Pain Is Art

Pain Is Art
Rasalas Tewas di Tangan Z.D


__ADS_3

"Eh Joko apaan sih lu? kenapa lu lakukan hal serendah itu hah?" bentak Zorya.


"A-apa maksud kamu, aku gak paham maksud kamu apa"


"Gak usah pura-pura bloon deh lu Joko! ini apa hah?" tanya Zorya memutarkan video yang memperlihatkan dirinya tengah bertengkar dengan Dhruv.


"A-aku tidak melakukan hal itu, kamu salah paham Zorya"


"Salah paham lu bilang, baca tuh isi pesannya "from Rasalas Ouranos" apa lu masih mau mengelak hm?


"Tau nih si Joko tinggal ngaku aja sih susah banget deh" sambung Dhruv.


"Ayok ikut gw" kata Zorya menarik baju Rasalas.


"Kita mau kemana?"


"Udah gak usah banyak ba cot! ikut aja" kata Zorya tersenyum sinis.


Deep mengikuti kepergian Zorya dan Dhruv yang menarik Rasalas.


Zorya mengajak Rasalas ke dalam gudang sekolahnya dan melemparkan tubuh Rasalas hingga terjatuh. Dhruv sesegera mungkin mengganjal pintu gudang dengan meja dan kursi yang ada disana, sedangkan Zorya menyumpal mulut Rasalas dengan bandana miliknya. Setelah selesai mengganjal pintu, Dhruv berkeliling mencari sesuatu yang ada di gudang. Dhruv menemukan seutas tali tambang dan ia juga menemuka lakban. Dhruv mengikat tangan dan kaki Rasalas di kursi.


Deep sedari tadi merekam seluruh kejadian yang memperlihatkan Zorya dan Dhruv yang tengah mengikat Rasalas di kursi.


Zorya memukuli wajah Rasalas, sedangkan Dhruv memukuli perut Rasalas, hingga matanya lebam.


"Mengapa gw tidak berpikir sejauh ini? gw kira mereka hanya bertengkar saja, adu mulut, tapi ternyata Zorya dan Dhruv malah memukuli Rasalas, diluar ekspektasi gw banget sih tapi melihat Rasalas tersiksa seperti itu membuat gw senang, karena dia telah merasakan rasa sakit yang sama seperti apa yang gw rasakan dulu, Zorya, Dhruv, Rangi ini belum seberapa ya, gw masih punya banyak rencana untuk menyiksa kalian semua, tunggu saja, akan gw pastikan kehidupan kalian semua hancur, siapa suruh kalian berani bermain api dengan angin, sekecil apapun api jika bertemu dengan angin akan semakin membesar, seharusnya kalian bermain api dengan air yang mampu memadamkan bukan dengan angin hm tapi orang bodoh seperti kalian mana sampai pikirannya sejauh itu" batin Deep menyeringai sambil terus merekam seluruh adegan yang dilakukan oleh Zorya dan Dhruv.


Zorya dan Dhruv tak henti-hentinya memukuli Rasalas hingga kini Rasalas tak sadarkan diri.


Melihat Zorya dan Dhruv yang sudah puas memukuli Rasalas dan ingin beranjak pergi membuat Deep segera menghentikan rekaman videonya dan berlari serta bersembunyi.


"Kita tinggalkan saja dia disini" kata Zorya.

__ADS_1


"Tapi kalau dia sampai mati gimana?"


"Biarkan saja, siapa suruh dia bermain api dengan ku, siapapun yang bermain api dengan ku akan berakhir di tangan ku, akulah akan memutuskan takdirnya, sudahlah ayok pergi dari sini"


"Oke"


Zorya dan Dhruv kembali ke dalam kelasnya begitupun dengan Deep.


"Kemana Rasalas? apa ada yang mengetahui dia pergi kemana?" tanya bu Yeni guru sekolahnya.


"Tadi aku sempat lihat Rasalas sih bu di kelas tapi aku gak tahu deh dia kemana, terakhir aku lihat dia berantem sama Zorya dan Dhruv, Zorya sama Dhruv menarik baju Rasalas keluar dari kelas tapi setelah itu aku gak tahu lagi bu Rasalas pergi kemana" sahut salah satu siswi.


"Zorya, Dhruv kalian apakah Rasalas? mengapa dia tidak ada di kelas? Lina bilang jika terakhir dia melihat kalian berdua membawa Rasalas pergi, lalu dimana dia?"


"Hm... itu bu, Rasalas ke ...." kata Zorya terbata-bata.


"Rasalas pergi kemana Zorya?"


Zorya dan Dhruv hanya terdiam saling menunduk dan saling menatap satu sama lain.


Mendengar itu sontak ibu guru pergi ke gudang sekolah untuk memastikan perkataan dari siswanya itu.


"Bu Yeni mau kemana?" tanya pak Zainal guru olahraga.


"Pak, saya ingin pergi ke gudang, kata salah satu siswa dia melihat Zorya dan Dhruv membawa Rasalas ke gudang"


"Ya sudah sekarang kita kesana untuk memastikannya.


"Se-sekarang bagaimana nih? gimana kalau kita sampai dikeluarkan dari sekolah, pasti kita bakal kena marah deh sama mama, papa" Dhruv resah.


Sesampainya di depan gudang, guru olahraga segera mendobrak pintunya. Nampak Rasalas yang terduduk di kursi tak sadarkan diri dengan tangan dan kakinya yang terikat serta matanya yang lebam.


Guru olahraga melepaskan ikatan di tangan dan kaki Rasalas serta penutup di mulutnya. Setelah dibuka nampak darah yang mengalir di ujung bibirnya. Guru olahraga langsung memeriksa denyut nadi dan detak jantung Rasalas. Ekspresi guru olahraga seketika berubah dan menempelkan jarinya di depan hidung Rasalas serta menempelkan telinganya di dada Rasalas, tidak ada detak jantung dan denyut nadi lagi dan hidungnya juga sudah tidak mengeluarkan nafas.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi raji'un"


"Ada apa pak?"


"Rasalas sudah meninggal dunia bu"


Mendengar perkataan guru olahraga sontak membuat Dhruv dan Zorya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Rasalas akan mati di tangan mereka.


"Apa yang kalian perbuat pada Rasalas hingga dia mati hah?" tanya guru olahraga menghampiri Zorya dan Dhruv.


"Mereka berdua memukuli Rasalas pak" sahut Deep.


"Bisa diem gak lu?!" bisik Zorya.


"Tidak" jawab Deep pelan.


"Jika bapak tidak percaya akan ucapan ku, maka lihatlah video ini" kata Deep memutarkan video Zorya dan Dhruv.


Gurunya yang menyaksikan pun sontak terkejut dan menatap Zorya serta Dhruv. Zorya dan Dhruv nampak mulai ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.


Gurunya membawa Zorya dan Dhruv ke ruang kepala sekolah serta bukti rekaman yang Deep berikan.


"Pak, mereka telah membunuh Rasalas" kata bu Yeni.


"Apa? membunuh? tidak mungkin anak SD sudah berani membunuh temannya sendiri"


"Pak saya tidak bohong, saya punya buktinya, bukti ini direkam oleh Deep, ini pak videonya, bapak lihat saja sendiri jika tidak percaya dengan perkataan saya" kata bu Yeni memberikan ponsel Deep.


"Saya mengikuti Zorya dan Dhruv ketika menarik Rasalas pak, mereka membawa Rasalas ke gudang, saya yang curiga lantas merekam semua perbuatan mereka" kata Deep.


Mendengar perkataan Deep sontak membuat kepala sekolah tidak percaya jika anak didiknya ada yang sampai tega membunuh temannya sendiri.


"Apa yang membuat kalian sampai tega membunuh Rasalas?" tanya kepala sekolah menatap Zorya dan Dhruv.

__ADS_1


"Rasalas menyebarkan video kami tengah bertengkar pak, lihat saja sendiri, disitu tertera nama Rasalas Ouranos pak, kami yang emosi sontak membawa Rasalas, kami tidak berpikir jika Rasalas sampai tewas pak, maafkan kami pak" kata Zorya yang langsung menundukkan kepalanya.


Melihat rekaman yang Zorya berikan dan membaca isi pesan di ponselnya membuat kepala sekolah semakin bingung atas keputusan apa yang harus ia ambil untuk Zorya dan Dhruv yang sudah tega membunuh Rasalas.


__ADS_2