Pain Is Art

Pain Is Art
Psikopat Hijrah?


__ADS_3

"Ngambek dia!" bisik Axcel pada Gerry tertawa kecil.


"Gak ada balon bego Dik!" ucap Gerry.


"A-saraleo!"


"Hahaha!"


Bi Rika membuang bungkus sisa makan mereka dan para bodyguard Deep pergi untuk menghisap rokok.


"Kalian ini sodaraan atau apa?" tanya Deep.


"Lebih dari teman" jawab Andika.


"Kalian pacaran dong berarti?" tanya Deep.


"Ya gak pacaran juga kali Deep!" ucap Gerry.


"Ikh geli eke pacaran sama mereka!" ucap Andika.


"Terus apa dong?" tanya Deep.


"Gw, Andika, Gerry sama Axcel tadinya sahabatan di kampus, dan seperti yang lu tahu Zellyn itu istri gw" jawab James tersenyum kecil menatap Deep.


"Kalian kangen gak sih sama dunia kalian yang dulu?" tanya Axcel tersenyum kecil menatap ombak pantai.


"Dunia yang dulu gimana? lah emang kita udah mati?" tanya Gerry.


"Bukan itu maksud gw, maksud gw itu ya dunia kita dulu yang kayak mereka gitu, hidup kayak mereka gitu, hidup bebas, tenang, tanpa adanya bau amis darah" ucap Axcel menundukkan kepala.


James, Gerry, dan Andika saling menatap satu sama lain.


"Gw kangen sama keluarga gw, gw kangen sama Malini" ucap Axcel meneteskan air mata dan langsung menundukkan kepala.


"Malini? Malini siapa?" tanya Deep.

__ADS_1


"Malini itu pacar gw, ya gw bilang sama Malini kalau gw sibuk kerja, gw juga gak pernah ketemu sama Malini lagi, apa Malini masih bisa jaga hatinya buat gw ya setelah bertahun-tahun kita pisah? ya gw setuju sama ide kalian, karena gw butuh uang untuk menikah dengan Malini, cuma dengan cara ini gw bisa dapat banyak uang" ucap Axcel.


"Sepertinya uang lu udah cukup deh buat ngelamar Malini" ucap Gerry menepuk pundak Axcel.


"Iya, tapi gw ragu Malini masih setia sama gw, apalagi kalau nanti Malini tahu gw kayak gini sekarang, apa Malini bisa menerima gw yang seperti ini?" tanya Axcel.


"Gw gak tahu soal itu, cuma Malini dan Tuhan yang tahu apa Malini bisa menerima lu yang seperti ini, ya kalau Malini nanti gak bisa terima lu, ya udah lu tinggalin aja bisnis ini, dan cari bisnis yang lain, ya kita juga gak bisa terus-terusan kayak gini juga" ucap James menundukkan kepala.


"Apa maksud lu James?" tanya Gerry.


"Gw ngerasa kalau apa yang kita lakukan ini salah, gw pengen kembali ke jalan yang dulu, tapi seakan jalannya ada palang pintu besar yang menghalanginya" ucap James menundukkan kepala.


"Hm, jujur aja emang gw ngerasa bersalah, tapi gw gak bilang ke kalian, karena gw takut kalian gak bisa menerima akan keputusan gw" ucap Andika menundukkan kepala.


"Gw juga jadi ngerasa bersalah deh udah kasih ide ini, gak seharusnya gw kasih ide ini ke kalian, jadi gimana kita selanjutnya?" tanya Gerry.


"Kita tutup aja bisnis itu gimana?" tanya James menatap teman-temannya dan menatap Zellyn.


"Iya mas, aku setuju atas keputusan mu itu, kita tidak bisa seperti ini terus, kita harus mengajarkan Sam kebaikan, bukan keburukan seperti ini terus" ucap Zellyn.


"Aku juga punya andil dalam mendidik Sam mas, jadi ini juga kesalahan ku, bukan kesalahan mu saja"


"Tapi kamu jadi seperti ini juga kan karena aku"


"Bukan, ini semua karena takdir, karena di dunia ini kita hanya pemain, ini sudah jalan kehidupan kita mas, tidak ada yang perlu disesali semua yang telah terjadi, kita hanya bisa memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan dengan menjadi seseorang yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya, karena penyesalan tanpa adanya tindakan hanya sebatas kata "penyesalan" yang tidak akan pernah usai"


"Apa yang Zellyn katakan benar, jadi kita semua setuju nih ya mau menutup bisnis itu?" tanya Andika tersenyum menatap teman-temannya.


"Iya" jawab James, Gerry, Axcel dan Zellyn kompak.


"Lantas bagaimana dengan kerjasama kita? kalian bersedia akan menjadi pemasok daging di restoran ku bukan? kenapa tiba-tiba kalian mau keluar dari bisnis itu?" tanya Deep.


"Bisnis yang kita lakukan itu kotor Deep, dan hidayah juga tidak datang dengan rencana, hidayah selalu datang kapanpun dan dimanapun ketika takdir sudah menghendakinya" ucap James tersenyum.


"Iya benar tuh kata si James, ya kita harap lu bisa mengerti dan menerima keputusan kita" ucap Andika tersenyum menepuk pundak Deep.

__ADS_1


"Hm oke, terserah kalian saja, gw kira kalian teman gw tapi ternyata gw salah" ucap Deep menundukkan kepala.


"Kita akan tetap jadi teman lu, tapi tidak dengan pemasok daging manusia" ucap James tersenyum menepuk pundak Deep.


"Deep, umur lu masih muda, lu harus menjalani pengobatan" ucap Axcel.


"Apa maksud lu?" tanya Deep.


"Sepertinya lu ada masalah kejiwaan deh, dan nanti juga sepulang dari sini kita akan ke psikolog" ucap Axcel.


"Gw tidak gila!" ucap Deep.


"Tidak ada yang mengatakan kalau lu itu gila, mental ilness berbeda dengan gila" ucap Axcel tersenyum menatap Deep.


"Darimana lu tahu kalau gw mental ilness?" tanya Deep.


"Gw hanya menerka-nerka saja" jawab Axcel.


"Ya lu benar, gw pernah ke psikiater dan dokter itu mengatakan jika gw psikopat dan skizofrenia, dia memberikan obat, gw meminum obat itu tapi hasrat membunuh dan suara-suara yang entah datang darimana juga tidak kunjung menghilang, makanya gw masukkan obat itu ke tempat pembakaran sampah, gw bakar obat itu dan gw gak pernah minum obat atauyke psikiater lagi, karena gw merasa kalau itu sia-sia" ucap Deep.


"Tidak ada pengobatan yang sepenuhnya sia-sia Deep, mental ilness butuh waktu lama untuk sembuh, tidak dalam waktu yang instan" ucap Axcel.


"Jadi gw harus apa?" tanya Deep.


"Jalani pengobatan untuk menyembuhkan mental ilness lu, karena gw percaya mental ilness itu pasti akan sembuh jika ditangani oleh orang yang tepat" ucap Axcel.


"Tapi pengobatan dokter itu sama sekali tidak ada kinerjanya di dalam diri gw, gw tidak merasa sedikitpun pengobatannya berhasil, gw masih mendengar suara-suara aneh bahkan ketika gw sudah minum obat" ucap Deep.


"Hm, lu cari aja dokter lain, gw yakin kok pasti mental ilness bisa sembuh dengan pengobatan dan konsultasi secara rutin" ucap Axcel tersenyum memegang tangan Deep.


"Gw selalu merasa gw sendirian walaupun ada banyak orang di dalam rumah gw, tapi gw merasa kosong, dan kali ini gw merasa tidak kosong lagi" ucap Deep tersenyum meneteskan air mata.


"Kalau begitu turuti permintaan kita, nanti kita bakal temuin lu ke Jakarta setelah kita menemui keluarga kita" ucap Axcel tersenyum menepuk pundak Deep.


"Hm, oke" ucap Deep menganggukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2