
"Alhamdulilah akhirnya Deep mau menghubungi ku juga" kata Nora sembari berjalan masuk ke dalam kelas.
Nora dihampiri oleh teman kelasnya yang juga merupakan blasteran Indonesia Jerman bernama Idris Manvir Ryker.
"Kamu kenapa Nora? kok kayaknya happy banget sih" ucap Idris.
"Iya nih Ris aku lagi happy" jawab Nora tersenyum menatap Idris.
"Ada apa?"
"Keppo akh kamu, udah yuk kita masuk aja" kata Nora tersenyum menarik tangan Idris.
Idris berjalan mengikuti Nora sembari terus menatap tangannya yang dipegang oleh Nora. Idris tersenyum diperlakukan seperti itu dengan Nora.
"Nora seandainya kita bisa seperti ini terus" batin Idris tersenyum menatap Nora.
Hari itu merupakan hari terakhir tes yang akan mereka lakukan sebelum dinyatakan lulus.
Beralih ke Deep, kini ia tengah terdiam dan tersenyum memikirkan Nora.
"Aku merindukan mu Nora, sangat, aku berharap takdir kembali mempertemukan kita ya Nora" kata Deep tersenyum.
"Dek, ada apa?" tanya suster menepuk pundak Deep.
"Hm, gak ada apa-apa kok suster" jawab Deep tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu saya tinggal ya"
"Iya suster"
Suster itu pergi meninggalkan Deep sembari terus menatap ke belakang. Nampaknya suster itu menahan rasa takutnya berbicara dengan Deep.
"Ada apa dengan dia? aku takut hasratnya untuk membunuh kembali memuncak, dia seharusnya menjalankan pengobatan di rumah sakit, tapi pihak rumah sakit malah melepaskan dia begitu saja dan hanya memberikannya obat dan terapi, bagaimana jika diluar sana ia kembali membunuh seseorang?" tanya suster itu menatap Deep.
Deep menoleh ke arah suster itu dan tampaknya Deep mendengar perkataan suster itu. Deep tersenyum kecil menganggukkan kepala menatap suster itu dan suster itu pun membalasnya. Deep segera pergi dari rumah sakit itu dengan membawa obatnya.
__ADS_1
"Tahan Deep tahan! kamu sudah berjanji untuk berubah, tahan emosi mu Deep, kamu harus bisa melawan hasrat itu untuk membunuh seseorang, tidak Deep! kamu tidak boleh merenggut nyawa seseorang lagi, kamu harus mengontrol emosi kamu sendiri, lawan Deep lawan! lawan gejolak itu, obat? ya aku harus meminum obat ini, agar hasrat untuk membunuh itu mereda" kata Deep yang langsung pergi ke supermarket terdekat untuk membeli minuman.
Melihat fanta berwarna merah ada di samping air mineral, hasrat membunuh Deep kembali bangkit. Deep membayangkan jika fanta itu adalah darah manusia yang ia bunuh. Deep membayangkan jika ia membunuh seorang kasir wanita yang ada di supermarket itu. Deep segera berlari ke kasir untuk membayar minuman yang ia ambil itu. Deep mengalihkan pandangannya dari mbak kasir agar hasrat itu tidak semakin menggebu-gebu.
"Lima ribu, apa ada lagi?" tanya mbak kasir.
"Tidak ada, ini uangnya" kata Deep memberikan uang kepada mbak kasir lalu segera berlari pergi dengan mengalihkan pandangannya berlawanan arah dengan mbak kasir.
Orang-orang yang ada di dalam supermarket itu mendadak di penuhi oleh darah di mata Deep.
"Tidak! itu tidak mungkin! aku harus secepatnya keluar dari tempat ini" kata Deep menggelengkan kepalanya.
Deep duduk di bangku depan supermarket dan meminum obat yang diberikan oleh rumah sakit. Setelah meminum obat itu, Deep kembali ke rumahnya. Deep memacu mobilnya dengan sangat kencang, agar matanya tidak lagi melihat kejadian tak masuk akal itu.
Deep membunyikan klakson agar satpam atau anak buahnya membukakan pintu pagar untuknya.
Satpam yang ia bayar mendengar dan langsung berlari untuk membukakan pintu pagar. Deep memasukkan mobilnya dan berlari ke dalam membawa obat.
Malam itu Deep masuk ke dalam kamarnya sendiri, tidak ke dalam kamar yang ada di bawah tanah. Untuk pertama kalinya Deep tidur di kamarnya sendiri setelah membunuh Zorya dan teman-temannya.
Deep menatap sekelilingnya ketakutan lalu menutup matanya.
"Zorya? kamu kan udah mati, ke-kenapa kamu ada disini?" tanya Deep ketakutan menatap Zorya yang berdiri di depannya.
"Iya memang aku sudah mati, dan kamulah yang telah membunuh ku" kata Zorya tersenyum berjalan perlahan mendekati Deep.
"Ada apa Deep? apa kamu takut? kamu berani untuk membunuh orang, tetapi mengapa kamu takut melihat kami?" tanya Dhruv perlahan mendekati Deep.
"Benar kata Dhruv, kamu tidak takut saat menyiksa kami hingga mati, tapi kenapa kamu takut bertemu dengan kamu saat ini?" tanya Rangi tersenyum berjalan perlahan mendekati Deep.
"Kamu telah merusak persahabatan ku dengan Dhruv, Rangi dan Zorya hingga mereka membuat ku tewas karena fitnahan yang telah kamu sebarkan kepada mereka Deep, kenapa Deep? kenapa kamu tega melakukan hal itu kepada ku?" tanya Rasalas berjalan perlahan menghampiri Deep dengan tatapan mata sedih.
"Aku telah membuat Rangi dijauhi teman-temannya karena aku membocorkan rahasia itu kepada mu, kamu menyebarkan rahasia itu hingga membuat Rangi dijauhi oleh teman-temannya, lalu kamu juga membunuh ku? apa salah ku padamu Deep? apa sebelumnya aku pernah membully kamu? tidak kan? mengapa kamu tega membunuh ku Deep Akhtara?" tanya Dimas dengan tatapan mata sedih berjalan perlahan menghampiri Deep.
Entah muncul darimana, tiba-tiba teman-teman sekolah yang telah Deep bunuh muncul semua di hadapannya beserta para guru.
__ADS_1
"Deep apa salah ibu pada mu? apa ada perkataan ibu yang menyinggung perasaan mu? hingga kamu melakukan hal itu kepada ibu, katakan Deep, apa salah ibu padamu? ibu minta maaf jika ada perkataan ibu yang telah menyinggung perasaan kamu, tapi bukan dengan cara seperti ini kamu membalasnya Deep" kata wali kelasnya menatap Deep dengan tatapan mata sedih menghampiri Deep perlahan.
Teman-temannya dan para guru mendekati Deep tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Tidak! pergi kalian semua! kalian semua sudah mati! jangan ganggu aku! aku mohon pergilah!" kata Deep yang nampak sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar.
"Pergi katamu? kita akan pergi, tapi kamu harus ikut dengan kami" kata Zorya tersenyum.
"Tidak! aku tidak ingin ikut dengan kalian! pergilah! aku mohon pergilah dari tempat ini!" kata Deep menggelengkan kepalanya ketakutan.
Mereka semua semakin mendekati Deep dan Deep pun berteriak ketakutan. Suara teriakan Deep terdengar oleh anak buahnya yang masih menyantap makanan ramai-ramai karena lapar. Anak buahnya pun berlari ke kamar Deep.
"Tuan, tuan ada apa? buka pintunya tuan" pinta anak buahnya mengetuk pintu kamar Deep.
"Coba saja buka pintunya, biasanya tuan Deep tidak pernah mengunci pintunya"
"Oke"
Pak Zainal membuka pintu kamar Deep. Mereka melihat Deep yang sedang tertidur namun mengigau.
"Tidak! pergi kalian semua! aku mohon pergilah dari sini!" kata Deep menggelengkan kepalanya.
"Tuan! bangun tuan" kata pak Panji menepuk-nepuk pundak Deep.
"Tidak!" teriak Deep terbangun dari tidurnya.
"Ada apa tuan? apa tuan bermimpi buruk?" tanya pak Rudi.
"Jadi itu semua hanya mimpi ku saja? aku rasa tadi aku belum tertidur, ternyata daritadi aku sudah tertidur?" tanya Deep menatap anak buahnya.
"Iya tuan, tuan sudah tertidur namun tuan berteriak-teriak ketakutan, makanya kami segera berlari menghampiri tuan ternyata tuan mengigau" kata pak Rafly.
"Oh gitu, oke baiklah, kalian bisa keluar dari dalam kamar ku sekarang, terima kasih karena telah membangunkan ku tadi" kata Deep tersenyum kecil.
"Iya tuan, kami permisi" kata pak Rafly menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Hm!"
"Ternyata tadi itu semua hanya mimpi aku saja? syukurlah kalau begitu" kata Deep menghela nafas dan meminum segelas air yang tadi ia beli dari supermarket lalu kembali tidur.