Pain Is Art

Pain Is Art
Preman Melawan Psikopat


__ADS_3

"Sepertinya masih banyak lagi orang-orang yang memanfaatkan belas kasihan seperti dia, aku harus mencarinya" kata Deep berkeliling mencari korbannya.


Ada seorang anak kecil perempuan yang menubruk Deep.


"Kak tolong saya" kata anak kecil itu bersembunyi dibalik badan Deep.


"Ada apa dek?"


Anak kecil wanita itu menunjuk lima orang pria dewasa yang mengejarnya.


"Serahkan dia!" kata salah satu pria.


"Kak aku gak mau ikut sama dia, aku mau pulang kak, mereka menculik aku dan selama seminggu ini mereka menyuruh ku untuk menjadi pengamen di jalan, mereka juga tidak memberiku makan, semua uang yang aku dapatkan juga mereka ambil untuk berjudi kak"


"Kamu tenang aja ya dek ada kakak disini"


"Iya kak"


"Eh bocah ingusan! lepasin dia!" bentak pria lain.


"Melepaskan dia? lebih baik jika aku melepaskan nyawa kalian dan mengantarnya ke neraka" kata Deep menyeringai.


"Gaya banget nih bocah!" bisik pria tiga menatap temannya.


"Kita masih kasih lu kesempatan buat hidup di dunia ini, jadi lepaskan dia sebelum kami menghabisi mu" kata pria satu.


"Apa kamu yakin bisa menghabisi ku hm?" tanya Deep tersenyum kecil.


"Dek kamu lari sini sejauh mungkin biar mereka yang jadi urusan kakak" kata Deep tersenyum mengelus pucuk kepala anak kecil itu.


"Iya kak" kata anak kecil wanita itu menganggukkan kepala dan langsung berlari pergi dari sana.


"Hey tunggu!" teriak pria pertama.


"Hey! mau kemana? buru-buru banget! katanya tadi mau bunuh aku, kok malah aku ditinggal sih, kenapa kak? takut ya sama aku?"


Mendengar perkataan Deep membuat kelima orang pria pun menertawakannya.


"Apa ada yang lucu? saya tidak sedang bercanda kak, mengapa kalian semua tertawa? kalian emang preman tapi kalian gak tahu siapa aku iya kan?" tanya Deep tersenyum kecil.


"Siapa lu hah? mau sok jagoan sama kita hah?" tanya pria keempat mendorong Deep.


Seketika ekspresi wajah Deep berubah menjadi marah karena pria itu mendorongnya. Deep menghela nafas sejenak untuk menenangkan dirinya.


"Kalian menginginkan uang bukan? aku akan memberikan kalian uang yang kalian mau, tapi ikutlah denganku, dan jangan macam-macam padaku, bagaimana hm?" tanya Deep tersenyum kecil.


Kelima pria itu pun saling menatap satu sama lain kebingungan.

__ADS_1


"Ini anak udah gak waras kali ya?" tanya pria kelima menatap Deep sekilas dan Deep yang menyadarinya pun tersenyum menganggukkan kepala.


"Kayaknya sih gitu, lihat aja tuh! dia malah senyum-senyum begitu, kayak gak ada takut-takutnya banget sama kita" kata pria ketiga.


"Apa jangan-jangan dia psikopat? psikopat gak punya rasa takut terhadap apapun kan?" tanya pria keempat.


"Iya sih emang psikopat katanya gak punya rasa takut sama sekali, tapi apa mungkin dia psikopat hah? lihat aja tuh! dia sepertinya masih bocah SMP, mukanya aja masih muka bocah, ya emang sih badannya tinggi untuk anak SMP, tapi ya gak mungkin lah kalau anak SMP udah jadi psikopat, jangan ngawur! itu tidak mungkin! anak SMP kok psikopat yang ada di tampar dikit aja nangis, kita ikut aja sama dia, kita lihat sejauh apa permainannya" kata pria kedua.


"Iya benar, kita ikut aja sama dia, lagipula dia cuma sendirian dan kita berlima, untuk apa takut padanya? dia tidak mungkin psikopat, tidak ada bocah SMP psikopat" kata pria pertama.


"Tapi muka bocah itu kayak gak asing" ujar pria keempat.


"Gak asing gimana? apa lu pernah ketemu sama dia hah?" tanya pria pertama.


"Lu ketemu sama dia dimana Parjo?" tanya pria ketiga.


"Iya sok kenal lu!" kata pria kedua.


"Gw emang gak pernah ketemu sama dia, tapi mukanya kayak gak asing bagi gw, kayak gw pernah lihat dia dimana gitu, tapi gw lupa, tapi gw yakin kalau gw pernah lihat dia" kata Parjo.


"Iya permasalahannya lu lihat dia dimana hah? lu aja gak ingat pernah lihat dimana, di tv? apa dia artis hah?" tanya pria pertama.


"Iya benar, gw pernah lihat dia di tv, bokap dia seorang pelukis terkenal namanya kalau gak salah Dark Aharnish" kata Parjo.


"Terus hubungannya apa Jo? ya bagus lah kalau dia anak pelukis terkenal, berarti dia kaya raya, kita bisa ambil semua barang-barang di rumah dia, apa yang perlu ditakutkan hah?" tanya pria kedua.


"Sudahlah! jangan berfikir terlalu jauh! apa menurut lu psikopat itu turun temurun hah? ya gak mungkin lah! udahlah gak usah ngawur! lagipula dia juga masih kecil, gampang! di dorong aja juga jatuh palingan dia, dia sendiri sedangkan kita ramai-ramai, kecil kemungkinan dia akan mengalahkan kita" kata pria ketiga.


"Nah iya benar tuh, udah lah ayok, gw gak sabar untuk mengambil semua barang-barang di rumahnya, pasti di dalam rumahnya banyak barang-barang mahal yang bisa kita jual, kita bisa kaya raya kalau mengambil semua barang-barang di rumahnya, udahlah ayok!" kata pria pertama mengajak mereka pergi.


Mereka berempat pun pergi sedangkan Parjo masih terdiam. Teman-temannya memberikan isyarat pada Parjo untuk mengikuti mereka dan mau tidak mau Parjo pun mengikuti mereka.


"Bagaimana kak? apa kakak mau ikut dengan ku hm?" tanya Deep tersenyum.


"Oke baiklah! kita terima tawaran mu, jalan aja duluan biar kita mengikuti mu" kata pria pertama tersenyum.


Deep mengarahkan mereka ke mobilnya. Mereka pun masuk ke dalam perangkap psikopat Deep Akhtara. Deep membawa mereka ke rumahnya untuk di eksekusi.


"Dasar pria-pria bodoh! kelihatannya doang sangar tapi gak punya otak! mau-maunya ikut sama gw! apa mereka pikir gw beneran akan mengasih mereka uang di rumah gw? ya enggak lah! dasar preman-preman sampah! untuk hal sekecil itu saja kalian tidak paham, sebenarnya satu teman kalian itu benar, jika aku adalah seorang psikopat, tapi kalian berpikir jika aku tidak bisa membunuh kalian semua, apa seorang psikopat harus mengakui terlebih dahulu jika dirinya berbahaya sebelum menyerang? tentu saja tidak! kalian akan menjadi mangsa ku, kalian menjadi makanan ku, dan darah kalian akan menjadi minuman ku" batin Deep dan menatap mereka sembari tersenyum.


Sesampainya di rumah, Deep langsung menuntun mereka ke ruang bawah tanah.


"Tunggulah disini sejenak, biar aku ambilkan uangnya hm" pinta Deep tersenyum menatap mereka dan pergi ke kamarnya.


Mereka mengelilingi setiap sudut tempat itu. Mereka melihat tempat perapian Deep.


"Untuk apa dia membawa kita ke ruang bawah tanah hah?" tanya Parjo ketakutan.

__ADS_1


"Sudahlah! diam saja kamu!" kata pria pertama.


Parjo nampak sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar.


"Satukan telapak tangan kalian agar uangnya tidak jatuh" pinta Deep tersenyum.


Para preman itu menuruti permintaan Deep dan membuka tangan mereka serta menyatukannya.


Deep meletakkan ember besar di bawah tangan mereka. Mereka saling menatap satu sama lain kebingungan memikirkan untuk apa fungsi ember besar itu. Deep menusukkan besi panjang yang runcing dari sela ibu jari pria pertama hingga tembus ke pria terakhir. Darah mereka menetes ke ember besar yang sudah Deep letakkan di bawah.


"Apa kalian berpikir jika aku akan memberikan kalian uang? tentu saja tidak, aku baru saja membuka restoran yang berbahan dasar manusia, menu makanan, dan menu minuman juga berbahan dasar darah manusia, dan teman mu ini benar, jika aku adalah seorang psikopat, teman mu ini bahkan tahu nama ayah ku, tapi kalian menghiraukannya, kalian sudah masuk ke dalam perangkap ku" kata Deep tersenyum dan mengelus pipi Parjo yang nampak sangat ketakutan.


"Bagaimana rasanya? sakit gak? tapi ini baru permulaan" kata Deep tersenyum dan mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya.


Deep tersenyum dan mengoleskan krim pembersih bulu ke tangan mereka semua. Deep memvideokan mereka sembari menunggu waktu. Mereka memejamkan mata ketakutan dan Deep pun tertawa.


"Apa kalian tahu maksud ku itu memberikan kalian krim itu? aku ingin bulu-bulu di tangan kalian itu hilang terlebih dahulu, karena aku ingin kulit kalian mulus, agar tidak ada yang curiga jika aku menggunakan kulit manusia sebagai bahan dasar makanan di restoran ku" kata Deep tersenyum.


Deep mengambil spatula yang ia dapatkan sepaket dengan krim pembersih bulu itu. Setelah bulu mereka bersih, Deep melanjutkan aksinya.


Deep tersenyum sembari menyayat sedikit demi sedikit kulit orang pertama. Pria lain yang melihat sontak ketakutan dan memejamkan matanya. Pria pertama itu berteriak kesakitan saat Deep menyayat kulit tangannya.


"Berteriaklah sekencang mungkin, karena tidak akan ada orang yang bisa mendengar suara teriakan mu itu" kata Deep tersenyum dan kembali melanjutkan aksinya.


Kini sebelah tangan pria itu telah Deep kuliti. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Deep mengangkat kulit pria itu yang telah ia sayat.


"Buka mata kalian, dan lihatlah ini! aku akan membersihkan seluruh kulit kalian dari tubuh kalian" kata Deep tersenyum mengangkat kulit pria pertama dan menunjukkannya kepada teman-temannya.


Deep memotong tangan pria pertama hingga pria kedua merasa kesakitan karena besi yang tertancap tertarik oleh potongan tangan pria pertama.


"Ada apa kak? sakit ya? sini aku potong sekalian" kata Deep tersenyum dan langsung memotong kedua tangan pria kedua.


Deep memotong kedua tangan mereka hingga tangannya terpental dan masuk ke dalam ember penampung darah.


Deep yang sudah tidak tahan lagi akhirnya menebas leher mereka dan mereka pun tewas. Melihat kepala mereka yang terpental dan terguling membuat Deep sangat senang. Deep seperti melihat bola yang jatuh menggelinding.


Deep pun menguliti mereka hingga tak tersisa dan memotong-motong kecil tubuh mereka sebelum memisahkan daging dengan tulangnya.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, akhirnya seluruh daging mereka terpisah dari tulangnya. Deep membawa potongan-potongan itu ke kamar mandi. Deep membersihkan darah-darah yang masih menempel agar tidak ada yang curiga jika itu adalah manusia yang Deep bunuh untuk dijadikan bahan makanan.


Seperti biasa Deep membungkusnya seperti makanan mental yang dijual di mall. Deep tersenyum membawa daging manusia yang telah terbungkus rapih dan memasukkannya ke dalam freezer.


Deep tersenyum dan mengolah darah mereka untuk dijadikan sirup yang lezat. Deep memasukkan darah yang telah ia olah menjadi sirup yang manis ke dalam botol dan memasukkannya ke dalam kulkas.


Deep membersihkan sisa darah di lantai dan membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.


"Aku lelah sekali membunuh mereka, lebih baik aku istirahat dulu, melukisnya nanti saja, pinggang ku ini sangat pegal" kata Deep yang langsung rebahan diatas kasurnya memejamkan mata.

__ADS_1


Deep pun akhirnya tertidur pulas karena terasa pegal setelah membunuh mereka.


__ADS_2