Pain Is Art

Pain Is Art
Rencana Deep Membunuh Pelaku Bullying


__ADS_3

Rangi, Rasalas, Zorya, dan Dhruv tiba di sekolah, namun ia disambut dengan tatapan julid dari para siswa dan siswi.


"Ikh tukang bohong!" ucap Nadia kepada temannya menatap julid Rangi.


"Iya bisa-bisanya ya dia, kemarin kan dia ngebully si Deep, eh ternyata dia sendiri juga sama, hm, wajar sih!, mana ada anak pencuri yang mau mengakui ayahnya sendiri" ucap Fara menatap julid Rangi.


Rangi yang mendengarnya sontak kebingungan memikirkan apa yang sebenarnya.


"Ada apa sih ini sebenarnya?" tanya Dhruv menatap kebingungan.


"Eh itu apaan deh rame-rame?" tanya Rasalas menunjuk satu tempat.


Mereka berempat pun menghampiri tempat keramaian itu. Rangi mendorong teman-teman sekolahnya diiringi oleh Rasalas, Dhruv dan Zorya.


"Gi, itu kan bokap lu" ucap Rasalas menunjuk papan buletin.


"Jadi selama ini bokap lu mantan narapidana?, kenapa lu gak pernah bilang ke kita hah?" tanya Dhruv kesal mendorong Rangi yang masih terdiam.


"Udah yuk kita tinggalin aja anak napi ini" ucap Dhruv menunjuk teman-temannya.


Mereka pergi meninggalkan Rangi yang masih terdiam.

__ADS_1


Kaki Rangi terasa sangat lemas hingga ia pun terjatuh.


"ARgh!"


"Siapa sebenarnya yang melakukan ini semua?" tanya Rangi terisak tangis dan mengacak-acak rambutnya.


Seketika Rangi teringat oleh Dimas temannya semasa taman kanak-kanak yang kini ia jadikan sebagai korban pembullyan nya.


"Dimas?, apa semua ini ulah Dimas?, apa Dimas bisa setega itu sama gw?, tapi selama ini juga gw udah jahat banget sama dia, gw udah bully dia habis-habisan, tanpa mempedulikan dia, gw telah menjadikannya musuh gw padahal tadinya dia adalah sahabat gw, sahabat yang selalu menemani gw" ucap Rangi meneteskan air matanya menyesali semua perbuatannya pada Dimas.


Rangi perlahan berdiri dan menarik informasi di papan itu lalu pergi dengan langkah kaki yang tidak stabil.


"Dimas tunggu" panggil Rangi berlari mengejar kepergian Dimas.


Rangi memegang pundak Dimas yang membuat langkahnya terhenti. Dimas terlihat sangat ketakutan ketika melihat Rangi yang ada di depannya.


"Kenapa kamu melakukan ini semua padaku?" tanya Rangi meneteskan air matanya menatap Dimas.


"Aa-apa maksud mu Rangi?, aa-aku tidak mengerti apa maksud mu sebenarnya" ucap Dimas terbata-bata.


Rangi mengeluarkan selembaran yang menunjukkan informasi ayahnya dan menunjukkannya ke depan Dimas. Dimas langsung membacanya dan seketika menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu dendam sama aku?, aku tahu aku udah jahat sama kamu, tapi apa harus dengan cara seperti ini pembalasan kamu terhadap ku?, dengan mempermalukan ku begitu?, aku minta maaf sama kamu, aku minta maaf sama kamu atas semua perbuatan aku ke kamu dulu, aku sadar semua kesalahanku padamu, maafkan aku" ucap Rangi terisak tangis dan menjatuhkan kepalanya di pundak Dimas.


Seluruh tubu Dimas menjadi bergetar dan meneteskan air matanya sembari matanya yang menatap kanan dan kiri. Di sisi kiri terdapat Deep yang tengah melihat mereka.


"Kamu mau kan maafin aku?, aku tidak akan marah pada kamu atas perbuatan mu hari ini padaku, karena aku menyadari semua kesalahanku padamu jauh lebih banyak besar daripada yang kamu lakukan hari ini, apa yang kamu lakukan hari ini, membuat ku tersadar, jika Dhruv, Zorya dan Rasalas bahkan tidak tulus menjadi teman ku, aku telah salah dalam memilih seorang teman, aku telah menyakiti kamu yang selama ini tulus sama aku, dan lebih memilih berteman dengan mereka yang justru malah membuat ku semakin buruk lagi, maafkan aku" ucap Dimas terisak tangis.


"Iya, maafin aku juga ya Gi" ucap Dimas tersenyum kecil.


"Iya sama-sama" ucap Rangi tersenyum kecil menghapus air matanya.


Deep memotret adegan saat Rangi memeluk Dimas dan tersenyum puas.


"Rangi, mungkin Dimas bisa memaafkan semua kesalahan mu pada dia, namun tidak dengan ku Rangi, aku belum cukup puas untuk menyakiti mu, yang menempelkan informasi itu bukanlah Dimas, melainkan aku, tapi kamu malah menuduh Dimas?, kamu bilang kamu menyesali segala perbuatan mu pada Dimas, namun mengapa kamu menuduh Dimas yang melakukan semua it, mengapa kamu melakukan ku?, apa kamu tidak pernah merasa bersalah pada ku Rangi Auriga?, hm, Rangi, Rangi, aku tidak akan puas sebelum kamu beristirahat" ucap Deep tersenyum menatap foto yang tadi ia ambil.


"Yaps kamu benar Rangi, beristirahat selamanya, alias mati!, kamu, Dhruv, Zorya, Rasalas, dan kedua wanita kembar itu harus mati di tangan ku, baru aku akan puas, karena semua dendam ku terbalaskan, aku tidak akan pernah puas sebelum kalian hanya tinggal nama yang terukir indah di batu nisan, oh tidak, tidak, orang seperti kalian tidak pantas jika nama kalian terukir indah di batu nisan, kamu bilang aku seperti ayah ku bukan?, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang ayah lakukan dulu yaitu membuang semua korbannya di ruang bawah tanah itu" ucap Deep tersenyum menatap hasil foto yang ia ambil tadi.


"Kalau dipikir-pikir ayah ku tidak jahat, ia membunuh untuk mengobati lukanya dan aku akan melakukan hal yang sama pada kamu Rangi, dan bukan hanya kamu saja, melainkan juga teman-teman mu itu, kamu sudah puas bukan bermain dengan ku?, sekarang giliran kamu yang harus mengikuti semua permainan ku" ucap Deep tersenyum menatap hasil foto yang ia ambil tadi.


"Setelah Rangi, sekarang seorang Rasalas Ouranos" ucap Deep tersenyum menatap foto Rasalas.


"Akan ku buat satu persatu dari kalian malu terlebih dahulu, setelah itu baru aku yang akan merenggut nyawa kalian, mengantarkan kalian ke alam akhirat, sepertinya tempat itu akan jauh lebih cocok untuk kalian daripada di dunia ini, kalian hanya bisa menghina seseorang saja, kalian punya hati tidak sih?, atau hati kalian sudah membusuk?, sepertinya hati kalian sudah membusuk ya?, makanya kalian tidak pernah menyadari semua kejahatan kalian, kalian merasa diri kalian malaikat?, ya memang kalian adalah malaikat, malaikat pencabut nyawa bagi para korban yang kalian bully itu, apa kalian tidak pernah bisa berfikir?, jika kekerasan fisik dapat diobati dengan mudah, jika luka di fisik akan jauh lebih cepat mengering, namun luka hati?, luka hati akan merusak mental seseorang, membully seseorang tidak akan pernah membuat kalian terlihat hebat dimata orang lain, yang ada malah membuat korbannya mengalami luka hati yang cukup dalam hingga merenggut kebahagiaannya, fungsi hati kalian untuk apa sebenarnya?, setiap manusia diciptakan memiliki hati bukan?, lantas kemana hati kalian itu?, dasar pelaku bullying, tidak mau disakiti tapi hobi mematahkan, manusia egois seperti kalian, lebih cocok dengan kematian daripada kehidupan" ucap Deep tersenyum menatap ke atas dan langsung pergi.

__ADS_1


__ADS_2