Pain Is Art

Pain Is Art
Healing


__ADS_3

Pagi harinya Deep terbangun dan membersihkan tubuhnya lalu turun ke bawah untuk mengambil sarapan.


"Pagi bi" sapa Deep tersenyum.


"Pagi tuan, ini sarapannya tuan" ucap bi Rika memberikan sarapan Deep yang telah ia sajikan di piring.


"Makasih ya bi" jawab Deep tersenyum.


"Sama-sama tuan" jawab bi Rika tersenyum menganggukkan kepala.


"Tuan, saya panggil yang lain dulu ya" ucap bi Rika.


"Oke"


"Pada kemana ya?" tanya bi Rika celingukan.


"Oh iya aku tahu, pasti mereka lagi pada main di belakang deh" ucap bi Rika.


"Pada makan dulu" pinta bi Rika menghampiri pak Jaka, pak Farel, pak Panji, pak Zainal, pak Rudi pak Rafly yang sedang bermain kartu.


"Oke" jawab pak Jaka, pak Farel, pak Panji, pak Zainal, pak Rudi pak Rafly kompak.


"Pagi tuan" ucap pak Rafly.


Deep sarapan bersama anak buahnya.


"Pagi" jawab Deep tersenyum.


Deep, anak buahnya beserta bi Rika sarapan bersama.


"Ke Bali enak kali ya? di Bali pasti ramai, secara ka turis pada kesana, gw bisa dapat daging lebih banyak lagi, iya gak? Bali tempat enak berburu mangsa kayaknya, sampai bertemu Bali, Deep Akhtara akan datang menemui mu" batin Deep tersenyum menganggukkan kepala.


"Tuan Deep kenapa? kok senyam-senyum sendiri?" tanya pak Rudi berbisik pada pak Jaka.


"Entahlah, coba tanya"

__ADS_1


"Lu aja lah, takut gw"


"Akh pengecutt lu!"


"Cepetan tanya"


"Iya"


"Hm tuan" panggil pak Jaka.


"Kurang kencang lu, tanya yang benar!"


"Iya"


"Tuan Deep" panggil pak Jaka menepuk tangan Deep.


Deep terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Iya ada apa?" tanya Deep.


"Tuan Deep kenapa senyam-senyum? ada apa tuan?"


"Siap tuan, nanti saya ke bandara" jawab pak Jaka.


"Oke, delapan tiket ya jangan lupa"


"Siap tuan, untuk penerbangan yang jam berapa ya tuan?"


"Jam sembilan pagi aja, kalau gak ada terserah jam berapa, yang penting pagi ya"


"Siap tuan"


"Ya udah saya ke kamar dulu, mau menyelesaikan lukisan saya, nanti kabarin aja kalau tiketnya udah ada"


"Siap tuan"

__ADS_1


Deep kembali ke kamar yang ada di bawah tanah. Deep melukis pengepul yang telah ia bunuh kemarin. Deep yang sudah terbiasa melukis mayat dapat menyelesaikan lukisannya dengan cepat. Deep menggambar kepala yang tergeletak jauh dari tubuhnya dikelilingi lalat dan pemandangan tumpukan sampah sama seperti pengepul yang ia bunuh dengan mesin senso yang baru ia beli itu.


"Mesin senso candu juga ya, tapi kalau langsung kepala kasian mereka, merasakan sakit hanya sebentar atau bahkan tidak merasakan sakit ya? kan langsung mati kalau kepalanya gw tebang, hahaha kok tebang sih?! pohon kali akh! tapi emang mesin senso kan buat menebang pohon ya? gw malah pakai buat nebas kepala orang, harusnya kalau buat nebas kepala orang pakai samurai ya? masa gw pakai senso sih" kata Deep tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Hm gak sabar deh pengen ke Bali, lukisan udah jadi, sekarang lebih baik gw siap-siap aja, untuk lukisan disini aja dulu, galeri seni sama resto tutup aja dulu, baru ada sedikit mayat, yang ada baru buka langsung tutup mending nutup sekalian, kan The Deep Art sama The Deep Restaurant berbahan dasar manusia, lebih tepatnya manusia yang telah aku bunuh untuk aku jadikan sebuah lukisan yang indah dan makanan yang lezat, kok ada ya orang lain yang mau makan daging, tulang, kulit bahkan darah manusia? apa semua manusia yang datang ke resto gw itu vampir? atau zombi? akh ngawur! tapi kok mereka bisa ya makan sama minumnya? maybe karena mereka gak tahu kalau yang mereka makan itu berasal dari mayat dan yang mereka minum itu adalah darah manusia yang telah aku bunuh, hm dasar orang-orang bodoh! mereka tidak bisa membedakan mana daging sapi dan mana daging manusia, tapi bagus deh, kan gw jadi bisa jauh lebih kaya lagi, iya kan? ngapain gw harus mikirin orang? emang sejak kapan menjaga perasaan orang lain itu diwajibkan? kalau gw terlalu mikirin orang lain, apa orang lain cukup baik untuk mikirin gw aja? gak akan! orang kan cuma maunya dipikirkan, gak pernah mau memikirkan orang lain, jadi untuk apa memikirkan mereka, hidup gw aja sebatang kara, ngapain harus mikirin mereka yang hidupnya bahagia dengan keluarga yang lengkap, sedangkan keluarga gw sendiri aja bergelar almarhum dan almarhumah, gw aja yatim piatu, ngapain mikirin mereka, jangan sok kasian sama orang, hidup sendiri aja memperihatinkan kok! apa-apa harus sendiri, kesepian, hm enak ya jadi orang lain, hidupnya bahagia, keluarganya lengkap, punya sahabat, sedangkan gw cuma punya satu sahabat aja dia malah pergi ke Jerman, entah kapan dia balik ke Indonesia lagi, dia balik atau tidak ke Indonesia saja gw ragu, gw cuma punya diri gw sendiri, harus bisa berjalan diatas kaki sendiri, orang bilang masa kanak-kanak adalah masa yang membahagiakan, kok gw enggak ya? gw ngerasa kosong, gw punya banyak uang peninggalan bokap, rumah, tapi entah kenapa gw ngerasa hidup gw kosong aja gitu, gw butuh someone buat gw ajak cerita, tapi gw kehilangan kepercayaan itu, kepercayaan gw dipatahkan oleh Nora dan takdir gw sendiri, apa salah gw? sampai-sampai takdir menghukum gw dengan kekosongan ini, hm ya sudahlah, lama-lama gw gila deh ngomong sendiri, eh emang udah gila ya? hahaha!" ucap Deep menertawakan dirinya sendiri dan menepuk keningnya.


Deep mengambil kopernya dan memasukkan baju-bajunya serta charger ke dalam kopernya. Deep mengambil tas kecil untuk memasukkan beberapa cemilan dan naik ke atas.


Deep celingukan mencari keberadaan pak Jaka dan menghampiri bi Rika dan anak buahnya yang lain yang tengah berkumpul di ruang tamu sembari menonton televisi.


"Pak Jaka belum balik ya?" tanya Deep.


"Belum tuan" jawab pak Rafly.


"Sini duduk tuan" ucap pak Rudi menggeser sedikit agar Deep bisa duduk.


"Iya" ucap Deep meletakkan kopernya disamping dan duduk di tengah.


Ketika mereka asik menonton televisi, pak Jaka datang dan menghampiri mereka.


"Assalamualaikum" ucap pak Jaka.


"Wa'alaikumsalam" ucap Deep, anak buahnya, dan bi Rika kompak.


"Tuan, ini tiketnya, saya siap-siap dulu ya"


Deep mengambil tiket yang pak Jaka berikan kepadanya.


"Eh barang-barang lu udah gw masukin koper tuh" ucap pak Rudi.


"Oh udah ternyata, makasih ya" ucap pak Jaka tersenyum.


"Iya"


"Ya udah kita jalan sekarang aja, ini tiket penerbangannya jam sembilan, nanti takut macet" ucap Deep.

__ADS_1


"Oke tuan" jawab pak Rudi.


Deep memasukkan tiket itu ke dalam kantung jaketnya. Deep beserta anak buahnya dan bi Rika pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Bali.


__ADS_2