
Sesampainya di rumah, Deep langsung masuk ke dalam kamarnya dan menempelkan foto-foto yang ia ambil ke dinding. Deep menatap foto itu tersenyum. Deep mengganti pakaiannya dan kembali ke sekolah.
"Kemana Deep?" tanya pak Zainal.
Para siswa saling menatap temannya satu sama lain.
"Assalamualaikum pak" ucap Deep di depan ruang kelas.
"Deep darimana saja kamu?" tanya pak Zainal menghampiri Deep.
"Tadi aku pulang dulu pak ganti baju" ucap Deep tersenyum.
"Ya udah kamu langsung duduk aja" ucap pak Zainal menunjuk bangku Deep yang telah diganti.
"Iya pak" ucap Deep mengangguk dan langsung pergi ke bangkunya.
Ketika jam istirahat berlangsung, Deep mulai mencari tahu lebih jauh lagi tentang Zorya, Rangi, Rasalas, Dhruv, Maya dan Mayang.
Deep mendapatkan informasi dari teman dekat mereka jika ternyata Zorya dan Dhruv adalah adik kakak tiri karena ibu Zorya meninggal dan ayahnya menikah dengan ibu Dhruv.
"Ini semua akan menjadi lebih mudah dan membahagiakan untuk ku" batin Deep menyeringai.
Deep pun mulai menyusun rencana dan mencari tahu info lain yang belum ia ketahui.
__ADS_1
Rasalas ternyata bukanlah orang kaya seperti yang ia tunjukkan selama ini. Ayah Rasalas ternyata adalah penjual bakso di kantinnya. Sedangkan Rangi merupakan seorang anak mantan narapidana. Ayah Rangi dipenjara karena kasus pencurian. Maya dan Mayang merupakan anak broken home.
Deep kembali ke kelas karena jam istirahatnya telah berakhir.
Beberapa jam berlalu kini sudah waktunya pulang. Deep terlihat sangat bahagia karena dalam waktu singkat ia sudah bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan.
Deep mencetak semua informasi yang ia dapatkan dan ia tempelkan di dinding kamarnya.
"Target pertama ku siapa ya?, Zorya dan Dhruv?, hm kurasa tidak, Rasalas?, tidak, tidak, jangan dia duluan, Maya dan Mayang?, hm tidak, Rangi?, kurasa itu ide yang bagus, seorang anak narapidana oh tidak, tidak, mantan narapidana yang akan menjadi target pembalasan dendam ku, setelah itu Rasalas dan kisah cinta segitiga dua anak kembar dengan Zorya dan Dhruv" ucap Deep menatap hasil cetakan yang tertempel di dinding kamarnya.
Malam harinya Deep diam-diam pergi ke sekolah dengan membawa senter dan hasil cetakannya. Deep pergi ke papan buletin untuk menempelkan informasi tentang Rangi yang merupakan seorang anak mantan narapidana.
"Rangi, Rangi, tunggulah besok pagi dan gw akan tersenyum puas melihat lu menahan malu karena rahasia yang selama ini lu simpan terbongkar, dan lu gak akan tahu jika ini ulah gw, lu pasti akan langsung menuduh teman-teman lu yang sudah membongkar semua rahasia ini, bahkan Zorya, Dhruv, dan Rasalas tidak mengetahui tentang hal ini, yang tahu hal ini hanyalah Dimas teman Rangi semasa taman kanak-kanak, namun saat ini Dimas malah jadi korban pembullyan dari Rangi dan teman-teman barunya, Rangi, Rangi, sungguh tidak tahu diri ya kamu" ucap Deep tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, kita lihat saja apa yang akan terjadi besok" ucap Deep tersenyum memegang kertas informasi Rangi dan pergi.
Deep membuka kamar ayahnya dan mengambil kanvas kosong serta pewarna yang masih tersisa. Deep membawa kanvas kosong dan pewarna itu ke depan teras. Deep mengumpulkan mayat-mayat kucing itu ke teras. Deep menatap kucing yang menjadi korban kebrutalannya itu sembari tersenyum dan mulai melukis diatas kanvas.
Sepertinya bakat Dark kini telah menurun kepada Deep. Sepanjang ia melukis ia terus tersenyum menatap hasil mahakarya indahnya itu. Dimata Deep kucing-kucing itu terlihat sangat menggemaskan, akan tetapi jika dilihat oleh orang biasa, kucing-kucing itu terlihat sangat menyeramkan.
Setelah selesai melukis, Deep melihat hasil lukisannya yang terlihat sangat indah seperti lukisan Dark dulu.
"Entah kenapa aku merasakan ketenangan setelah melukis, ternyata ini alasan papah menjadi seorang pelukis, keindahan mahakarya ternyata bisa menenangkan jiwa" ucap Deep tersenyum menatap hasil lukisannya.
__ADS_1
Deep pun menghampiri kucing yang telah mati ia siksa itu. Deep berlutut dan memegang kucing-kucing itu sembari tersenyum dan pergi meninggalkannya. Deep kembali dengan membawa cangkul. Deep mulai menggali tanah untuk menguburkan kucing-kucing itu. Setelah menguburkan kucing-kucing itu, Deep mengelus tanah itu sembari tersenyum dan pergi mencuci tangannya. Setelah tangannya bersih, Deep mengelap tangannya ke baju dan mengambil lukisan-lukisannya membawa lukisan-lukisan itu masuk ke dalam.
Deep meletakkan lukisan-lukisan itu di dalam kamarnya, tepat di depan pandangannya. Deep tersenyum ketika menatap hasil mahakaryanya itu dan memejamkan mata lalu tertidur dengan bibirnya yang masih tersenyum.
Keesokan harinya Deep berangkat ke sekolahnya sembari tersenyum.
Para siswa dan siswi sudah berkumpul di papan buletin membaca berita tentang Rangi yang semalam Deep tempelkan.
Deep celingukan mencari keberadaan Rangi yang tidak kunjung terlihat. Deep berpura-pura ingin melihat juga apa yang terjadi disana padahal itu adalah ulahnya sendiri.
"Ada apa sih teman-teman?, minggir dong, aku mau lihat" ucap Deep mendorong mereka.
Deep tersenyum kecil menatapnya dan berpura-pura syok.
"Astagfirullahaladzim, jadi selama ini Rangi adalah seorang anak mantan narapidana karena kasus pencurian?, disini juga tertera informasi jika ayah Rangi merupakan penjual dari obat-obatan terlarang, wah gak habis pikir aku sama dia, pantas saja dia kaya raya ternyata seorang pencuri dan penjual obat-obatan terlarang" ucap Deep menatap teman-temannya.
"Iya sama, gak nyangka banget ikh sama si Rangi, ternyata selama ini dia anak penjahat juga ya?" tanya Dina yang ada disamping Deep.
Dimas yang melihat keramaian disana pun segera menghampirinya.
"Permisi, permisi" ucap Dimas mendorong teman-temannya.
Dimas sangat terkejut melihat aib Rangi ada di papan buletin sekolahnya, Dimas pun seketika menatap Deep yang ada disampingnya dan menarik tangan Deep menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan hal ini Deep?" tanya Dimas menatap Deep.
"Aku hanya ingin membantu mu saja Dimas, sekaligus membalaskan dendam ku pada Rangi dan teman-temannya karena telah membully ku, dan seharusnya kamu berterima kasih padaku Dimas, karena aku juga telah membantu mu untuk mempermalukan Rangi, kamu menganggap Rangi sahabat, sedangkan Rangi menganggap mu sebagai musuhnya, Rangi selalu membully mu bukan?, jadi diamlah Dimas!, kau jangan melakukan apapun, cukup diam dan rahasiakan ini semua dari semua orang, dan kita akan tertawa puas nanti ketika melihat Rangi dan teman-temannya menderita" ucap Deep tersenyum menepuk pundak Dimas dan langsung pergi meninggalkannya.