut Andre akan melamarnya.
"Ini hadiah dari kakak. Kamu pakai ya? Ini bukan cincin tunangan kok," hibur Andre menenangkan Niken yang pucat.
Andre meraih tangan Niken dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Ukurannya pas dan Niken sempat tersenyum karena cincin itu terlihat manis di jarinya.
__ADS_1
"Makasih. Maaf, aku nggak punya kado apa-apa untuk kakak." Andre hanya tersenyum memaklumi karena Andre paham Niken lupa dengan hari jadi mereka.
"Kak, kalo orang tua kakak udah nggak sabar pengen lihat kakak menikah, lamar aku sebulan sebelum hari pernikahan, aku nggak mau berlama-lama lamaran dan berujung kegagalan."
Andre terdiam setelah mendengarkan ucapan Niken. Andre merasa itu termasuk persyaratan yang harus Andre penuhi bila memang ia serius ingin menjalin hubungan yang lebih tinggi dengan Niken. Di lingkungan mereka, tidak di faktorkan harus berapa lama jangka waktu yang di butuhkan antara pertunangan dan pernikahan. Tetapi lamaran dan sebulan kemudian menikah itu terlalu cepat untuk Andre. Kondisi keuangannya belum selancar itu. Apalagi biaya pernikahan tidak sedikit.
"Kenapa harus sebulan, Nik? Kakak merasa itu terlalu cepat," tolak Andre pelan dan ragu-ragu, takut menyinggung Niken.
"Aku nggak mau tunangan lama-lama kak. Kalo kakak memang belum bisa memenuhi syarat yang aku ajukan, nggak papa kok. Aku bisa nunggu." Niken berucap sembari tersenyum.
Yah! Niken harus bisa memahami setiap ekonomi orang pasti berbeda-beda. Jika melihat rumah sederhana yang di tinggali Andre, sepertinya Andre memang belum memiliki perekonomian yang stabil dan Niken harus paham itu. Bayu yang sudah mempunyai usaha cukup lancar saja membutuhkan waktu satu tahun untuk mempersiapkan pernikahan walaupun berujung kegagalan.
"Kakak nggak tau mau bilang apa. Usaha kakak belum stabil. Omset penjualan martabak masih naik turun." Andre berujar lemas membuat Niken tidak tega.
"Udah nggak perlu di pikirin kak, aku juga belum mau buru-buru berumah tangga." Aku juga takut gagal lagi, sambung Niken dalam hati.
"Setelah menikah, kita juga harus pikirin kan tinggal dimana. Kakak nggak mau setelah menikah kita masih tinggal sama orang tua tapi kakak juga nggak tega biarin kamu tinggal di rumah kontrakan. Bagaimana kalau kita tunangan dulu sambil kakak ngumpulin uang untuk biaya nikah dan nyicil rumah," usul Andre semangat tetapi Niken justru menggeleng.
Niken senang, Andre sudah berpikir jauh tentang kehidupan setelah menikah tetapi tetap saja ada ketakutan tersendiri dalam diri Niken bila harus bertunangan terlebih dahulu. Bayang-bayang kegagalan bersama Bayu dulu masih menghantui.
"Kalau mengumpulkan uang untuk nyicil rumah, aku oke tapi kalo untuk tunangan dulu, aku nggak mau kak. Lebih baik kita jalani aja hubungan ini pelan-pelan sambil kita cari solusi masalah biaya nikah dan lainnya."
"Kenapa kamu nggak mau bertunangan dulu Nik?" tanya Andre penasaran.
"Aku pernah gagal menuju pernikahan kak," ucap Niken pelan.
"Tiga bulan sebelum pernikahan, tunangan ku membatalkan rencana pernikahan kami dan memilih menikah dengan orang lain. Aku takut, kalo bertunangan terlalu lama akan berujung dengan kegagalan kembali."
__ADS_1
"Semua itu tergantung dengan individunya Nik bukan tentang berapa lamanya kita bertunangan," ujar Andre meyakinkan Niken bahwa selama ini ia hanya ketakutan semata. Andre sendiri takut bila tidak segera melamar Niken, Niken akan berpaling darinya.