Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Traktiran


__ADS_3

"Ih, aku juga geli kali ma, kalo ditaksir sama cowok setengah melambai gitu." Marsya bergidik dan tak sadar telah membuat Niken terdiam menghentikan ceritanya dan melirik Marsya.


"Hey Paizem, jangan salah ya, cowok melambai itu kalo udah marah dan terganggu dia bakalan sangar tau, lebih sangar dari cowok yang ngaku-ngakunya macho," sengit Marcel yang sepertinya tidak terima kaumnya di sepelekan.


"Masa?" celetuk Marsya masih menyepelekan, bahkan ia sampai menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "kau kalah dong sangarnya, kau kan sering banget tuh sok ngaku-ngaku paling macho padahal mah aslinya ngondek juga."


"Hey, sembarangan kau Markonah, aku memang macho ya. Papa aja kalah ganteng sama aku, jadi jangan heran kalo banyak cewek-cewek main kerumah kita karena sebenarnya mereka itu lagi caper aja sama aku." Lagi-lagi Marcel berkata dengan sengit. Marsya memutar bola mata  dan memperagakan gerakan mau muntah.


Niken diam tak melerai, karena memang ia terhibur dengan perdebatan yang selalu terjadi diantara anaknya. Setelah di lihat-lihat dan di amati, Marcel memang lebih tampan dari papanya. Walau banyak yang bilang Marcel mirip papanya.


"Ma, si Mulyono pernah marah yang sampek menunjukkan ke machoannya nggak? Soalnya ada temenku yang sedikit melambai gitu dan dia kalo lagi ngamuk serem banget, walaupun dia jarang marah sih."


"Itu sih kau menceritakan diri sendiri," sahut Marsya dan tertawa ngakak.


"Pernah nggak ya?" Niken berusaha mengingat sembari tangannya merangkul Marcel dan mengusap kepalanya lembut agar ia tidak terpancing dengan celetukan-celetukan kakaknya yang jahil.


"Kayaknya sih nggak pernah, dia kalem banget anaknya, cenderung pendiam sih, diam-diam mengamati."


Niken masih berusaha mengingat dan memang ia belum pernah mendapati Mulyono marah ataupun tersinggung.


"Tapi ada satu kejadian waktu itu," lanjut Niken yang langsung membuat anak-anaknya fokus untuk mendengarkan kelanjutan cerita mamanya


***


"Anak-anak pada kenapa sih?" Adila bertanya sembari memasukkan sepotong kue kedalam mulutnya.


Jam pelajaran memang berlangsung seperti biasanya tetapi begitu lonceng istirahat berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas dan tak lupa berhenti sejenak untuk sekedar menggoda Niken dan Mulyono. Ada saja celetukan-celetukan nyeleneh yang terlontar. Adila yang tadi pagi masuk tepat saat jam pelajaran akan dimulai dibuat heran dengan tingkah teman-temannya. Mereka memang biasa menggoda Niken dengan Mulyono tetapi entah mengapa hari ini godaan mereka lebih sering.


Niken menghembuskan napas mendengar pertanyaan Adila. Salsa dan Marwah jadi menoleh kearahnya.


"Napa lo?" Marwah bertanya walaupun nadanya terlihat jutek tapi Niken tau Marwah begitu peduli terhadapnya setelah Adila.


"Gue capek sekolah disini. Tiap hari di ceng-cengin anak-anak melulu."

__ADS_1


"Emang kenapa lagi sih, Nik? Lo masih digodain sama Mulyono?"


"Woy, mata lo bisa biasa aja nggak? Keluar lo, eneg gue lihat muka lo!" Adila berteriak sembari menggebrak meja. Membuat Niken, Marwah dan Salsa tersentak kaget.


Rupanya Adila sedang berteriak pada Mulyono. Syukurnya dikelas hanya ada mereka berlima, anak-anak yang lain memilih pergi ke kantin daripada berdiam diri di kelas. Mulyono yang rupanya juga kaget dengan gebrakan meja Adila beranjak keluar tanpa mengatakan apa-apa. Raut wajahnya terlihat biasa saja walaupun Adila sudah melotot galak. Dan raut wajah Mulyono berubah setelah berpapasan dengan rivalnya dalam merebut hati Niken.


Rayya.


Mereka berpapasan tepat didepan pintu kelas. Rayya sampai terheran-heran mendapati raut masam adik kelasnya itu. Diikutinya Mulyono dengan pandangan matanya sampai Mulyono menghilang dibalik lorong.


"Sebel gue, matanya nggak capek apa ya tiap detik ngarah kesini mulu." Adila mengomel begitu Mulyono beranjak dari bangkunya. Mereka tidak menyadari bahwa Mulyono berpapasan dengan Rayya didepan pintu kelas.


"Bukan ngarah ke arah lo juga kan, Dil, dia cuma mandangin Niken doang. Gue curiga deh, jangan-jangan lo beneran cemburu ya."


"Lo nggak papa gitu, Nik, tiap detik di pandangin dia mulu?" Adila mengabaikan celotehan Salsa.


"Siapa yang tiap detik mandangin Niken?" Rayya bertanya dan tanpa permisi menarik bangku entah siapa dan mendudukinya tepat disebelah Niken. Ke empat cewek itu terdiam kaget dengan kemunculan Rayya, yang tiba-tiba.


"Tegang amat sih. Aku ganggu ya?"


"Eh enggak kok kak. Maaf kak, kami kaget kok tiba-tiba kakak ada disini?"


"Tadi aku udah janjian mau ke kantin sama Niken tapi kata Niken dia nggak pernah ke kantin jadinya aku samperin dia kesini." Adila, Marwah dan Salsa langsung menoleh kearah Niken dan menahan diri agar tidak berteriak heboh. Sementara Niken terdiam dan langsung menyodorkan kue yang masih ada diatas meja kepada Rayya.


"Makan kak, daripada ngomong nggak jelas. Pasti kakak laper kan?" Lagi-lagi Rayya tersenyum melihat tingkah Niken yang selalu terlihat lucu dimatanya.


"Kata Niken kamu sekarang jualan kue, Mar?"


"Iya kak, bantu-bantu ibu dirumah. Semenjak ibu melahirkan lagi, ibu nggak bisa jualan keliling karena repot punya anak bayi, jadinya aku bawa sebagian disekolah biar sebagian lagi dijual didepan rumah aja." Marwah menjelaskan dengan santai tanpa terlihat malu sedikitpun.


Kadang Niken salut dengan kepercayaan diri yang dimiliki Marwah. Kalau Niken seperti Marwah mungkin Niken sudah menangis setiap hari tidak mau sekolah karena malu harus sekolah sembari berjualan.


"Jadi kalian ini makan gratis atau beli?"

__ADS_1


"Kami beli ya kak." Salsa menjawab sewot karena dianggap makan gratis oleh cowok yang semenjak dirinya SD selalu satu sekolah. Rayya hanya tertawa.


"Jadi hari ini habis nggak jualannya?" Rayya bertanya sembari mengemil kue yang tadi disodorkan Niken.


"Lumayan kak, setiap hari selalu habis. Ini tadi sengaja di sisain buat dibeli sama mereka." Marwah menunjuk temannya satu persatu.


"Sisa hari ini aku yang bayar ya."


"Serius kak?" Adila dan Salsa bertanya kompak. Niken dan Marwah berpandangan. Rayya hanya mengangguk dan mengeluarkan uang dari saku celananya dan menyerahkan kepada Marwah.


"Aku ke kelas dulu ya. Selamat belajar Niken." Rayya beranjak dari duduknya setelah sebelumnya mengusap puncak kepala Niken yang sedari tadi tak bersuara dengan tangannya yang tak terkena minyak gorengan.


"Nikeeeeeenn!" Seperginya Rayya dari kelas, Adila, Marwah dan Salsa langsung menjerit heboh.


"Niken, lo diam-diam menghanyutkan ya. Sebel gue sama lo." Setelah berteriak heboh dan menyerbu Niken dengan guncangan-guncangan maut ditubuhnya sampai Niken meringis pusing, Salsa berujar setengah merajuk.


"Iya nih, nggak asyik lo udah pedekate sama kak Rayya tapi diam-diam aja nggak mau cerita." Adila pun ikut-ikutan merajuk. Niken jadi meringis tak enak hati.


"Siapa yang pedekate sih? Aku cuma beberapa kali pulang bareng naik bus kok. Diantar pulang naik motor nya pun pernah sih tapi cuma sekali habis itu duduk-duduk di taman dekat sekolah itu, ditraktir es krim juga."


"Nikeeeenn!" Lagi-lagi mereka menggoyang badan Niken saking gemasnya.


"Girls, kalian denger nggak tadi waktu kak Rayya nanya jualanku? Dia sempat bilang kata Niken kamu jualan, Mar? Berarti hubungan mereka sepertinya sudah sampai ke tahap selanjutnya. Sudah saling berbagi cerita girls." Kali ini Marwah yang berujar.


"Ih apaan sih. Nggak ya, aku masih temenan sama dia, nggak ada hubungan apa-apa."


"Udah sampek janjian di kantin loh." Salsa yang memang selalu hobi menggoda itu seperti menemukan mainan baru untuk jadi bahan godaannya.


"Salsaaa!" Niken gemas sekaligus malu.


"Kami tuh nggak janjian, dia memang ngajakin ke kantin bareng tadi pagi tapi aku bilang kalo aku nggak pernah ke kantin karena kami biasa makan kue jualannya Marwah di dalam kelas."


Niken berusaha menjelaskan agar teman-temannya berhenti menggodanya. Tapi reaksi teman-temannya justru tersenyum-senyum sembari menganggukkan kepalanya berulang kali seolah tak percaya dengan penjelasan Niken membuat Niken menjerit tertahan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tingkah Niken tak pelak membuat ketiga temannya tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


__ADS_2