
"Mbak Danica, jangan mbak pikir saya tidak pernah mengawasi pekerjaan kalian walaupun saya jarang ke sini, CCTV TDA dan TDR terhubung ke rumah saya, saya tetap mengawasi walaupun dari kejauhan, dan saya tahu jika mbak Danica lalai dalam mengerjakan tugas, saya sengaja datang ke sini, hm tapi ya sudahlah! ikut saya yuk mbak!" pinta Deep.
"Maaf tuan, mau ke mana ya?"
"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!"
"Baik tuan!"
Deep mengajak mbak Danica untuk pergi ke rumahnya yang berada di pemukiman tak berpenghuni.
"Tuan, kita mau ke mana?" tanya mbak Danica ketakutan melihat Deep membawanya ke hutan.
"Duduk dan diam saja! tidak usah banyak bicara!"
"Tuan, saya mau turun!"
Deep menatap tajam mbak Danica dan mbak Danica pun terdiam.
"Diam di mobil! jangan ke mana-mana!"ancam Deep menunjuk mbak Danica.
"Baik tuan!"
Deep turun dari mobilnya untuk membuka pintu pagar sembari terus menoleh ke arah mbak Danica untuk memastikan mbak Danica tidak melarikan diri dari dalam mobilnya. Deep kembali ke dalam mobilnya dan turun untuk mengunci pintu pagar serta membuka pintu garasinya, nampak Prim yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap ke arah pagar. Mbak Danica turun dari dalam mobil dan berniat untuk melarikan diri, namun Deep menarik tangannya dan membawa mbak Danica masuk kedalam garasi. Deep mendorong mbak Danica hingga terjatuh dan mengunci garasinya dari dalam. Deep menari tangan mbak Danica dan menyeretnya hingga menjerit kesakitan karena kakinya terasa perih diseret oleh Deep seperti itu. Deep melepas tangan mbak Danica dan mengunci ruangan rahasia tempat ia mengeksekusi para korbannya.
"Deep punya pacar ya?" tanya Prim menatap teman-temannya.
"Gak tahu deh, emang kenapa?" tanya Jane.
"Tadi gw lihat seorang wanita turun dari mobil Deep dan Deep menarik tangan wanita itu, entah dibawa ke mana, tapi sih dari arahnya kayaknya gak masuk dari pintu depan"
"Lagi berantem mungkin sama pacarnya atau ya lu tahu sendiri lah ya!"
"Hm masa Deep punya pacar sih? baru aja dia ngaku kalau dia suka sama lu Jane!"
"Hah?" tanya Jane dan Prim kompak menoleh ke arah Rima.
Prim langsung berlari menghampiri Rima dan Jane.
"Lu seriusan? si Deep suka sama Jane?" tanya Prim.
__ADS_1
"Iya, tadi dia nanya umur sama tinggi gw kan, terus dia nanya umur kalian semua, ya gw kasih tahu lah, terus raut wajahnya kayak langsung sedih pas tahu ternyata Jane lebih tua dari dia"
"Emang Deep umur berapa?" tanya Jane.
"Dua belas tahun katanya"
"Hah seriusan dua belas tahun?" tanya Prim terkejut.
"Iya, dia sendiri yang bilang ke gw kalau dia kelahiran dua ribu sebelas"
"Ternyata dia masih bocil"
"Orangtuanya ke mana?" tanya Jane.
"Gak tahu"
"Emang lu gak nanya?" tanya Jane.
"Enggak!"
"Kasian banget dia masih umur segitu, tapi di tinggal sendirian di tempat kayak gini pula sama orangtuanya, kejam banget deh orangtuanya!"
"Iya kasian banget! eh tapi gw curiga deh sama dia!" ucap Prim.
"Tadi kayaknya dia narik tangan cewek itu kenceng deh! gw curiga kalau sebenarnya firasat Acha itu benar! kalau Deep bukan orang baik, melainkan seorang pembunuh atau buronan, makanya dia tinggal sendirian di tempat kayak gini, kalau dipikir-pikir perkataan Acha itu benar lho Jane! Rim! coba deh kalian pikir-pikir lagi! gw juga awalnya mikir si Deep orang baik, tapi ngeliat Deep kasar kayak gitu sama cewek, kan gw jadi negative thinking juga akhirnya!" ucap Prim.
"Daripada banyak omong, mending kita tolongin cewek yang tadi Prim lihat gimana? kalau emang benar si Deep itu pembunuh atau buronan, gw takut tuh cewek kenapa-kenapa lagi!" ucap Rima.
"Ya udah ayok!"
"Eh tunggu!" panggil Prim.
Rima dan Jane pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Prim.
"Kenapa sih? kelamaan lu!" ucap Rima kesal.
"Kalau sampai benar Deep itu pembunuh, masa kita nyari dia gak bawa persenjataan apapun sih? mau mati konyol tanpa perlawanan lu pada hah? menawarkan diri sama malaikat maut kalian? ya minimal bawa pisau kek atau apa gitu buat melakukan perlawanan kalau ternyata benar Deep psikopat!" ucap Prim.
"Hm pintar juga lu! ya udah kita ke berpencar aja mencari benda tajam untuk melakukan perlawanan!" ucap Rima.
__ADS_1
"Setuju tuh gw!" sambung Jane.
"Yakin lu berpencar? apa gak lebih baik kita sama-sama aja?"
"Ya kan nyari benda tajam doang, nanti kita cari Deep bareng-bareng" jawab Rima.
"Kalau nanti pas lagi cari benda tajam kita ketemu Deep sebelum kita ketemu lagi gimana?"
"Ngapa? lu takut sama Deep? dia masih anak-anak! ini kan untuk antisipasi saja kalau emang ternyata benar dugaan Acha dan dugaan lu itu tentang Deep yang psikopat atau buronan!" jawab Rima.
"Hm jangan mencar ya please!"
"Ah udah kelamaan lu! nanti kita ketemu di ruang tamu aja!" ucap Rima.
"Ya udah mencar!" sambung Jane.
Rima dan Jane pun pergi ke arah yang berbeda untuk membekali diri mereka masing-masing, sementara Prim terlihat bingung, cemas, dan ketakutan melihat kedua temannya pergi ke arah yang berbeda, akhirnya mau tidak mau Prim berjalan lurus ke depan, karena Jane pergi ke arah kanan, sedangkan Rima pergi ke arah kiri.
Jane pergi ke arah dapur untuk mencari pisau karena ia berpikir akan menggunakan pisau itu sebagai senjatanya, namun setibanya di dapur, ia tidak menemukan satupun pisau. Jane mengirimkan pesan singkat kepada teman-temannya untuk memberitahukan jika di dapur tidak ada satupun pisau.
"Guys jangan ke dapur lagi, gw lagi di dapur ini, tapi gak ada satupun pisau di sini, garpu juga bahkan gak ada, entah ke mana, cari di tempat lain aja, garpu rumput kalau ada atau apalah yang bisa kita pakai!" notifikasi WhatsApp dari Jane.
Ponsel Rima dan Prim berbunyi dan mereka segera membukanya. Mereka membaca pesan singkat yang Jane kirimkan.
"Oke!" balas Rima.
"Oke!" balas Prim.
"Nada dering kalian harus selalu hidup, firasat gw mulai gak enak nih, masa di dapur gak ada satupun pisau"
"Iya, hp harus selalu dipegang dan nada dering harus aktif, biar tetap bisa saling berkomunikasi!" balas Rima.
"Gw takut nih! masa gw nemuin ada potongan kain tersangkut di paku depan pintu belakang!" ucap Prim.
"Hah seriusan lu?" tanya Rima.
Prim mengambil gambar kain yang tersangkut di paku yang ada di depan pintu belakang dan mengirimkannya ke grup WhatsApp mereka.
"Iya serius! tuh lihat sendiri aja, masa kayak baju cewek sih! iya gak sih? haduh kalian cepat ke sini dong! gw takut nih!"
__ADS_1
"Coba videoin tempatnya ada di mana!" pinta Jane.
Prim mengambil video sekelilingnya dan mengirimkannya ke grup WhatsApp.