
Sesampainya di kelas, sudah ada wali kelasnya, security dan para guru laki-laki yang berusaha untuk membuka bangku yang menempel di celana Deep.
Zorya, Dhruv, Rangi dan Rasalas sontak terkejut dan saling menatap satu sama lain.
"Gimana ini sekarang?, kalau sampai si Deep cerita sama mereka gimana?, yang ada nanti kita bisa di skors atau bahkan dikeluarkan dari sekolah karena kita telah membully dia" ucap Rangi pelan menatap teman-temannya.
"Diamlah!, jangan berisik!, kita harus tetap terlihat tenang di depan semua orang, kita belum tahu apakah Deep sudah menceritakan semuanya atau belum" ucap Zorya pelan menatap Rangi yang terlihat gemetaran.
"Kalian semua pergilah dari ruang kelas, terutama untuk murid wanita cepat!" pinta wali kelasnya menunjuk para siswa.
Satu persatu siswa dan siswi meninggalkan ruang kelas. Wali kelas langsung menutup pintu itu dan kembali menghampiri Deep. Setelah beberapa usaha mencoba melepaskan, akhirnya bangku dan celana Deep bisa dilepaskan tetapi belakang celananya harus sobek karena lem yang menempel cukup kuat di celananya itu.
Kepala sekolah melepaskan jas yang ia pakai dan melilitkannya di pinggang Deep untuk menutupi celananya yang berlubang.
Rangi, Zorya, Dhruv, dan Rasalas menempelkan telinganya ke pintu dan mendengarkan percakapan di dalam sana. Rangi terlihat sangat gemetar dan wajahnya sangat pucat. Teman-temannya yang menyadari pun menatap tajam Rangi. Rangi berusaha mengontrol dirinya agar tidak tampak ketakutan lagi.
"Sebenarnya ada apa ini Deep?, kenapa bisa ada lem di atas bangku kamu?" tanya guru BK.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bu, tadi sesampainya aku di kelas, Rangi langsung mendorong ku untuk duduk di atas kursi itu, tetapi aku tidak tahu mengapa kursi itu tidak bisa terlepas dari celana ku" ucap Deep menatap gurunya bergantian.
"Rangi?, Rangi Auriga maksud kamu Deep?" tanya bu guru bimbingan konseling.
"Iya bu Rangi Auriga, tadi Rangi dan teman-temannya juga memecahkan telur busuk ke kepala dan wajah ku, mereka juga menuangkan tepung ke atas kepala serta wajah ku, dan mereka bilang mereka ingin membersihkannya, namun mereka malah menyiramkan air comberan dari atas kepala ku yang membuat ku kesulitan untuk bernafas, lalu mereka mengelap dengan kain pel kotor yang membuat wajah ku semakin tidak karuan, dan akhirnya aku berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk menghilangkan kotoran di wajah ku karena mata ku terasa sangat perih" ucap Deep.
Para guru yang mendengar penjelasan dari Deep sontak terkejut.
"Rangi dan siapa lagi Deep?" tanya bu guru BK.
__ADS_1
"Rangi, Dhruv, Rasalas, Zorya, Maya dan Mayang" ucap Deep.
"Maya dan Mayang juga ikut membully kamu Deep?" tanya guru BK.
"Iya bu, mereka mengatakan perkataan yang cukup menyakitkan bagi ku, mereka ngatain aku anak pembunuh dan begitu pula dengan Rangi, Dhruv, Rasalas, dan Zorya" ucap Deep menatap guru BK dan menatap guru lain bergantian.
"Bu Put, tolong panggilkan nama-nama yang disebutkan oleh Deep ke ruangan saya, saya tunggu secepatnya" ucap kepala sekolah yang langsung pergi meninggalkan ruang kelas.
"Mampus kita" ucap Dhruv memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Sekarang gimana ini?" tanya Rangi yang semakin ketakutan.
"Kita harus secepatnya pergi dari sini, ayok cepat" ucap Zorya berlari memberikan kode kepada teman-temannya.
Dhruv menarik tangan Rangi untuk berlari pergi meninggalkan sekolah.
"Kamu sih Maya!, kenapa kamu pakai ngatain dia segala?" tanya Mayang mendorong Maya.
Maya memegangi kepalanya karena pusing memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka.
"Bagaimana jika kita di skors atau dikeluarkan dari sekolah?, kita bukan hanya akan menanggung rasa malu, tapi juga pasti papah tidak akan membiarkan kita untuk hidup, kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat papah yang?" tanya Maya menatap adiknya Mayang.
"Iya kak aku tahu, terus gimana dong ini kak?" tanya Mayang ketakutan menggigit jari-jari tangannya.
"Ayok kita pergi dari sini" ucap Maya menarik tangan Mayang.
"Tapi kita mau pergi kemana kak?" tanya Mayang.
__ADS_1
"Udah deh ayok ikut aja sama aku, tenang kamu tidak sendiri kok" ucap Maya tersenyum menatap Mayang.
Mayang pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Maya dan mayang segera pergi dari sekolah itu.
"Baik pak" ucap bu Puput menatap kepala sekolah dan menganggukkan kepalanya.
Para guru pun satu persatu meninggalkan ruang kelas, sedangkan bu Put mencari keberadaan Rangi, Zorya, Rasalas, Dhruv, Maya, dan Mayang.
Melihat semua gurunya pergi, Deep pun pergi mencari keberadaan mereka juga sebelum bu Put menemukan keberadaan mereka.
Maya dan Mayang berusaha berlari sejauh mungkin dari area sekolahnya agar guru BK tidak menemukan mereka dan memanggil orangtua mereka.
Ayah Maya dan Mayang merupakan seorang komandan batalyon yang senantiasa mendidik Maya dan Mayang dengan keras, hingga sifat keduanya pun menjadi seseorang yang semena-mena pada orang lain karena selalu diperlakukan semena-mena oleh orangtuanya sendiri, sedangkan ibu mereka telah lama mati setelah melahirkan Mayang. Semenjak kematian istrinya, ayah mereka masih suka menyendiri dan bahkan selalu menolak ketika ada wanita yang ingin mendekatinya.
Ketika ayahnya sedang pergi bertugas, Maya dan Mayang selalu ditinggalkan sendiri di rumah dan hanya ditemani oleh para pembantu, dan bodyguard ayahnya. Rumah yang tampak seperti penjara bagi mereka berdua. Mereka tidak di izinkan untuk keluar rumah selain ke sekolah, ketika ayahnya di rumah, ayahnya bukan memperhatikan mereka, tapi masih terus sibuk dengan pekerjaannya, ketika mereka mengajak ayahnya untuk bermain, ayahnya selalu membentaknya dan bahkan menampar mereka.
Mungkin karena salahnya pendidikan yang diberikan oleh ayahnya membuat Maya dan Mayang menjadi pelaku bullying di sekolahnya. Setiap mereka berdua kesal dengan ayahnya, mereka selalu mengasari temannya yang dianggap cupu dan miskin. Mereka bukan hanya melakukan pembullyan fisik tapi juga melakukan pembullyan mental bagi para korbannya dan Deep yang mendapatkan bagian pembullyan mental dari kedua anak kembar itu.
"Sial!, kemana lagi perginya Maya dan Mayang?" tanya Deep kesal menendang kaleng yang tergeletak di jalan dan terus berlari mencari keberadaan mereka.
Maya dan Mayang yang berlari ketakutan sambil terus menatap ke belakang pun tidak sengaja bertubrukan dengan Zorya dan Dhruv.
"Kalau jalan pakai mata dong lu" ucap Zorya menunjuk Maya yang menyenggolnya sembari memegangi tangannya.
"Sorry" ucap Maya.
Zorya pun perlahan menatap Maya begitupula dengan Maya. Rambut Maya dan Mayang yang terurai indah kini berterbangan terkena kencangnya angin yang membuatnya nampak seperti dewi angin yang sangat cantik dimata Zorya, Zorya yang melihat pun menatap tak berkedip sedikitpun, Maya yang merasa kegeeran pun tersenyum kecil menatap Zorya, padahal mata Zorya terfokus pada kembarannya Mayang. Sementara Dhruv yang tadi bertubrukan dengan Mayang pun tersenyum menatap Maya, tapi malah Mayang kegeeran mengira Dhruv menatapnya.
__ADS_1
Selama ini ternyata Mayang menyimpan rasa cinta pada Dhruv sedangkan Dhruv selama ini diam-diam jatuh cinta pada Maya kembarannya. Maya yang memang menyukai Zorya sejak lama pun seperti melayang di udara ketika Zorya tersenyum menatapnya, namun Maya salah mengartikan tatapan mata Zorya, tatapan mata Zorya bukan tertuju untuknya namun untuk Mayang kembarannya karena telah lama Zorya mencintai Mayang dalam diam.
Deep yang tiba-tiba ada di belakang mereka pun mengetahui kisah cinta segitiga diantara mereka membuat Deep tersenyum puas menganggukkan kepala mengambil foto mereka dan langsung pergi dari sana.