
Jam istirahat tiba, Deep dan ketiga teman barunya pergi ke kantin.
"Hai!" panggil salah satu siswi.
"Hai!" jawab Deep.
"Kamu Deep Akhtara ya?"
"Iya"
"Ikh ternyata kita satu sekolah ya! ya ampun aku seneng banget bisa satu sekolah sama kamu!"
"Hm iya"
"Kamu mau ke kantin?"
"Iya"
"Bareng dong! aku juga mau ke kantin!"
"Hm boleh!"
"Sepertinya kita akan punya banyak cewek nih gara-gara Deep" bisik Arsa pada Ardha.
"Ya asal gak kayak si Chanel aja!" jawab Ardha.
"Lah emang Chanel kenapa? kan dia cantik!"
"Hm iya sih! tapi ngeselin banget!"
"Hati-hati lu dapat karmanya!"
"Ya biasanya kalau terlalu membenci lawan jenis sih karmanya menikah sama dia nantinya!" ucap Alby tertawa kecil.
"Sama aja lu kayak Deep!"
"Deep sayang!" ucap Chanel tersenyum berlari memeluk Deep.
"Sayang-sayang kepala lu peyang!" ucap Ardha sinis memalingkan wajahnya.
"Heh bekicot! telinga lu tuli apa gimana sih? gw kan tadi jelas-jelas ngomong Deep, kok lu yang nyaut sih? emang nama lu Deep hah?"
"Bukan! nama gw Ardha, Ardhani Fajrin"
"Oh! gak nanya tuh! gak mau tahu juga! lu itu gak penting! jangan sok penting! kesel gw sama lu! ngapa gw sial banget sih ketemu sama lu mulu bekicot?!"
"Kata orang itu kalau sering ketemu artinya jodoh! ya mungkin aja kalian berjodoh, Ardha dan Chanel disingkat jadi AC, cocok tuh! AC kan pendingin ruangan, kali aja kalian kalau disatukan jadi dingin, kagak panas yang kalau ketemu dikit-dikit berantem terus!" ucap Alby.
"Gw setuju sama lu! udah sih Dha! jadiin aja si Chanel! biar adem kalian kayak AC 2 PK!" sambung Arsa.
"Ogah gw jadian sama dia! kalau lu mau pacarin aja sana! gw sih amit-amit ya punya pacar kayak dia!" jawab Ardha.
"Lho kenapa? daripada kalian berantem terus kan? mending pacaran aja!" ucap Deep.
__ADS_1
"Bener tuh kata Deep! bukankah lebih baik berdamai dengan keadaan daripada bermusuhan terus-menerus dengan kenyataan?" tanya Alby.
"Wih! bijak juga kata-kata lu!" ucap Arsa.
"Oh jelas dong! Alby gitu lho!"
"Hm, iyain aja deh biar seneng!" jawab Arsa.
"Sana lu pergi codot! ganggu pemandangan gw aja deh!" usir Ardha.
"Dih! emangnya lu siapa? pelukis kayak Deep? enggak kan? gak usah sok-sokan ngomong seperti seorang pelukis!" jawab Chanel sinis.
Ardha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi karena tidak tahan lagi dengan kelakuan Chanel.
"Eh lu mau ke mana?" tanya Deep.
"Kantin duluan akh gw! gak betah gw ada tuh cewek! kalian nyusul aja gak apa-apa! risih banget gw ada dia!" jawab Ardha terus berjalan tanpa menatap teman-temannya.
"Eh tunggu dong!" ucap Arsa berlari mengejar Ardha.
Alby menatap kepergian Arsa yang mengejar Ardha kebingungan dan menatap Deep. Alby bingung ingin tetap menunggu Deep atau mengejar kepergian kedua temannya.
Deep menatap kebingungan Alby dan menoleh ke arah Ardha dan Arsa yang sudah semakin jauh.
"Hm Chanel, maaf banget nih ya, aku sama Alby harus pergi" ucap Deep.
"Ayok!" ajak Deep menarik tangan Alby dan berlari meninggalkan Chanel dengan siswi yang tadi mengajaknya ke kantin bareng.
"Ikh gak jelas lu! jangan sok kenal deh!"
"Gw kenal kok sama lu, tapi lu yang gak kenal sama gw!"
"Dih! sok kenal banget sih lu jadi orang!"
"Tadi mereka bilang Chanel, pasti Chanel itu nama lu kan?"
"Iya, terus?"
"Ya gak apa-apa sih, ya udah gw mau ke kantin lapar, lu mau ikut kagak? daripada sendirian kayak anak hilang!"
"Tahu akh ngeselin!" ucap Chanel yang langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan siswi yang mengajaknya ke kantin.
"Pantas saja dia kelihatan benci banget sama cewek itu, ternyata emang kelakuannya di luar Nayla!" ucap siswi itu menatap heran Chanel menggelengkan kepalanya lalu pergi ke kantin.
Deep dan Alby akhirnya bertemu kembali dengan Ardha dan Arsa yang duluan pergi ke kantin. Mereka ber-empat berjalan ke kantin bersama. Para siswi memotret mereka sembari tersenyum. Deep benar-benar jadi idaman para siswi di sekolahnya.
Arsa tersenyum melambaikan tangannya menatap para siswi yang tergila-gila pada Deep.
"Mereka senyam-senyum kayak gitu bukan karena lu lewat bego Sa!" bisik Ardha.
"Biarin sih! ya gw tahu mereka tergila-gila sama Deep, tapi kalau di foto atau di foto kan otomatis kita juga masuk kamera" jawab Arsa.
"Hm iya sih!" ucap Ardha.
__ADS_1
Alby hanya menatap Arsa dan Ardha begitupun dengan Deep yang menatap tajam Arsa dan Ardha, sepertinya kini skizofrenia Deep kembali kambuh.
Tubuh Deep seketika memanas, wajahnya memerah menatap Arsa dan Ardha seperti seorang pemburu yang menemukan mangsa barunya.
"Itu Deep kenapa? kok wajahnya merah gitu?" tanya salah satu berbisik kepada temannya.
Ardha yang mendengar pun menatap Deep, dan Arsa serta Alby juga ikut menatap Deep.
"Deep! lu kenapa?" tanya Alby menepuk pundak Deep.
"Deep! hei!" panggil Arsa.
Deep tidak menjawab perkataan teman-temannya dan menarik nafas panjang berkali-kali untuk menenangkan dirinya.
"Hm, tahan Deep tahan! ini baru satu hari lu sekolah di sini, jangan bikin keributan dulu di sini! lu harus bisa mengontrol emosi lu!" batin Deep.
"Akh shia! kenapa susah sekali meredakan gejolak ini!" batin Deep memejamkan matanya.
Deep membuka matanya dan perlahan menatap Arsa, namun yang ia dapati di hadapannya bukanlah teman-temannya melainkan dirinya sendiri. Ketiga temannya berubah menjadi dirinya. Deep melihat wajah dirinya sendiri di ketiga wajah teman-temannya.
"Deep!" panggil Arsa.
🗣️ "Cepat bunuh mereka!" tanya Deep satu yang ada di posisi Arsa.
"Deep lu ngapa?" tanya Ardha menepuk pundak Deep namun Deep masih berada di bawah halusinasinya.
🗣️ "Bunuh mereka sebelum mereka berubah menjadi Zorya dan teman-temannya dulu, kamu tidak mau kan jika itu terjadi lagi?" tanya Deep dua yang ada di posisi Ardha.
"Deep! lu kenapa sih?" tanya Alby panik menepuk pundak Deep.
🗣️ "Kebaikan dan ketulusan akan selalu menghadirkan luka dan trauma di dalam kehidupan mu saja!" ucap Deep tiga yang ada di posisi Alby.
🗣️ "Jika ada kejahatan, lantas untuk apa ada kebaikan?" tanya Deep satu yang ada di posisi Arsa.
"Deep lu gak apa-apa kan? gak kemasukan kan?" tanya Arsa menepuk pundak Arsa.
🗣️ "Untuk apa kebaikan diciptakan jika pada akhirnya orang-orang akan berbuat juga padamu?" tanya Deep tiga yang ada di posisi Alby.
"Sawan nih anak gw rasa" ucap Alby.
🗣️ "Pikirkan baik-baik tentang ini Deep Akhtara! kamu tidak boleh mempercayai perkataan siapapun lagi! tidak ada hubungan yang benar-benar tulus jika kamu memiliki harta, kekayaan, dan nama!" ucap Deep dua yang ada di posisi Ardha.
"Panggil guru agama deh coba, daritadi dia nengok ke kita kalau kita ajakin ngomong tapi diam saja kayak orang kebingungan" ucap Ardha.
🗣️ "Uang, jabatan, popularitas, hanya akan membuatmu bertemu dengan orang-orang tidak berkualitas saja!" ucap Deep satu yang ada di posisi Arsa.
"Lu cari guru agama sana! gw sama Alby tunggu sini! entar kalau ditinggal lagi kemasukan gini kan ngeri juga gw!" ucap Arsa.
🗣️ "Popularitas mereka jelas-jelas berada di bawah kamu, apa kamu percaya dengan persahabatan yang mereka tunjukkan itu benar-benar tulus?" tanya Deep tiga yang ada di posisi Alby.
"Iya benar kata Arsa, cari guru agama sana Dha! gw rasa nih anak sawan deh!" ucap Alby panik melihat Deep yang sedari tadi menatap mereka kebingungan dan ketakutan namun tidak menjawab sama sekali.
"Oke!" ucap Ardha berlari pergi.
__ADS_1