Namamu Rahasia

Namamu Rahasia
Ditembak


__ADS_3

Juna melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan tiba-tiba membelokkan arah motornya ke sebuah toko percetakan yang Niken masih ingat benar toko ini kepunyaan teman Nabila yang bernama Bayu.


"Ngapain, Jun?" tanya Niken heran.


"Mau beli alat tulis," jawab Juna singkat dan melenggang ke dalam toko. Niken mengikuti langkah Juna dan ikut melihat-melihat barang apa saja yang akan di beli Juna.


Niken melirik Bayu yang belum menyadari kehadirannya karena keadaan toko pagi ini yang lumayan ramai. Niken dan Juna sendiri dilayani oleh seorang karyawan perempuan. Niken berbalik dan hendak pergi keluar toko ketika mendengar seruan Bayu yang memanggil namanya.


"Niken!" Niken berpaling kebelakang begitupun Juna dan mereka mendapati Bayu yang berjalan terburu-buru menghampiri Niken.


"Udah sehat?" tanya Bayu tersenyum.


"Udah bang, abang tadi malam datang kerumah, ya?" tanya Niken basa-basi. Juna melirik Niken dan mengerutkan kening.


"Iya, tapi kamu masih istirahat, jadi abang pulang lagi, takut ngeganggu waktu kamu." Bayu menjawab pertanyaan Niken sambil sesekali melirik Juna yang terang-terangan menguping pembicaraan mereka.


"Makasih buah tangannya bang, dapat salam juga dari mama," dusta Niken


Mamanya tidak ada sama sekali menitipkan salam untuk Bayu walaupun sambutan mamanya sangat ramah, Niken hanya bingung saja mencari bahan pembicaraan yang terasa canggung.


"Sama-sama, salam juga untuk mama kamu," ucap Bayu sembari mengusap tengkuk belakangnya.


"Kami pulang dulu ya bang, permisi." Juna langsung menyeret Niken menuju motornya padahal Bayu masih ingin menanyakan mengapa sepagi ini Niken sudah berada di tokonya, harusnya kan dia masih mengikuti kegiatan di sekolah.


Sementara itu, Juna langsung mengendarai motornya dengan sedikit lebih kencang dari biasanya agar cepat sampai dirumah Niken. Begitu sampai, Juna langsung melepas helm dan duduk manis di kursi teras rumah Niken.


"Sini duduk, kau hutang penjelasan sama aku." Niken bersungut-sungut mendengar ucapan Juna dan dengan terpaksa menceritakan mengapa ia bisa mengenal Bayu dan lain sebagainya.


***


"Udah setahun kita dekat, udah banyak waktu kita lewati dan jujur aku udah nggak bisa menahan lagi rasa ini, aku suka kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?" Niken terdiam dan masih memandangi Bayu yang duduk dihadapannya. Bingung harus menjawab apa. Tidak menyangka kunjungan Bayu kali ini diselingi dengan ungkapan perasaan.


"Abang yakin suka sama aku?" tanya Niken.

__ADS_1


"Apa yang buat kamu ragu sama abang?" Bayu malah balik bertanya yang tentu saja membuat Niken semakin bingung harus menjawab apa.


Niken sendiri nyaman dengan kedekatan yang terjalin diantara dirinya dan Bayu. Bayu pria yang sopan dan ramah. Bayu juga dekat dengan kedua orang tuanya, bahkan ibunya sangat mendukung kedekatan mereka. Tapi entah mengapa Niken tidak begitu menerima kedekatan mereka atau karena Niken yang masih terlalu muda dan belum memikirkan pacaran sama sekali?


Niken bahkan masih kelas dua SMA. Walaupun Niken pernah berpacaran dengan Rayya disaat dia masih kelas satu SMP tapi Niken tidak pernah menganggap ia dan Rayya serius kala itu.


"Gimana, Nik?" Suara Bayu menyadarkan Niken dari lamunan. Bayu masih setia menanti jawaban apa yang akan diberikan Niken.


"Boleh minta waktu untuk aku berpikir, bang?" tanya Niken berharap. Bayu mengangguk dan menghela napas. Sebenarnya Bayu sudah tidak sabar mendengar jawaban Niken atau lebih tepatnya tidak ingin digantung tapi sangat egois rasanya bila mendesak Niken supaya memberikan jawaban sekarang juga.


"Kamu masih ragu sama abang, Nik?" Lagi, Bayu bertanya. Sepertinya Bayu tau Niken belum sepenuhnya ada rasa untuk dirinya padahal bila ditilik setahun kebelakang, mereka cukup dekat, sering jalan bersama, Bayu juga selalu meluangkan waktu untuk Niken.


"Bukan masih ragu bang tapi ingin lebih memantapkan hati." Niken memberi jawaban yang menurutnya masuk akal.


"Ya Abang ngerti, maaf kalo Abang terkesan memaksa, Abang akan tunggu apapun jawaban kamu, walaupun Abang sangat berharap kamu menyambut perasaan Abang. Abang pamit dulu ya, udah malam Abang nggak enak sama orang tua kamu." Bayu beranjak dari duduknya setelah sebelumnya mendapat anggukan dari Niken. Memang sekarang jam sudah menunjukkan pukul 21.45 menit.


"Hati-hati bang." Niken melambaikan tangan dan disambut Bayu dengan usapan lembut di kepala.


Didering ketiga barulah sambungan telepon Niken disambut oleh Juna. Juna sepertinya tidak berada dirumah, terbukti dari suara berisik yang menganggu telinga Niken.


"Kau dimana?" tanya Niken sambil mengencangkan volume di handphone nya agar lebih jelas mendengar suara Juna yang berisik tidak karuan.


"Aku di kafe pelangi," sahut Juna agak berteriak.


"Kok rame?" tanya Niken heran. Niken tau pasti kafe pelangi yang tak begitu jauh dari tempat tinggal mereka itu kafe tongkrongan anak muda, kafe biasa yang tidak berisik seperti ini.


"Hari ini ada penampilan perdana band dari kota, makanya berisik," jelas Juna yang sepertinya agak menjauh dari kafe karena suara berisik tadi agak berkurang.


"Ada apa?" Lanjut Juna karena diseberang sana Niken tak menyambut ucapannya. Juna sampai mengecek handphone nya barangkali sambungan sudah terputus.


"Nggak ada apa-apa," lirih Niken pelan. Sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk mencurahkan isi hati. Niken tidak mau mengganggu kegiatan Juna yang sepertinya sedang bersenang-senang.


"Oh oke," sahut Juna singkat dan langsung mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Sementara itu Niken malah melamun menghadap cermin yang berada di dalam kamarnya. Bingung dengan perasaannya sendiri. Niken suka dengan Bayu tapi tidak suka dalam artian suka terhadap lawan jenis, Niken nyaman berada di dekat Bayu tapi hanya nyaman dalam hubungan pertemanan.


Lamunan Niken terputus karena pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka dan muncul Juna yang langsung masuk dan duduk di kursi belajarnya. Niken yang awalnya terkejut langsung mengerutkan keningnya heran.


"Katanya di kafe pelangi?" tanya Niken yang masih memandang Juna heran.


"Udah bubar acaranya," dusta Juna.


"Cepet banget, perasaan tadi waktu aku nelpon kamu masih berisik suara musik." Niken tidak sepenuhnya percaya ucapan Juna.


"Kamu, kenapa?" Juna mengabaikan perkataan Niken dan lebih mementingkan rasa penasarannya apalagi wajah Niken tak seceria biasanya, ada mendung disana.


"Hmm emang aku kenapa?" tanya Niken yang tak mendapat jawaban Juna. Niken kikuk sendiri karena Juna yang masih terus menatapnya.


"Bayu bilang suka sama aku," lirih Niken akhirnya. Tujuan Niken menelepon Juna kan ingin curhat, jadi sekalian aja mengeluarkan uneg-uneg dihatinya walau tadi Niken sempat mengurungkan niatnya.


Juna diam walaupun sempat terkaget dan kembali menormalkan mimik wajah.


"Jawabanmu?"


"Belum aku jawab, aku masih minta waktu," sahut Niken lesu. Juna menghembuskan napas lega dan tersenyum samar.


"Terus kenapa murung gitu, bukannya dimana-mana orang kalo ada yang naksir dan minta dijadiin pacar bakalan seneng ya?"


"Aku masih ragu, Jun."


"Kalo ragu langsung tolak, ngapain pusing-pusing, ngabisin waktu aja," omel Juna sadis.


Niken melirik Juna sengit yang justru dibalas Juna dengan mengangkat sebelah alisnya.


Niken melengos dan kembali lesu, "cara nolaknya gimana ya, Jun?"


"Hadeeehh, tinggal bilang, sorry bang aku nggak suka, kita jangan pacaran." Juna memberi saran yang justru seperti mengajak perang bagi Niken.

__ADS_1


__ADS_2